Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Makhluk Tuhan Paling Seksi


Berbagai momen romantis telah dilalui bersama. Sungguh, Kaira tak menginginkan semua ini berakhir. Terbesit keraguan dihatinya. Akankah dia merasakan hal yang membahagiakan ini selamanya? Atau ini adalah yang terakhir baginya? Dia selalu khawatir, khawatir Eren akan pergi jauh meninggalkannya. Walau saat ini dia mengetahui dengan pasti hati Eren telah menjadi miliknya, namun tak dapat dipungkiri bila hatinya masih tetap meragukan akan kesetiaan Eren padanya. Dia selalu memiliki hal yang bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Eren menyadari pandangan lain dari istrinya


"Ara, apakah ada sesuatu yang salah? Apa kamu ga bahagia?" Tanya Eren. Pria itu sedikit melembutkan suaranya. Suara serak dan gentleman miliknya membuat semua orang terpana.


"E-enggak... Aku gapapa. Aku cuma merasa ada sesuatu yang mengganjal saja" Balas Kaira. Terlihat sekali ada kebohongan yang ditutupi oleh wanita itu.


Eren semakin mendekat kearah istrinya. Dia memegang kedua tangan Kaira dan mencoba memberikan rasa terbaik untuknya.


"Sudah ya, jangan berpikir yang aneh-aneh. Sekarang, kamu lebih baik tunggu disini dan lihatlah aku bermain" Ucap Eren. Pria itu lalu pergi meninggalkan Kaira sendirian di bibir pantai, duduk termenung menatap birunya laut. Sungguh indah. Angin sepoi-sepoi seakan menyapu lembut wajah cantiknya dan membuat rambutnya menari-nari mengikuti irama, irama dari suara deburan ombak yang dapat membuat hati aman dan damai. Semua menyukainya.


Beberapa saat kemudian, Eren kembali menghampiri Kaira yang sedang memejamkan matanya menikmati belaian lembut dari sang angin


"Sayang" Panggil Eren. Kaira membuka matanya dan menoleh kearah datangnya suara tersebut


Eren menciumi leher Kaira dari belakang. Wanita itu sungguh sangat wangi. Jika dia berada di kamar hotel, sudah pastilah pria itu melahapnya tanpa ampun.


"Mas, udah dong. Malu dilihatin orang" Bisik Kaira lirih. Suara serak-serak seksi itu membuat Eren semakin menggila.


"Pffttt hahaha" Suara kekehan Eren terdengar ditelinga Kaira. Pipi wanita itu memerah. Eren sungguh benar-benar gemas


"Fuhhhh" Eren meniup telinga istrinya.


"Sudah dong mas. Arghhh." Ucap Kaira. Wanita itu menutupi wajahnya yang sudah semakin memerah. Gelak tawa terdengar nyaring di belakangnya.


Makhluk Tuhan paling seksi, sepertinya itu adalah julukan yang pantas untuknya.


Eren meninggalkan Kaira yang masih duduk memeluk dirinya sendiri itu. Pria itu menuju ke pantai dan memulai aksinya. Lenggak-lenggok di atas ombak membuat tubuh sexynya benar-benar memanjakan mata setiap wanita yang memandangnya, terlebih wajahnya yang terlampau tampan itu, tak jarang wanita sesekali curi-curi pandang melihatnya, bule bahkan wisatawan lokal, tak terkecuali Kaira. Dia tersenyum lebar melihat suaminya.


Sesekali Kaira termenung menatap langit, menatap orang- orang yang berada disampingnya. Mengamati lautan manusia yang terdampar di pinggiran laut. Mengamati berbagai macam manusia yang datang dari penjuru dunia, bahkan mulai mengenali karakter-karakter mereka. Ada turis-turis berpakaian minim, gigolo-gigolo yang beralibi sebagai pemandu selancar, serta para pedagang asongan yang mondar-mandir merayu mangsanya demi setetes air untuk kehidupannya. Benar-benar unik tingkah laku makhluk ciptaan Tuhan ini.


Namun, hal tersebut tak berlangsung lama saat beberapa pasang mata menuju kearahnya, bahkan beberapa insan manusia pun tertarik oleh pesonanya. Hingga seorang pria tampan dan tinggi besar menghampirinya.


"Hi Girl, may i know you more?" Pinta seorang turis pria dengan suara seksinya.


Kaira membuka kaca mata hitamnya. Dalam hatinya bertanya


Bukankah kata orang-orang jika seseorang menggunakan kacamata hitam itu menandakan orang tersebut tidak ingin diganggu? Apakah pria bule disampingku ini tidak tahu tentang hal ini?


Kaira tersenyum tipis kepada pria itu.


"No. Sorry, I already have a husband" Kaira menggelengkan kepalanya lirih. Pria itu pergi begitu saja, antara takut dan tak mau berjuang. Benar-benar pria pengecut.


Namun, tak henti-hentinya para pria itu mengganggunya silih berganti. Mungkin, mereka ingin mencoba menaklukkan hati wanita cantik itu. Mereka bahkan sepertinya sedang bertarung dengan sesama teman mereka. Hal itu membuat Kaira risih tentu saja. Apakah dirinya se-spesial itu? Namun nyatanya, setelah dia melahirkan, wajahnya nampak lebih bersinar dari biasanya. Atau mungkin itu adalah akibat dari dirinya yang bahagia? Sudahlah, mungkin hanya tuhan yang tahu.


Beruntung sekali, Eren melirik kearah istrinya yang sudah dikerubuti oleh orang banyak. Semuanya lelaki. Pria itu menghentikan aksinya dan menuju bibir pantai


"Kalian? Apa yang kalian lakukan?" Tanya Eren kepada setumpuk pria disana. Eren mengambil langkah cepat, memeluk Ara-nya dan mencium bibirnya. Sontak, para pria tersebut membelalakkan mata terkejut.


"Saya suaminya. Mengapa? Apakah kalian tidak melihat ada cincin yang bersemayam di jarinya itu?" Tanya Eren tegas sambil menunjukkan cincin kawin mahal milik mereka. Para pria itu mundur menjauh, menyisakan sejuta tanda telapak kaki mengelilingi mereka berdua. Sedangkan Kaira masih saja menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Eren. Wanita itu tersipu malu untuk yang kesekian kalinya.


"Sepertinya lebih baik kita pulang saja. Kalau disini lama-lama, yang ada kamu malah jadi mangsa para buaya itu" Eren memajukan mulutnya beberapa sentimeter. Kaira hanya dapat menggelengkan kepalanya


"Iya iya, Ara yang salah, karena Ara memakai pakaian seksi yang mengundang mereka kemari. Huffttt, untung mas Eren datang. Kalau tidak, entah apa yang akan mereka lakukan padaku" Ucap Kaira yang membuat Eren semakin panas.


Dengan sigap, Eren menyabet sebuah jaket yang berada dibelakang Kaira.


"Pakai jaketnya atau kamu akan masuk angin nanti. Yakali kan seorang nyonya muda William masuk angin. Ga elit banget sih" Celoteh Eren. Kaira hanya tergelak mendengarkan celotehan suaminya itu. Dia tak pernah melihat suaminya itu cemburu karena dirinya, selalu saja dia yang cemburu. Entah mengapa, dia sama sekali tak pernah bisa berbuat jahat padanya bahkan hanya sekadar menamparnya.


Wajah Eren memerah dan mengelak semua ucapannya


"Mana ada cemburu? Ngapain juga aku cemburu. Kan kamu cuman milik aku" Elaknya


Cuppp... Kaira mengecup pipi Eren. Wajah pria itu memerah seketika.


"Iya iya. Aku milikmu, milik Tuan Muda Eren William seorang" Ucap Kaira.


Mereka disana layaknya dunia hanya milik mereka berdua, yang lainnya kontrak. Memadu kasih, menjalin cinta yang sudah lama tenggelam kini telah terbit kembali di pulau yang indah ini.


Sedangkan disisi lain...


oeee oeee. Suara bayi menangis tak henti-hentinya berada di tangan Ana. Wanita cantik berambut pendek itu kebingungan setengah mati untuk menenangkan tuan kecilnya. Rangga pun tak luput dengan kebingungan itu hingga mereka bahkan tak sadar kedua majikannya itu sudah pergi dari pantai Pandawa.


"Ngga, ini gimana? Kok rewel Mulu sih?" Tanya Ana panik. Wajahnya mulai memerah dan keringatnya mulai bercucuran


"Ya mana gue tau, gue ga pernah punya anak kali" Jawab Rangga yang sama paniknya


"Beliin susu gih. Susunya habis." Ucap Ana. Rangga langsung menuju ke supermarket terdekat untuk membelikan merk susu yang persis dengan yang ada di hotel.


Tiga puluh menit kemudian...


Rangga baru saja tiba di kantin sekitaran pantai, dia berkeliling mencari keberadaan Ana. Tak lama kemudian, pria itu melihat seorang wanita cantik dengan bayi pria mungil ditangannya.


"Hai nona cantik. Sendirian aja" Ucap Rangga menggoda Ana yang mukanya sudah sangat kesal menunggu


"RANGGA!!!" Ana menyemprot Rangga yang baru saja datang itu. Tak lupa dirinya menarik telinga pria itu.


"Auhh ahh ahh. Sakit sakit" Rintih Rangga


"Kamu kemana aja sih? Lihat dia nangis dari tadi sampai ketiduran karena kamu. Gimana kalau sampai dia sakit, huh?" Ucap Ana menyerocos tanpa henti


"Ohh pasti kamu godain mbak-mbak bule yang lewat kan? Iya kan iya kan?" Lanjutnya marah.


Raut wajah merajuk terpampang pada wajahnya. Keningnya bahkan mengernyit menunjukkan dia sangat marah.


"Mana ada? Supermarketnya jauh banget. Kamu tahu kan tadi jalannya nanjak gitu?" Jawab Rangga menjelaskan. Ini adalah pertama kalinya bagi Rangga berbicara panjang lebar yang bahkan benar-benar menjadi seperti seseorang yang bukan dirinya. Ana sedikit terkejut tadi, namun dia tetap saja pada pendiriannya. Dia masih marah padanya.


"Ayolah. Jangan ngambek gitu dong. Gue janji deh gue beliin apapun yang lu mau" Rayu Rangga.


"Janji ya?" Sorak Ana kegirangan sambil melayangkan jari kelingkingnya


"Iya, janji." Ucap Rangga menjabat kelingking Ana


Ana tak lagi marah. Dia sudah membayangkan akan meminta apa nanti. Hingga lamunannya pecah saat Rangga tiba-tiba berkata


"Huh, mengurus bayi benar-benar menjengkelkan. Gue ga mau lagi ngurus bayi kedepannya!!!"


"Enak aja. Ngurus anak itu harus berdua dong. Yakali cuman gue doang kan yang susah." Celetuk Ana


"Tunggu tunggu. Ngurus anak harus berdua? Kamu gamau susah? Jadi, kamu nerima pernyataan aku tadi dong?" Tanya Rangga dengan senyum merekah di bibirnya. Namun, senyum manis itu tak bertahan lama saat Ana berkata


"Bukan itu. Maksud gue baby Lauren lah. Memangnya tadi kamu mikir anak siapa, huh? Aku aja belum jawab. Bisa-bisanya mengambil kesimpulan sendiri" Jawab Ana ketus