
Next ya
.... .... ....
Sunyi
setelah terjadinya dialog tersebut tinggallah kesunyian , Ardan kembali ke sofa dan mengeluarkan ponselnya entah mengerjakan apa pria itu terlihat sangat fokus sekali pada benda pipih tersebut
" kalau lagi serius ganteng juga ya ." Batin Salsa yang ternyata memperhatikan Ardan dari jauh ia tersenyum tipis
" kelihatan banget dia orangnya pekerja keras , disiplin dan bertanggung jawab ." Gumam Salsa lirih
" tapi itu tidak bisa membuatku mau menjalin hubungan dengannya ." Lanjut Salsa lagi , buru buru ia mengalihkan pandangannya sebelum Ardan mengetahui tindakannya tersebut
.....
30 menit kemudian Ardan meletakkan ponselnya ia merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya , hal itu tentu saja membuat Salsa heran
" Kak ." Panggil Salsa
" hmm ." Ardan hanya berdehem singkat dan tetap pada posisinya tersebut
" Kamu ngapain tidur di situ nggk pulang ,biasanya cuma beberapa menit doang ." Tanya Salsa penasaran
" Ibuku menyuruhku menemanimu seharian di sini ." Jawab Ardan tanpa memandang Salsa
" owhh.. karena Ibunya ." Gumam Salsa mengangguk
" oke.. tapi kalau kamu bosan kamu bisa pergi ." Ucap Salsa
" hmm ." Pria itu lagi lagi menjawab Salsa dengan sebuah deheman singkat , Salsa pun bersikap biasa biasa saja
Tak terasa kini sudah siang entah apa yang di lakukan dua makhluk tersebut dalam kesunyian ini
Salsa membuka matanya ia ingin tidur tapi tak bisa karena suatu hal , diliriknya Ardan yang ternyata tengah terlelap entah benar benar tidur atau hanya memejamkan mata yang jelas pria itu tenang dalam posisinya
Ingin membangunkan Ardan tapi tak tega , tapi jika tak di bangunkan...
Akhirnya..
" Kak Ar ." Panggil Salsa dengan hati hati , Ardan yang merasa di panggil membuka matanya ia tak benar benar tidur karena seseorang seperti Ardan tak akan bisa tidur dalam keadaan bersama orang lain
" Ada apa ." Tanya Ardan bangkit dari tidurnya dan mendekati Salsa
" bisa tolong panggilin suster nggk ." Pinta Salsa memelas
😕
" mau apa memangnya ." Tanya Ardan heran
" pokoknya panggilin dulu ." Ucap Salsa memohon
" kalau kamu butuh sesuatu katakanlah biar aku yang melakukannya ." Ucap Ardan , Salsa hanya bisa menggigit bibir bawahnya
" Please kak panggilin suster , jangan ngomong terus bukannya nolak bantuan kakak cuma ikh panggilin ." Ucap Salsa geram geram sendiri
" Jawab dulu mau apa ?" Sepertinya pria ini tak akan puas jika rasa penasarannya belum terobati
" Aku..mau pipis." Jawab Salsa lirih dan menundukkan kepalanya ia malu mengatakan itu
" hanya begitu saja , aku bisa membantumu ." Ucap Ardan santai
" nih cowok polos atau gimana sih huh ." Kesal Salsa dalam hati
" nggk bisa kak...panggilin dong ." Ucap Salsa
" iya iya ." Ardan pun memanggil suster dan suster yang di panggil segera masuk
karena Salsa yang belum bisa berjalan maka itu memakai kursi roda dan suster mengantarkannya masuk ke dalam kamar mandi
Ardan kembali duduk di sofa
Selang beberapa menit , dua perempuan itu keluar dari kamar mandi , suster mendorong kursi roda di dekat ranjang
" Biar saya saja keluarlah ." Ucap Ardan menghampiri Salsa
" Nggk.." Tolak Salsa
" Jangan membantah aku hanya membantumu apa kau pikir suster ini bisa membantumu berdiri sedangkan kau lebih besar darinya ." Terang Ardan
Ardan mengangkat tubuh Salsa dari kursi roda dan mendudukkannya di ranjang rumah sakit , saat ia hendak menjauhkan tubuhnya dari Salsa nass.. kancing baju nya tersangkut dengan baju Salsa
" haish pakai nyangkut lagi ." Batin Ardan berusaha melepaskan kancingnya begitupun dengan Salsa
tapi entah kenapa itu begitu susah di lepas seolah ini sudah di takdirnya
" gimana sih ini nglepasinnya ." Ucap Salsa , Ardan menatap mata manik Salsa begitupun dengan Ardan sejenak pandangan mereka bertemu
Keduanya seolah olah terhipnotis oleh keadaan , mematung dan saling memandang satu sama lain
Jarak keduanya sangat tipis hingga hembusan nafas satu sama lain dapat di rasakan
Bau badan Ardan mampu membuat Salsa terpaku dalam beberapa saat hingga...
cup
Tanpa sengaja Ardan mengecup bibir manis Salsa yang menggoda , ya pandangannya tadi turun ke bibir Salsa karena tak tahan akan itu ia mengecup singkat bibir tersebut
Seketika mata Salsa melotot tak trima , ia langsung mendorong dada Ardan dan kancing yang menyangkut tersebut sudah terlepas
Ardan yang di dorong dalam keadaan tak seimbang pun terjungkal
brukkk
Suara nya sangat keras
" Astaga ." Pekik Salsa kaget
" argh ." Rintih Ardan pria itu mengelus kepalanya yang sakit
ceklek
Tiba tiba pintu terbuka dan muncul lah Daniel dengan wajah penasaran dan sedikit panik , tadi Daniel sedang lewat didepan ruangan Salsa dan ia mendengar sesuatu yang jatuh ia takut jika itu Salsa yang terjatuh maka dari itu ia segera bergegas masuk dan saat masuk ternyata kenyataan berbeda dengan khayalannya
pfftt
Daniel menahan tawanya saat melihat siapa yang jatuh
Ardan dan Salsa menoleh ke asal suara , karena menyadari di perhatikan Daniel menetralkan ekspresinya
" Ada. apa ini m" Tanya nya
" dokter tolongin dia ." Ucap Salsa menunjuk Ardan yang belum bangkit dari posisinya , Daniel pun mengangguk dan menghampiri Ardan lalu membantu oria itu berdiri
Saat di dekat Ardan ia berusaha sebaik mungkin menahan tawanya agar tak meledak di tambah lagi melihat ekspresi Ardan yang kesal dan malu itu sangat lah lucu baginya
" Anda tidak apa apa Tuan apa perlu saya periksa takitnya jika ada yang terluka dalam karena tragedi ini ." Tanya Daniel
Ardan mendengus kesal , ia juga merasa sedang di sindir oleh dokter muda tersebut
diliriknya tajam dokter tersebut sedangkan Daniel yang di tatap seperti itu hanya memasang wajah seolah olah tak mengerti
" Kak Ar.. maaf ya aku nggk sengaja apa ada yang sakit ." Tanya Salsa cemas
Ardan menghela nafas dan menggeleng
" Maaf ." Ucap Salsa lagi ia benar bebar merasa bersalah telah membuat Ardan terjatuh
" Tidak apa apa ." Ucap Ardan berusaha tenang ia tersenyum tipis
" Apa benar Tuan tidak apa apa , lebih baik Tuan di periksa terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan ." Ucap Daniel
*Bersambung
Daniel Kusuma Putra
Ardan Bramasta Putra
Salsa Vyone