Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Aku benci sifat plin-planmu,mas (Part 2)


"Maaf ma. Aku... Aku menginginkan untuk tetap tinggal dirumahku sendiri bersama mas Eren. Aku sudah terlanjur nyaman disana" Jawab Kaira atas pertanyaan mama mertuanya


"Ya sudahlah jika itu keputusanmu. Tapi, mama boleh kan sering-sering nengokin baby piyek mama?"


"Pasti dong. Ya kali kan neneknya baby piyek ga boleh nengokin."


"Ya sudah ya mama pamit pulang dulu. Bye bye"


Mama pergi begitu saja dengan mobilnya beserta supir. Tinggal lah kaira dan Eren berdua. Mereka saling bertatapan seakan sesuatu ingin mereka ucapkan. Namun nyatanya, hanya ada keheningan diantara mereka sepanjang perjalanan hingga sampai dirumah.


Tiba-tiba suara ponsel Eren yang berada di meja pun berbunyi. Kaira mengambilnya dan melihatnya sekilas, tapi Eren langsung menyautnya secara kasar.


"Halo?"


Siapa sih yang meneleponnya? Mengapa dia begitu takut aku akan mengetahuinya? Ahh sudahlah mungkin memang hanya pekerjaan. Aku harus jaga kesehatanku.


Kaira naik keatas duluan dan berbaring, setelahnya ia tertidur pulas.


Sedangkan Eren...


"Ada apa Clara? Tumben sekali kamu meneleponku?" Tanya Eren kepada seseorang yang meneleponnya


"Hiks hiks... Eren.... Kau tahu, aku hamil anak Edgar."


"Apa? Lalu, bagaimana dengan tunanganmu itu?"


"Entahlah. Dia sedikit acuh tak acuh kepadaku"


Hal itu membuat Eren sakit. Mengetahui seseorang yang masih ada dalam hatinya hamil dengan pria lain saja sakit, namun yang lebih menyakitkan baginya adalah mendengar Clara menangis karena sifat seseorang yang dipilih olehnya.


"Baiklah, mungkin dia hanya capek saja."


.............


Keesokan harinya...


Matahari telah terbit dari ufuk timur, cahaya pun telah sedikit banyak menembus gorden yang masih tertutup itu. Eren bangun pagi-pagi sekali. Entah apa yang membuatnya sangat bersemangat hari ini.


Eren membuka gorden pada kamar kami, membuat cahaya menyinari wajah kaira sehingga wajahnya terlihat glowing seketika tanpa harus menggunakan skincare atau semacamnya. Kaira terbangun setelah sinar matahari itu menyilaukan matanya walau dia masih menutup matanya.


Eren mengajak jalan-jalan pagi kaira.


"Katanya, jalan-jalan pagi itu baik buat ibu hamil lho. Makanya aku ajak kamu jalan. Kamu mau makan sesuatu?"


"Uhmm, sepertinya makan soto enak nihh"


"Siap nona boss." Eren menggendong istrinya itu menuju warung soto terdekat


"Lho, bukannya kamu bilang jalan kaki itu sehat untuk ibu hamil? Kenapa malah menggendongku?"


"Warung soto masih ada di ujung jalan sana. Aku gamau ya kalau sampai kamu kecapaian dan akhirnya malah minta pijat"


"Tapi, aku malu mas. Semua orang melihat kearahku" Kaira membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Eren.


"Wahh pasangan muda ya? Senang sekali ya punya suami yang memanjakan istrinya. Jadi iri deh saya. Ga kayak suami saya yang cuek dan sukanya main wanita lain diluar sana. Masnya kan punya wanita hebat dan cantik seperti mbaknya ini. Kalau masnya ninggalin dia, saya jamin masnya akan sangat menyesal" Ucap seorang wanita yang mungkin berusia sekitar 40 tahunan itu. Eren merasa tertohok oleh ucapannya. Dia sadar dia bukanlah suami yang sempurna seperti yang dilihat kebanyakan orang saat ini.


.............


Setelah makan soto, Kaira tiba-tiba merengek meminta sesuatu


"Mas... Aku pingin lihat mas Eren botak" Eren membelalakkan matanya lebar-lebar. Bagaimana mungkin dia membotakkan kepalanya saat ini. Bagaimana dengan reputasinya di perusahaan jika karyawannya melihat kepala botak miliknya?


"Apa keinginannya ga ada yang lain? Kamu tahu kan aku seorang Presdir. Bagaimana jika mereka menertawakan ku setelahnya?" Eren masih tawar menawar masalah "ngidamnya" Kaira. Aneh, memang benar-benar aneh baginya. Tapi, memang begitulah ibu hamil. Bahkan hal teraneh sedunia pun akan menjadi wajar bila mereka telah berucap


"Enggak!!! Gamau pokoknya mas Eren harus botak!!!" Eren gelagapan untuk menjawabnya. Dia bingung untuk menjawabnya, tidak menjawab pun akhirnya hanya mendapatkan marah dari istrinya.


"Iya deh iya. Sekarang kita cari tukang cukur rambut" Ucap Eren yang disambut bahagia oleh Kaira. Mereka melihat sebuah barbershop yang buka pagi ini. Tanpa berpikir lagi, Eren langsung memarkirkan mobilnya disana. Kaira menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri proses penggundulan Eren. Dia memfotonya bahkan mengambil video.


"Haha. Mas Eren kalau botak lucu deh jadi gemes. Cium botaknya dong boleh kan, please" Eren paling benci ketika Kaira memohon padanya. Namun sebenarnya, dia pun tidak keberatan jika hanya di cium oleh istrinya saja.


"Yeayy. Terima kasih."


.............


Pukul 17.00


Hari ini, Eren memiliki undangan untuk menghadiri salah satu acara perayaan hari jadi perusahaan Natero Group yang merupakan perusahaan milik teman Ayahnya.


"Mas, kamu masih lama ga sih? Aku udah pegel nih nunggunya" Teriak Kaira dari lantai bawah. Eren keluar dari kamar menggunakan topi koboinya yang ia beli saat liburan di pantai bersamanya waktu itu.


"Iya sebentar" Sahur Eren yang sedang menuruni tangga itu.


"Pffttt hahaha. Mana cocok topi Koboi tapi setelan rapi. Mas, kita mau ke pesta anniversary lho bukan mau lomba berkuda" Ucap Kaira yang tak henti-hentinya tertawa.


"Ketawa aja terus. Ini ulah siapa yang buat kepala saya jadi botak begini" Eren mendengus kesal. Dia benar-benar malu untuk keluar dalam keadaan botak. Jika tidak, dia akan benar-benar menjadi trending topic nomor satu hari ini


"Auhh ahh.. Ayolah kita berangkat"


"Yee ngambek... Mas, tungguin aku." Kaira berlari kecil mengejar suaminya itu.


...............


Suasana pesta hari ini sangat meriah. Bagaimana tidak, perusahaan ini telah ada sejak beberapa tahun yang lalu, sangat tenar di kalangan pembisnis. Natero Group, sebuah perusahaan besar yang bahkan hampir sebanding dengan William group, sebuah kehormatan bagi setiap pengusaha yang baru saja merintis usahanya maupun para senior yang telah berkecimpung didalamnya.


"Sayang, kamu mau apa? Mau aku ambilin?"


"Terserah deh."


Eren berjalan menjauh meninggalkan Kaira untuk mengambil makanan yang telah disajikan. Eren dan Kaira mendapatkan bangku VIP yang memang secara khusus dibuat untuk mereka. Tentu saja, Eren tidak membiarkan kaira berdesakan disana maupun kelelahan berdiri, dia mengorbankan dirinya untuk mengambilkan beberapa hidangan untuk sang istri tercinta dan anak yang sedang berada dalam kandungannya.


Thomas melihat kearah Eren yang sedang sibuk membawa makanan yang telah memenuhi seluruh ruang ditangannya.


"Woy bro. Udah lama kita ga ketemu. Omong-omong, sejak kapan lu jadi fanatik koboi? Bahkan dalam acara anniversary perusahaan?"


"Lu ngejek gue atau gimana huh? Mau berantem?"


"Slow bro slow..." Thomas melihat kesana dan kemari mencari keberadaan Kaira saat ini


"Lu sendirian aja? Kaga ngajak bini lu gitu?" Bisik Thomas


"Ngajak lah. Yakali gue sendirian ke acara begini. Ara noh ada di bangku VIP. Gue gamau dia kecapaian karena beginian doang"


"Yaudah Yaudah. Sini gue bantuin." Thomas langsung menyaut beberapa makanan ditangan Eren tanpa persetujuan darinya, dia berlari kearah Kaira


Thomas meletakkan makanan itu diatas meja dan bergabung bersama kami


"Hai nona cantik." Goda Thomas yang sedikit membungkukkan badannya kearah Kaira hingga menyebabkan Kaira sedikit menghindar


"Bro, lu kan udah punya istri. Mana istri lu?"


"Oh, istri gue di kamar kecil. Tuh dia balik" Ucapnya sambil menunjuk kearah wanita mengenakan dress warna merah tanpa lengan.


"SAYANG!!" Panggil Thomas dengan hebohnya membuat semua orang menatap kearahnya. Wanita itu menepuk dahinya pelan.


"Halo Nyonya Kaira dan Tuan Eren. Senang berjumpa dengan anda." Ucap Lana sambil mengangkat gaunnya untuk memberi hormat


"Hai nyonya Lana. Anda benar-benar sangat cantik. Saya iri dengan anda" Kaira memujinya, namun dia tersenyum dengan elegan, benar-benar mempesona.


"Nyonya Kaira juga sangat cantik dan sepertinya... Maaf, sedikit berisi" Dia benar-benar sangat elegan, bahkan mengucapkan kata yang bahkan tak pernah dilakukan oleh Kaira sebelumnya. Orang kaya berpendidikan memanglah berbeda, Kaira merasakan kesenjangan sosial diantara mereka. Beruntungnya, dia diberikan rasa kepercayaan diri yang lebih dari Tuhan. Eren duduk disamping Kaira sedangkan Lana disamping suaminya tercinta. Cara duduk, makan dan segalanya benar-benar membuat kaira merasa minder.


"Tak apa. Lakukan saja dengan normal. Aku tahu kamu adalah malaikat kecil yang elegan dan dikirimkan oleh tuhan padaku. Kamu jangan merasa minder ya. Ingatlah, kamu adalah nyonya muda keluarga William" Bisik Eren menenangkannya.


Eren mengambil sendok dari tangan Kaira.


"Sudah ya. Khusus hari ini, kamu aku suapi."


Eren mulai menyuapi kaira didepan pasangan Thomas dan Lana. Kaira tersipu malu saat mereka mulai menatapnya. Ingin sekali rasanya dia mengambil sendok yang berada dalam genggaman tangan Eren. Eren hanya terkekeh melihat istrinya yang mencoba untuk terus menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.