
"Ara, please pulang sama aku ya. Aku sudah mengusir Clara seperti yang kamu inginkan" Ucap Eren memohon. Dia nampak kasihan
"Biarkan aku tenangkan pikiranku terlebih dahulu. Jangan memaksaku"
Kaira menaiki tangga dan kembali ke kamarnya
"Tuan, lebih baik anda menunggu nyonya dan buktikan ketulusan anda." Ana memberi saran. Kali ini, Eren mengikuti saran bawahannya itu karena kalau dipikir-pikir itu adalah benar.
"Saya yang akan berusaha membujuk nyonya, karena bagaimanapun saya dan bibi sama-sama merindukan nyonya di rumah itu. Maaf tuan jika saya berkata lancang, tapi kami benar-benar muak dengan wanita yang tuan bawa pulang hari itu apalagi nyonya" Ana menawarkan diri untuk membantunya membujuk istrinya
"Baiklah tuan, saya akan pergi ke atas terlebih dahulu. Siapa tahu nyonya akan luluh dan mau kembali bersama kita"
Ana menaiki anak tangga dan menuju ke kamar Kaira
Tok tok tok
"Siapa?"
"Ini saya nyonya"
Suara yang tidak asing ditelinga Kaira membuatnya tanpa berpikir lagi langsung membukanya.
"Ana, masuk sini." Ucapnya mempersilahkan masuk.
Ana melihat ke sekeliling. Dia berpikir itu adalah kamar laki-laki dan dapat dipastikan itu adalah kamar Tuan mudanya dulu sebelum dia memiliki tempat tinggal dan menikahi nyonya mudanya
"Ada apa? Apakah kamu ingin berbicara sesuatu?" Tanya Kaira tanpa basa-basi
"Uhm, nyonya Kaira. Maaf sebelumnya jika saya lancang. Namun, saya sangat berharap nyonya muda dapat kembali ke rumah. Bibi dan aku benar-benar merindukan kehadiran anda disana" Ana mengatakannya dengan suara yang lembut dan lirih hingga Kaira terkadang tak dapat mendengarnya
"Sudahlah lupakan saja. Aku sudah katakan bila aku masih ingin disini. Tinggal disana hanya akan menyisakan pahit dan sesak. Jika aku ingin kembali, aku akan mengatakannya" Ucap Kaira menyibukkan diri.
Kaira memotong-motong buah yang ada di kulkas dalam kamarnya. Tadi pagi, mama mertuanya membelikan beberapa macam buah untuk dia makan saat senggang. Ya, bagaimana pun kaira tidak boleh bersedih dan harus menghindari stress yang tidak diperlukan
"Daripada membahas hal itu Mulu, mending kita nonton Drakor bareng. Gimana?" Ajak Kaira
"Terserah nyonya saja. Saya hanya menuruti" Jawab Ana
"Yahh, jangan gitu dong. Kalau kamu ga suka ya jangan maksa. Btw, nih buah. Tadi mama membelikan melon dan semangka untukku."
Kaira mulai menyetel film kesukaannya
"Nyonya, apakah anda suka film ini?" Tanya Ana antusias
"Hmmm, aku sangat menyukainya"
Kaira menonton film sambil memakan buah-buahan yang telah dipotongng tadi
"Kenapa?"
"Wahh. Aku juga sangat menyukainya. Ahh aktornya begitu tampan dan berani. Lihat caranya dia bertarung."
"Ya, aku mengharapkan anakku menjadi sepertinya bukan malah menjadi seorang pria yang taunya menyakiti perasaan istrinya"
Kaira menyindir Eren.
Apakah aku seburuk itu dimatamu?Apakah aku benar-benar tidak termaafkan? ~Batin Eren
Eren berdiri disana. Entah sejak kapan dia berada disana, yang jelas dia mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Kaira. Dia merasa tersinggung dan tertampar. Jika dia biasanya, dia akan menampar wajah Kaira karena berbicara buruk tentangnya dan dihadapannya. Namun, apa yang dikatakannya kali ini benar. Dia tidak menginginkan anaknya nanti menjadi sepertinya dan terdapat Kaira kedua.
Eren pergi dari sana dan menuruni anak tangga. Dia hampir saja menyerah. Dia terduduk lemah di sofa miliknya
Huh, apa lagi yang harus aku perbuat? aku sudah mencoba segala macam cara bahkan Ana pun turun tangan, tapi dia tetap tidak mau pulang.
Eren memutuskan untuk menghubungi Rangga saat ini dan menyuruhnya untuk kemari
"Rangga, kemarilah. Ke kediaman William"
Ucap Eren di telepon
"Baik tuan muda" Jawab Rangga
Untungnya, Rangga adalah sekretaris yang sangat setia. Dia selalu mau membantu bosnya dan bahkan dia juga menjadi penasehat pribadinya, walau dia tidak memiliki pengalaman apapun tentang cinta. Namun dapat dipastikan bila Rangga jauh lebih baik dan menghargai wanita ketimbang dirinya
..............
Brakk. Bip bip.
Tak tak tak
Rangga memasuki rumah lama milik Eren yang besar dan mewah itu dengan elegant. Dia nampak tampan kali ini
"Permisi tuan. Ada apa gerangan anda memanggil saya kemari?" Tanya Rangga yang berdiri tepat disamping Eren
"Duduklah. Buk buk(memukul sofa/mempersilahkan duduk)"
Rangga duduk sesuai dengan perintah Eren
"Begini, kamu kan kurang lebih sudah lama ikut denganku dan pasti sudah tahu banyak tentang nyonyaku dari Ana terutama. Apakah kamu tahu caranya membujuk Ara biar dia mau pulang?" Tanya Eren
"Apa? jadi, anda menyuruh saya kemari hanya untuk ini? Anda bahkan tidak fokus di kantor dan hari ini tidak datang ke kantor hanya untuk masalah ini?" Tanya Rangga. Dia terkejut bukan kepalang. Kemana Tuan muda yang dingin dan tak berperasaan itu? Dia yang biasanya profesional menjadi seseorang yang sangatlah tidak profesional hanya demi seorang wanita
"Bagimu itu hanya hal kecil tapi tidak bagiku. Aku tidak bisa hidup, makan, tidur dengan nyenyak karena Ara tidak berada disisiku. Aku menyesal telah mengusirnya"
"Tenang saja tuan, saya sarankan untuk anda membelikan sesuatu yang dia sangat sukai dan berikan padanya. Untuk saat ini, lebih baik anda terlebih dahulu ambil hatinya dan kepercayaannya lagi"
"Caranya?"
"Gampang saja. Jika dilihat dari karakter nyonya yang tegas namun juga berhati lembut juga dia sangat menyukai keindahan, seharusnya dia akan suka dengan bunga. Nyonya merupakan seorang wanita yang gila makanan, jadi belikan beberapa makanan yang dia sangat sukai itu akan lebih berguna. Lihat saja, dia tidak akan menolaknya"
"Ide yang bagus. Kalau begitu..."
Eren mengambil pena dan secarik kertas dan menuliskan beberapa hal untuk dibeli oleh Rangga.
"Belikan semua yang ada didaftar. Cari sampai dapat. Aku telah menuliskan beberapa resto favoritnya. Untuk bunga, kamu pilih saja sendiri yang sesuai dengan kesukaannya"
Pilih sendiri? Apakah tuan muda bahkan tidak mengerti bunga kesukaan istrinya? Yang benar saja, semua yang ada di daftar ini mayoritas adalah makanan dan yang pasti, nyonya lebih suka makanan dibandingkan dengan bunga ~Batin Rangga
"Tunggu apa lagi? Segeralah berangkat" Eren menendang bokong milik Rangga dan menyuruhnya segera berangkat
"Aduhhh.. Galak sekali bos. Bokongku" Ucap Rangga sambil berjalan berlalu dan memegangi bokongnya itu.
..............
Sedangkan Clara benar-benar frustasi kali ini. Dia tak tahu lagi harus kemanakah dia. Untung saja dia memiliki beberapa uang dari suami lamanya dan masih juga akan menerima harta Gono gini dari suaminya.
Clara memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran ternama milik seseorang yang dia kenal saat dia masih menjadi model di negeri ini
"Permisi, apakah tuan Wisnu ada didalam?" Tanya Clara pada salah satu pegawai disana
"Apakah anda telah memiliki janji dengannya?"
"Belum sih, tapi bisakah anda sampaikan nona kecilnya menunggunya?" Pinta Clara
"Baiklah nona, anda silahkan duduk dan tunggu sebentar"
Pelayan itu pergi menemui bosnya
Tok tok tok
"Masuk" Suara seksi dari seorang pria terdengar dari dalam
Kriekkk
"Permisi tuan, Lina ingin menyampaikan sesuatu" Ucap pelayan itu
"Hmmm" Balasnya dingin
"Seorang wanita menunggu anda di luar"
"Siapa?"
"Saya tidak mengenalnya tuan. Dia berkata nona kecilmu ingin menemuimu"
Wisnu terdiam sejenak. Dia mengingat-ingat siapakah nona kecil yang dimaksud pelayan itu.
Nona kecil? Hanya ada satu wanita yang ku panggil nona kecilku. Dia adalah Clara. Apa mungkin Clara kemari? Bukankah dia berada di Amerika saat ini?~Batin Wisnu