
Setelah beberapa saat perjalanan, mereka pun tiba disana. Udara khas ibu kota terpancar disana, panas dan bau asap kendaraan melayang-layang di udara, masuk ke dalam hidung yang bahkan sampai menembus mata, perih, itu yang harusnya dirasakan.
Kaira dan yang lainnya turun dari pesawat pribadi milik William Group. Walau Ibu kota tidak seasri di Bali, namun Kaira tetap saja merindukan Jakarta, tempat dia dilahirkan. Segala kenangan bahkan tempat-tempat yang ada menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya hingga saat ini
"Hoammm" Kaira menguap dan meregangkan tubuhnya yang rasanya hampir mati rasa.
"Wuhhh, aku kangen banget sama Jakarta. Aku juga kangen sama kasurku yang empuk dan juga aku merindukan tata sama Liling" Ucap Kaira. Wanita itu membayangkan untuk sesegera mungkin memeluk Liling dan Tata, bantal dan guling kesayangannya.
Mereka berjalan keluar bandara. Suara hiruk-pikuk terdengar nyaring disana. Berbagai orang menantikan kepulangan para saudara, pacar, suami, dan orang-orang yang mereka sayang, ada pula yang mengantarkan, menangis untuk melepaskan kepergian orang tersayang. Berbagai macam orang berkumpul disana.
Mata Kaira liar mengembara. Dia tidak pernah lupa untuk mampir ke salah satu kedai Boba yang terkenal enak di bandara itu, kedai Boba 79 yang sudah menjadi langganannya. Kebetulan sekali, pemiliknya adalah temannya sendiri. Tak jarang dia mendapatkan diskon dari mereka.
"Mas, kamu mau pesan apa? Ana, Rangga kalian pesan apa saja sesuka kalian." Ucap Kaira
Wanita itu melepas penatnya dan duduk santai serta menghapus keringatnya yang bercucuran. Seseorang tiba-tiba menutupi matanya
"Mas? Itu kamu kan?" Tanya Kaira
Wanita cantik itu hanya terdiam menunggu Kaira menjawabnya
"Mas, ga lucu ihh" Kaira menarik tangan wanita itu
"Ahhh" teriaknya Wanita itu hampir saja terjatuh ke meja Boba, tempat kaira duduk
"Ehh Poppy. Maaf maaf." Ucap Kaira
"Kamu ihh, Kai. Ga asyik. Suruh nebak juga malah narik-narik tangan orang. Sakit tau" Poppy melayangkan protesnya pada Kaira. Kaira hanya terkekeh melihat sahabatnya yang memanyunkan bibirnya itu.
"Kok malah ketawa sih?" Poppy memberhentikan aktivitasnya setelah mendengar Kaira menertawainya
"Ya gimana ga ketawa coba..Kamu lucu sekali."
"Ehh btw, Kai. Siapa pria itu? Apakah kamu mengenalnya? Dia tampan sekali" Tanya Poppy yang terpana melihat Eren di ujung sana
Sekali lagi, kaira tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya telah menikah, jikalau pun iya, dia tidak pernah menunjukkan pria manakah yang mereka nikahi.
"Ehh ehh lihat itu. Bukankah dia Presdir yang sering muncul di televisi? Si Presdir dingin dan tampan, Eren William" Ucap seorang penumpang di sana.
"Seriously? Itu tuan muda William. Arghh aku harus meminta tanda tangan miliknya." Pekik Poppy. Wanita itu langsung berlari menuju dalam kedainya. Namun, kaira mencegahnya
"Pop, sejak kapan sih kamu jadi begitu norak? Kayak ga pernah ketemu artis aja. Emang apa hebatnya pria itu?" Ucap Kaira sedikit memprovokasi. Eren menatap tajam dirinya. Kaira menjulurkan lidahnya diam-diam kepadanya.
Awas aja kamu. Kalau sampai rumah, aku akan memakanmu tanpa ampun, Ara~Batin Eren.
"Ohh baby honey Kaira. Apa kamu ga tau? Pria itu adalah Presdir termuda di ibu kota. Selain itu, dia juga sangat tampan dan penuh kasih terlebih saat dulu dirinya masih berpacaran dengan model Clara." Jelas Poppy
Mas, kau berhutang suatu penjelasan kepadaku nanti. ~Batin Kaira menatap tajam. Eren berpura-pura melihat kearah lain, seakan tak mendengarkan ucapan mereka.
"Udah ya, aku mau minta tanda tangan dulu. Mumpung belum pergi dia." Ucap Poppy.
Eren masih saja dikerubuti oleh para wanita. Aku sudah terbiasa dengan situasi itu saat aku bersama dengannya. Dia memang benar-benar seorang pria idaman jika dia selalu berpegang teguh pada janjinya, sayangnya Eren tak pegitu.
Beberapa kali Eren terpaksa memberikan tanda tangannya dan berswafoto dengan para fansnya. Kaira menikmati pemandangan tersebut sambil makan pop corn yang ada ditangannya. Berkali-kali Eren memintanya untuk membantu, namun Kaira nampak sangat menikmati pemandangan itu
"Sudah cukup ya. Saya terburu-buru." Ucap Eren. Kaira hanya tertawa lepas melihatnya.
Kerumunan fans itu telah pergi saat pesawat yang akan mereka tumpangi sudah memasuki jamnya untuk terbang. Eren dapat bernafas lega setelahnya.
"Nahh tuan muda kan sudah ga ada lagi orang disini. Boleh lah foto-foto dulu" Ucap Poppy tanpa tak tahu malunya. Kaira hanya dapat menggelengkan kepalanya pelan
"Benar-benar Poppy. Dibilangin ngeyel. Pasti habis ini dia pamer" Gumamnya sendirian
Benar saja Poppy berlari kearah kaira dengan ekspresi gembiranya itu.
"Ahhh.. Aku mendapatkannya." Teriak Poppy.
Mungkin memiliki teman sepertinya itu adalah sebuah keberuntungan bagi Kaira. Tawanya mampu membuat setiap orang ikut bahagia dan tertawa, membuat setiap orang melupakan beban pikirannya.
Kaira terlihat masih saja sibuk mengobrol dengan Poppy. Tak lama kemudian, Eren, Rangga serta Ana menuju meja makannya. Poppy melihat pria itu tanpa berkedip, mulutnya pun terbuka. Wanita itu tidak dapat berkata-kata.
"Ehh tuan..." Ucap Poppy.
"Apakah kamu ingin bergabung dengan kami? Silahkan duduk disini." Ucap Poppy.
Kaira langsung bergeser tanpa berucap. Dia tersenyum hangat saat menerima sebuah gelas berisikan matcha boba.
"Thank u" Ucap Kaira singkat
Semua perilaku mereka berdua semakin membuat Poppy bingung dibuatnya
"Tunggu tunggu. Mengapa anda memberikannya hanya kepada teman saya itu? Kenapa saya tidak?" Protes Poppy
"Bukankah kamu adalah pemilik kedai ini?" Balas Eren
"Iya sih" Gumam Poppy
"Ya tapi kan setidaknya traktir aku. Atau bawakan lah buat aku" Lanjut Poppy
"Ara, kamu mau mencoba? Kata mas itu ini adalah best seller dan yang paling laris disini. Benar?" Ucap Eren
"I-iya benar"
Gak, ga bener ini. Mereka terlihat sangat mesra. Apakah mereka...~Batin Poppy
Kaira menyeruput minuman milik suaminya
"Ara..." Panggil Eren
"Mau dong itu" Eren memberikan kode manja pada Kaira. Pria itu begitu imut. Sepertinya, dia memang sengaja agar kaira mengakui hubungan mereka berdua kepada publik. Tapi, bukankah tidak mempublikasikannya adalah permintaannya waktu itu? Oh, atau mungkin Kaira yang lupa? Sudahlah, itu bukanlah bahasan yang penting lagi. Jika pria itu menginginkannya, maka lakukan saja, bukankah begitu?
Kaira menurutinya saja, membuat rasa ingin tahu(kepo) Poppy memuncak.
"Kaira, tuan, apa hubungan kalian sebenarnya?" Tanya Poppy.
Jika benar mereka adalah sepasang kekasih, apakah aku masih memiliki kesempatan? Ehh tapi selama janur kuning belum melengkung, bukankah masih bisa ditikung? ~ Batin Poppy
Tapi, bukankah sebelumnya dikabarkan bila Tuan Muda masih terlihat gamon?
"Pfffttt..." Kaira menahan tawa. Entah wanita itu polos atau pura-pura tidak tahu.
"Dia, istriku" Jawab Eren singkat. Pria itu memberikan sebuah kecupan lembut pada pipi tirus milik Kaira. Wajahnya merona seketika
"A-apa? Istri? Sejak kapan kalian menikah?" Pekik Poppy terkejut
"Maaf, kami sudah berjanji untuk tidak mempublikasikannya secara luas. Namun, beberapa bulan ini, bukankah sudah ada kabar mengenai Eren sudah menikah? Kemana saja sih kamu?" Selidik Kaira
"Terlebih lagi, kami bukan hanya sudah menikah, tapi dia, bayi mungil ini adalah buah hati kami" Lanjut Kaira membuat Poppy semakin terkejut. Wajah pias dan kecewa miliknya terpampang begitu nyata, dia tidak memiliki kesempatan lagi.
"Oren, kasih salam tuh sama onti Poppy" Ucap Kaira kepada Lauren.
"Heh, Kai. Apakah tidak ada panggilan yang lebih bagus untuk anak ini? Dia begitu tampan dan keren untuk kau beri nama Oren. Kau pikir dia kucing apa?" Ucap Poppy
"Hai, baby tampan. Nama kamu siapa? Mama nakal ya kasih nama kamu kayak kucing" Ucap Poppy. Baby L tertawa cekikikan saat Poppy berbicara dengannya. Tangan mungilnya menggenggam erat tangan Poppy.
"Memang ya bayi sekarang cerdas-cerdas. Bukankah dia baru berusia seminggu saja? Mengapa dia sudah begitu tanggap? Ugh gemesnya. Aunty culik ya kamu"
"Gamau aunty. Oren maunya sama mama aja" Sahut Kaira. Mereka semua terkekeh bersamaan. Memang, baby L sangatlah menggemaskan. Dapat dipastikan, jika identitasnya dipublikasikan, dia akan menjadi incaran semua orang. Maka dari itu, Kaira dan Eren memutuskan untuk tidak mempublikasikannya.