
Sepuluh tahun berlalu di medan perang.
Perang antara iblis dan makhluk abadi belum juga berakhir, bahkan dari hari ke hari suasana di medan perang kian semakin memanas.
Bangsa iblis yang kuat dan jahat tidak henti-hentinya melalukan banyak cara licik untuk menipu dan membunuh makhluk abadi.
Selama sepuluh tahun sudah banyak hal yang telah terjadi.
Misalnya Donghua yang sedang pergi ke tanah tak bertuhan untuk menyelidiki segel Dewa iblis tidak juga kunjung kembali, mengetahui Donghua belum juga kembali Fu Bao segera mengirim Xiao Nai untuk mencari tahu.
Namun apa yang tidak ia duga, Xiao Nai juga menghilang bak ditelan bumi, semua alat komunikasi nya tidak bisa dihubungi seolah keberadaan Xiao Nai dan Donghua sudah menguap.
Menyadari keanehan atas hilangnya Donghua dan Xiao Nai, Fu Bao tidak segera mengambil tindakan gegabah untuk mengirim orang untuk pergi kesana lagi, dia khawatir bila ia mengirim orang lain kesana.
Maka nasib orang itu akan sama seperti Donghua dan Xiao Nai saat ini.
Itu sebabnya Fu Bao lebih memilih memerintahkan Klan harimau putih dan Bai Bai untuk menyelidiki hilangnya Donghua dan Xiao Nai.
Fu Bao juga memerintahkan mereka untuk mencarinya secara sembunyi-sembunyi tanpa ada yang mengetahui pegerakan mereka.
Di dunia luar, Fu Bao mengatakan kalau Donghua dan Xiao Nai sedang melakukan misi khusus yang ia perintahkan.
Jadi untuk sementara Ras Mayat dan bawahan Xiao Nai akan diserahkan pada Long Yan dan Yuan Yi saat di medan perang nanti.
Untungnya tidak ada satupun dari kedua belah pihak yang menolak perintah Fu Bao.
Karena tidak ada satupun orang yang hadir yang menolak perintah Fu Bao, ia jadi dengan mudah menyembunyikan fakta tentang hilangnya Donghua dan Xiao Nai.
Dan fakta hilangnya Xiao Nai dan Donghua hanya diketahui oleh empat orang Tim nya, yaitu Feng Teng, Long Yan, Fu Heng dan juga Yuan Yi.
Mereka berlima menyembunyikan rahasia ini sangat erat, dipermukaan Fu Bao dan empat orang Tim nya terlihat tenang dan teroganisir.
Namun di balik ketenangan itu tersembunyi kekhawatiran dan kewaspadaan, itu semua karena mereka telah menebak hilangnya Donghua dan Xiao Nai ada kaitannya dengan kebangkitan Dewa iblis.
Mereka tidak tahu apa yang coba dilakukan Dewa iblis, yang mereka pikirkan sekarang adalah mencari tahu keberadaan rekan mereka tanpa diketahui siapapun.
Selama pencarian Donghua dan Xiao Nai yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, Fu Bao dan Tim nya sangat lelah secara fisik maupun mental.
Mereka tidak hanya berurusan dengan bangsa iblis di medan perang, tapi mereka juga harus mencari keberadaan Donghua dan Xiao Nai secara rahasia.
Fu Bao bahkan tidak bisa makan dan minum karena terlalu mengkhawatirkan keselamatan dua rekannya yang hilang.
Hilangnya Donghua dan Xiao Nai membuat Fu Bao jatuh terpukul dan tidak bisa tersenyum lagi.
Menyadari depresi Fu Bao, Feng Teng dan yang lain mencoba segala cara membuat nya bahagia.
Akan tetapi, itu semua sia-sia karena semakin dekat mereka dengan ******* perang semakin senyum Fu Bao menghilang.
Seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu di dalam pikirannya.
Feng Teng dan yang lain sebenarnya ingin mencari waktu untuk berbicara dengan Fu Bao secara pribadi, namun karena alasan kurangnya waktu mereka berempat jadi kesulitan untuk meluangkan waktu untuk berbicara pada Fu Bao.
Tapi apa yang mereka tidak tahu mereka kehilangan kesempatan untuk menghentikan Fu Bao untuk mengambil langkah berbahaya.
"Sudah waktunya..." Fu Bao melihat langit kelabu dengan tatapan kosong.
Dia berdiri di atas tembok tinggi benteng pertahanan nya sambil menatap rumit kearah pusat perang.
"Sebentar lagi dia akan muncul...."
"Siapa yang akan muncul? " Tanya tiba-tiba Fu Heng yang baru saja naik ke tembok tinggi.
Melihat kedatangan Fu Heng, Fu Bao menggeleng kepalanya seraya berkata: " Bukan apa-apa.... bagaimana tugas mu? apa semua nya berjalan dengan baik? "
"Hmm, semuanya berjalan baik dan tidak ada sedikitpun kesalahan, ngomong-ngomong besok menjadi hari penentuannya kan? "
"Ya. " Fu Bao membalikkan tubuhnya untuk tidak melihat kearah Fu Heng.
"Apa kau baik-baik saja? kenapa aku merasa kau terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu? "
"Aku baik-baik saja, mungkin aku sedikit khawatir tentang kelancaran rencana kita besok. Lagi pula besok merupakan rencana besar yang telah lama kita siapkan. " Fu Bao berbalik menatap Fu Heng dengan wajah tenang.
"Baoer, apa kau benar-benar sudah menemukan benda suci terakhir? " Pertanyaan tiba-tiba yang diajukan Fu Heng membuat suasana disekitarnya menjadi hening dalam seketika.
"Kau juga tidak mempercayai ku kan? "
"Bukan itu maksudku, hanya saja aku sedikit kesulitan mempercayai nya bahwa kau telah menemukan semua tujuh benda suci. "
Fu Bao menatap langit kelabu dan sebuah senyum ceria muncul diwajahnya:
"Aku juga baru mengetahui nya kalau selama ini benda suci terakhir berada di tanganku, jangan khawatir aku seratus persen yakin bahwa besok akan menjadi kemenangan kita. "
"Kau terlihat sangat percaya diri? " Fu Heng mengatakan itu dengan nada setengah bercanda dan setengah serius.
"Tentu saja, apa kau lupa selama aku memiliki ketujuh benda suci peperangan ini akan mudah di menangkan, bahkan bila Dewa iblis muncul sekalipun itu semua tidak akan merubah fakta kemenangan kira. " Ucap Fu Bao penuh percaya diri.
Melihat Fu Bao begitu percaya diri Fu Heng turut senang, namun dari lubuk hatinya terdapat rasa kesemutan seolah ada aliran listrik yang sedang menyetrum hatinya.
Rasa sakit serta nyeri menyerang Fu Heng dalam sekejap, sampai-sampai membuat nya harus mengerutkan kening, namun rasa sakit itu hanya sesaat karena di detik berikutnya rasa sakit di hatinya menghilang seolah tidak pernah terjadi.
Merasa sakit dihatinya menghilang Fu Heng tidak terlalu peduli dan berpikir kalau itu semua disebabkan oleh luka akibat perang kemarin, terutama kemarin Fu Heng habis ditusuk oleh jenderal iblis saat di medan perang.
Untungnya nyawa Fu Heng masih bisa diselamatkan setelah menerima luka tusuk cukup parah dihatinya.
Karena itu Fu Heng mengaitkan keanehan serta nyeri yang tiba-tiba muncul di hatinya disebabkan bekas lukanya, namun apa yang tidak bisa ia bayangkan kalau semua itu adalah pertanda kalau kekasih nya akan dalam bahaya.
Fu Heng benar-benar kehilangan kesempatan untuk mengetahui rahasia yang selama ini Fu Bao sembunyikan, jika saja yang datang kemari adalah Feng Teng atau Long Yan.
Mungkin keduanya akan langsung menyadari ada yang aneh dengan perilaku Fu Bao sekarang.
Perilaku Fu Bao saat ini sangat mirip pasien kronis yang sudah mengetahui tanggal kematian nya.
Sedih,putus asa, perpisahan dan keengganan tersembunyi dari balik kedua mata Fu Bao yang kini sedang tersenyum pada Fu Heng.