Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Keegoisan Kaira


Kaira dan yang lainnya telah bersiap untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal megah dan mewah di Ibu kota. Selain itu, Mall tersebut memiliki berbagai wahana menarik bagi anak kecil seperti Lauren dan Karen. Mereka berdua nampak antusias seperti biasanya. Karen telah tidak sabar untuk sampai di sana.


"Ma, Alen mau naik bom bom cal, mau main capit boneka, mau main sodok-sodok, mau main basket..." Celoteh Karen sepanjang perjalanan. Itu berbanding terbalik dengan Lauren yang menunjukkan ekspresi senangnya dengan ekspresi yang masih tergolong datar.


"Berisik" Ketus Lauren.


"Yeee, bialin lho. Emangnya kenapa kalau aku berisik? Mama juga tidak melalang kok" Ucap Karen.


Hingga saat ini, Karen tidak dapat mengucap huruf "r" dengan baik dan benar. Dia pelat, namun terlihat lucu saat membicarakannya.


"Y" Jawab Lauren singkat.


Karen bernyanyi apapun yang ia pelajari di sekolah dengan riang gembira hingga tak terasa mereka telah sampai di gedung utama mall tersebut.


"Tuan, nyonya besar, non Kaira, dan yang lainnya. Silahkan turun disini terlebih dahulu. Rangga akan memarkirkan mobilnya dulu" Ucap Rangga dibarengi dengan kepergiannya ke tempat parkiran.


"Ma, Anna mana? Kenapa selama beberapa hari ini, Kaira tidak melihat Anna?" Tanya Kaira saat tidak mendapati sosok tinggi besar dan tegap miliknya. Dia sangat merindukan wanita itu.


"Anna katanya sih pulang kampung hingga kamu bersedia kembali ke sisi kami."Jawab mama Eren.


"Baiklah. Kaira akan menghubunginya sendiri nanti. Ayo kita masuk" Ucap Kaira


Mereka masuk ke dalam setelah Rangga terlihat disana. Berkeliling area mall yang begitu luas dan megah. Tujuan utama mereka adalah ke wahana permainan yang berada disana.


Sedangkan itu, disisi lain...


"Pah, Sasa mau jalan-jalan. Sasa bosen di rumah sakit terus." Ucap Clarissa pada Eren.


"Sabar ya nak. Kalau dokter berbicara kamu boleh pergi, maka kita akan pergi,ok?" Ucap Eren


Beberapa saat kemudian, dokter kembali ke ruangan tersebut dan mendapati Clarissa telah dapat dipulangkan hingga hasil laboratorium keluar. Entah ini sebuah kesalahan atau tidak, namun nyatanya Clarissa memaksa untuk pulang


"Dok, Sasa sudah sembuh kan? Sasa mau ke mall dulu. Mau jalan-jalan. Boleh kan?" Tanya Clarissa memohon pada dokter pribadinya


"Baiklah. Tapi, setiap hari Clarissa harus kesini ya untuk kontrol sambil menunggu kondisi Clarissa keluar" Jawab dokter lembut


"Yeayyy, asyikkk!!!" Seru Clarissa bahagia.


Eren langsung memberesi barang-barangnya dan menuruti semua keinginannya.


"Ma, ayo kita ke mall yuk" Ajak Clarissa sambil menarik-narik tangan Clara yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Tch, apaan sih? Kayak ga pernah ke mall sama mama aja. Kalian berdua kesana aja dulu. Entar mama nyusul. Mama masih ada kerjaan. Bye bye" Ucap Clara berlalu pergi.


"Pa, mama kenapa sih selalu begitu sama kita? Mama ga sayang kita ya?" Tanya Clarissa dengan nada sedih


"Yang sabar ya. Tapi, Sasa tahu kan kalau mama memang sangat sibuk. Sasa juga sering lihat kan mama di televisi? Ga mungkin dong mama ga sayang sama Sasa. Ayo jangan pedulikan lagi. Kita have fun hari ini" Ucap Eren.


Aku begitu menyayangi Clarissa, lalu bagaimana dengan anakku waktu itu ya? Apa dia juga memiliki kehidupan yang layak? Atau beban hidup apakah yang dia rasakan dulu? Aku merasa sangat bersalah padamu~Batin Eren


.................


Kaira dan yang lainnya sedang antri memesan tiket untuk menaiki bom-bom car. Mereka telah membagi tugas. Wisnu dengan Karen, Mama Eren dengan suaminya dan Kaira dengan Lauren, sedangkan Rangga memilih untuk berjalan-jalan disekitar tempat agar dirinya masihlah dengan mudah mengawasi mereka semua.


Brukkk brakk brukkk..


Itulah keseruan yang ada di bom bom car. Sensasi tubrukan antara pemain dan kejar-kejaran seperti dalam film-film Hollywood yang menampilkan adegan pencurian atau balapan liar membuat ketegangan pun terasa begitu nyata. Mereka tertawa dengan gembira, tak terkecuali dengan Lauren yang biasanya hanya terdiam tanpa ekspresi. Walau mereka juga tidak kekurangan uang untuk melakukan hal demikian, tapi kesibukan Kaira dalam karirnya membuat mereka memiliki jarang waktu untuk berkumpul dan bersantai dengan jalan-jalan seperti saat ini. Makanya, Kaira benar-benar menghindari setiap perjamuan yang ada sebisa mungkin.


Tiga puluh menit kemudian...


"Mama, Alen mau lagi" Ucap Karen


"Sudah sudah. Ini sudah setengah jam lho kita cuman disini. Kan katanya Karen mau main capit boneka terus basket sama yang dapat tiket banyak. Karen lupa?" Tanya Kaira


"Ehh iya. Ayo ma kita kesana" Ucap Karen sambil menunjuk kearah mesin capit yang berada disana.


Kaira menghampiri mesin capit boneka dan memberikan beberapa koin dan dibagikan secara merata kepada mereka bertujuh. Kali ini Karen memaksa Rangga untuk ikut memainkannya.


"Om Langga, Ayo kita main. Om belum main lho" Ucap Karen.


"Iya deh iya. Om main. Tapi, nanti Karen beliin om es teh ya" Ucap Rangga


"Siap boss" Seru Karen.


...............


Eren berad di pusat perbelanjaan yang sama dengan Kaira. Pria itu menggendong anaknya di pundaknya. Eren menjadi pusat perhatian disana. Lama sudah rasanya dia tidak mendapatkan perhatian seperti itu, karena pria itu memang jarang sekali muncul di tempat-tempat umum.


"Baiklah princess ayah. Cuss kita ke atas" Ucap Eren.


Sesampainya diatas


Eren melihat seseorang yang sama sekali tidak asing di matanya. Kaira dan Wisnu berada disana dengan dua bocah yang menggenggam tangan mereka. Yang satu sedang bermain capit yang satu hanya berdiri tepat di samping Kaira, tidak melepaskan genggamannya.


"Pa, Sasa mau kesana" Ucap Clarissa sambil menunjuk kearah mereka.


"Nahh sekarang giliran kak Oren yang main. Karen minggir dulu ya" Ucap Wisnu yang langsung menggendong Karen untuk turun.


"Mau om gendong?"Ucap Wisnu menawarkan bantuan.


"Terimakasih, saya bisa sendiri" Jawab Lauren


Lauren dengan mandirinya berusaha menggapai bagian kursi paling atas dengan tangan mungilnya. Kaira merasa deg-degan dibuatnya. Namun, pria kecil itu berhasil duduk dengan benar tanpa ada jatuh atau goyang sedikitpun. Kedepannya, mereka memastikan Lauren akan menjadi pria dengan strategi yang matang, pantas sekali menjadi anak seorang pengusaha. Perlu diketahui, bila Kaira bisa menjadi sesukses sekarang dan perusahaan yang dikelolanya terbebas dari segala macam bentuk pencurian dan penghackeran itu adalah berkat Lauren yang membantu. Pria kecil itu bahkan paling muda di kelasnya. Perbedaannya dengan teman-temannya begitu signifikan dan dapat dipastikan dia akan menjadi lulusan IT termuda nantinya.


Satu kali tarikan, dia langsung mendapatkan dua jenis boneka dengan ukuran yang tentu saja berbeda


"Nih bonekanya. Kak Oren ga main boneka, jadi ini buat adek Aren aja" Ucap Lauren sambil memberikan boneka kepada Karen.


"Kakak coba lagi. Dapatin yang banyak buat Aren kak." Ucap Karen menyemangati kakaknya.


Memang pada dasarnya Lauren sangat menyayangi adik satu-satunya itu. Segala perkataan dan tindakan yang membuat adiknya bahagia, dia akan melakukannya. Bahkan jika itu merenggut nyawanya. Baiklah, itu terlalu melebih-lebihkan. Namun, itulah kenyataannya.


"Wahhh Kakak pintar sekali. Kakak, ajari aku dong" Ucap seorang gadis cilik yang muncul diantara mereka.


"Adik, kamu sama siapa kemari? Kemana orang tuamu?" Tanya Kaira


"Mama sibuk Tante. Papa masih beli koin disana" Ucap gadis kecil itu sambil menunjuk kearah mesin kasir.


"Ini papa sudah beli ko..." Kata-katanya terhenti saat mendapati wanita kecil disampingnya hilang begitu saja.


"Sasa? Clarissa?" Teriak Eren sambil menengok kesana kemari, panik.


Eren mencari keberadaan Clarissa disekitar kasir hingga dirinya teringat ucapan Clarissa yang sangat menginginkan untuk bermain mesin capit.


"Pasti disana." Gumam Eren kepada dirinya sendiri.


"Nama kamu siapa?" Tanya Kaira


"Namaku Clarissa. Tapi, papa sama mama biasa panggil aku Sasa Tante" Jawab Clarissa.


"Sambil menunggu papa kamu, Sasa main pakai koin Tante aja ya. Kebetulan masih sisa dua ini" Ucap Kaira memberikan koin kepada gadis kecil itu.


"Asyik makasih tante"


Wisnu mengangkat tubuh kecil Clarissa dan menempatkannya tepat di samping Lauren. Lauren mengajarinya dengan sangat serius.


"Yahh gagal" Ucap Clarissa dengan nada kecewa


"Jangan patah semangat. Ayo coba lagi" Seru Karen


Clarissa mencoba untuk yang kedua kalinya dan berhasil. Gadis kecil itu berhasil menyabet boneka kelinci yang sedari tadi menjadi incarannya.


"Yeay, terimakasih kakak" Seru Clarissa bahagia sambil memeluk Lauren erat.


"Anak-anak sekarang ya. Lucu-lucu." Ucap Kaira


"Tapi, sadar ga sih kamu, Wisnu, kalau gadis kecil ini mirip kamu" Ucap Kaira sambil menunjuk kearah Wisnu


"Aku juga berpikir demikian. Anak siapa dia?" Tanya Wisnu berbisik lirih nyaris tak terdengar.


"Atau jangan-jangan... Dia anak kamu di luar nikah" Celetuk Kaira tiba-tiba


"Enak aja. Aku mana pernah berbuat seperti itu kecuali dengan Clara" Sahut Wisnu dengan nada meninggi.


"Clarissa" Panggil Eren


"Papa"


Tunggu, suara ini...~Batin Kaira.


Kaira dan yang lainnya menoleh kearah Eren. Mereka paham betul dengan suara khas milik pria itu.


"EREN!!!" Celetuk mereka bebarengan