Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Aku Benci sifat plin-planmu, mas


Selesai makan, Eren mengajak kaira untuk pergi mengunjungi pemilik acara sekalian mereka akan berpamitan pulang. Namun, saat mereka akan menghampiri pimpinan Natero Group, tanpa sengaja Eren menabrak seorang wanita


"Ahhh" Jerit wanita itu membuat pegangan tangan Kaira dan Eren terlepas. "Mbak kalau jalan lihat-lihat dong. Jas ini mau saya pakai untuk..." Belum sempat menyelesaikan acaranya, dia mendongak dan menemukan sosok yang selama ini dia rindukan.


"Clara? Hey kamu apa kabar?" Tanya Eren basa basi.


"Baik baik. Kamu sendiri gimana?"


"Maaf sekali ya gara-gara aku baju kamu jadi kotor begini" Ucap Clara yang seakan menggodanya. Dia secara sengaja menempel padanya


"Uhh, wangi kamu tetap sama. Sangat wangi. Aku sangat menyukainya." Ucapnya lagi membuat telinga dan mata Kaira makin panas


"Kalau kamu mau, kamu boleh cium sampai puas. Gimana kalau kita ke taman?" Eren menanggapinya dengan sangat serius. Dia bahkan melupakan janjinya tadi pagi.


"Hemmm. Permisi. Tuan Muda Eren telah memiliki seorang istri dan anda yang bukan siapa-siapanya lagi, dimohon untuk tidak mengganggu hubungan kami. Bukankah beberapa hari yang lalu anda dikabarkan bertunangan dengan seorang pria tua kaya raya?" Kaira menyindirnya, tidak, lebih tepatnya Kaira menghinanya dengan suara yang lantang bahkan dapat didengar semua orang.


"KAMU?!! Dasar wanita murahan" Clara mulai kesal dengan sikap Kaira


"Kenapa? Apa aku salah? Semua orang disini juga tau kok kamu itu orangnya bagaimana? Wanita yang meninggalkan tunangannya sendiri demi pekerjaan dan bertunangan dengan seorang pria yang bahkan lebih pantas untuk menjadi bapaknya, apa itu bukan yang namanya wanita murahan?"


"Dasar maling teriak maling. Sudah meninggalkan seorang pria malah sekarang mendekatinya lagi padahal tau dengan jelas dirinya memiliki seorang istri"


Clara mengangkat tangannya hendak menampar Kaira. Namun dengan sigap, kaira menangkapnya.


"Ahhh sakit sakit!!!" Rintih Clara


"Sakit?" Kaira memelintirnya kebelakang membuatnya merasakan tangannya hampir mati rasa.


"KAIRA CUKUP!!" Eren menyentak kaira didepan umum untuk pertama kalinya dan untuk seorang wanita. Eren mengambil secara kasar tangannya dan menggenggamnya dengan kasar.


"Ahh sakit mas." Semakin ia merintih, semakin Eren menambah kesakitan baginya. Dia maju beberapa langkah dan membelakangi Kaira saat ini. Semua orang terfokus pada mereka dan beberapa diantaranya mengambil kesempatan untuk mengunggahnya di sosial media.


"Kaira. Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Kamu sudah mempermalukan ku didepan semua orang. Karena semuanya sudah tau sekalian saja. Ingat ya, jika aku mengetahui kamu(tangannya menunjuk ke dada Kaira dengan keras, menyisakan rasa sakit dan perih disana) berani menyentuh Clara sekali lagi, kamu lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu" Ancam Eren. Dia benar-benar seperti pria yang menggila saat ini.


"Ohh, kamu demi melindungi wanita itu bahkan rela menghinaku dihadapan umum?" Mata kaira mulai berkaca-kaca. Bisa dibayangkan oleh setiap orang yang berada di sana bagaimana rasa sakit yang ia alami saat ini


"Tentu saja aku membelanya, karena dia adalah wanita yang aku nanti-nanti selama ini" Ucap Eren dengan lantangnya. Kaira terdiam mematung untuk beberapa saat. Lalu, dia menggigit bibirnya dan maju. Dirinya ingin sekali mencabik-cabik wanita itu, menjambaknya dan mencekiknya sekarang juga.


"Kamu wanita rubah!!! Hebat sekali kamu ya bahkan bisa membuat seorang pria melupakan janjinya!!!" Kaira benar-benar menggila. Eren menghadang istrinya dengan sekuat tenaga


"CUKUP KAIRA. Aku katakan cukup!!" Tak hanya membentaknya. Bahkan Eren pun mendorongnya hingga hampir saja terjatuh. Beruntung Lana dengan tepat waktu menangkapnya.


"Apakah ini perilaku dari seorang Presdir perusahaan besar? Benar-benar menjijikkan" Ucap Lana dengan tegas.


"Kamu yang sabar ya, Kai" Thomas berusaha untuk menenangkannya. Kaira menangis sesenggukan. Dia benar-benar tidak peduli lagi dengan bagaimana penampilannya sekarang.


"Sudah. Aku sudah muak berada disini. Kaira, ayo ikut aku" Eren benar-benar tak berbelas kasih padanya. Dirinya menggenggam erat tangan kaira hingga tangannya mulai memerah sekarang.


"Lepaskan aku. Lepaskan. Mas, aku bilang lepaskan" Kaira meronta-ronta, berusaha melepaskan dirinya dari tangan pria gila itu. Eren berhenti sejenak, berbalik dan...


Plakkk!!! Suara itu terdengar sangat nyaring disana, meninggalkan sebuah bekas telapak tangan dipipi Kaira yang putih dan mulus itu. Kaira memeganginya.


"Jangan panggil aku mas. Aku jijik mendengarnya. Sakit? Tentu saja sakit, tapi dia bahkan tak merasakan apapun saat ini selain rasa sakit dan malu yang Eren perlakukan padanya. Rasanya seperti ia telah mati rasa. Eren melepaskan tangan Kaira dan menunjuk kearahnya yang berdiri terpaku disana, didepan semua orang yang sedang menyaksikannya


"Kaira, ingatlah satu hal. Kita hanya menikah kontrak dan kamu..." Eren terdiam dan mengambil nafas dalam-dalam.


"Kamu hanyalah pengganti baginya" Lanjut Eren


Jederrrr... Rasanya bagai disambar petir disiang bolong. Kaira benar-benar tak menyangka kata "PENGGANTI" itu keluar dari mulut suaminya. Dia benar-benar terpaku disana, tak bergerak sama sekali hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipinya. Eren tak peduli dengan hal itu. Dia tetap melakukan hal yang sama padanya, menariknya bahkan menggeretnya dengan sangat kasar layaknya dia sedang menggeret seekor kambing maupun sapi.


Setelah beberapa saat, kaira tiba-tiba membuat badannya kaku dan tak bergerak sama sekali layaknya patung yang telah tertancap disana. Lana dan Thomas mengikuti mereka, takut sesuatu terjadi pada Kaira yang bahkan bisa merenggut nyawa wanita yang malang itu. Eren yang terkejut dengan diamnya istrinya pun menoleh ke belakang


" Ya, aku tahu aku hanya penggantinya. Aku tahu aku benar-benar tidak tahu diri bahkan berani macam-macam dengan dia. Tapi, apakah aku benar-benar tak ada nilainya bagimu?" Kaira menarik nafas dalam-dalam. Dia menyeka air matanya, namun tetap saja air mata itu mengalir tanpa bisa dikontrol. Kaira menunduk ke bawah. Dia tidak menginginkan untuk menatap mata suaminya itu, dia tidak menginginkan siapapun melihat eajahnya yang penuh dengan make up yang luntur itu.


"Jika tidak bisa menghargai aku sebagai seorang istri, apakah bahkan tidak bisa menghargai aku layaknya manusia biasa?" Ucap kaira mendongakkan wajahnya sejajar dengan Eren. Bola mata mereka saling bertemu, Kaira menangis dan dia benar-benar sangat hancur saat ini. Jika seorang wanita kuat bahkan menangis saat mengatakan sesuatu, percayalah itu sangat amat menyakiti dirinya. Lana bahkan ikutan menangis saat mendengarkan dirinya bersuara. Namun tetap saja itu tidak mengubah emosi Eren saat ini. Dia tetap membawa Kaira pulang kerumah.


.............


Sesampainya dirumah...


Bibi sudah pulang saat itu. Tidak ada satu orang pun dirumahnya. Eren membuka pintu kamar mandi dirumahnya dan mengunci kaira di dalam kamar mandi dari luar.


Brak brak brak


"Ma.. Tuan muda, tolong buka pintu. Tuan, saya mohon jangan kurung saya disini" Eren telah meninggalkannya sendirian.


"Tuan.." Kaira membelakangi pintu itu dan turun semakin turun dan terduduk dibawah sana, dia mendekap dirinya sendiri dalam keadaan duduk dan menangis semalaman...