
"EREN!!! EREN!!" Panggil Clara yang tak menghentikan langkah kaki Eren.
Wanita itu berlari sangat kencang dan berhasil meraih tangan kiri milik pria itu.
"Eren, dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu" Ucap Clara.
"Apa yang harus dibicarakan? Kamu tahu apa yang sudah kamu perbuat? Kamu sudah membuat seorang ayah, seorang suami meninggalkan dan menelantarkan istri dan anak-anaknya sendiri demi wanita lain dan anak milik orang lain. Kamu sebagai sesama wanita, dimana hati nurani kamu dan sekarang kamu memintaku untuk memberimu kesempatan?" Ucap Eren emosi.
Disisi lain...
"Akhirnya sampai juga." Ucap Mama Eren.
"Permisi, kalian semua bisa turun terlebih dahulu disini. Saya akan mencarikan parkiran" Ucap Rangga.
Rumah sakit saat itu memang sedang penuh. Banyak mobil yang terparkir disana membuat Rangga kesusahan mencari area untuk parkir.
Setelah memastikan semua sudah turun dan barang-barang pun telah diturunkan, Rangga langsung tancap gas mencari area parkir. kebetulan sekali ada mobil yang keluar dari lahan parkir. Tanpa ragu, Rangga langsung menempatinya.
Cuit cuit
Rangga mengunci mobilnya dengan remot.
"Sudah. Ayo berangkat" Ucap Rangga
Mereka berlima berjalan menuju ke arah pintu masuk rumah sakit dan melihat kedua orang yang mereka kenal sedang cekcok hebat didepan sana.
"Itu kan Eren dan Clara? Ada apa dengan mereka?"Tanya mama Eren heran
"Bener ma. Tapi, sepertinya ada yang ga beres. Mereka sepertinya sedang bertengkar deh ma" Timpal Kaira.
"Sudahlah, biarkan aku pergi" Eren menghempaskan tangan Clara dan berjalan lurus tanpa menengok kanan kiri.
Sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang Kaira dan juga arah kiri Eren. Mobil tersebut nampak sangat terburu-buru. Eren dengan amarahnya yang memuncak tidak menyadari klakson yang berkali-kali telah dibunyikan
"PAPA AWAS!!!"
"EREN MINGGIR!!!"
Teriakan-teriakan dari orang-orang sekitar pun tak diindahkan olehnya. Entah angin dari mana yang membawa Kaira berinisiatif menolongnya. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya, wanita itu langsung menuju ke tengah jalan dan mendorong Eren hingga terjatuh ke lantai.
BRAKKK
Tabrakan pun tak dapat dihindarkan. Mobil tersebut menabrak Kaira dengan sangat kencang hingga menarik perhatian beberapa orang yang berada disana. Bukannya berhenti, mobil itu malah melarikan diri tak mau bertanggung jawab.
"KAIRA!!!" pekik semua orang saat melihat Kaira yang telah terbaring di tengah jalan.
Eren yang tersadar pun langsung menghampirinya.
"Ara, please sadar. Jangan tinggalin aku. Maafin aku" Ucap Eren panik.
Darah segar terus bercucuran dikening Kaira. Mulut dan hidungnya pun mengeluarkan darah yang sudah tak terhitung jumlahnya.
"Mas. Akhirnya, apa yang aku inginkan kesampaian..." Ucap Kaira lemah.
"Apa maksud kamu? Aku ada disini. Tidak akan ada sesuatu yang terjadi padamu, ok?" Ucap Eren mulai panik.
Kaira hanya meresponnya dengan senyuman.
"Terbaring dilenganmu dan dalam dekapanmu adalah keinginan terbesarku. Aku cukup puas"
"Aku akan mendekapmu selalu kedepannya,ok? Lain kali, kamu jangan mengorbankan dirimu demi aku. Aku sudah begitu jahat kepadamu. Mengapa kamu masih mau mengorbankan diri demi aku?" Tanya Eren.
"Karena aku masih sungguh menyayangimu. Maaf, aku benar-benar telah gagal melupakanmu. Mencintaimu, aku hanya butuh waktu beberapa hari saja. Namun, melupakanmu butuh waktu seumur hidupku" Ucap Kaira
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Aku akan membawamu ke dalam" Ucap Eren
Eren menggendong tubuh ramping dan perfect milik Kaira
Wanita ini... Dia semakin ringan daripada dulu waktu masih bersamaku. Sudah berapa banyak penderitaan yang dia alami karena ku?~Batin Eren.
Kesadaran Kaira perlahan mulai menurun hingga akhirnya dia tak mampu lagi untuk membuka kedua matanya. Wanita itu telah pingsan sepenuhnya karena kehilangan banyak darah.
"Ara? Please, jangan pingsan. Jangan bikin panik" Ucap Eren mencoba membangunkan Kaira.
Namun, tak ada respon sama sekali dari wanita yang ada dipeluknya itu.
"DOKTER!!! TOLONG!!!" Teriak Eren memenuhi ruangan.
"Eren, pria itu mengapa berteriak? Atau sesuatu terjadi?" Gumam Wisnu sendirian.
Wisnu menghampiri arah datangnya suara tersebut dan mendapati Eren dan keluarganya beserta Rangga dan Clara ada disana.
"Untuk apa kamu masih disini huh? Apa tidak cukup puas bagimu untuk merenggut Eren dari istri dan anak-anaknya? Sekarang apa lagi maumu? Menertawakannya?" Tanya Mama Eren geram.
"A-aku...Aku minta maaf. Aku menyesal dengan perbuatanku. Tolong maafkan aku" Clara berlutut memegang kaki mama Eren dan memohon ampun padanya. Sedangkan Eren mondar-mandir memikirkan keadaan Kaira yang ada di dalam.
"Bodoh Eren bodoh. Jika kamu lebih berhati-hati, kaira tidak akan seperti ini.." Gumam Eren mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri lagi.
"Ada apa ini? Mengapa ramai-ramai?" Tanya Wisnu yang tak tahu darimana datangnya.
"Wisnu" Pekik semua orang yang berada disana.
"Siapa yang sakit? Mengapa kalian terlihat panik dan lagi, dimanakah Kaira?" Tanya Wisnu
"hiks hiks hiks. Om mama di dalam. Mama ditablak mobil. Tadi papa nyeblang ga lihat-lihat. Telus ada mobil kencang Telus mama dolong papa sampai jatuh. Mama beldalah banyak banget. Kasihan mama om. Kalau sesuatu teljadi sama mama, Alen sama kak olen harus gimana?" Ucap Karen sesenggukan.
Lauren terdiam tanpa kata, namun air matanya terus bercucuran dan mulutnya komat-kamit melontarkan doa sebisanya tanpa suara.
Sedangkan, di dalam ruangan, Kaira nampak terbaring lemah tak sadarkan diri dan sedang berjuang melawan komanya. Dokter berupaya besar untuk menyelamatkannya dengan berbagai metode.
Beberapa saat kemudian...
"Nona, nona sudah bangun?" Tanya dokter.
"Aa.. Sa-sakit..." Rintih Kaira.
Tidak, aku harus bertahan. Sedikit saja. Aku harus kuat.~Batin Kaira
"Dokter, bolehkah saya meminta kertas dan bolpoin?"Tanya Kaira.
"Boleh. Untuk apa?" Tanya Dokter
"Sa-saya rasa. Saya tidak akan lama lagi. Saya mohon untuk merahasiakan kesadaran saya saat ini." Ucap Kaira terengah-engah. Nafasnya terasa berat. Dia merasa ajalnya akan segera tiba. Wanita itu menuliskan sebuah surat di atas kertas yang diberikan oleh dokter.
Lama waktu yang dia butuhkan untuk menulis sebuah surat. Sedangkan, mereka semua yang berada di luar ruangan menanti kabarnya yang masih tak pasti itu.
"Dok, saya mohon berikan surat ini kepada pria yang berpakaian kemeja warna putih dan berwajah bule didepan." Ucap Kaira sebelum dirinya tak sadarkan diri
Setelah dirinya selesai memberikan surat tersebut kepada dokter, nafasnya kembali sesak dan dirinya kembali tak sadarkan diri.
Tit... tit... tiiiiiiiitttttt....
Alat pendeteksi detak jantung, monitor yang berada di sebelah Kaira, menunjukkan garis mendatar secara horizontal disana. Itu menandakan bila detak jantung Kaira telah menghilang. Kaira menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sus, ambilkan alat picu jantung" Pekik Dokter mulai panik.
Suster dan beberapa asisten dokter lainnya terlihat panik. Dokter menggesekkan alat picu jantung tersebut dan mengarahkannya kepada Kaira. Tiga kali sudah tubuhnya disetrum, namun tak ada respon apapun darinya.
"Catat jam kematiannya." Ucap dokter pasrah.
Dokter tersebut keluar dari ruangan untuk memberikan kabar duka bagi keluarga pasien
"Dok, gimana keadaan mantan istri saya? Semua baik-baik saja kan?" Tanya Eren panik.
"Benar. Bagaimana keadaan menantu saya?" Tanya Mama Eren.
"Dokter, mama ga kenapa-napa kan?" Tanya Lauren yang akhirnya bersuara.
Dokter menghela nafas pelan.
"Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Nona Kaira tidak dapat diselamatkan" Ucap dokter tersebut.
"APA?!!" Pekik semua orang bersamaan.
Mereka menampilkan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Namun, semuanya nampak syok berat akan kejadian tersebut
"Anda tidak bercanda kan?" Tanya Eren sambil menggoyangkan tubuh Dokter.
Eren mengalihkan perhatiannya dan melihat Kaira yang telah terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit miliknya. Wanita itu nampak cantik dan bersih, berbeda dibandingkan dengan yang tadi yang penuh luka.
"ARA!!! Please, don't leave me. Don't leave Karen and Lauren. Wake up please. Forgive me" Teriak Eren sambil memeluk tubuh Kaira yang telah menjadi patung.
"ARA!!!!" Pekik Eren yang diakhiri tangis penyesalan dari dirinya
"Mama, kenapa mama tega ninggalin Lauren sama Karen? Gimana sama kami nanti? Hiks hiks hiks"
Seisi ruangan dipenuhi dengan tangisan tak terkecuali Rangga dan Wisnu. Namun, Wisnu tak dapat mendekatinya.
Gue ga nyangka lu bakal ninggalin gue secepat ini, Kaira. Bahkan lu belum sempat Nerima cinta gue. ~Batin Wisnu.
"Permisi, apakah disini ada yang bernama Eren William?" Tanya seorang dokter yang tadi menangani Kaira.
"Iya dok. Saya sendiri" Jawab Eren.
"Tadi Almarhumah menitipkan sebuah surat untuk anda" Ucap dokter tersebut sambil menyerahkan kertas kecil yang berada di tangannya.
Eren membuka kertas tersebut dan membaca isi di dalamnya.
Hai, mas Eren. Aku harap kamu memiliki waktu untuk membacanya. Maaf... Maaf aku belum bisa menjadi istri terbaik untukmu waktu itu. Maaf, aku belum bisa menjadi sosok yang selalu kamu idam-idamkan. Dan maaf untuk sikap dinginku dan tolakan yang Aku lontarkan saat kamu memintaku tuk kembali, namun percayalah aku masih mengharapmu. Namun, sekarang sudah tak sempat lagi.
Aku ucapkan terimakasih untuk segala memory yang telah kau berikan untukku. Kita yang awalnya bertemu dengan cara yang menyebalkan dan berakhir disebuah pernikahan kontrak diatas kertas. Terimakasih atas rasa yang telah kau berikan kepadaku, rasa manis dalam hidup, rasa pahit dan rasa yang benar-benar tidak akan pernah aku temui dalam hidupku. Namun, Aku melihat Aku bukanlah bahagiamu, sebaliknya kamu bahkan terlihat sangat tertekan bersamaku. Jika bahagiamu adalah kematianku, maka aku rela untuk mati karenamu. Kau tahu mengapa? Karena Aku sangat mencintaimu. Aku mencintai sosok pria yang hatinya takkan pernah Aku miliki.
Mungkin saat kamu membaca Surat ini adalah saat aku sudah tidak Ada lagi didunia ini, tapi Mencintaimu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untukku. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu dan kepada semua. Jaga Lauren dan Karen baik-baik. Selamat tinggal, Eren. I love you so much... ~Batin Eren membaca Surat dari Kaira.
"Tidak Ara. Kamu adalah wanita yang selama ini aku Idam-idamkan. Aku lah yang terlalu bodoh tidak melihatnya..Maafkan aku Kaira. Maafkan aku" Ucap Eren sambil menangis diatas Kaira.
...................
Beberapa saat kemudian
Pemakaman dilaksanakan hari itu juga. Banyak sekali yang datang menghampirinya. Mulai dari rekan bisnis hingga teman-teman Kaira. Zuli dan Angela pun terlihat disana.
"Selamat jalan kawanku. Semoga kau bahagia disana. Kami berjanji kami akan terus mempedulikan kedua buah hatimu ini. Terimakasih telah menjadi teman terbaik kami" Ucap Zuliana sesenggukan.
Lambat laun, mereka semua mulai pergi meninggalkan pemakaman. Tinggallah Eren, Karen dan Lauren disana.
"Ara, terimakasih telah hadir dalam hidupku. Aku janji aku akan merawat kedua buah hati kita dengan baik dan tidak akan menelantarkannya lagi. Aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya. Selamat tinggal. I will always love you forever" Ucap Eren. Pria itu berlalu pergi sambil menggandeng kedua buah hatinya itu pergi menjauh dari makam Kaira.
The End....
..........
Finally, season satu telah tamat. Maaf jika ada perkataan Author disini yang menyinggung kalian. Maaf pula jika ada kata-kata kasar dan kurang senonoh yang telah tertulis di novel ini. See u on the next project. Tunggu kelanjutan dari kisah mereka.
Satu lagi selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalaninya. Thor minta maaf lahir dan batin kepada para readers sekalian jika author punya salah dan terkadang terkesan sombong ke kalian.
Salam hangat
Ajeng Rizqita(Prince Philip)🤗🤗🤗