
"Biarkan dia masuk" Ucap Wisnu
Setelah mendengar ucapannya, Clara langsung menerobos masuk tanpa menunggu persetujuan dari pelayan itu
"Wow, nona kecilku ternyata sudah tumbuh besar" Ucapnya sambil melihat buah dada milik Clara.
Clara duduk dipangkuan pria itu layaknya dia adalah anak dari pria itu
Wisnu Wijaya adalah seorang pengusaha muda sukses dan berbakat. Saat ini, dia sangat terkenal di dunia bisnis bahkan cabangnya pun mulai tersedia di belahan bumi manapun. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia masih lajang alias belum menikah bahkan berpacaran juga tidak.
Pria mana sih yang tahan dengan godaan yang ada didepan matanya? Jelas-jelas jika Clara sedang menggodanya. Dia pria normal, dia suka bermain wanita, itulah sebabnya dia tidak menikah dan memiliki pacar tetap.
Cinta? Apa itu cinta? Wisnu tidak pernah mengenal yang namanya cinta. Yang dia ketahui hanyalah berhubungan dengan seseorang sangatlah indah dan nikmat.
"Abang nu semakin nakal ya sekarang" Ucap Clara dengan nada nakalnya
"Suruh siapa kau menggodaku?" Wisnu mendekatkan bibirnya dan ******* lembut bibir Clara, mulai meraba dan meremas lembut melon milik Wanita yang ada di pangkuannya sekarang. Clara menggeliat menggila. Dia semakin menggoda Wisnu hingga Wisnu tak tahan lagi dan membawa Clara ke sebuah kamar
...............
Disisi lain...
Seorang pria masih berusaha untuk membujuk istrinya agar mau datang kerumah. Rangga telah sampai disana dengan membawakan beberapa bucket bunga dengan jumlah sesuai dengan tanggal pernikahan mereka tak lupa dengan sejumlah makanan kesukaan istrinya
"Tuan. Mohon maaf sebelumnya, jangan terkejut. Aku ingin memberitahukan sesuatu" Ucap Rangga
Dia bersiap menerima ledakan emosi dari Eren. Rangga memberikan ponselnya kepada Eren.
Eren membelalakkan mata ketika Clara begitu nakal menggoda pria yang tak lain adalah Wisnu Wijaya, teman Clara waktu kecil dulu.
"Inikah yang dikatakan teman? Cihh, bahkan dia lebih terlihat seperti wanita penggoda" Ucap Eren jijik
"Menurut yang saya dengarkan, mereka memang tidak berpacaran dan tuan Wisnu sama sekali tidak memiliki rasa pada nona Clara. Dia hanya menggoda pria itu saja" Rangga memberi penjelasan. Namun, Eren nampak sangat tenang, tidak menunjukkan dia sedang cemburu
"Biarkan saja. Seorang ****** selamanya akan menjadi jal*ng takkan pernah menjadi berlian. Fokusku sekarang adalah menggapai bulan yang susah digapai" Eren menatap kearah kamar Kaira
Ehh? Dia ga marah? Tumben. Huh, memang non Kaira benar-benar hebat. Dia memang pantas disebut bulan yang indah. Dia memang bukan wanita murahan dan beda dibandingkan dengan yang lain. Wanita kuat dan tegas. Jika saja aku mengetahuinya sebelum tuan muda, mungkin aku bisa memilikinya dan membahagiakannya ~Batin Rangga
Rangga tersenyum tipis. Dia bertekad untuk memperjuangkan kebahagiaan Kaira.
"Rangga?" Panggil Eren. Rangga terdiam sejenak. Dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila
"RANGGA!!!" Eren berteriak tepat ditelinganya
"Tuan, bisa ga sih ga teriak di telinga saya?"
"Lagian kamu dari tadi diajak ngobrol, dipanggilin malah senyum-senyum sendiri. Mikirin apa sih?"
"Mikirin Nyonya Kaira" Jawab Rangga polos tak berdosa hingga dia menyadari pria disampingnya telah berubah menjadi macan
"APA KAMU BILANG?!!" Emosi Eren memuncak. Dia hampir saja memukul Rangga
"Tidak tidak. Saya hanya bercanda. Saya tidak memikirkan apa-apa tuan. Hanya masa depan saja. Saya iri lihat tuan begitu disayangi oleh nyonya muda" Ucap Rangga. Emosi Eren mereda.
"Huh sudahlah. Jangan membuang waktu lagi. Bantu aku membawa semuanya keatas"
Eren berjalan ke kamar Kaira dengan membawa sebuah bucket bunga yang bertuliskan kata "Maaf"
Tok tok tok
Kaira sepertinya masih asyik menonton televisi dengan Ana. Suara tawa terdengar hingga keluar.
"Hahaha."
"Nona, sepertinya ada seseorang yang mengetuk"
Kriekkk
Betapa terkejutnya dia saat orang yang pertama kali dia lihat saat membuka pintu adalah sosok yang membuatnya hancur beberapa hari ini
"Hai sayang" Sapa Eren
Kaira malas melihatnya dan akan segera menutup pintu. Namun, tangan kekar Eren dapat menahannya
"Tidak. Kau tidak boleh pergi"
"Kenapa aku tidak boleh pergi dan untuk apa kamu kemari? Bukankah kemarin kamu yang mengusirku? Atas dasar apa kamu melarangku?" Kaira berusaha untuk tegar
"Maaf. Aku salah. Tapi, aku sudha menuruti semua kata-kata dan keinginanmu. Kumohon maafkan aku" Eren membulatkan matanya membuat Kaira semakin jijik dibuatnya
"Kamu enak ya bilang maaf? Kamu kemana saat aku kedinginan diluaran sana? Kamu kemana saat aku paling membutuhkanmu dirumah sakit? Kamu bahkan menuduhku untuk hal yang tidak aku lakukan sekalipun aku telah bersujud dan merendahkan harga diriku demi kamu percayai. Nyatanya apa? Kamu malah membela mantan kamu itu kan?" Kaira tak dapat menguasai dirinya sendiri. Air mata pun jatuh deras tak terkontrol.
"Hiks hiks. Sebenarnya, Siapa aku dimatamu bagaimana aku kepadamu. Kau pikir aku hanya bermain trik? Tidak. Aku benar-benar tulus. Apa kamu buta dan tidak bisa melihat huh?"
Percayalah, ketika seorang wanita berbicara sambil menangis itu menandakan bila dirinya sedang sangat terluka
Eren hanya terdiam memaku. Dia tak dapat berkata-kata lagi.
"Sudahlah, jika tidak ada keperluan lagi, aku akan menutup pintunya"
"Ehh jangan jangan."
"Aku tahu aku salah. Jadi, aku dengan setulus hati minta maaf kepadamu."
"Rangga, bawakan semua itu kedalam kamarnya"
Sesuai perintah Eren, Rangga meletakkan semua belanjaan yang dia belikan tadi kedalam kamar wanita itu. Dia terkejut bukan kepalang bahkan seseorang yang berada didalam pun ikut terkejut dibuatnya
"Ehh ehh, ini apa? Banyak sekali?" Tanya Ana kepada Rangga
"Entahlah. Bos menyuruhku ya aku melakukannya saja. Btw, lama ga ketemu." Rangga mengulurkan tangan
"Mau peluk?" Ana menyeringai. Wajah Rangga memerah untuk sementara waktu. Dia mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat oleh wanita itu
"Ga usah malu-malu lah kek sama siapa. Udah kalau kangen peluk aja. Duduk sini nih sebelah gue"
Ana seperti bayi tanpa dosa dengan polosnya menggoda pria itu. Menurutnya, Rangga sangat imut saat itu.
Back to Kaira&Eren
Kaira terpana melihat kesungguhan hati suaminya. Dia luluh seketika hingga tak terasa air matanya menetes untuk kedua kalinya. Bedanya, tadi air mata itu dipenuhi rasa sakit dan sesak didada dan sekarang sangat membuĂ tnya ingin terbang ke angkasa.
"Untuk apa kamu melakukan semua ini? Bukankah ini boros namanya?" Tanya Kaira
"Kamu benar-benar berbeda ya. Ahh aku memang benar-benar bodoh telah mengusir istri sepertimu. Kamu benar-benar tidak memikirkan harta. Tapi, Ara ku pantas mendapatkannya."
Mendapatkan hadiah sebanyak itu ditambah lagi pujian dan rayuan gombal yang manis dari mulut seorang pria yang kita cintai, wanita mana yang tidak luluh?
"Jadi, apakah kamu mau pulang? Please, pulang ya. Aku ga bisa tidur"
"Tch."
"Ahh baiklah. Aku setuju. Btw, terima kasih ya"
BRAKKK
Kaira menutup pintunya dan Eren hanya terkekeh kecil melihat kelakuan istrinya
"Masak yang diterima cuman barangnya aja orangnya enggak? Aku mau masuk juga lah"