
"Kamu gapapa kan?" Tanya Eren basa basi
"Saya gapapa."
"Baiklah saya tidak akan berbasa-basi lagi. Ara, maafin aku ya. Aku tahu aku salah, tapi kamu tahu kan aku semalam mabuk? Please, maafin aku" Eren memegang tangannya, membuat kaira tidak bisa berkata-kata.
"Apa itu berarti bila tuan muda mabuk bisa membenarkan perbuatan tuan muda yang menyakiti saya?"
"Ya, saya tahu saya salah. Tapi, saya mohon maafin saya. Saya janji saya tidak akan melakukannya lagi"
Sudah berapa kali kau mengatakannya? Aku membenci kata-kata itu saat ini
"Sudahlah ga usah dibahas lagi. Lagian, bila saya memaafkan anda maupun tidak, itu sama saja kan? Apa ngaruhnya?" Kaira membuang muka dan membelakangi Eren yang membuatnya semakin merasa bersalah. Kecanggungan dan keheningan berlangsung lama
"Permisi kak, kakak ipar, dokter akan mengontrol kondisi kakak sekarang" Ucap Rayhan yang memecahkan keheningan ini.
"Baiklah sayang. Aku akan membelikan sesuatu untukmu. Kamu mau makan apa?" Tanya Eren.
"Ga usah" Kaira masih tegak pada pendiriannya. Eren yang mengerti bila istrinya itu sangat marah pun hanya bisa terdiam dan keluar dari ruangan itu.
Bodoh kamu Eren. Bodoh. Bagaimana kamu bisa memaksanya untuk memaafkanmu setelah apa yang kamu lakukan padanya? Bodoh. Kamu telah menyia-nyiakan dan menyakiti istri sebaik dirinya hanya demi seorang wanita lacur seperti Clara? Eren mengutuk dirinya sepanjang jalan. Dia benar-benar merasa bersalah kali ini.
.............
"Bagaimana dok kondisi saya?"
"Kondisi ibu baik-baik saja dan janin ibu sehat. Namun, jangan terlalu banyak stress dulu ya Bu, karena masih rentan"
"Baik dok"
Eren hampir saja terlupa mengabari keluarganya. Dia mencari ponselnya di sekitaran saku celananya.
"Halo ma"
"Tumbenan nih anak mama nelepon mamanya pagi-pagi. Ada apa sayang?"
"Ma, Ara masuk rumah sakit. Sekarang, Ara berada di rumah sakit harapan bunda"
"APA?!!" Mama Eren panik dan langsung memutus telepon darinya. Beliau mengganti pakaiannya dan pergi menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit...
"Sayang, dimana istrimu itu?" Mama Eren terlihat panik. Bagaimana tidak, beliau mendengar bila menantu kesayangannya itu masuk rumah sakit. Eren tak memberitahukan apapun tentang kondisi kaira saat ini
"Ayo ma ikut aku" Eren dan mamanya berjalan menuju ke kamar Kaira.
Kaira yang sedang memakan sarapan paginya dari rumah sakit pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka.
"Oh Kaira ku, menantu kesayanganku. Kamu gapapa kan sayang?" Tanya Mama Eren kepadanya.
"Mama tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja ma" Jawab Kaira sebelum dia memakan suapan terakhir bubur yang berada di tangan Rayhan itu.
"Kamu sungguh membuat mama khawatir saja. sebenarnya, apa yang terjadi?"
Bola mata Eren dan kaira secara tak sengaja bertemu. Kemudian, Kaira menundukkan kepalanya
"Ahh ehh... Aku.. Aku jatuh dari tangga ma" Jawabnya gugup.
Keliatan bohong ga sih? Ahh kenapa pakai gugup segala. Maafkan aku ma, aku tidak bisa memberitahumu yang sebenarnya terjadi... Kaira merasa bersalah. Walau Eren bersikap terkadang baik padanya, terkadang juga sangat kasar, dia masih beruntung memiliki mertua sebaik mertuanya. Kedua orang tua Eren sangat mengerti dan menghormatinya dan bahkan menyayanginya melebihi anak mereka sendiri. Kaira benar-benar tidak menginginkan untuk berbohong kepadanya.
"Ma, ada sesuatu yang aku mau bicarakan" Kaira memutuskan untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada Mama Eren
"Apa sayang? Bila kamu menginginkan sesuatu katakan saja. Mama pesankan ya?"
"Tidak ma tidak. Aku hanya ingin mengatakan..."
"Aku hanya ingin mengatakan bila aku hamil" Ucap Kaira lirih
"Hamil? Kamu serius?" Tanya Mama Eren yang dijawab dengan anggukan saja oleh Kaira.
"Ara, kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku? Ini berita besar lho" Eren nampak sangat bahagia dan berseri-seri. Akhirnya, dia akan menjadi seorang Ayah. Usianya yang tidak muda lagi dan layak untuk menjadi seorang bapak, tentu saja tidak sabar menantikan kedatangan juniornya bersama dengan seorang wanita yang paling ia cintai. Walau Eren merupakan playboy kelas kakap, Eren sama sekali tidak pernah menanamkan benihnya ke wanita manapun itu. Baginya, hanya wanita yang dia nikahi secara sah lah yang bisa mendapatkan kesempatan emas tersebut,walau banyak wanita mengantri diluar sana.
Kaira hanya tersenyum kecut mendengar pernyataan dari Eren. Dia masih mengingat kejadian seberapa kasarnya tindakan suaminya itu terhadapnya. Hati wanita mana yang tidak sakit diperlakukan selayaknya binatang oleh suaminya sendiri.
.............
Waktu sudah semakin sore. Matahari pun terlihat bergerak kearah barat yang menandakan bahwa malam akan segera tiba. Saat ini, kaira telah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter yang menjaganya. Betapa senang hatinya seperti disiram air es yang sangat menyejukkan. Jujur saja, dia sangat jenuh berada di rumah sakit yang sesak dan bau obat itu.
Kaira berlarian dan menari-nari, menarik nafas dalam-dalam, merayakan kebebasannya. Dia menuju ke taman rumah sakit sebelum pulang, bersandar disebuah dinding pembatas dan melihat kearah depannya. Kebetulan sekali, rumah sakit tersebut terletak diatas bukit. Kaira menikmati pemandangan dari atas. Dia merasakan angin sepoi-sepoi berhembus melewati pipinya, membuat rambut hitam yang panjang dan indah miliknya menari-nari dan memancarkan pesona keindahan yang tiada tara. Eren mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Ingin sekali rasanya dia mendorong pria dibelakangnya itu dan menjauh sejauh-jauhnya dari hidupnya. Namun, dia tak sanggup melakukannya
"Biarkan aku memelukmu walau hanya sebentar saja. Aku tau kamu masih marah padaku dan ingin mendorongku jauh-jauh darimu. Namun jujur saja, badan ini tak sanggup bila harus jauh darimu" Bisik pria berbadan kekar itu ditelinganya. Eren bersikap lembut sekali padanya, membuatnya terlena dan luluh akan sifatnya. Kemarahannya mulai mereda. Namun, tetap saja satu hal yang tidak ia sukai dari suaminya adalah Sifat plin-plan Eren.
"Eren, kaira, mari kita pulang. Tidak baik bagi janinmu bila kamu masih berada disini. Angin malam akan sangat jahat dan itu juga tidak baik bagi kesehatanmu yang baru saja keluar dari rumah sakit" Ucap wanita paruh baya itu menasehati Kaira. Mereka hanya menurut dan mengikuti setiap langkah kaki wanita itu, membawa mereka ke mobil mewah milik Eren dan mamanya.
"Kak, kan sudah ada kakak ipar dan mama mertua kakak. kalau begitu, aku pulang dulu ya." Pamit Rayhan kepada Kaira. Setelah bersalaman dengan mama Eren, Rayhan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
"Eren, kan kamu sibuk kerja, mending kalian selama beberapa hari ini nginep di rumah mama saja. Lagian, mama juga mau jagain menantu mama dan calon cucu mama ini. Boleh kan?"
"Mama lebih baik tanyakan saja langsung pada Ara. Jika dia menyetujuinya, maka aku akan mengikutinya" Bak suami idaman, Eren selalu saja bersikap seperti suami siaga yang sangat menyayangi istrinya. Terbukti dengan dia selalu menuruti semua perkataan Kaira. Apapun yang dia ucapkan dan inginkan,akan selalu dia penuhi. Namun, siapa sangka bila sifatnya selalu berubah secara tidak jelas?