
Setelah melihat Clara pergi dari rumah sakit itu, Eren dapat bernafas lega saat ini. Dia meletakkan bayinya ke ranjang bayi seperti semula. Dia tersenyum hangat kepada bayinya yang sedang terlelap itu. Malaikat kecil yang sangat tampan, benar-benar perpaduan antara Eren dan Kaira.
"Tidur yang lelap ya malaikat kecil papa. Sekarang, papa akan merawat mama kamu biar dia bisa menggendongmu,sayang" Ucap Eren lembut didekat bayinya itu
Eren keluar dari ruang bayi itu yang sebenarnya tidak semudah itu dimasuki oleh sembarangan orang. Namun, akibat dari tuan kecil William akan diculik, pihak rumah sakit mengizinkannya untuk masuk saat itu.
Eren pergi berlalu dari sana dan tak lama kemudian dia telah tiba di ruangan Kaira
"Hai, sayang. Aku datang" Ucap Eren. Pria tinggi besar itu membawa satu kuntum bunga mawar merah yang cantik, secantik wanita yang masih terbaring lemah di ranjangnya.
Eren menyeka air matanya. Pria itu meletakkan bunga mawar itu di dalam vas bunga yang tersedia disana. Terdapat 8 kuntum mawar merah di vas bunga tersebut.
"Ara, sampai kapan kamu menyiksaku seperti ini? Please, bangunlah" Bisik Eren di telinga Kaira lembut
Pria itu tak menyerah. Dia terus saja membisikkan kata-kata yang bahkan membuat orang disekitarnya pun akan gelebakan kegirangan
"Ara, you know, I deathly to miss you,baby. Please, Wake up." Sambungnya. Air mata Eren jatuh membasahi pipi Kaira. Sepertinya terdapat sedikit respon darinya
"Sayang, kamu tidak ingin melihat anak kita? Dia lucu sekali dan menggemaskan sepertimu. Apa kamu tidak menginginkan untuk berlibur bersama denganku dan Lauren? Foto bersama dan memajang foto kita bertiga di ruang tamu kita. Apa kamu lupa jika kamu sudah sangat mengharapkan kesempatan itu datang? Kesempatan sudah datang sekarang, sayang. Jadi, kumohon bangunlah" Ucap Eren
Mama Eren yang awalnya akan masuk pun, langkahnya terhenti dan mendengar bisikan itu. Wanita paruh baya itu meneteskan air mata melihat kesungguhan anaknya yang benar-benar telah bertobat dan menyesal telah memperlakukan istrinya buruk di masa lampau. Apakah setiap orang tidak bisa berubah? Apakah setiap orang yang selingkuh akan melakukan hal yang sama kelak? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terbesit begitu saja dalam benaknya. Wanita itu sudah mulai menaruh sedikit kepercayaannya lagi kepada anak semata wayangnya.
Aku berharap kalian bahagia bersama. Jangan ada kesalahpahaman lagi dikemudian hari. Jika itu terjadi, maka aku akan tenang. ~Batin mama Eren
"Ara, aku sudah mengaku jika aku salah. Apakah aku benar-benar pantas dihukum? Jika iya, maka hukumlah aku dengan cara yang lainnya. Jangan seperti ini. Ini menyiksaku. Jika kamu mau, maka bunuh saja aku daripada kamu harus menyiksaku seperti ini..." Presdir dingin sedingin kulkas itu menangis. Telah runtuh sudah harga diri yang susah payah dibangunnya selama ini
"Aku janji, aku akan menuruti semua kemauan kamu. Berlibur ke pulau Bali, traveling sambil berburu makanan. Semua makanan akan menjadi milikmu kelak." Lanjut Eren
Mama Eren sedikit menahan tawa. Dia tak habis pikir mengapa yang dibisikkan oleh Eren hanya tentang makanan? Wanita itu sepertinya tidak terlalu mengerti bila menantu kesayangannya ini adalah wanita penggila makanan
"Kan kamu ga respon lagi. Aku harus ngapain sih biar kamu mau bangun? Atau aku harus keliling dunia dulu baru kamu akan bangun?" Tanya Eren.
Pria itu jengah saat ucapannya tak direspon sama sekali dengan Kaira hingga sekali lagi dia mencoba untuk membisikkan kata-kata terakhir yang terakhir kali dia tak mengucapkannya dengan serius. Mungkin serius, hanya saja selalu tak ada waktu untuk mengungkapkannya. Sekalipun ada, gengsi selalu melanda. Intinya, pria itu tidak pernah benar-benar menyatakan perasaannya yang terdalam pada istrinya.
"Huffttt" Eren mendengus kasar
Baiklah, aku akan mencobanya sekali lagi ~Batin Eren
"Sayang, aku tahu aku tidak pernah mengatakan ini karena gengsiku yang terlalu tinggi. Namun, saat ini aku rela kehilangan harga diriku..."
Pfttt, apa-apaan anak ini? Mengapa mau mengatakan sesuatu saja masih harus berbelit? Memang seperti bapaknya ~Batin Mama Eren
"Baiklah. Aku tidak akan berbelit-belit lagi" Serunya sambil mendekatkan dirinya kepada Kaira
"Ara, I love you so much. I wanna say this for long time ago. And you know baby, i wait for u to wake up and call my name again. Buka matamu,please. Aku menunggumu disini, anak kita menunggumu. Papa, mama, Rayhan, semua orang menunggumu. Kumohon dengan sangat. I beg u please to wake up. We all r waiting for u. Aku benar-benar ga bisa bayangin hidup ini tanpa hadirnya dirimu. you have succeeded in making me addicted to you" Ucap Eren dan sekali lagi dia meneteskan air matanya. Dia sudah pasrah kepada sang maha pencipta jika kali ini dia gagal lagi dan mungkin akan menjadi hari terakhirnya melihat Kaira berada disisinya.
"Bodoh" Kata pertama terlontarkan dari mulut Kaira setelah komanya selama beberapa hari ini. Kata yang seharusnya membuat Eren emosi, namun pria itu malah terlonjak kegirangan
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Sudah, jangan menangis. Aku benci melihatmu menangis" Ucap Kaira lembut sambil menghapuskan air mata pada pipi Eren. Dia melihat prianya itu benar-benar tak karuan sekarang. Pria itu memang nampak sangat tertekan selama beberapa hari ini. Rupanya pun menjadi tak karuan dan tak terawat, namun entah mengapa ketampanannya itu tetap terpancar jelas disana, menyilaukan mata Kaira saat dirinya tersenyum dengan lebarnya
"ARA!!!" Eren berteriak menyebabkan orang-orang yang berada diluar ruangan itu masuk kedalam. Mereka semua harus melihat adegan romantis diantara mereka berdua.
Eren memeluk Kaira dengan sangat eratnya. Dia merindukan suara serak-serak merdu milik wanitanya. Kedua pasangan paruh baya itu pun saling memeluk satu sama lain. Ana pun memeluk Rangga yang tepat berada disebelahnya, sedangkan Rayhan hanya bisa tersenyum sambil memeluk dirinya(Maklum jomblo)
"Uhuk, uhuk" Kaira mengirimkan kode kepada Eren untuk melepaskan pelukannya. Pria itu benar-benar telah menghimpitnya dan membuatnya kehabisan nafas
"Maaf maaf. Aku terlalu bahagia hingga lupa..." Ucap Eren. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Eren sedikit menjaga jarak dari Kaira dan membiarkan orang lain melihatnya
"Syukurlah nak, Kamu sudah bangun. Mama dan papa senang sekali lihatnya" Ucap papa mertua
"Kamu tahu, Eren siang dan malam berada disini dan menjagamu. Dia bahkan hanya meninggalkan ruangan ini hanya untuk makan dan minum, lalu buang air..." Ujar Mama Eren
"Oh, makanya bau kecut" Celetuk Kaira tanpa beban
"Enak aja. Walau aku ga mandi, tapi aku masih tetap wangi" Sahut Eren tak terima.
"pffttt hahaha" Kaira tertawa kecil melihat tingkah suaminya. Dia bersyukur bila Eren telah berubah.
"Kak, bagaimana kabarmu?" Suara dingin khas milik Rayhan terdengar disudut ruangan. Remaja yang baru saja mengalami kenaikan dalam karirnya itu mendekati kakaknya sendiri. Pria yang tidak pernah menyukai Eren itu hanya bisa mendoakan kebahagiaan kakaknya, namun sepertinya dia masih punya hati dan tidak menanyakan yang sebenarnya selama beberapa hari ini.
"Kakak baik. Kakak dengar kamu baru saja naik jabatan, selamat ya" Ucap Kaira sambil tersenyum hangat. Wanita itu masih terlihat cantik seperti biasanya
"Thank you" Balasnya
Satu hal yang sepertinya hampir terlupakan oleh Kaira. Bayinya. Wanita itu sama sekali belum pernah melihat bayinya yang dirawat selama beberapa hari ini.
"Ehh, anakku kemana? Kalau tidak salah, Mas Eren menyebutkannya tadi" Mata wanita itu liar menyelidiki keberadaan anaknya.
"Tunggu sebentar" Ucap Eren. Tak lama kemudian, datanglah seorang suster dengan bayi ditangannya
"Ini Bu, anaknya." Ucap suster menyerahkan bayi dalam dekapannya.
"Tampan sekali kamu, Lauren. Lauren William. Memang nama yang cocok untuk bayi tampan sepertimu" Puji Kaira kepada bayinya sendiri
"Iya dong, siapa dulu bapaknya? Eren gitu lho" Celetuk Eren dengan arogannya
"Cihh, wajahnya bahkan lebih mirip denganku. Bisa-bisanya mengaku-ngaku" Ucap Kaira mematahkan ucapan Eren sebelumnya. Pria itu nampak membatu sejenak
"Huh, sudahlah. Terserah mu saja" Ucap Eren merajuk disusul dengan tawa lepas dari orang-orang yang berada disana.