Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Kita tak mungkin bersama


Setelah beberapa saat di kamar mandi, Kaira akhirnya telah lega. Dia telah melepas semua air matanya disana, membenahi make up-nya dan kembali ceria seperti sedia kala. Dia tidak menginginkan ada orang lain yang melihatnya, melihat dirinya menangis sesenggukan hanya demi seorang pria.


Kaira kembali diantara kerumunan, mencari keberadaan Wisnu disana


Duhh, mana sih ini Wisnu? Ngilang Mulu kerjaannya. Apa coba ditelepon aja kali ya?~Batin Kaira.


Bukan Wisnu yang dia temukan, namun seorang pria yang jelas-jelas telah meninggalkannya. Dia membalikkan badannya dan tak memberikan sedikitpun kesempatan bagi Eren tuk mengucapkan sepatah kata


"Ara, tunggu" Panggil Eren


Kaira tak menghiraukannya dan berlanjut jalan menghindarinya.


"Ara, please jangan menghindar. Ada sesuatu yang ingin aku ucapkan kepadamu" Ucap Eren berhasil menghentikan langkah Kaira. Pria itu meraih tangannya.


"Mau apa lagi sih mas? Apa kurang puas kamu membuatku begitu menderita?" Tanya Kaira.


"Bukan. Bukan itu maksudku. Aku.. Aku tahu kamu tadi, lagu itu semuanya untukku kan?" Tanya Eren


"Untukmu atau bukan, itu sudah bukan urusanmu lagi seharusnya" Ketus Kaira


"Please, maafin aku. Aku tahu kesalahanku memang benar-benar tidak bisa dimaafkan. Tapi, dengarkan penjelasan ku dulu" Ucap Eren memohon


"Sudahlah, tidak ada yang perlu dijelaskan"


Kaira berjalan menjauhinya. Menjauhi pria yang sempat menghancurkan dirinya dan masa depannya, menyebabkan anak-anaknya kehilangan sosok Ayah.


"ARA!!! PLEASE MAAFIN AKU!!! AKU MAU KITA KEMBALI SEPERTI DULU LAGI!!!" Teriak Eren menghebohkan pesta tersebut. Semua orang menatap tajam kearah mereka dan bertanya-tanya orang kampungan mana yang merusak suasana. Namun, setelah mereka melihat ke arah Eren, tak ada seorang pun yang berani berkata. Mereka semua hanya terdiam tanpa bahasa.


"Eren, malu. Jangan bodoh seperti anak kecil. Kamu sudah memiliki anak dan sudah ada istri. Jangan membuatku seolah-olah akulah yang menjadi pelakornya, aku lah wanita jahat yang membuatmu meninggalkan istrimu. Sudahlah, aku MUAK(penuh penekanan) sama tingkah konyolmu" Ucap Kaira mempertegas.


"Tapi, Clara tidak seperti yang aku bayangkan. Dia jauh berbeda dibandingkan dengan ekspektasi ku dulu" Ucap Eren


Kini jarak diantara mereka terpaut cukup jauh. Percakapan mereka pun diam-diam direkam oleh seseorang dan dijadikan tontonan seru oleh mereka seakan pertunjukan gratis yang tidak akan pernah mereka lihat lagi kedepannya.


"Dia sesuai ekspektasi mu atau tidak, lalu apa urusannya denganku? Bukankah waktu itu kamu mempertegas jika kamu memilihnya dibandingkan aku dan Lauren? Membuat Lauren tumbuh besar tanpa sosokmu menemaninya." Tegas Kaira


"Aku tegaskan sekali lagi. Mulai sekarang, esok atau lusa, kita tidak akan pernah memiliki hubungan apapun lagi. Aku harap kamu tidak akan pernah menggangguku lagi, menghubungiku bahkan mempermalukan ku seperti dulu dan saat ini kecuali tentang anak kita" Tegas Kaira sambil berlalu pergi


"Kaira, kamu gapapa?" Tanya Wisnu tiba-tiba datang.


"Aku gapapa. Ayo kita pulang." Ucap Kaira singkat.


Mereka berdua meninggalkan Eren yang masih memaku ditempatnya. Dia merasa dirinya telah dipermalukan. Namun, itu tidak sebanding dengan dirinya yang kehilangan sebuah berlian hanya demi seorang sampah seperti Clara. Bahkan dengan anak kandungnya sendiri saja, dia tidak mempedulikannya.


Hingga suara deringan telepon membuatnya tersadar bila Kaira telah pergi jauh hingga dirinya bahkan tak dapat menggapainya.


"Clara" Gumamnya dalam hati


"Halo, ada apa?" Jawab Eren dingin.


"Mas gawat. Clarissa... Clarissa demamnya ga turun-turun. Terus di sekitar tubuhnya banyak memar-memar. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya" Ucap Clara panik


"Ba-baiklah. Aku akan segera pulang" Ucap Eren.


Eren langsung lari pergi meninggalkan pesta tersebut. Beberapa dari mereka kebingungan dibuatnya, namun pesta tetap berjalan sebagaimana semestinya.


Sesampainya di rumah, Eren langsung mengecek keadaan anaknya dengan Clara.


"Cepat siapkan bajunya. Kita bawa dia ke rumah sakit" Ucap Eren panik


"Sayang, please. Bertahan ya nak. Papa akan membawamu ke rumah sakit" Ucap Eren lirih kepada anaknya.


Setelah melakukan beberapa kali persiapan, mereka bertiga langsung pergi menuju rumah sakit


...............


"Mama. Ma, ayo besok kita jalan-jalan. Mama juga katanya kan mau ajak kita ke rumah nenek" Ucap Karen


"Iya. Habis ini kita ke rumah nenek ya. Kalian mandi dulu gih sana. Mama tunggu disini" Ucap Kaira kepada kedua anaknya


"Asyikk" Seru Karen


Sedangkan, Lauren hanya menanggapinya dengan wajah tanpa ekspresi khas milik Eren. Kaira hanya tersenyum hangat melihat kedua anaknya. Karen menarik Lauren untuk mandi bersamanya dan Lauren hanya mengikutinya


"Hufftt. Capek" Keluh Kaira


"Mau aku pijitin?" Tanya Wisnu menawarkan diri


"Ga perlu. Kamu pasti juga capek." Jawab Kaira


"Ga kerasa ya anak-anak sudah pada besar. Yang satu kayak bapaknya yang satunya kayak emaknya. Mereka berdua memang berbanding terbalik. Yah, walau Eren terkadang kekanak-kanakan, tapi dia tetap saja pria tanpa ekspresi sama seperti Lauren" Ucap Kaira


Hati Wisnu terasa seperti teriris-iris mendengarnya. Namun, dia hanya bisa menanggapinya dengan senyuman


"Kai, aku ingin berbicara sesuatu" Ucap Wisnu dengan tatapan serius


"Ya? Bicarakan saja"


"Kai, kamu sudah mengetahui bila aku sangat mencintai kamu. Aku juga sudah berulang kali mengatakannya. Tapi, kapan kamu akan buka hati buat aku?" Tanya Wisnu


"Maaf ya sudah menggantungkanmu. Tapi, jujur saja aku masih mau fokus membesarkan mereka, melihat mereka tumbuh dewasa dan sukses kelak. Aku akan mempertimbangkannya lagi" Ucap Kaira.


Wisnu hanya terdiam. Dia tidak akan pernah memaksakan keputusan Kaira. Kaira masih mau menerimanya untuk senantiasa berada disisi wanita itu saja sudah membuatnya bersyukur.


Beberapa saat kemudian...


Lauren dan Karen telah selesai dengan aktivitas mereka. Cepat dan singkat, itulah mereka. Mereka tidak pernah bermain air dan berlama-lama dikamar mandi terutama Lauren. Pria itu sepertinya telah dewasa sebelum waktunya, atau mungkin dirinya memaksakan diri untuk dewasa lebih cepat. Entahlah, yang jelas kemampuan dan kecerdasannya di atas rata-rata anak pada umumnya.


"Kak olen, ayo cepat kita berangkat. Alen ga sabal ingin ketemu nenek" Celoteh Karen dengan lucunya


"Oren, Aren, kalian sudah siap?" Tanya Kaira


"Siap dong ma" Jawab mereka serempak


"Kalau begitu, ayo kita cussss"


Wisnu melajukan mobilnya menuju ke rumah kedua orang tua Eren.


Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba disana.


Mereka disambut hangat oleh orang dari kediaman utama keluarga William itu sebagaimana semestinya.


"Ma, pa, Kaira datang" Panggil Kaira menyapa


"Uhhh Kaira ku canmyang. Ucuk ucuk. Gimana kabarmu sekarang? Sudah lima tahun tidak berjumpa, kamu terlihat semakin cantik." Puji mama Eren


"Terimakasih ma"


"Oren, Aren, ayo salaman sama nenek dan kakek" Ucap Kaira


"Hai nenek, kakek. Aku Kalen, ini kakak namanya laulen" Ucap Karen dengan lucunya


"Uhhh cucu nenek gemoy banget. Ayo Karen, Lauren, kita masuk ke dalam dulu yuk" Ajak Mama Eren


"Gamau, Alen maunya jalan-jalan" Ucap Karen merajuk.


"Aren, ga boleh gitu. Ayo masuk dulu. Nanti pasti diajak nenek dan kakek jalan-jalan" Ucap Kaira membujuk


"Hump, menyebalkan"