Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Aku hamil?


Keesokan harinya...


Eren bangun dari tidurnya. Dia meraba-raba kesampingnya dan tidak menemukan sosok Kaira disana. Seketika, dia membuka matanya dan terduduk.


"Ara? Ara?" Teriak Eren mencari istrinya. Eren mencari disetiap sudut kamarnya dan tetap saja tidak menemukan Ara-nya disana. Dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan hanya menemukan bibi di dapur. Bibi acuh tak acuh kepadanya.


Tidak seperti biasanya bibi begini... Batin Eren.


"Bi, lihat Ara ga?" Tanya Eren kepada bibi


"Tuan masih mengingat non Ara? Bibi kira tuan sudah tidak peduli lagi" Jawab bibi ketus. Eren semakin dibuat bingung oleh sikap bibi yang semakin dia tanya semakin dingin itu. Sedangkan, bibi berpura-pura menyiapkan sesuatu dalam rantang dan juga menyiapkan makanan untuk tuan mudanya itu. Bagaimana pun dia dibayar oleh Eren bukan Kaira. Hanya saja sebagai sesama manusia dan sesama wanita, bibi merasa iba dengan nasib Kaira yang begitu buruk.


"Lho bi, itu yang dirantang buat siapa?" Tanya Eren. Semakin kama, Eren merasa semakin ingin tahu ada apa dengan bibi dan dimanakah Istrinya tercinta itu berada.


"BI!!! Anda mendengarkan saya atau tidak?!!!" Teriak Eren yang kesal dengan sikap dingin pembantunya itu


"Tuan muda Eren William, Saya tahu anda majikan saya. Tapi, jika anda memperlakukan istri anda sendiri layaknya binatang, saya juga tidak akan segan dengan anda." Ucap bibi tegas.


Memang itu terdengar ngelunjak, tapi siapa sih yang tega melihat seorang wanita lemah yang bahkan telah dibenci oleh keluarganya sendiri, sekarang diperlakukan buruk oleh suaminya? Semua orang akan melakukan hal yang sama bukan? Atau mungkin lebih parah. Namun, Eren benar-benar tidak mengingat kejadian semalam. Dia benar-benar mabuk hari itu. Entah apa yang membuatnya mabuk, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu.


"Layaknya binatang?" Eren terheran-heran mendengar jawaban dari pembantunya yang satu itu. Setaunya, bibi tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu jika dirinya tidak terlewat batas. Bibi telah menganggap Eren seperti anaknya sendiri sama halnya dengan Eren karena mamanya yang super sibuk waktu muda dulu. Eren terdiam dan mematung, mengingat apa yang terjadi semalam...


"Iya. Tuan, saya telah bersama tuan sejak tuan kecil. Saya yang membesarkan tuan hingga sebesar ini dan bahkan saya mengajarkan untuk selalu berbuat lembut kepada perempuan. Namun, apa yang telah anda perbuat? Anda membuat saya kecewa" Ucap bibi sambil menangis. Ini baru pertama kalinya Eren melihat bibi menangis karenanya. Tidak peduli seberapa banyak wanita yang ia mainkan dan bawa kerumah, bibi hanya mengelus dada dan menasehatinya. Namun, kali ini berbeda seperti dia memang benar-benar sakit melihat seseorang yang ia besarkan layaknya orang asing baginya.


"Bi, saya mohon ampun sama bibi. Tapi, tolong beritahu kepada saya apa yang terjadi." Ucap Eren memohon kepadanya. Eren berlutut dan memegang kakinya. Dirinya benar-benar tidak bisa membiarkan bibinya ini menangis walau hanya setetes air mata pun. Sama halnya seperti ia melihat ibundanya menangis kala itu.


"Saya tidak tahu banyak. Tapi, anda bisa mengecek ruang CCTV." Jawab bibi yang menarik kakinya kasar hingga Eren terjatuh.


Sesuai sarannya, Eren menuju ke ruang CCTV. Dia melihat seluruh CCTV malam itu baik-baik hingga dia menemukan dirinya yang baru saja datang. Dia melihatnya dengan jelas, melihat bagaimana Ara-nya, terluka parah hingga darah berceceran di lantai karenanya. Lebih parahnya lagi, yang membuatnya seperti itu adalah dirinya. Dia melindungi Kaira dari siksaan orang lain dan rasa sakit yang disebabkan oleh orang lain, sedangkan dirinya malah membuat Kaira benar-benar terluka. Dia meneteskan air mata melihat Kaira lemah tak berdaya memanggil namanya...


"Ara, kamu pasti membenciku. Kenapa aku bisa menjadi sebodoh ini sih? Bukankah aku berjanji untuk move on dan menyerahkan seluruh hidupku untuknya? Namun, kenapa aku lagi dan lagi melakukan hal bodoh hanya demi wanita sampah yang bahkan meninggalkanku dan merayu pria lain itu? Ara maafkan aku..." Gumamnya sendirian di ruang CCTV. Dia bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi mencari keberadaan istrinya.


...............


Disisi lain...


Kaira yang baru saja bangun tidur, melihat ada begitu banyak panggilan dari suaminya itu. Sudah dapat dipastikan jika suaminya mencarinya di pagi hari.


"Non, bibi bawakan nasi rendang kesukaan non" Ucap bibi sambil membawa rantang.


"Terimakasih bi."


"Hoekk" Kaira merasa seperti mual saat mencium aroma nasi yang baru saja diambil dari magic jar itu. Kaira segera pergi ke kamar mandi, disusul oleh adiknya.


"Kak, kamu gapapa kan?" Tanya Rayhan khawatir. Namun, tak lama kemudian, Kaira pingsan dipeluknya dan Rayhan pun langsung membawanya kembali ke ranjangnya. Dengan sigap, bibi memanggil dokter dengan alat yang telah disediakan.


"Bagaimana dok keadaan kakak saya?" Tanya Rayhan


"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa dengan kakak kamu. Itu adalah hal biasa yang dialami oleh wanita hamil." Jawab dokternya. Kaira yang perlahan membuka mata dan mendengarkannya pun terkejut.


"A-aku... Aku hamil..." Ucap Kaira sambil mengelus perutnya itu


"Ya Bu. Selamat ya. Usia kandungan ibu telah mencapai dua minggu. Kandungannya sangat sehat dan untungnya, ibu kemarin terjatuh namun tidak mempengaruhi janin ibu" Ucap dokter tersebut


"Lain kali, ibu lebih berhati-hati ya. Jika tidak ada hal lain, saya permisi terlebih dahulu" Lanjutnya.


..............


Eren berlarian di rumah sakit dan telah mendapatkan nomor kamar kaira dirawat saat ini. Yap, Ruang mawar nomor tiga adalah tempatnya di rawat. Ruangan yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang berduit.


"ARA!!!" Ucap seorang pria setelah membuka pintu kamarnya.


"Hey pria breng*k. Untuk apa kau kemari?" Rayhan menahannya.


"Lu kenapa sih? Gue kesini ya mau jenguk istri gue lah" Jawab Eren santai


"Kemana aja anda kemarin huh? Membiarkan kakak saya terluka sebegitu parah hingga hampir kehilangan nyawa? Dimana anda saat itu? Dimana anda saat kakak saya membutuhkan? Ga bisa jawab kan? Lalu, atas dasar apa kamu boleh masuk kemari?" Tanya Rayhan yang membuat Eren seketika terbungkam. Kali ini, Bibi membiarkannya begitu saja. Dia tidak menginginkan untuk berbelas kasih kepada seorang pria yang bahkan tidak mengerti bagaimana cara menghormati seorang wanita itu.


"Ya. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku teledor kemarin hingga tidak memedulikanmu. Ku mohon beri aku saru kesempatan untuk menjelaskannya kepadamu." Jawab Eren.


"Rayhan, biarkan dia masuk. Kamu dan bibi, bisa minta tolong untuk keluar?" Pinta Kaira


"Tapi kak..." Ucap Rayhan


"Please..." Kaira memohon kepada adiknya.


Ahhh imutnya kakakku ini. Rayhan tidak tahan dengan keimutan kaira saat itu pun langsung menurutinya. Rayhan dan bibi menunggu diluar dan menutup pintunya, membiarkan kami berduaan saja


"Sudah tidak ada orang. Apa yang ingin anda jelaskan tuan muda..."