The Rebirth Of A Female Assassin

The Rebirth Of A Female Assassin
Bab 132 Tiga pria tampan


Setelah menerima peringatan dari menteri tua, menteri muda tidak lagi membicarakan soal tentang pengangkatan Putra Mahkota Murong Yaan sebagai raja kerajaan Dongyue.


Sebab ia takut akan ada orang mendengar pembicaraan mereka salah-salah bisa jadi nyawa mereka berdua dipertaruhkan karena bertindak sopan pada keluarga kerajaan.


Sesudah kepergian menteri tua dan muda.


Terdapat tiga orang , dua pria tua dan satu wanita tua keluar dari balik pilar istana.


Rupanya ketiganya telah mendengar pembicaraan kedua menteri tadi, namun ketiganya jelas tidak berniat untuk mengadukan pembicaraan barusan kepada Yang Mulia Murong.


Soalnya ketiganya juga setuju dengan perkataan menteri muda tentang ketidak kemampuan Putra Mahkota Murong Yaan sebagai Raja mereka.


Ketiganya merupakan masing-masing pemimpin dari tiga keluarga besar saat ini yaitu:


• Situ Feng ahli belah diri pedang terkenal di benua Qilin yang sekarang usianya telah menginjak tiga ribu tahun, basis Kultivasi nya saat ini berada di puncak Jindan.


• Meng Jiang ahli penyuling senjata yang juga sangat terkenal di benua Qilin usianya saat ini adalah dua ribu tahun lebih, basis Kultivasi nya berada di tahap rendah Jindan.


• Xie Tiande kepala keluarga besar yang baru saja diangkat beberapa bulan lalu setelah kejatuhan keluarga Bai.


Keluarga Xie berspesialis dalam hal meramu racun dan obat keahliannya juga sangat terkenal di benua Qilin, namun karena adanya kekuatan keluarga Bai.


Kemampuan serta kekuatan milik keluarga Xie jarang diketahui oleh banyak orang, keahlian keluarga Xie baru diketahui sejak kejatuhan keluarga Bai.


Sejak saat itu pula keluarga Xie di angkat menjadi bagian keluarga besar di benua Qilin.


Usia Xie Tiande saat ini adalah Empat ribu tahun, basis Kultivasi nya sudah berada di tahap puncak Pendirian Yayasan.


"Aku setuju dengan perkataan anak muda tadi dan bagaimana kalian? " Situ Feng.


"Kami juga setuju,tapi setuju atau tidak Kita bukanlah hal yang bisa kita putuskan.


Lagi pula selama Yang Mulia Murong mengatakan untuk mengangkat Putra Mahkota sebagai raja Kita tidak bisa melakukan apapun lagi." Ucap Pria tua Meng Jiang menghela nafas.


"kau benar" Situ Feng juga mengangguk setuju dengan perkataan Meng Jiang soal mereka tidak bisa berbuat apa-apa tentang keputusan Feng Teng saat ini.


"Lalu bagaimana pendapat kalian tentang rumor yang beredar beberapa hari belakangan ini? " Tanya Xie Tiande tiba-tiba.


"Aku tidak tahu, tapi menurut ku rumor itu bukanlah tanpa alasan, pasti ada api yang menyebabkan asap itu" Situ Feng menggosok dagunya berpikir.


Meng Jiang: "Yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu asal asap itu."


"Namun tampaknya itu tidak akan mudah, dengan temperamen Yang Mulia Murong yang sangat mendominasi dan kejam sangat tidak mungkin kita mendapatkan satupun petunjuk dari istana nya." Ungkap Situ Feng tak berdaya setelah memikirkan tempramen Yang Mulia Murong yang sangat Tiran dan beringas.


Selama mereka melakukan sesuatu yang menyentuh batasnya maka tidak ada satupun diantara mereka bisa berakhir baik.


Meng Jiang dan Xie Tiande yang mendengar perkataan Situ Feng juga mengangguk setuju, mereka berdua sangat jelas betapa sulitnya mencari tahu asal dari sumber api itu.


"Mencari tahu asal asap itu jauh lebih sulit daripada harus mencari jarum di tumpukan jerami dan aku sendiri lebih suka melawan Beast Sprit level 9 alih-alih harus mencari jarum di tumpukan jerami. " Canda Meng Jiang.


"hahaha, kau benar." Situ Feng maupun Xie Tiande tertawa mendengar perkataan Meng Jiang.


Disisi lain, Istana selatan Chayang...


Fu Bao sekarang sedang fokus memproses tanaman obat yang ditugaskan Yuan Yi padanya.


Dia dengan telaten menyusun tanaman obat seusai tingkat kepanasan dan kedinginan.


Fu Bao begitu fokus dalam menyusun tanaman obat nya jadi dia sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Yuan Yi, Xiao Nai dan Feng Teng yang masuk ke kamarnya.


Tiga pria tampan dengan berbagai temperamen masuk kedalam ruang belajar sederhana Fu Bao.



[Yuan Yi]


'Hangat di Luar, kejam di dalam '


"Satu-satunya senyum tulus ku hanya bisa diberikan padamu " POV Yuan Yi pada Fu Bao.



[Xiao Nai]


Pimpinan organisasi pembunuh bayaran silver moon di daratan tinggi.


'Dingin dan kejam di luar, namun lembut dan penuh kasih sayang di dalam..'


"Satu-satunya cahaya ku adalah kau... tanpamu hidup ku tidak akan ada artinya lagi jadi siapapun yang ingin menyakiti mu maka mereka tidak boleh hidup lagi di dunia ini." POV Xiao Nai pada Fu Bao.



[Feng Teng]


Raja dari segala burung, satu-satunya Phoenix putih yang tersisa di dunia ini.


'Tiran,kejam, dingin, licik, sombong dan posesif. '


" Aku ingin memberikan segalanya untuk mu termasuk nyawa ku... jadi Baoer hanya boleh menjadi milikku~ tolong jangan lari dariku karena aku mungkin akan gila karena kehilangan mu....Baoer ku ~ sayang ku ~ bayi kecil ku ~ " POV Feng Teng memeluk Fu Bao posesif.


Ps: dialog di atas merupakan pemikiran paling dalam dari ketiga pria di atas untuk Fu Bao.


...----------------...


Ketiganya tidak menggangu Fu Bao, mereka masing-masing duduk di kursi yang ada di ruang belajar Fu Bao.


"Sudah berapa lama dia seperti itu ? " Bisik Yuan Yi kepada Feng Teng dan Xiao Nai di masing-masing sisi nya.


" Ini sudah jam waktunya makan siang..." Ucap Xiao Nai yang melihat matahari di luar yang mulai meninggi.


"Kau benar, kita harus memanggil Baoer untuk makan, biar aku yang melakukannya ~ " Feng Teng dengan senyum menawan ingin bangkit dari kursinya dan bergerak menghampiri Fu Bao.


Namun tindakan Feng Teng harus terhenti karena sihir yang tiba-tiba dilemparkan Xiao Nai kearahnya:


"Maaf, tapi sepertinya aku yang harus memanggil Baoer. " Dengan senyum tipis Xiao Nai bangkit dari kursinya dan pergi ke arah Fu Bao.


Feng Teng: "!"


Mata Phoenix Feng Teng terbelalak tidak percaya dengan tindakan Xiao Nai yang licik menyabotase dirinya.


Sedangkan Yuan Yi disamping Feng Teng yang melihat pemandangan itu dengan ekspresi datar dan tidak peduli.


Jelas dari ekspresi Yuan Yi terlihat ini bukan kali pertama adegan ini dipertunjukkan didepan matanya.


Kejadian seperti ini sering terjadi di istana Chayang sejak Fu Bao sadar jadi Yuan Yi hanya melihat ini dengan ekspresi bosan.


"Baoer..." Xiao Nai dengan ringan menepuk pundak Fu Bao yang sedang berkonsentrasi.


"Hah? Xiao Nai, kenapa kau disini? " Fu Bao menatap Xiao Nai kaget.


Xiao Nai tersenyum lembut dan menatap Fu Bao penuh memanjakan: " Aku datang kemari untuk memanggil mu untuk makan siang "



"Hah? Apa ini sudah masuk jam makan siang? "


" Ya. "


"Oh ya ampun, aku tidak sadar kalau waktu berlalu begitu cepat... maafkan aku karena telah membuat mu menunggu lama, aku akan merapikan tanaman obat dulu sebentar baru nanti kita pergi ke ruang makan. " Fu Bao dengan terburu-buru merapikan tanaman obat yang ada di atas meja kerjanya.