
Wisnu telah pulang dari kantornya.
"Aku pulang" Ucap Wisnu seperti biasanya.
Dia melihat sekeliling rumah dan tidak mendapati seorang pun disana. Rumahnya nampak sepi. Wisnu menuju kamarnya dan berganti pakaian, menyimpan tasnya sebagaimana semestinya dan keluar lagi mencari keberadaan orang rumah
"Mbok, Kaira? kalian kemana?" Tanya Wisnu memanggil mereka satu-persatu.
"Oh Raden udah pulang ya" Ucap Mbok.
"Mbok, mana kaira?" Tanya Wisnu sambil celingukan mencari batang hidung wanita yang ia cintai itu.
"Tadi sih pamitnya nyari kerjaan. Mas Wisnu tahu sendiri kan. Cuman, sampai sekarang masih belum balik" Jawab Mbok.
Tch, kemana sih wanita itu?~Batin Wisnu dalam hati.
Seseorang yang dicarinya, saat ini tengah bersenda gurau dengan temannya.
"Ahahaha. Ada-ada aja sih tuh anak. Terus gimana kabarnya sama Hilda,dll? Mereka masih resek kah?" Tanya Kaira dibarengi dengan tawa lepasnya.
"Ya masih sama. Mereka sekarang jadi istrinya para pejabat lho. Jadi kalangan sosialita. Udah pokoknya kalau kamu ketemu mereka, mereka pasti bakalan pamer kekayaan" Celoteh Mahen dengan gaya khasnya
"Mahen, jijik. Jangan gitu lah kalau ngomong. Kalah bencong" Celetuk Kaira diimbangi oleh gelagak tawa Mahendra.
"Canda canda. Ehh iya. Kamu tau ga, kita itu cocok lho" Ucap Mahen tiba-tiba.
"Maksudnya?" Kaira mulai mengerutkan keningnya, mencoba menangkap maksud dari lawan mainnya.
"Ya sama gitu. Kita sama-sama humoris, sama-sama tersakiti, sama-sama bla bla" Celoteh Mahen yang tak berujung.
"Yakin? Ga salah? Kenapa aku dengarnya kamu adalah pria yang dingin ya? Kamu bahkan terkenal seantero kampus. Pria tertampan dan terdingin. Kamu pikir, aku tuli?" Tanya Kaira menyelidik
"Lagian jadi orang PD amat" Tambah Kaira sambil merubah posisi duduknya.
"Tch. Dasar ga peka."
Sebagai kenangan yang terindah...
Ponsel Kaira berbunyi. Tertera nama "Wisnu" di layar ponselnya.
"Halo" Ucap Kaira dari ujung telepon.
"KAIRA!!! INI UDAH JAM BERAPA HUH?!!! CEPAT PULANG" Semprot Wisnu dari ujung sana. Kaira sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya yang hampir pecah itu. Kaira melirik kearah jam dan mendapati bila saat ini hampir mendekati tengah malam.
23.37... What? Ga salah kalau Wisnu marah, khawatir. ~Batin Kaira.
"Mahen, maaf ya. Kali ini kita sampai sini dulu obrolannya. Udah malam nih. Aku udah dicariin keluargaku. Lauren juga pasti udah rewel banget" Ucap Kaira dengan nada panik.
"Aku anterin ya" Mahen menawarinya Tebengan
"Ga deh. Nanti ngerepotin kamu"
"Enggak lah. Cewek ga baik malam-malam gini sendirian. Sama aku ya. Aman-aman. Aku ga bakal ngapa-ngapain kamu kok" Rayu Mahen
"Humm, ya udah deh" Kaira pun menyetujuinya.
...............
"Thanks ya udah nganterin aku. Aku masuk dulu" Ucap Kaira
Wisnu keluar dari rumahnya berdiri tepat disamping Kaira
"Ehh Wisnu. Kenalin dia Mahendra, teman aku waktu kuliah dulu" Ucap Kaira kepada Wisnu
"Mahen, kenalin ini Wisnu, teman dari mantan suami aku." Ucap Kaira kepada Mahen
"Wisnu"
"Mahen"
Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan bersaing, membunuh dan penuh siasat. Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung dan sangat menekan. Dingin. Mereka tersenyum penuh siasat
Kenapa perasaanku ga enak ya?~Batin Kaira.
"Oekkk oekkk"
Suara tangisan Lauren memecahkan kecanggungan diantara mereka. Kaira menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari kedua pria dingin dihadapannya.
"Uhmm, Mahen, Wisnu, aku kedalam ya. Lauren pasti udah kangen banget sama aku" Ucap Kaira canggung.
Tanpa menunggu jawaban, Kaira langsung melarikan diri ke dalam rumah.
"Kamu!!! jangan coba-coba mendekati Kaira. ingat itu. Kalau tidak, saya tidak akan segan terhadap anda" Ancam Wisnu
"Cihh, kamu pikir kamu siapa? Cuman teman dari mantan suami kaira kan? Lalu, apa bedanya dengan saya?" Ketus Mahen.
"Udah ya. Saya capek berdebat dengan pria tak tahu malu sepertimu. Goodbye" Ucap Mahen sambil berlalu pergi.
................
Hari ini adalah hari dimana Eren dan Clara akan sah menjadi suami istri. Hari bahagia bagi mereka dan hari paling suram bagi Kaira. Tak dapat dipungkiri, Kaira masih benar-benar sangat menyayangi Eren. Namun, bukankah jika dia tidak datang, itu menandakan dia adalah wanita yang kasihan? Cihh, untuk apa dia kalah dengan pasangan baj*ngan itu.
Wisnu memesan dua tiket untuk mereka berdua menuju kembali ke ibu kota. Dia berdandan secantik mungkin.
"Sayang, kamu harus kuat ya. Ada mama disini. Mama harap kamu nanti tidak seperti papa kamu ya nak. Itu sakit sekali." Ucap kaira menasehati Lauren.
Lauren meresponnya dengan anggukan pelannya dan celoteh mungilnya seakan bayi mungil itu mengerti ucapan dari ibundanya. Kaira dibuat gemas olehnya. Pria kecil miliknya itu benar-benar pelipur laranya.
................
Satu setengah jam kemudian...
Mereka telah tiba di bandara Soekarno-Hatta. Kaira dan rombongan langsung menuju ke pesta pernikahan Eren tanpa pergi ke hotel terlebih dahulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Ishabella binti Ali Marzuki dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Ucap Eren dalam satu tarikan nafas.
"Sah?" Tanya penghulu
"Sah"
Tes
Buliran bening itu kembali menetes saat mendengarkan kata "Sah" dari mereka. Eren bahkan nampak sangat bahagia, tidak seperti saat menikahinya dulu.
"Kaira, kamu gapapa?" Tanya Wisnu dari belakang.
"A-aku..." Kata-kata Kaira terhenti sejenak
"Aku gapapa." Ucapnya terbata-bata.
Setelah akad nikah selesai, serangkaian adat telah dilakukan. Kini adalah waktunya acara resepsi dilaksanakan. Semua orang berbaris rapi untuk menuju ke pelaminan. Kaira tak sanggup melihatnya, namun dia berusaha untuk berdiri tegap, tegar menerima kenyataan. Dia tak boleh terlihat lemah
"Gapapa kok. Cepat kembali ya. Kita belum mengucapkan selamat pada mereka" Wisnu dapat menangkap perasaan sedih dan sakit di setiap kalimatnya. Dadanya ikut berdenyut nyeri saat mendengarkan setiap perkataan yang terlontar dari mulut Kaira.
Sedangkan, disisi lain tempat acara...
Kaira? Dia ngapain disini dan kenapa dia sepertinya terus menatap tuan muda?~Batin Mahen
Seorang pria menepuk pundaknya dari belakang, membuatnya terpelonjak kaget.
"Ahh. Mahen" Teriak Kaira sedikit meninggi.
"Ahahaha. Ekspresimu pas kaget ga pernah berubah. Lucu sekali." Gelak tawa Mahendra terdengar nyaring mengisi ruangan.
"Mahen, lihat tuh. Mereka ngelihatin kamu. Malu-maluin" Ucap Kaira.
Wisnu sadar saat mendengar Kaira berbicara dengan seseorang. Dia benar-benar hafal dengan suara Kaira. Pria itu melihat Mahen, pria yang ditemuinya malam itu, pria yang telah mengantarkan Kaira pulang ke rumahnya.
"Yo bro. Wassap. Keknya seru banget ngobrolnya" Ucap Wisnu yang tiba-tiba muncul ditengah-tengah mereka. Wisnu merangkul pundak kedua orang itu dan memisahkannya.
"Kaira, ayo kita kesana" Ucap Wisnu sambil menunjuk kearah pelaminan Eren dengan Clara. Kaira hanya mengangguk menyetujuinya.
"Bung, boleh ga gue bareng?" Tanya Mahen SKSD(sok kenal, sok dekat)
" Baiklah, ayo." Respon Wisnu balik.
Mereka bertiga mengantri bersama
"Mahen, aku boleh minta tolong sama kamu?" Tanya Kaira dengan nada serius
"Minta tolong apa?"
"Kamu duluan ya, please" Kaira memohon pada Mahen.
"E... iya deh iya. Aku nungguin kalian di ujung sana" Jawab Mahen menyetujuinya.
"Ok, thank u"
Mahen menuruti ucapan Kaira. Pria itu langsung naik, bersalaman dan turun.
Sedangkan, Kaira dan Wisnu naik secara bersamaan. Pandangan kaira terhenti pada Eren. Mereka berdua saling bertatapan dalam waktu yang lama. Ada rasa benci, kecewa sekaligus rasa rindu yang sangat kuat mengalir di tubuh mereka berdua. Namun, Kaira menatapnya dengan penuh kebencian walau tak dapat ia tutupi bila tubuhnya benar-benar ingin memeluk pria di hadapannya.
"Ara..."Ucap Eren yang terhenti setelah Kaira menyahutnya
"Selamat ya mas atas pernikahan kamu dengan wanita yang kamu inginkan. Semoga kalian bahagia selalu dan tidak ada orang ketiga seperti dalam rumah tangga kita dulu. Duri dalam daging yang sangat menyakitkan" Ucap Kaira yang menusuk hati Eren. Kaira menahan air matanya agar tidak terjun bebas disana.
Tak mau berlama-lama, Kaira langsung berpindah ke hadapan Clara
"Congrats ya wanita perebut suami orang. Kamu menang sekarang, tapi ingat. Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan semu. Semoga kamu segera sadar. Tapi, bagiku, statusmu tidak lebih tinggi dari seorang pelakor dan mungkin di hati orang lain pun begitu." Ucap Kaira singkat dan langsung menuruni tangga.
Dulu, kita pernah menjadi pasangan yang saling mencintai, memiliki, melindungi sebelum akhirnya menjadi seseorang yang asing. Kudoakan kau bahagia mas~Batin Kaira.
Kaira tak sanggup menahan air matanya lebih lama lagi. Dia langsung berlari keluar agar tak seorang pun melihatnya. Namun, Eren masih saja menatap lama kearahnya. Hatinya sakit, hancur, saat melihat air mata pada gadis yang baru beberapa bulan lalu diceraikannya, namun dia sudah tidak memiliki hak untuk menghibur dan memeluknya.
Sial!! Kenapa begitu sakit? Apa aku masih mencintainya?~Batin Eren
"Hiks hiks hiks" Kaira menangis sesenggukan di luar ballroom hotel. Dia bersandar pada dinding disebelahnya. Perlahan mulai jatuh ke bawah Suasana sepi, tidak ada orang disana hingga Wisnu menyusulnya
"Hei, kaira. Kamu gapapa kan? Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan bila tidak kuat, jangan paksa untuk hadir." Ucap Wisnu.
Kaira menatap Wisnu tajam.Dia berdiri lalu memeluknya
"Wisnu, Apa sih kurangnya aku? Kenapa mas Eren begitu tega ninggalin aku? Aku udah kasih semuanya ke dia. Apa aku kurang cantik? Kurang seksi dan menarik? Lalu, kenapa dia tidak mengatakannya? Dulu, kita adalah sepasang insan yang saling mencintai, tapi sekarang kita hanyalah remahan sisa pernikahan yang malah saling menyakiti. Apakah itu pantas?" Ucap Kaira panjang diiringi dengan Isak tangisnya.
Mahen dari kejauhan melihat kejadian itu. Dia pun mendekat dan memukul Wisnu dalam waktu yang singkat
Bughhh
"Auhh." Rintih Wisnu
"Lu gila ya. Datang-datang mukul gue?" Celetuk Wisnu kepada Mahen
"Lu apain Kaira huh? Kenapa dia nangis-nangis? Padahal tadi dia gapapa lho" Ketus Mahen
"Mahen, CUKUP!!!" bentak Kaira.
"ini bukan salah Wisnu. Dia ga ngapa-ngapain aku. Kalau kamu gatau masalahnya, jangan asal nuduh orang" Jelas Kaira.
"Baiklah. Ok. Gue salah. Gue minta maaf" Ucap Mahen dengan nada merendah.
"Lalu, ceritain ada apa sebenarnya"
"Gapapa. Aku cuman keinget mantan suamiku." Respon Kaira lirih.
"Mantan suami?"
"Ya, kamu tahu kan bagaimana rasanya ditinggal nikah sama orang yang kita sayang?" Tanya Kaira
Mahen menjawabnya dengan anggukan
"Nahh, itu yang aku rasakan saat ini."
"Udah ya, aku mau pulang dulu" Pamit Kaira
"Lho, kamu langsung pulang ke Bali?" Tanya Mahen
"Enggak. Aku mau ke mertua aku. Aku kangen mereka"
Kaira berlalu pergi disusul oleh Wisnu yang meninggalkan Mahen yang terpaku setelah mendengar setiap jawaban dari Kaira. Dia masih menerka-nerka apa maksud dari Kaira dan apa hubungannya dengan tuan muda William ini.
"Ara tunggu" Ucap seorang pria menghentikan langkahnya.
Pria yang menjadi tokoh utama pada acara kali ini datang menemuinya dan langsung memeluknya. Siapa lagi kalau bukan Eren. Hanya dia seorang yang memanggilnya dengan sebutan Ara, dan selamanya itu takkan berubah. Hal tersebut membuat Mahen semakin tercengang.
"A-aku gatau harus ngomong apa ke kamu. Tapi, melihatmu menangis, aku benar-benar tak dapat menahan diriku untuk memelukmu. Terakhir kali pun begitu. Namun, aku benar-benar tak tahan lagi. Maafin aku Ara. Aku tahu aku keterlaluan..."
"LEPASKAN!!!" Ketus Kaira sambil meronta.
Wisnu membalikkan badannya dan mendapati mantan sahabatnya tengah memaksa Kaira untuk tetap di peluknya.
"Eren, sadar. Lu baru aja nikah sama Clara. Kenapa lu malah meluk wanita lain yang sudah bukan siapa-siapa lu lagi di tempat pernikahan lu sendiri? Punya otak kan lu? Ini semua adalah pilihan lu. Gue udah jelasin beribu kali kalau Kaira ga salah. Jadi, jangan menyesal dan biarkan Kaira melepaskan masa lalunya. Jangan datang lagi dalam kehidupannya" Ucap Wisnu kejam.
Eren tersadar dan langsung melepaskan Kaira. Dia tahu tindakannya memang sudah di luar batas. Pria itu membiarkan mantan istrinya berjalan semakin menjauh darinya dan diikuti oleh kedua pria tampan bagaikan pengawalnya.
"Kaira, tungguin" Ucap Mahen yang telah sadar sepenuhnya. Pria itu menghentikan langkah Kaira dengan menyabet tangan wanita itu.
"Kamu masih belum kasih tau ke aku siapakah mantan suami kamu? Lalu, apa maksud dari tuan muda tadi? Mengapa dia memelukmu?" Tanya Mahen menyelidik
"Bukankah semuanya sudah jelas? Tuan muda Eren William, pria yang dikagumi oleh semua wanita adalah mantan suamiku. Dia meninggalkan aku hanya karena aku dijebak oleh istrinya saat ini. Aku dan Wisnu sudah mencoba menjelaskan kepadanya dengan berbagai cara dan dia tak menggubrisnya. Dia malah memilih Wanita penggoda itu dibandingkan aku. Paham?" Jawab Kaira dingin.
"Ya, paham"