Blind Husband

Blind Husband
Blind 20


Untuk kesekian kalinya, Zyandru bangun tidur tanpa Alula di sisinya, dua minggu sudah mereka pisah kamar, sejak saat itu juga Zyandru sulit tidur, kamar ini terasa hampa.


Pusing memikirkan Alula, Zyandru memilih mandi dan bersiap-siap ke kantor, biasanya Alula yang akan menyiapkan pakaiannya, sekarang ia harus menyiapkan sendiri.


Saat memakai dasi, lagi dan lagi nama Alula terlintas di otaknya, biasanya Alula yang akan memakaikannya dasi.


"Sebenarnya lo kenapa sih Zyandru, lo nikahin Alula cuma karena mau dekati Princy, tapi kenapa lo sampai seperti ini." Zyandru memijit pelipisnya, ia pun bingung dengan dirinya sendiri.


Saat keluar dari kamar, Zyandru tak sengaja berpapasan degan Alula, seperti biasa Zyandru akan meraba sekitarnya.


Tak ada niat membantu, Alula hanya memperhatikan Zyandru yang sedang berusaha turun dari tangga.


Perlahan Alula pun turun dan berjalan mendahului Zyandru, Alula langsung menuju dapur dan seperti biasa akan membuat sarapan.


"Arghh" pekik Zyandru ketika tubuhnya terbentur meja makan, dilihatnya Alula hanya menoleh tanpa menunjukkan kekhawatiran.


"Alula kamu disini?" panggil Zyandru ketika mendengar suara dentingan gelas.


"Hm"


"Emm, kamu mau buat sarapan?"


"Hm" lagi dan lagi Alula hanya berdehem.


"Boleh aku request sarapannya?"


"Apa?"


"Aku mau sandwich dada ayam"


Alula menghembuskan napasnya, "di rumah gak ada ayam, waktu di supermarket hari itu gak sempet beli"


Zyandru terdiam, ia ingat kejadian di supermarket saat ia langsung mengajak Alula pulang padahal bahan makanan belum lengkap.


Zyandru menunduk dengan rasa bersalahnya, "Maaf"


"Jadi mau sarapan apa?"


"Roti selai kacang aja boleh"


"Ya udah tunggu"


Selagi Alula menyiapkan sarapan, Zyandru terus memperhatikannya, terkadang ia merasa beruntung menikahi Alula, namun ketika ia teringat tujuan sebenarnya, saat itu juga ia akan menganggap Alula tak lebih dari alat pencapai tujuannya.


Selesai sarapan, mereka akan berangkat ke kantor bersama seperti biasa.


Di perjalanan, Alula terus fokus pada tabletnya, tak sekalipun ia menoleh pada Zyandru yang berada di sampingnya. Setelah beberapa waktu perjalanan, mereka hampir sampai di perusahaan milik Zyandru.


"Pak mun, berhenti sini aja" ucap Alula menghentikan sopirnya, sebelum mobil benar-benar masuk ke perusahaan, Alula akan turun di pinggir jalan, ia melakukan itu karena tak ingin orang-orang curiga padanya dan Zyandru.


Sedangkan di lobi perusahaan terlihat Ansell sedang berdiri, tentu saja menunggu kedatangan Zyandru.


Ansell akan membantu Zyandru berjalan dan menuju ruang kerjanya.


...***...


Alula menghempaskan tubuhnya ketika baru duduk di kursinya, seperti biasa Alula akan mengecek lebih dulu pekerjaannya.


Terdengar helaan napas berat ketika melihat catatannya, hari ini Alula dan Ansell memiliki jadwal bertemu salah satu pengusaha di Bogor.


Ketika bertemu dengan pengusaha lain, Ansell yang akan menggantikan Zyandru, karena memang keadaan Zyandru yang tidak bisa melihat jadi tidak memungkinkan untuknya.


Ansell memang punya peran penting, ia seperti bayangan Zyandru.


Alula segera mengerjakan tugasnya dan merapikan berkas-berkas, sesaat ia mendengar suara langkah kaki, saat menoleh ternyata orang itu adalah Revaz.


Melihat Revaz, Alula kembali teringat hari di mana ia dan Zyandru bertengkar hebat, sungguh Alula masih tak habis pikir dengan suaminya itu.


"Alula" Revaz memanggil, Alula hanya menoleh tanpa berniat menjawabnya.


"Zyandru ada di ruangannya gak, aku mau kasih berkas"


"Ada"


"Ya udah aku permisi ya"


Setelah beberapa menit, Revaz dan Ansell berjalan keluar dari ruangan Zyandru, sedangkan Alula yang melihat, langsung menahan Ansell.


"Pak Ansell, hari ini ada jadwal bertemu pak johan"


"Udah pak" jawab Alula menunjuk meja kerjanya.


"Udah jam segini juga, kita berangkat sekarang aja gimana?"


Aluka mengangguk, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu, "pak Ansell saya mau ke toilet sebentar ya"


"Ya udah silakan"


Bukan ke toilet, Alula pergi ke sebuah lorong perusahaan, di sana Alula tetoihat sedang berbicara dengan salah satu OB


"Pak, hari ini saya sama pak Ansell kan mau keluar, nanti siang tolong siapin makan buat pak Zyandru ya, tolong dibantu juga, kalau dia gak mau makan bapak paksa, pokoknya bapak gak boleh ninggalin pak Zyandru sebelum dia makan, kalau pak Zyandru mau ke toilet atau kemanapun, tolong dibantu, oh iya sama satu lagi, kan pak Zyandru lagi batuk-batuk ya, tolong nanti siapin obat buat dia, ini nama obatnya." ucap Alula panjang lebar seraya memberikan sebuah kertas pada OB tersebut.


"Baik bu"


Sebenarnya Alula ingin sekali berhenti perhatian pada Zyandru, hanya saja Alula tak bisa, hatinya menolak untuk melakukan itu, lagipula bagaimanapun Zyandru adalah suaminya.


...***...


Alula dan Ansell saat ini sedang dalam perjalanan, Alula sebenarnya lebih menyukai bekerja di luar, hanya saja Alula tak tenang karena meninggalkan Zyandru sendiri.


Alula akui ia masih kesal dengan perbuatan Zyandru beberapa waktu lalu, meski Zyandru sering membuatnya menangis, namun tak dipungkiri ia masih peduli dengan suaminya itu.


Sekian waktu perjalanan, akhirnya mereka sampai di lokasi, Alula begitu takjub ketika mengetahui satu gerbang hanya berisi satu rumah, halamannya sangat luas, bahkan Alula berpikir jika ia berjalan mengelilingi halamannya, kakinya pasti akan kebas.


Di sana terdapat seperti joglo tempat mereka meeting, Alula meletakkan ponselnya di meja untuk merekam percakapan Ansell dan rekan bisnis mereka. Alula melakukan itu untuk bahan membuat laporan nantinya.


Hingga siang hari, mereka diajak untuk beristirahat, beribadah dan makan siang.


Raga Alula memang berada di bogor, namun hatinya berada di jakarta, tepatnya di kantor tempat bekerjanya, Alula terus saja memikirkan Zyandru. Saking khawatirnya, Alula bahkan menelpon Yola dan menanyakan keadaan Zyandru.


Alula bernapas lega setelah mendengar Yola mengatakan Zyandru ternyata sedang makan siang di ruangannya.


"Ya udah, makasih ya kak maaf ngerepotin" ucap Alula kemudian menutup teleponnya.


Setelah makan siang, kini Alula dan Ansell diajak ke lokasi yang kedua, tanah merah menjadi pemandangan mereka, meski dalam proses pembangunan, lokasi ini cukup tertara rapi.


Untung saja Alula memakai sneakers yang memudahkannya untuk berjalan, Alula terus berjalan di belakang Ansell sambil terus mendengarkan percakapan para pria itu.


Alula memperhatikan Ansell yang sedang berbicara, sebenarnya Ansell tak jauh berbeda dengan Zyandru, Ansell juga tampan, meski lebih tampan Zyandru, mereka juga sama-sama berwibawa dan proposional tubuh mereka sempurna.


Hanya saja, Zyandru memiliki aura yang berbeda. Tatapan Zyandru begitu mengintimidasi dan mematikan.


...***...


Setelah seharian bertemu dengan salah satu rekan bisnis, sore ini Alula dan Ansell tengah dalam perjalanan kembali ke perusahaan.


Satu jam lebih perjalanan, kini mereka sudah sampai dengan hari yang sudah gelap, para karyawan terlihat sudah meninggalkan perusahaan.


Tak lama setelah sampai, Alula, Zyandru dan Ansell sama-sama pulang, di dalam mobil yang dikendarai pak mun, Alula terlihat memukul bahunya beberapa kali, untuk sekedar mengurangi rasa pegal yang menjalar di tubuhnya. Wajahnya menunjukkan berapa lelah dirinya


"Alula"


"Ya"


"Tadi kamu yang suruh?"


Alula mengerutkan keningnya, "suruh apa?"


"Tadi siang ada OB yang siapin makan dan obat buat aku, OB itu bilang kamu yang suruh"


"Iya"


Tangan Zyandru merambat mencari tangan Alula, "makasih ya" ucap Zyandru dengan senyuman manis di wajahnya.


Alula membalas genggaman tangan Zyandru, "sama-sama" Alula juga mulai tersenyum menatap Zyandru.


Tiba-tiba saja pak mun mengerem mobil mendadak, hingga membuat terkejut kedua orang yang sedang beradegan romantis di belakang.


"Astaga pak mun, kenapa ngerem mendadak, untung saya pake seat belt, Alula kamu gak apa-apa kan?" ucap Zyandru kembali menggenggam tangan Alula


"Maaf tuan nyonya, di depan tiba-tiba ada orang jatuh"


"Aku gak apa-apa kok, biar aku liat ke depan ya"


Alula keluar dari mobil, betapa terkejutnya ia melihat orang yang sangat dikenalnya tersungkur di jalan.


"ASTAGA PRINCY"