The Rebirth Of A Female Assassin

The Rebirth Of A Female Assassin
Bab 133 Bagiku kau hanyalah seorang gadis lemah


Melihat tindakan Fu Bao yang terburu-buru, Xiao Nai menggeleng kepala tak berdaya dan berkata: " Jangan terlalu terburu-buru Baoer ~ kau bisa terluka jika seperti ini.."


Xiao Nai menangkap tangan kanan Fu Bao yang hampir saja mengenai pisau tipis yang terletak di atas meja.


"Baoer pelan-pelan... kan aku sudah bilang kau akan terluka jika terburu-buru seperti ini " Kata Xiao Nai mengernyitkan dahi dan penuh khawatiran.


" Xiao Nai aku tidak selemah itu.Mana mungkin aku terluka hanya karena sebilah pisau kecil " Ungkap Fu Bao yang tidak mengerti kenapa Xiao Nai begitu mengkhawatirkan nya.


Lagi pula Fu Bao tidak selemah yang dibayangkan Xiao Nai sampai-sampai harus khawatir karena tergores sebilah pisau kecil.


Apalagi Fu Bao sering sekali bertarung melawan para beast spirit dan bawahan Feng Teng beberapa hari belakangan ini.


Selama pertarungan itu Fu Bao seringkali terluka, namun dia masih tidak begitu mengerti kenapa Xiao Nai maupun Feng Teng membuat ekspresi seolah-olah dirinya sedang sekarat.


Padahal kan itu hal normal yang terjadi.


"Baoer, aku tahu kau kuat, tapi tidak peduli seberapa kuat nya dirimu, bagiku kau hanyalah seorang gadis lemah. " Ungkap Xiao Nai tulus.


Fu Bao terdiam sejenak, dia jelas bisa merasakan kekhawatiran yang tersembunyi di balik kata-kata Xiao Nai Yadi.


Sejujurnya ini kali pertama Fu Bao diperlakukan seperti gadis lemah tak berdaya.


Selama ini dia selalu menampilkan betapa kuatnya dirinya, dia juga tidak mau memperhatikan sisi lemahnya pada orang lain karena menurutnya itu sama saja memberikan kesempatan orang untuk menyerang nya.


Dia juga lebih suka menjilat luka sendiri di kegelapan dari pada harus diobati orang lain, itu semua ia lakukan karena tidak mempercayai orang-orang disekitarnya.


Lagi pula siapa pun yang telah digigit ular sekali tidak mungkin mau merasakan digigit lagi karena itu sangat menyakitkan.


Itu sebabnya Fu Bao selalu bersikap seolah-olah tidak ada satupun hal yang bisa membuat nya terlihat lemah.


Tidak peduli seberapa sakit yang ia rasakan Fu Bao tidak akan mau mengumbar diri nya, cukup dirinya saja yang tahu rasa sakit itu.


Namun tampaknya perilaku Fu Bao yang berpura-pura kuat telah menyakiti hati orang-orang yang peduli disekelilingnya dan hal ini harus sedikit dihilangkan.


Karena dia sekarang memiliki orang-orang yang selalu mengkhawatirkan keselamatan nya, dia tidak ingin menyakiti perasaan mereka lagi.


Untuk itu Fu Bao memutuskan menjaga dirinya sendiri dengan lebih hati-hati untuk tidak seceroboh seperti saat dia masih menjadi pembunuh bayaran no 1 di dunia.


Agar orang-orang disekelilingnya tidak lagi harus khawatir.


"Maafkan aku Xiao Nai karena telah membuat mu khawatir terus menerus, sejujurnya ini pertama kalinya aku merasakan ada orang yang begitu mengkhawatirkan ku" Fu Bao dengan tulus mengungkapkan pikiran nya sambil menatap Xiao Nai dengan penuh bersalah.


"Baoer, aku tidak tahu masa lalu apa yang telah kau jalani sampai-sampai kau harus berpura-pura kuat seperti itu, tapi aku bisa memastikan satu hal kalau kami akan selalu disisi mu melindungi keselamatan mu dan tidak akan pernah menyakiti mu.


Jadi untuk itu kau boleh bersikap layaknya gadis seusia mu." Xiao Nai mengusap kepala Fu Bao dengan penuh kelembutan.


Fu Bao yang mendengar kalimat Xiao Nai hanya bisa tersenyum miris:


"Tapi Xiao Nai, kau sendiri tahu sangat tidak mungkin bagiku untuk bersikap layaknya gadis seusia ku karena aku sendiri memiliki tanggung jawab besar di pundak ku "


"Kau masih memiliki kami." Ujar Yuan Yi yang telah lama mendengar pembicaraan Fu Bao dan Xiao Nai.


"Kau bisa bersikap semaunya, jangan Khawatirkan hal yang lain biar aku yang mengurus nya" Ujar Feng Teng percaya diri, yang rupanya telah bebas dari sihir pengikat yang dilemparkan Xiao Nai padanya.


Ketiganya hanya tersenyum dan menatap Fu Bao dengan penuh kemanjaan.


Sebenarnya yang dikatakan Fu Bao ada benarnya..


Jika Fu Bao bersikap naif seperti gadis seusianya mungkin mereka tidak akan begitu tertarik dengan Fu Bao.


Lagi pula mereka telah hidup dalam kegelapan begitu lama mereka tentu tidak membutuhkan gadis naif yang tidak tahu apa-apa tentang dunia di sisi mereka.


Mereka lebih suka Fu Bao yang sekarang kuat, tajam dan mempesona layaknya cahaya mentari yang turun ke dunia untuk menerangi kegelapan dalam hidup mereka.


Mereka bertiga tahu bertapa mustahil nya bagi Fu Bao untuk bersikap naif pada saat ini dan mereka juga tahu ada banyak tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan Fu Bao.


Sedih dan marah, ini mungkin yang mereka bertiga rasakan saat mengetahui masa depan bahaya apa yang akan Fu Bao lalui.


Mereka bertiga sangat membenci dan bersyukur atas keberadaan Dewa iblis.


Mereka bertiga bersyukur karena kaitan Dewa iblis pada hidup mereka, membuat mereka bertemu Fu Bao, tapi di satu sisi mereka juga membenci keberadaan Dewa iblis karena telah membuat Fu Bao harus kehilangan masa kecil yang bahagia.


Seharusnya di usia Fu Bao saat ini , dia sudah pergi ke sekolah sihir untuk anak seusianya dan bermain dengan anak-anak lain tanpa sedikitpun beban di pikiran nya.


Tapi sekarang....


"Apa kalian pikirkan? kalian terlihat sangat serius" Canda Fu Bao yang telah selesai merapikan tanaman obat nya.


"Tidak ada. " Ucap mereka bertiga bersamaan sambil menatap Fu Bao dengan wajah tersenyum.


"Apa Baoer sudah selesai? " Feng Teng melihat ke meja yang kini sudah kosong.


"Ya, ayo kita pergi ke ruang makan aku sudah sangat lapar ~ " Fu Bao menepuk perutnya dengan sedih.


" Oke, ayo kita pergi "


Mereka berempat berjalan beriringan menuju ruang makan dengan sangat harmonis.


 


Beberapa minggu kemudian,


Seorang gadis mungil dan ditemani panda gemuk di bawah kakinya, kini sedang berdiri di atas gunung tinggi sambil menatap ke bawah gunung.


"Tuan kapan mereka sampai? Bao Bao sangat lapar sekarang (⁠ᗒ⁠ᗩ⁠ᗕ⁠) "


Fu Bao menepuk kepala Bao Bao :


" Sabar Bao Bao, mereka pasti sedang dalam perjalanan. Kau bisa memakan ini dulu untuk mengganjal perut." Fu Bao mengeluarkan dendeng sapi dari cincin ruang nya.


Bao Bao memakan dendeng yang diberikan Fu Bao padanya dengan rakus :


"Bao Bao tidak mengerti kenapa mereka meminta tuan untuk menunggu disini "