Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Bimbang


Wisnu pulang ke rumahnya. Dia merenungkan segala ucapan Kaira, mama dan papa dari Eren, mereka semua.


"ARGHHH!!!!" Teriak Wisnu


"Gue paling benci memilih... GUE BENCI MEMILIH" Ucap Wisnu dengan nada semakin meninggi. Nafasnya mulai menggebu-gebu, dia menarik nafas untuk sesaat. Menahan dirinya agar tidak melakukan sesuatu di luar batas.


"Raden, apakah anda baik-baik saja?" Suara wanita terdengar lirih di ambang pintu, dibaliknya. Wisnu berbalik kearahnya.


"Mbok..." Ucap Wisnu dengan nada sedihnya


"Lho den, ada apa?"


Wanita paruh baya seusia mama Eren atau bahkan mamanya itu bingung melihat kelakuan majikannya yang tiba-tiba mengeluarkan suara sendunya. Tak lama kemudian, Wisnu pun memeluk wanita itu.


"Ayo kita duduk"


Wisnu menuruti perkataan mboknya itu.


Mbok adalah sebutan Wisnu kepada pembantunya. Mbok telah hidup dengannya sejak dia masih bayi, segala sesuatu tentang dirinya, mbok lah yang menjalankannya. Dia menganggapnya seperti ibu kandungnya sendiri, menyayanginya lebih dari dirinya menyayangi ibundanya sendiri. Setiap perkataannya, Wisnu akan selalu turuti tanpa membantah. Dia menganggap Mbok adalah surganya.


Ketika perceraian diantara kedua orang tua Wisnu terjadi, tak seorang pun dari mereka berdua yang mau kebebanan dengan dirinya hingga mereka sepakat untuk membiayai pendidikan Wisnu hingga dia memiliki pekerjaan sendiri. Kesepian adalah teman hidupnya, saat itulah sosok Mbok menjadi cahaya penerang saat kehidupannya yang gelap tiba.


Dan itulah yang menyebabkan Wisnu menyukai Kaira. Wanita yang lembut, baik hati dan setia kepada pasangannya, tak lupa dirinya juga bukanlah wanita matre seperti wanita pada umumnya. Terlebih lagi, Kaira merupakan sosok wanita yang mandiri serta cantik paras serta kelakuannya. Perfect untuk dijadikan istri.


"Den, cerita sama mbok. Apa yang terjadi?" Tanya mbok untuk kedua kalinya.


"Mbok tau kan Wisnu ga pernah cinta sama siapapun? Wisnu bahkan tidak pernah pacaran sama siapapun. Memang Wisnu sering dekat sama Clara, tapi kan cuman sekadar adik kakak" Ucap Wisnu sambil memeluk erat tubuh kecil mungil milik Mbok.


"Wisnu menyukai seorang wanita mbok. Tapi, Wisnu ga bisa memilikinya. Wisnu sedih. Hiks hiks."


Air mata membasahi pakaian ala wanita zaman dulu.


"Dia cantik sekali. Dia juga baik dan lugu, mirip sekali dengan mbok. Tapi, kenapa dia harus istri orang sih?" Tambah Wisnu


Mbok tersenyum hangat dan mengelus lembut rambut Wisnu.


"Sayang, dengarkan mbok. Mbok ga pernah mengajarkan den Wisnu untuk merebut hak milik orang lain. Memang pasangan orang akan terlihat lebih menggoda ketimbang mereka yang single. Tapi, itu bukan menjadi alasan untuk den Wisnuku yang ganteng ini untuk merebutnya dari suaminya" Ucap si mbok menasehati


"Tapi mbok. Wisnu benar-benar cinta sama dia. Wisnu benar-benar sayang. Tadi, mertuanya bilang ke Wisnu katanya Wisnu suruh menjelaskan segalanya kepada suami wanita itu. Apa Wisnu harus melakukannya ya mbok?? Kalau begitu, sama aja dong Wisnu mendukung mereka balikan?"


Mbok mendengus lirih


"Turuti apa kata mertuanya. Mereka lebih paham tentang wanita itu dibandingkan kamu yang baru memasuki kehidupannya." Jawab mbok singkat dan tidak bertele-tele.


Apa aku benar-benar harus merelakannya. Tapi, aku harus mendengarkan ucapan mbok...


"Tapi mbok mau tau, kenapa malah mertuanya yang bilang, bukan ibu bapaknya?" Tanya mbok menyelidik


Wisnu bangkit dari tidurannya di pangkuan si mbok.


Mbok mendengarkan setiap ucapan yang dilontarkan oleh Wisnu. Terkadang menggebu terkadang terlihat cool dan santai. Semua serba terkendali. Memang pantas dirinya disebut sebagai salah satu dari sekian banyak pria yang pandai mengatur emosi.


Sedangkan disisi lain...


Eren tetaplah seperti biasanya. Pria itu selalu saja berkelana keliling Indonesia dengan kekasih barunya. Mereka nampak seperti pasangan terbahagia sedunia. Namun, kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, apa untungnya? Karma itu ada dan dia selalu nyata. Entah kapan datangnya tidak ada yang mengetahuinya.


Ditengah-tengah mereka menikmati masa-masa indah mereka, tiba-tiba...


"Ughh. Sakit sekali" Rintih Clara sambil memegangi kepalanya.


"Clar, kamu gapapa? Ayo duduk dulu" Eren menuntun wanita disampingnya itu untuk duduk di sebuah kursi taman.


"A-aku gatau kenapa kepalaku sakit sekali..."


"Mau ke dokter?"


"Ga usah. Paling cuman migrain biasa. Apakah kamu bisa membelikan sebuah teh hangat, sayang?" Ucap Clara manja


"Hmm, baiklah. Kau tunggu disini ya" Ucap Eren dengan nada lembut.


Eren pontang-panting, kesana kemari mencari sebuah warung penjual teh hangat. Tak dapat dipercaya jika sebuah taman hiburan bahkan tidak memiliki penjual teh disana. Ada pun sudah dingin, tidak efektif untuk orang sakit. Hingga dirinya berhenti di sebuah toko kecil yang kemungkinan dapat membuatkan teh untuknya.


"Iya mas, mau beli apa?" Ucap si ibu penjaga toko


"Gini Bu. Saya daritadi keliling cari teh hangat tidak ada. Istri saya sedang sakit. Apakah saya boleh minta tolong kepada ibu untuk membuatkan teh hangat?" Pinta Eren dengan nada lembutnya.


Karena wajah tampannya dan kharisma yang dibawa olehnya, si ibu menyetujui saja permintaannya.


"Hmm, bentar ya mas."


Suami idaman sekali. Sudah kaya, tampan, baik pula. Ga kayak mas Joko. Sudah jelek, dekil, kang selingkuh pula ~Batin penjaga toko


Beberapa saat kemudian...


Teh hangat telah jadi, dia bahkan telah berlalu dari toko itu.


"Gimana? Sudah enakan?" Tanya Eren lembut


"Udah. Hummm, sayang. Mampir ke mbok siyem yuk. Yang jualan rujak itu. Kata temenku enak banget. Pengen nyoba deh"


"Baiklah."


Apapun permintaan Clara, Eren akan selalu menyetujuinya. Tak peduli apapun yang terjadi, Clara lah prioritasnya saat ini. Sungguh pria baj*Ngan bukan?


Kedua pasangan haram itu sedang bersenang-senang, berbeda lagi dengan Kaira. Wanita itu mengurung dirinya sejak pertama kali dia ditinggalkan oleh Eren. Bukan, ini adalah kesekian kalinya dan kesekian kalinya pula dia harus menahan rasa sakit yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata. Setiap kali dia melihat foto hangat milik dirinya dengan Eren di Bali, dia selalu meneteskan air mata.


Kaira mengurung dirinya. Dia terlihat semakin kurus. Kedua orang tua yang senantiasa menjaganya pun ikut khawatir dibuatnya. Tak jarang mereka menghubungi Wisnu untuk memohon padanya. Wisnu adalah kuncinya. Ditengah gabutnya, Kaira membuka sosial medianya, melihat beberapa foto yang lewat diberanda, hingga sebuah foto membuatnya tercengang. Foto Eren yang tengah bermesraan dengan Clara terpasang jelas di layar ponselnya, beberapa video pun terlihat disana. Kissing, hugging, semua hal kecil hingga besar mereka upload di sosial media mereka masing-masing dengan menandai satu sama lain. Kaira membuka-buka sosial media milik suaminya. Hal paling menyakitkan pun terjadi. Dia mendapati fakta bila fotonya dengan eren dulu telah disembunyikan atau bahkan mungkin telah dihapus sepenuhnya. Kaira melempar ponselnya kearah sembarangan. Dia menunduk, menarik rambutnya sendiri dan berteriak sekencang-kencangnya. Dia membenci hidupnya, dia benci segalanya.