
Semalam suntuk Eren memikirkan istrinya yang tak mau kembali lagi ke rumah mereka. Rumah yang dulunya penuh dengan tawaan Kaira, kini tinggallah sebuah rumah kosong yang tak ada suara. Hanya suara air, sendok saat makan dan gemercik air dari kolam ikan yang ada didepan rumah Eren.
Ini adalah yang pertama kalinya Kaira tidak bersama dengannya selama dia mengandung anak pertama mereka.
Eren tak mau berlama-lama lagi menyiksa dirinya, dia memutuskan untuk kembali ke kediaman keluarganya dan menjemput sang istri tercinta. Dia telah berjanji pada dirinya akan menuruti apapun yang diminta Ara-nya asalkan dia mau kembali dalam peluknya.
Eren mengambil jaket dari kamarnya dan menyabet kunci yang tergantung di tempat biasanya
"Pagi tuan muda." Ucap Ana yang kebetulan sedang mengambil air minum disana.
"Tuan, saya ingin bertanya. Kemana nyonya? Aku sangat merindukannya" Ana telah beberapa hari tak berjumpa dengan Kaira karena beberapa kesibukannya. Dia terpaksa pulang ke desa dan membiarkan nyonya kesayangannya yang baik hati ini harus menahan dan menelan segala kepahitan hidup seorang diri. Biasanya, dia akan membantu nyonyanya.
"Ada di rumah mertuanya. Jika kamu merindukannya, ikutlah denganku" Ucap Eren dingin.
"Yeayy, terima kasih tuan"
Pakkk
Eren melemparkan kunci mobil yang ada ditangannya kepada Ana yang menandakan bila dia yang menyetir, sedangkan Eren duduk dibelakang. Namun, saat Eren akan masuk ke dalam mobil...
"Tunggu" Panggil seseorang
"Hmm?" Eren menatap wanita di belakangnya itu dengan wajah sinisnya. Dia benar-benar telah muak dengan wanita itu.
"Kamu mau kemana? Mau menjemput istrimu itu? Eren, lihatlah aku. Apa kurangnya aku sih dibandingkan dengan Kaira? Masakanku enak, aku juga bisa melayanimu hingga puas, Aku cantik, bodyku bahkan lebih menarik dibanding dengannya. Aku bisa menghasilkan uang untukku sendiri. Dia apa? Dia hanyalah pekerja rendahan yang tak sebanding denganmu. Dia bahkan digaji olehmu dan tidak bisa lepas pengaruh dari kedua orang tuamu. Dia licik. Dia membunuh bayiku, apa kamu lupa itu?" Clara menghela nafas
"EREN SADAR. KAMU ITU HANYA MENCINTAIKU. MENCINTAI BERLIAN SEPERTI AKU. BUKAN SAMPAH SEPERTI DIA!!!" Pekik Clara.
Eren mengepalkan tangannya. Dia tahu dia memanglah pria baj*ngan tapi setidaknya, dia tidak pernah tidak tahu diri seperti Clara yang bahkan merasa dirinya adalah berlian padahal dia lebih rendah daripada SAMPAH
Eren menunduk menahan emosi.
"Clara, kupikir aku cukup sabar menghadapimu selama berhari-hari ini. Aku bahkan mengusir kebahagiaanku demi kamu dan kamu masih tidak tahu diri? Kau katakan apa kelebihan Kaira dibanding denganmu?"
Heh, sejak kapan ada wanita ini disini? Jika dilihat dari apa yang dia ucapkan, sepertinya dia adalah masa lalu tuan muda yang diceritakan oleh Rangga saat itu?
"Tuan, kita sudah terlambat. Sebaiknya kita pergi sekarang juga" Ucap Ana sambil menatap benci Clara.
"Apa lu lihat-lihat gue gitu? Ga terima ya gue jadi nyonya baru dirumah ini? Lu itu cuma bawahan, ga usah sok sokan" Clara menunjuk kearah Ana
"Maaf nona. Namun, selamanya nyonya muda dan majikan saya hanyalah nyonya Kaira seorang. Anda sama sekali bukan orang yang layak untuk saya layani" Ucap Ana acuh tak acuh
"SUDAH CUKUP!!!" Eren memecahkan suasana yang penuh dengan emosi disana
"Tunggu sebentar. Saya masih ada urusan dengan wanita ini"
"Baik tuan"
Eren berbalik dan mendekat kearah wanita itu. Dia memegang kedua pundak Clara dan Clara menatap wajahnya lekat. Ada rasa marah, kecewa dan gelisah diwajah Eren yang tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Dia benar-benar tak bisa melakukannya, namun dia telah berjanji pada dirinya. Tubuhnya gemetaran.
"Eren.. Kau tak apa?" Tanya Clara. Eren nampak sangat menyedihkan.
"Kau tadi bertanya kan apa lebihnya Ara dibandingkan denganmu?" Ucapnya gemetaran
"Walau kau lebih bisa hampir segalanya dibandingkan Kaira, namun wanita itu mencintaiku dengan tulus. Berbeda denganmu yang hanya mengincar hartaku. Dulu saat aku bangkrut dan aku tidak bisa membantumu, kau malah pergi meninggalkan aku dan berkata akan mengejar impianmu di negeri Paman Sam itu. Namun apa nyatanya? Kau malah meminta putus denganku dan bertunangan dengan seorang pria tampan dari sana dan malah setelahnya aku mendengar kabar kau menjadi istri simpanan lelaki kaya disana. Kau tak lebih baik daripada seorang pelacur. Kau adalah seorang jal*ng bekas orang yang bahkan usianya setara dengan ayahmu hanya demi keuntunganmu saja? Apa kau memikirkan ku saat itu? Memikirkan betapa hancurnya aku? Lalu, Ara hadir dalam hidupku. Aku selalu menyiksanya, menyakitinya, namun dia sama sekali tidak pernah menyakiti perasaanku. Sama sekali tidak pernah meninggalkanku seperti yang kamu lakukan" Ucap Eren panjang lebar.
Clara membelalakkan matanya. Dia tak menyangka Eren akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dia merasa tertampar oleh ucapan Eren. Mata Eren berkaca-kaca. Dia telah mengungkapkan apapun yang ingin ia ungkapkan.
"Apakah aku seburuk itu dimatamu? Apa aku sehina itu di hatimu" Tanya Clara dengan nada meninggi
"Iya. Aku benci dengan wanita bekas orang lain sepertimu. Bahkan jika kamu telah mandi kembang tujuh rupa dari tujuh mata air yang berbeda sekalipun tidak akan merubah fakta kamu adalah wanita yang kotor dan menjijikkan" Jawab Eren. Dia bergetar sekali lagi.
"Huffttt Baiklah. Aku tak pernah ingin bermusuhan denganmu." Eren menenangkan dirinya. Dia berusaha untuk tetap cool didepan orang. Dia tahu Ana masih berdiri disitu. Ditambah dengan bibi yang dicegah oleh Ana untuk masuk.
Eren memalingkan wajahnya
"Sebenarnya aku tidak bisa melakukan ini... Aku... Aku ingin kau pergi dari sini. Aku sudah muak dengan perilakumu" Ucapnya tanpa menatap mata wanita didepannya itu
Clara hanya terdiam mematung. Ini adalah pertama kalinya Eren tega dengannya hanya demi seorang wanita lain yang datangnya lebih terlambat dibandingkan dengannya. Tangisnya pecah, dia berlari ke kamarnya dan mengemasi pakaiannya.
Eren menunggunya dibawah. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis. Ini pilihan yang berat, namun hubungan suci pernikahan itu lebih dari segalanya. Dia sadar akan hal itu dan dia memang belum bisa mencintai Kaira,namun dia sama sekali tidak bisa hidup tanpanya
"Tuan, tuan muda jangan menangis ya. Tuan muda melakukan pilihan yang tepat. Bibi sudah ikut tuan muda sejak tuan muda masih kecil. Saya rasa hanya non kaira lah yang bisa memberikan kebahagiaan yang nyata untuk anda" Ucap bibi menenangkan. Eren memeluknya dengan sangat erat. Ana hanya tersenyum bahagia akhirnya nyonya mudanya bisa mendapatkan kebahagiaan walau hanya sesaat saja.
Beberapa saat kemudian...
Gledek gledek gledek.
Suara koper digeret pun terdengar jelas disana. Clara sudah bersiap untuk pergi dan Eren telah mengutus pak supir untuk mengantarnya.
Clara berjalan lurus ke arah pintu sambil menggeret kopernya yang dia bawa saat itu. Untuk terakhir kalinya, dia menoleh kearah Eren yang masih saja membuang muka darinya itu. Dia menghela nafas sebelum pergi dari sana.