
Feng Teng melirik Fu Bao dari sudut matanya dengan sudut bibir terangkat sebelah
' Tampaknya bayiku mengetahui rahasia taman mawar ku? Tapi... kenapa bayi ku hanya diam saja? Atau jangan-jangan bayi sedang menahan amarah... kalau begitu artinya sangat bagus...aku kan jadi melihat wajah marah bayi ku ~ ahaha aku benar-benar tidak sabar melihat ekspresi marah bayiku...itu pasti akan terlihat sangat manis '
Sangking tidak sabar nya Feng Teng bahkan tidak bisa mengendalikan ekspresi nya.
Dan hal ini jelas diperhatikan Xiao Nai yang berdiri tidak jauh dari Feng Teng.
' Kenapa burung ini membuat ekspresi seperti orang mesum? ' Kata Xiao Nai dalam hati sambil mengerutkan keningnya.
"Baoer~ apa kau tidak menyukainya? " Tanya Feng Teng sambil berpura-pura sedih.
Fu Bao melihat Feng Teng lalu ia menghela nafas panjang dan berkata:
"Aku menyukainya,tapi sayang sekali aku tidak begitu menyukai jenis bunga mawar"
Senyum di wajah Feng Teng membeku saat mendengar perkataan Fu Bao.
' Kenapa? kenapa dia tidak marah? Jelas dia mengetahui apa yang tersembunyi di balik taman mawar yang indah, tapi kenapa dia bersikap seolah-olah tidak mengetahuinya? ' Feng Teng dibuat bingung oleh tindakan Fu Bao yang tidak sesuai perkiraan nya.
"Kalau begitu bunga jenis apa yang di suka Baoer? " Tanya Feng Teng sambil mencoba membuat senyum selembut mungkin.
"Hemn...aku suka bunga Lily yang memiliki warna biru atau ungu." Kata Fu Bao.
" Ungu dan biru yah..." Gumam Feng Teng sambil tenggelam dalam pikirannya.
" Aku lapar." kata tiba-tiba Fu Bao.
"Hah? Oh ya, ini sudah waktunya jam makan" Feng Teng melihat ke langit yang matahari nya telah berdiri sejajar di atas kepalanya.
" Mari aku antar ke ruang tamu, aku akan membiarkan para pelayan membawa makanan untuk mu.
Apa ada yang ingin Baoer makan? "
"Tidak ada, bawakan saja yang sederhana dan jangan yang terlalu berlebih-lebihan. "
"Baiklah, aku akan menyuruh para pelayan untuk memasak makanan lebih sederhana lalu apa yang ingin di minum Baoer? Teh? susu? Atau Jus? "
"Teh hitam. "
"Baiklah."
Saat mereka bertiga sampai di ruang tamu kerajaan, Fu Bao dan Xiao Nai melihat ada banyak pelayan di dalam sana.
Dan saat mereka bertiga masuk kedalam seluruh pelayan dengan gerakan serentak memberi hormat sambil berucap :
"Yang Mulia Murong! "
"Hmm..." Feng Teng melambaikan tangannya untuk membiarkan mereka bangkit.
Feng Teng berbalik dan tersenyum lembut kearah Fu Bao seraya menuntunnya menuju meja yang berada di tengah-tengah ruangan.
"Silakan duduk Baoer ~ " Layaknya pria bangsawan di Inggris Feng Teng menarik kursi untuk Fu Bao lalu mempersilahkan nya duduk di sana.
"Terima kasih." Fu Bao mengangguk dan duduk di kursi yang telah di tarik Feng Teng.
Setelah Fu Bao duduk, Feng Teng dengan sadar duduk di sampingnya yang letaknya sangat dekat dengan Fu Bao.
Di sisi lain Xiao Nai hanya bisa menghela nafas tak berdaya dengan tindakan standar ganda Feng Teng.
Dia dengan acuh duduk di kursi lain yang ada di depan Fu Bao.
Untuk menyajikan makanan dan teh yang rupanya sudah jauh-jauh di pesan Feng Teng melalui alat komunikasi khususnya.
Sesudah menyajikan makanan dan teh seluruh pelayan di ruangan itu dengan hormat meninggalkan ruangan sambil menundukkan kepala mereka.
Klek---
Bunyi suara pintu ruang tamu kerajaan tertutup membuat ketiganya melanjutkan pembicaraan tentang persoalan untuk pergi dari sini.
"Jika seandainya kau pergi, lalu siapa yang akan menggantikan posisi mu? " Tanya Fu Bao.
Feng Teng menuangkan teh untuk Fu Bao lalu berkata : "Jangan khawatir soal itu bukankah aku mempunyai putra mahkota, apa menurut gelar putra mahkota hanya pajangan? "
"Maksud mu Murong Yaan yang akan menggantikan posisi mu? "
"Ya , tapi bagaimana kau mengetahui nama putra mahkota? " Jangan heran bila Feng Teng menanyakan hal itu kepada Fu Bao.
Karena selama pertemuan mereka beberapa hari belakangan ini Feng Teng sangat mengetahui jelas sifat seperti apa yang di miliki Fu Bao.
Dari perhatiannya selama ini Feng Teng tahu kalau Fu Bao memiliki sifat yang sangat tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekeliling nya , kecuali itu ada kaitan dengan nya barulah ia mau peduli.
Jadi selama itu tidak memiliki hubungan dengannya Fu Bao tidak akan pernah peduli.
Bagi nya semua yang ada di dunia ini tidak ada hubungannya, tapi karena berhubungan indentitas Fu Bao sebagai Utusan Dewa pencipta.
Fu Bao mau tidak mau harus berbaur dengan dunia asing ini.
Jika saja Fu Bao tidak memiliki indentitas sebagai utusan Dewa pencipta dia mungkin lebih memilih berlatih menguatkan dirinya dan membuat sekelompok organisasi nya sendiri.
Fu Bao sendiri lebih menyukai berdiri di dalam kegelapan alih-alih harus berdiri di depan cahaya.
Lantaran pengalaman sebagai pembunuh bayaran yang telah di latih sejak kecil.
Fu Bao harus di isolasi dari dunia dan tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan orang lain.
Karena dia tidak pernah tahu sampai kapan indentitas sebagai pembunuh bayaran no 1 di dunia dapat di sembunyikan dari orang-orang terdekat nya makanya ia tidak pernah mau berhubungan dengan orang lain.
Karena menurutnya itu sangat merepotkan yang mana ia harus menyembunyikan rahasia indentitas dari orang-orang di sekitarnya.
Itu sebabnya Fu Bao paling membenci aktivitas yang berhubungan dengan orang luar.
Akan tetapi semenjak Fu Bao datang kesini kebiasaan bersembunyi di kegelapan harus dihilangkan.
Karena jalan yang harus ia lalui adalah jalan menuju cahaya jadi itu sebabnya dia harus keluar dari kegelapan dan melakukan hal sebaliknya yaitu menyerang kegelapan alih-alih harus bersembunyi di dalamnya.
"Aku pernah bertemu dengannya di penginapan saat pertama kali mendaftar sebagai prajurit Alam rahasia. " Jelas Fu Bao.
"Oh begitu.., aku pikir kau bertemu putra mahkota secara pribadi syukurlah itu tidak seperti yang ku bayangkan.
Aku hampir saja ingin memerintahkan bawahan ku untuk membunuhnya karena berprilaku tidak sopan padamu" Feng Teng mengatakan itu sambil tersenyum sangat manis dan hangat.
Jika bukan karena hawa membunuh yang ada di sekelilingnya Fu Bao dan Xiao Nai mungkin bakal mengira kalau Feng Teng sedang bercanda.
"Oke, berhenti berbicara mari kita makan sebelum makanan nya mulai mendingin, Baoer makanlah ikan ini ~" Feng Teng dengan hati-hati memilih daging ikan yang tidak memiliki duri lalu ia memasukkan nya ke mangkuk Fu Bao.
"Terima kasih "
"Sama-sama Baoer ~ " Feng Teng tersenyum sangat manis kepada Fu Bao yang membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa hatinya meleleh.
Jika para pelayan dan kasim atau bawahan bayangan Feng Teng ada sini mereka pasti ketakutan setengah mati karena tidak mempercayai apa yang sedang mereka lihat.