
Eren memasuki kamarnya dan meninggalkan Clara yang berdiri mematung dibawah sana
Sial, apa yang diberikan wanita murahan itu kepada Eren? Bagaimana bisa saat ini Eren berubah begitu saja bahkan dia berkata kasar denganku dan membelanya didepanku? Aku tidak bisa tinggal diam ~Batin Clara.
................
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam yang menandakan ini waktunya bagi Eren untuk tidur. Namun, dia benar-benar tidak bisa tertidur dalam dua hari ini. Tidak ada Kaira disampingnya membuatnya gelisah. Dia sudah mulai terbiasa akan kehadiran kaira disisinya, pelukannya, sentuhan lembutnya yang selalu mengelus lembut rambutnya hingga dia benar-benar tertidur. Dengan kaira, Eren bisa menjadi dirinya yang sesungguhnya yaitu seorang pria manja kepada sang istri tercinta.
Walau Eren sangat mencintai Clara, namun dia tidak pernah menginginkan untuk tidur bersama dengannya. Bagaimanapun, Eren sadar diri bila dia masih milik Ara-nya.
Eren sedari tadi hanya berbaring memandang atap langit rumahnya. Dia memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri bahkan dia mengelus-elus lembut rambutnya dengan tangannya sendiri. Namun, tetap saja Eren tidak bisa tertidur hingga larut malam. Mana lagi besok dia memiliki rapat penting di perusahaannya. Mau tidak mau, dia harus bertekad untuk menghilangkan ego dan gengsinya dan mencari sang istri yang hilang.
Eren memutuskan untuk menghubungi sekretaris setianya itu
"Rangga, temukan posisi nyonya muda sesegera mungkin" Ucap Eren.
"Baik tuan" Jawabnya diujung telepon sana.
Beberapa menit kemudian...
"Tuan, nyonya muda berada di kediaman keluarga William" Kemampuan Rangga memang tak perlu diragukan lagi, dia bisa menemukan lokasi seseorang dalam waktu beberapa menit saja apalagi dia telah memasangkan Google maps diponsel Kaira yang terhubung dengan ponselnya
"Baiklah" Eren meraih jaketnya dan langsung pergi menuju rumah orang tuanya
..............
Sesampainya di kediaman William...
"Ara!!! Ara!!" Teriak Eren dari depan.
Kaira terduduk manis di ruang tengah sambil menonton televisi kesayangannya untuk melepaskan segala perasaan yang beberapa hari ini benar-benar menyiksa batinnya. Eren melihat istrinya yang sedang terduduk didepan televisi itu. Dia tersenyum melihat Kaira yang terlihat bahagia disana. Namun, dia dapat melihat dari tatapan Kaira yang sebenarnya sedang memendam rasa sakit yang teramat sangat. Bagaimana tidak, dia difitnau bahkan diusir oleh suaminya sendiri, tidur di emperan toko dalam keadaan hamil besar dan kedinginan. Siapa yang tidak sakit bila diperlakukan layaknya orang asing bagi suaminya sendiri?
Eren diam-diam mendekat
Mengapa aku mencium aroma tubuhnya? Apakah aku terlalu merindukannya?' ~Batin Kaira
Eren memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang
"Ara..." Bisiknya lirih
Sontak Kaira mendongakkan wajahnya keatas dan menemukan sosok Eren disana.
"Mas Eren? Ada apa mas kemari? Bukankah mas mengusirku kemarin?" Tanya Kaira
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa tidur dalam dua hari ini. Aku benar-benar merindukanmu" Eren memeluknya dari belakang. Kaira berdiri seketika dan menghindar dari suaminya, melepas pelukan yang sebenarnya sangat ia inginkan dalam beberapa hari ini.
"Kumohon, kembalilah ke rumah..." Pintanya
"Tidak. Aku tidak akan kembali ke rumah bila wanita itu masih disana." Ucap Kaira tegas
"Ga tega katamu, mas? Aku istri kamu dan kamu bahkan tega mengusirku demi wanita itu? Aku yakin bahkan kamu saat ini masih belum percaya jika bukan aku yang melakukannya. Iya kan mas?" Pekiknya
"Bukan begitu..."
"Ahh sudahlah. Lebih baik mas pergi dari sini. Aku sudah benar-benar ga mood lihat wajah mas disini. Mual tau ga aku lihat mas disini" Kaira meninggalkan Eren yang masih berdiri mematung disitu. Eren sadar atas sikap buruknya kepada Kaira itu memang tidak dapat dimaafkan. Namun, disatu sisi dia belum sepenuhnya memercayai Kaira karena belum ada bukti yang jelas mengenai siapakah pelakunya.
"Untuk apa kamu kemari? Apakah pak satpam tidak memberitahumu bila kau tidak boleh masuk kesini?" Ucap Sang Ayah yang tiba-tiba datang entah darimana arahnya
"Aku ingin menjemput istriku. Apakah itu dilarang?"
"Ohh, jadi kamu masih mengingat istrimu? Mama kira kamu bahkan sudah melupakannya dan bersenang-senang sama jal*ng satu itu" Ucap mama Eren pedas.
PLAKKK
mama Eren menampar pipi anak kandungnya itu. Ini kali pertamanya baginya menampar wajah anaknya sendiri, karena Eren yang mereka kenal adalah anak baik-baik yang selalu menurut apa kata orang tuanya. Orang tuanya pun sadar bila mereka takkan pernah bisa mengekang anaknya, tidak seperti orang tua pada umumnya
Eren memegangi pipinya yang memerah. Panas sekali rasanya. Namun, dia dapat melihat tatapan kecewa yang mendalam dari sosok wanita yang ia cintai.
"..."
"Ya, aku tahu aku salah. Perbuatanku memang tidak dapat dimaafkan. Namun, aku benar-benar tidak bisa tidur tanpanya" Jawab Eren
"Kau pikir Kaira itu apa? Pemanas ranjangmu? Kau datang disaat kau butuh dia saja. Kemana dirimu kemarin saat dia bahkan tertidur di depan toko milik bu Riska? Dimana kamu sebagai sosok suaminya dan ayah dari bayi yang dikandungnya,huh?" Emosi mama Eren telah sampai di puncaknya. Matanya berkaca-kaca seakan-akan dialah yang mengalami apa yang dialami oleh Kaira.
Eren kaget bukan kepalang. Dia membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang terjadi kepada istrinya. Dia mengira
"Kau tahu, Eren. Mama dan papa menyekolahkanmu tinggi-tinggi agar kau menjadi pria yang membanggakan bukan malah membuat mama malu kepada Kaira, Bu Riska dan orang tua Kaira. Kau tahu kan betapa menderitanya dia akibat keluarganya. Dia diusir oleh ayah kandungnya sendiri, dia tidak memiliki seorang ibu dan bahkan kau sebagai keluarga yang ia miliki satu-satunya pun mengusirnya? Dimana hati nurani kamu Eren? Dimana?" Tangis mama Eren pecah. Dia mengguncangkan tubuh Eren. Eren pun hanya terdiam.
Mama Eren terdiam sejenak. Dia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Hatinya ikut merasakan sakit membayangkan apa yang dirasakan Kaira saat ini. Dia pasti menangis sesenggukan.
Apakah aku separah itu? Bahkan aku tidak mengerti tentang istriku? Aku benar-benar tak pantas baginya...
"Lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga. Mama juga tak mampu melihat wajah brengs*k mu itu. Aku tidak memiliki anak yang tidak tahu kewajibannya sebagai seorang suami..." Ucap mama Eren
"Tapi ma..."
"Pergi dari sini. Mama bilang PERGI!!!" bentak mama Eren
Eren dengan berat hati melangkahkan kaki keluar dari rumahnya sendiri, rumah dimana dia selalu mendapatkan kasih sayang semasa kecilnya. Orang tuanya adalah orang tua idaman yang tak pernah memarahinya dan selalu mendukungnya bahkan begitu marah terhadapnya.
Enggak, aku ga akan nyerah. Aku akan kembali lagi besok pagi hingga kamu mau kembali bersamaku, Ara.
Eren membalikkan badannya dan menatap lekat kearah sebuah ruangan yang dulunya adalah miliknya. Sedangkan Kaira mengintipnya dari jendela. Dia menangis dalam diam.
Eren memasuki mobilnya dan meninggalkan kediamannya yang begitu megah dan mewah.