
"Ara, ini sudah waktunya pulang kantor. Ayo pulang" Eren mengetuk pintu Kaira yang masih merajuk itu
"Engga. Ga mau. Tuan muda jahat sama saya. Hiks" Balas Kaira
"Bukannya tadi kamu telfonan sama orang kalau kamu mau bertemu seseorang. Siapa sih?" Tanya Eren ingin tahu
"Aduhh lupa lagi. ahh" Kaira menepuk keningnya dan langsung memberesi barangnya
"Ara"
dor dor dor
"Buka pintunya." Kaira membuka pintunya tiba-tiba dan Eren sedang melihat kearah lain dan mengetuk kening Kaira
"Tuan!! Ini kening saya, bukan pintu." Kaira memegangi keningnya
"Ahh. maaf. Saya tadi melihat kearah lain. Sakit ga?"
"Ya sakit lah. Gitu aja pake tanya." Kaira masih kesal dengan suaminya itu.
"Uluh-uluh galak amat sih non. Mau diobatin ga?"
"Ga usah. Mending sekarang anterin saya ke rumah Ayah"
"Udah berani nyuruh-nyuruh saya? Ingat lho kamu ini masih sekretaris saya bukan bos saya" Eren memojokkan kaira ke tembok membuatnya tak bisa bergerak.
"Ma..maaf. Saya tadi terbawa emosi."
"Maaf? Cuma itu saja? Kalau minta maaf itu yang tulus dong" Protes Eren
"Ya, tuan muda maunya apa?"
"Ambil inisiatif dong"
Kaira menarik tengkuk Eren dan menciumnya
Cupp... Kaira mencium bibir Eren
"Gitu aja? Cihh payah. Kalau mau cium tuh begini" Eren mempraktekkannya. Dia menundukkan kepalanya, karena memang tinggi Eren dan Kaira berbeda lumayan jauh. Dia memulai mencium bibir kaira, memasukkan lidahnya dan bergelut didalam sana. Menghisap bibirnya dan suara ciuman itu terdengar jelas disana.
Ada apa ini? Mengapa aku bahkan tak bisa menolaknya. Batin Kaira dalam hati. Dia luluh dan akhirnya mengikuti setiap permainan Eren.
"Sudah tuan. Saya kehabisan nafas" Kaira terengah-engah.
Tok tok tok. seseorang mengetuk pintu ruangan Eren
"Masuk"
"Tuan muda, ibu Kaira..." Sapa orang itu
"Eits. Panggil dia nyonya muda" Protes Eren
"Baik tuan. Begini, sepertinya ada hal yang harus anda tangani" Ucapnya
"Ada apa? Saya akan mengantar istri saya ke rumah mertua saya. Ga bisa besok aja apa?" ucap Eren sedikit ketus.
"Tidak tuan. Ini darurat" Jawab orang itu. Eren melihat kearah kaira dan menanyainya
"Gimana nih, Ra? Kamu gapapa kan pulang bareng Anna?"
"Gapapa kok. Kerjaan lebih penting. Lagian kan ada Anna yang jagain saya."
"Baiklah, saya tinggal dulu."
Eren pergi mengikuti orang tersebut.
"Kamu bagus sekali. Ini bayaran untuk kamu" Ucap Eren kepada orang suruhannya.
"Terimakasih tuan muda" Orang itu pergi meninggalkan Eren sendirian. Bukan maksud Eren untuk membiarkan istrinya ke rumah mertuanya sendiri. Namun, dia sudah tahu tujuan ayahnya menyuruh Kaira datang adalah memperkenalkan adik tiri Kaira dari mama tiri kaira yang selama ini ternyata hidup di Amerika bersama pamannya.
Maafin aku, Ara. Aku ga bermaksud ninggalin kamu kok. Nanti, kamu lihat saja pertunjukan menarik. Aku juga ga sabar melihatnya. Eren pergi menuju mobilnya.
"Rangga, jangan lupa dengan apa yang saya katakan kemarin."
"Baik tuan muda".
Bagaimana Eren tidak mengetahui kepulangan adik tiri kaira ini, Dia adalah direktur dari hampir seluruh maskapai penerbangan nasional maupun internasional. Saat dia melihat nama yang tak asing, yang merupakan nama dari mama tiri Kaira berada didalam daftar. Dan tadi, Rangga melaporkan padanya tentang dia bertemu dengan mama tiri Kaira.
Setibanya dirumah...
"Kak kaira..." Panggil Adik tiri Kaira
"Loh, kamu siapa?" Kaira kebingungan atas kehadirannya
"Kakak ga kenal aku? Hiks padahal aku kangen berat sama kakak" Ucap gadis itu
"Dia adalah adik tirimu, kai" Ucap seseorang yang baru keluar dari kamarnya. Ya, dia adalah papa Kaira yang baru saja pulang.
"Papa" Kaira memeluk papanya
"apa? Adik? Sejak kapan aku punya adik lagi selain Rayhan." Kata Kaira menegaskan.
Rayhan adalah adik laki-laki kaira yang selalu melindunginya dulu sebelum dia menikah dengan Eren. Sekarang, adiknya menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya kepada Eren. Namun, tentu saja Rayhan sering berkunjung ke rumah Kaira
"Kamu ga boleh bicara begitu dong. Ini adalah anak dari mama tiri kamu sebelum bersama ayah. Kenalan dong"
"Kenalin aku Putri Rania. Lulusan dari Amerika." Adik tiri Kaira mengenalkan diri dengan sangat sombongnya.
"Kaira" Jawab Kaira singkat dan langsung duduk di meja makan
"Ayah, lihat kak kai. Dia bahkan tidak menyambutku dan langsung duduk"
"Kaira, begini sikap kamu kepada adikmu sendiri?" Tanya Mama Tiri Kaira
"Pa, lihat tuh anak kamu. Kelakuannya semakin hari semakin minus" Mama tiri kaira terlihat jelas memanas-manasi ayahnya
"Kaira, cepat ajak adik kamu dan tunjukkan isi rumah ini. Walau dia lebih muda dari kamu, tapi kamu harus menghargai dia. Jangan karena sudah masuk ke keluarga kaya, kamu bisa seenaknya" Suruh bapaknya
"Oh, aku harus bagaimana menyambutnya?" Ucap kaira angkuh
"Siapa yang mengajarimu bersikap kurang ajar begitu?" Ayah kaira bersiap menamparnya.
"Pa udah. Kasian kak kaira pasti dia capek. Aku juga gapapa kok keliling sendiri"
dia berpura-pura polos.
"Lihat tuh adik kamu aja bisa mengerti kamu, kamu seharusnya sebagai kakaknya malu dengan sikap kamu" Ayah kaira menceramahinya.
"Lalu, tujuan utama kalian mengundangku apa? Hanya ini?"
"Kamu!!" Kaira membuat ayahnya emosi
Ayah, bahkan dia yang bukan anak kandungmu, kamu bela mati-matian sedangkan aku yang anak kandungmu, kau suruh untuk seperti pembantu baginya. sungguh tidak adil. Batin Kaira
Cihh lihat aja kakak ku sayang. Aku akan membuat kamu kehilangan kasih sayang dari ayah kamu sendiri.
Saat mereka lagi berdua sendirian. Kaira sekarang telah berada di kamar lamanya
"Kak kai. Aku boleh masuk?" Izin Putri
"Hmmm."
"Kak, kamu itu kenapa sih dingin banget sama aku?"
"Karena, kamu ga pantes buat aku beri kehangatan"
"Oh jadi, mau saingan sama aku" Tantang Putri
Kaira tanpa sadar, ternyata dia telah merekam ucapannya.
"Kalau itu mau kakak, jangan salahkan aku untuk melawanmu. Bye bye kakak sayang"
Putri memberikan bukti rekaman yang hanya menunjukkan kaira menjelek-jelekkan nya kepada ayahnya.
"Kurang ajar. Aku ga pernah tahu jika kaira bisa seangkuh itu?"
"Kaira!!! Keluar kamu" Teriak ayahnya emosi
"Ada apa, pa?" Tanya Kaira
Plakk
"Papa ga pernah ajarin kamu berkata kasar dengan saudara kamu sendiri apalagi ibu tiri kamu. Dia sudah baik merawatmu hingga kamu sebesar ini"
"Papa demi anak ini rela menampar aku, anak papa sendiri? Sebenarnya siapa sih anak papa?"Kaira benar-benar kecewa kali ini
"Karena kamu berani kurang ajar pada mama kamu bahkan mengatai mereka. Putri baru pulang mengapa kamu cari masalah sama dia?" Jawab papanya dengan nada tinggi
"Oh, jadi menurut papa akulah yang cari masalah? Kalau begitu lebih baik jangan suruh putri dekat denganku. Itu hanya akan membuatku muak" Kaira benar-benar emosi kali ini
Brakkk. Kaira membanting pintunya
"Kai.. Kaira.. Buka pintunya. Papa belum selesai ngomong. Kai"
Hiks. Mengapa papa jahat sama aku bahkan rela menamparku demi anak pria lain? Aku ini anak papa bukan musuh papa. Kaira mengurung diri dikamarnya hingga tertidur.
Pukul 17.00
Kaira turun dari tangga dan dia mendapati hanya Mama Tirinya dan Putri saja.
"Ohh iya, gue denger dari mama kalo lu itu pernah jadi trending topic. Katanya lu itu ngerebut kekasih orang karena dia kaya dan ngebuat mereka gagal nikah padahal mereka sudah bertunangan. Hehe. Gue pikir lu cewek baik-baik yang sok-sok an ceramahi gue ternyata kaga." Kata Putri pedas. Kaira hanya menahannya dan berlalu begitu saja
"Mana suami kamu yang selalu jadi kebanggaan kamu itu? Ga hadir dia? Bahkan menemanimu saja tidak? Cihh dasar ya pelakor. Ini kan akibatnya."
"Sama persis kek ibu lu itu yang ngerebut papa dari mama dulu pas SMA. Kalian ya ibu dan anak sama-sama ****** perebut tunangan orang." Kata Putri kepada Kaira membuat kaira marah
Plakk kaira menamparnya dan kejadian itu dilihat oleh Ayahnya
"Kaira. Apa-apaan kamu itu? Mengapa kamu menampar adik kamu?"
"Adik? Dia si bajing*n wanita ini adik? Ga Sudi"
"Kaira!!! Kaira!!" Kaira kembali ke kamarnya.
Pukul 19.00
Sekarang adalah waktunya dinner.
Duhh apa tuan muda tidak akan kemari ya? Katanya dia akan menyusul nanti. Kaira mengkhawatirkan Eren
"Non kaira, anda sudah ditunggu oleh tuan untuk makan" Bibi memanggilnya
"Oh terimakasih ya bi." Kaira menuju meja makannya dan tanpa basa basi dia lantas duduk.
"Mana tuh suami kamu yang kaya raya itu? Katanya kesini? Atau jangan-jangan dia pergi sama wanita lain?" Pancing mama tiri Kaira.
"Iya tuh kak. Kenalin ke aku dong. Aku kan kepo"
"Bisa diam ga sih" Bentak Kaira membuat mereka berdua terdiam sejenak
"Kenapa? Kamu sebenarnya berpikir begitu juga kan?"
"Atau jangan-jangan kakak istri simpanan ya? atau istri yang dibuang? Miris sekali nasib kakak" Mereka berdua memang suka sekali membuat Kaira marah.
"Siapa bilang dia istri buangan?" Suara sexy seorang pria datang dari pintu depan. Semua orang pun lantas menoleh kearahnya.
Ganteng sekali. Siapa dia? Batin Putri
"Yang mengatakannya lagi, aku akan membungkam mulut kalian selamanya"
Mengerikan sekali. Auranya sangat kuat. Tapi, gapapa aku suka
"Tu..Tuan muda. Saya hanya bercanda" Ucap Mama tiri Kaira
"Tuan muda silahkan duduk. Tolong maafkan perkataan istri saya dan anak tiri saya"
"Jangan minta maaf kepadaku. Mintalah kepada Ara-ku" Perintah Eren
"Kalian, tunggu apalagi cepat minta maaf." Mereka berdua akhirnya minta maaf kepada Kaira
"Bagaimana Ara? Kamu memaafkan mereka?" Tanya Eren kepada wanita mungil disebelahnya
"Tidak."
"Kaira!!!" Bentak Ayahnya
"Siapa mengizinkan kamu untuk membentak Ara-ku? Memaafkan mereka atau tidak, itu urusannya dan urusanku adalah membantunya menghukum mereka" Semua orang hanya bisa terdiam oleh ucapan Eren.
"Ara, maaf ya aku terlambat. Ini hadiah dariku. Maaf aku terlambat karena aku membelinya dulu" Eren memberikan sebuah kotak berisi kalung yang telah ia pilih dengan mengukir nama mereka berdua didalamnya. Dia mengajak Anna untuk memilih-milih hadiah untuk dibawakan ke kediaman Kaira.
"Untuk hadiah kalian, kalian bisa pilih sendiri di mobil. Saya dan kaira akan menginap disini. Boleh kan?"
"Tentu saja boleh" Ayah Kaira sangat menghormati Eren, karena posisinya.
Eren memasangkan kalung itu ke leher Kaira.
"Gimana? Kamu suka ga?" Tanya Eren
"Suka. Makasih ya sayang" Kaira mengecup pipi Eren. Mereka memang sengaja membuat kedua ibu dan anak itu bungkam. Eren membelai pipi Kaira mesra.
"Aughh" Keluh Kaira
"Kamu kenapa?" Eren membuka rambut Kaira yang menutupi wajahnya yang bengkak akibat ditampar oleh Ayahnya.
"SIAPA YANG MELAKUKAN INI KEPADA ARA-KU?" Kali ini Eren benar-benar marah. Dia bahkan ekstra melindungi istrinya itu akhir-akhir ini. Mereka semua terdiam dan menciut. Mereka benar-benar tidak memiliki nyali untuk mengakuinya.
"JAWAB AKU SIAPA?" Brakk Eren mendobrak meja membuat semua orang kaget
"Sa...Saya tuan muda" Akhirnya ayah Kaira mengaku
"Apa salah Ara hingga kamu sebagai ayah malah memukulnya?"
"Di..dia berkata kasar kepada Putri, adik tirinya bahkan menamparnya"
"Ara, apakah begitu?" Eren menanyai Kaira namun, telah disahut oleh Putri
"Benar tuan. Dia menghinaku bahkan cuek kepadaku. Hiks... Aku..." Putri berniat membela diri
"Saya tidak bertanya padamu." Eren memotong perkataan Putri
"Yang dia katakan benar. Saya merasa kecewa kepada ayah yang menutup-nutupi kehadirannya dan saat saya kembali, dia bahkan menyuruh saya menyambutnya. Bahkan, dia tidak menyambutku tadi. Lalu, untuk apa saya menyambutnya. Dan masalah saya menghinanya, itu juga benar karena dia duluan yang memancing-mancing saya tadi" Jelas Kaira tanpa dilebih-lebihkan
"Bohong tuan. Dia berbohong" Putri masih melakukan pembelaan terhadap dirinya.
"DIAM!!!Jika saya tidak menyuruh kalian berbicara, jangan berbicara. Mengerti? Ayo Ara, lebih baik kita ke kamar. Saya sudah tidak ***** untuk satu meja makan dengan mereka." Kaira dan Eren pun pergi ke kamar kaira yang lama.
"Bagaimana penampilan saya tadi? Bagus kan?" Eren mengunggul-unggulkan dirinya sendiri lagi
"Iya deh iya. Tuan muda terbaik" Puji Kaira
"kamu ingin saya lakukan apa untuk membalas mereka?"
"Tidak perlu, biar saya sendiri yang mengatasinya. Jika diperlukan, saya akan menghubungi tuan nanti" Kaira tidak ingin Eren membalas mereka dengan keji. Dia tahu persis kelakuan suaminya ini