
Hari yang dinanti terjadi, untuk pertama kalinya Bunda bertandang ke rumah Kani dan bertemu orang tuanya. Pak Muji baru tahu bahwa Pak Haji Salim adalah kakek dari Amarendra. Suasana sangat menggembirakan. Sampai tiba waktunya Kani keluar. Amarendra terpaku dengan bibir membisu. Cantik nan anggun wanita yang wajahnya terbingkai kerudung dengan warna senada dengan kebayanya. Kani cukup sulit untuk menemukannya. Dia berkuasa pun dibantu oleh Kenanga yang memang mahir.
Saat cincin itu disematkan. Kani dan Amarendra bersitatap juga tersenyum lebar. Momen bahagia tersebut jelas wajib diabadikan.
Malamnya, Kani melihat semua foto momen pertunangannya. Dia tersenyum memandangi wajah Amarendra yang sedang melebarkan senyuman lebar.
“Dia ganteng, ya?” Kani menunjukkannya pada Dahlia dan Kenanga.
“Ya, ya, calon suamimu itu bahkan lebih ganteng dari suami kami.” Dahlia tertawa saat melihat Kani menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Pak Muji dan Bu Ismi saling memandang dengan penuh senyuman. Mereka bahagia.
Dan besoknya, Kani bekerja seperti biasa. Semua orang memperhatikan kepergiannya yang begitu bersemangat.
“Kemarin-kemarin wajahnya penuh kesedihan dan sekarang terpancar kebahagiaan. Ibu tak sabar untuk melihatnya memakai baju pengantin, bahkan Bu Sri bilang untuk masalah itu anaknya yang bernama Lusi akan mengurusnya. Mereka sangat menyayangi Kani.” Bu Ismi tersenyum.
“Alhamdulillah,” kata Pak Muji.
“Iya dia kemarin sedih terus dan sekarang senyum-senyum sendiri, enggak ada bedanya, malah semakin aneh,” celetuk Syamsir dan Bu Ismi mengomelinya.
Namun, ada yang murung menjelang pernikahan Kani, itu Pamungkas yang takut kehilangan kakak kesayangannya. Setelah menikah, jelas waktunya tak akan ada lagi, kakaknya akan sibuk dengan suaminya, pikir anak itu polos.
Bab: Semakin Berisi
Kartu undangan pernikahan antara Kaniraras Mawardhani dengan Amarendra Tamales disebar, membuat terkejut banyak orang apalagi mereka yang kemarin-kemarin usil mengganggu Kani. Kani benar-benar menepati janjinya dengan menikah dan menebar undangan, terlebih pria yang akan menjadi suaminya adalah pria yang memang dia inginkan.
Pagi yang membuat debar jantung Amarendra tak tenang. Wajahnya pucat, dia belum pernah merasakan kegugupan separah itu, dan berharap lidahnya tidak kelu apalagi terpeleset dan akan membuatnya menjadi bahan ejekan teman-temannya. Bunda sampai mengusap peluh di tengkuk anaknya itu. Semua mata tertuju pada Amarendra dan Pak Muji yang sudah berjabat tangan. Semua yang ingin mengabadikan mengarahkan ponsel mereka. Saat bilah bibir itu melantangkan ijab qobul dengan satu tarikan napas dan jelas, semua berseru lantang menimpali Bapak penghulu. Sah!
Tubuh Amarendra yang duduk bersila barulah terlihat santai karena sebelumnya terlihat begitu tegang. Dia mengusap wajahnya setelah berdoa selesai, bibirnya tersenyum dan Kani sudah benar-benar menjadi miliknya.
Namun beberapa saat kemudian, Kani yang tak kunjung keluar membuatnya serta semua orang keheranan. Pak Muji bangkit saat bahunya ditoel Syamsir. Pak penghulu mengatakan wajar kegugupan dirasakan paling hebat oleh pengantin perempuan apalagi dia tahu bahwa wanita bernama Kaniraras itu pernah gagal menikah. Tapi sekarang, dia dinikahi oleh pria yang bukan sembarangan pria.
Gumaman semakin keras saat kerabat dan tamu bertanya-tanya. Amarendra bangkit untuk menjemput istrinya itu tapi saat dia melihat dari bibir pintu kamar pengantin. Kani sedang menangis dan memeluk Pak Muji erat-erat. Amarendra tersenyum dan membiarkan.
“Ayo, semua orang ingin melihat apalagi suami kamu, Nak.” Pak Muji tersenyum hangat, memandu anaknya itu keluar dan semua mata memperhatikan tapi Kani terlalu lemas untuk melanjutkan langkahnya.
“Bapak,” ucapnya dengan suara tercekat. Kedua tangannya berkalung pada leher Pak Muji.
“Kani.” Bu Ismi menarik bahunya tapi tetap tak bisa sampai Amarendra meminta agar Kani dibiarkan saja dulu.
“Pak, maafin Kani.” Dia terus menangis dan Pak Muji perlahan terenyuh. Anaknya begitu sedih di hari bahagianya. Mungkin karena dia akan dibawa suaminya, pikirnya. “Kani selalu bersikap kasar, selalu berprasangka buruk, selalu merepotkan...Kani yang selalu meminta tanpa mau sadar diri, Bapak menuruti semua kemauan Kani walaupun harus bersusah-susah melakukan apa pun dan tak pernah mau memberitahu siapa pun. Kani salah, Pak.” Napasnya tersengal dan Amarendra terus menatap Kani yang membelakanginya itu.
“Kani banyak salah sama Bapak, maaf. Sampai sebesar ini Kani nggak bisa membalas apa pun jasa Bapak. Malah sering membentak Bapak, maafin Kani. Bukan salah Bapak kalau nggak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga Bapak. Semua itu benar-benar bukan salah Bapak, itu salah anak Bapak ini yang selalu menuntut.”
“Kamu bicara apa, Nak? Sudah kewajiban Bapak mengasihi anak sendiri, mau kamu atau yang lain. Jangan merasa bersalah, Bapak maafkan semua kekhilafan yang kamu lakukan, biar itu berlalu. Sekarang Bapak senang kamu sudah memiliki suami yang memang Bapak idam-idamkan. Ayo, lekas lihat dia.”
Kani menggeleng, merasa belum cukup dia meminta maaf dan memeluk Bapaknya yang entah kapan terakhir kali dia memeluk serta meminta maaf. Berdosa sekali dia sebagai anak, menuntut bisa, ketika tak terpenuhi marah-marah, sedikit-sedikit membentak tapi tak pernah Bapaknya mengungkit. Ingin dipuji ketika berhasil memenuhi apa pun yang diinginkan anaknya, memberitahu betapa susahnya agar itu tercapai. Bapaknya tak pernah seperti itu.
Sementara bagi Pak Muji, Kani adalah jantung hati sekaligus pahlawan dalam keluarganya, menanggung segala beban di usia muda, mengurus adik-adiknya bahkan mengurus dirinya ketika dia sakit. Kani adalah anak yang selalu dia banggakan kepada semua orang.. Bukan karena dia pilih kasih tapi dia takjub dengan segala masalah pelik yang dihadapi anaknya. Anaknya tetap berdiri kokoh untuk keluarganya. Tak semua ayah dan ibu bisa memiliki anak seperti itu, Pak Muji merasa beruntung walaupun hatinya suka sekali berdenyut saat mendengar Kani melontarkan kalimat tak layak dan bentakan hanya karena dia membahas hal yang tak lain untuk kebaikannya sendiri.
Pelukan Kani perlahan mengendur setelah Pak Muji menenangkannya dengan bisikan-bisikan lembut penuh kasih sayang. Tangan Kani meraba-raba bahu keras tempatnya bersandar itu, begitu kuat menanggung beban dan menelan sendiri semua keluhan.
Dengan kasih, Pak Muji meraih tangan anaknya itu dan mengecup punggungnya kemudian dia menempelkan telapak tangan Kani di pipinya. Kani terus menangis dan Pak Muji mempererat pelukan.
“Ayo, Bapak ingin melihat kamu dengan suami kamu. Amarendra sudah menunggu, Nak. Dia sudah tegang dan jangan membuatnya semakin tegang karena tangisanmu.”
Kani mengangguk kecil dan menarik pipi kanannya, mengecup pipi kiri Bapaknya itu dan pipinya ditepuk lembut oleh Pak Muji kemudian Pak Muji menjatuhkan kecupan kecil di keningnya. Kani tersenyum dan dia menoleh pada Ibunya. Berpelukan erat dan Ibunya meyakinkan bahwa dia juga sama, memaafkan semua kesalahannya dan meminta maaf juga.
Air mata Kani diusap lembut oleh Kenanga, takut merusak riasannya. Kani tersenyum dan menunduk saat berhadapan dengan Amarendra yang memakai pakaian serba putih. Dia tak sanggup menengadah untuk melihatnya, tapi pria itu malah iseng menundukkan kepala tepat di depan wajahnya. Semua orang tertawa dan Kani menyalami tangannya. Dia digandeng untuk menyelesaikan sesi yang harus keduanya lakukan. Menandatangani.
Amarendra tersenyum bangga membawa Kani di depan semua orang.
Mata Kani melirik Purwa yang baru datang. Purwa melambai senang dan benar-benar bahagia melihat Kani bisa bersama dengan Amarendra. Keduanya saling mencintai, tak mungkin dipisahkan lagi dan wajah sedih yang selalu dia lihat, kini begitu cantik dan terpancar kebahagiaan.
Waktu berlalu dan lelah melanda, keduanya terdiam saat melihat rombongan teman-teman sekolah mereka baru datang. Amarendra mengangkat tangannya saat melihat Yana dan Raihan.
“Maren.” Kani mengernyit saat bibirnya disentuh.
“Aku hanya memastikan bibirmu bersih.” Dia menyeringai dan melirik Heri. Ingin pamer. Heri terlihat mendengus dingin. Dia memenuhi undangan sendirian karena memang dia masih lajang, kekasih pun dia tak punya.
“Kani cantik banget. Pangling.” Mereka antusias dan Kani tersenyum. Beberapa mendekat dan Kani meminta mereka lekas makan dahulu.
Kani dan Amarendra meninggalkan pelaminan, mereka duduk di antara mereka semua. Teti tak terlihat, dia pindah ke luar kota dibawa suaminya dan juga Reva yang mungkin tak mau. Kani tak apa-apa yang penting dia sudah mengundang tanpa membedakan.
“Bukannya si Reva mau menikah lagi?” Mereka mulai bergunjing.
“Laki-lakinya tak mau menerima anak yang dia bawa, anak perempuan tak jelas Bapaknya siapa.”
“Dia hamil duluan.”
“Loh, bukannya mantan suaminya anak Kyai?” terkejut.
“Baru nikah tiga Minggu sudah ditinggal, setelah anak itu lahir diceraikan, Reva putus sekolah karena hamil, ketahuan setelah dia dinikahi, kan itu perjodohan bukan karena dia mau tapi ternyata dia sudah hamil entah anak siapa. Ibu dan ayahnya bercerai, ibunya selingkuh. Dia tinggal sama anaknya doang sekarang. Nggak tahu kerja apa dia buat memenuhi kebutuhan hidup.”
“Waktu itu dia ketahuan mencuri di pasar, habis kena jambak soalnya sudah sering.”
Citra menggeram saat semua mata tertuju padanya karena Arif berhubungan sangat lama dengan Reva dan Rere yang ada tak jauh dari mereka pun langsung pucat, itu jelas-jelas terasa menyindir kehidupannya yang tak beda jauh seperti kehidupan Reva.
Kani perlahan-lahan melirik ke arah Pak Ganda yang juga menunduk lemas mendengar gunjingan teman-temannya.
“Kalian menuduh kakakku? Itu bukan anaknya karena sudah tes DNA.” Citra mengotot dan Kani meremas lututnya.
“Apa obrolan ini bisa dihentikan? Tak semua orang nyaman mendengarnya,” tegur Amarendra tandas.
“Kami tak mau acara bahagia kami dijadikan ajang untuk membicarakan kesakitan orang lain, itu sangat tidak pantas. Semua yang dilakukan oleh Reva pasti banyak alasannya. Dia teman kita, jangan begini hanya karena dia tak ada di hadapan kita sekarang,” tuturnya lembut tapi lugas dan Amarendra meraih jemari tangannya. Kani menoleh perlahan dan keduanya memandang lekat.
“Maaf, Kani.” Mereka menyesal dan Kani tersenyum hambar.
Tamu semakin menyusut dan Kani memijat keningnya yang penat. Semua teman-temannya mengucap selamat dan pulang. Sementara Citra, dia memilih menunggu mereka semua pergi.
“Kani, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Sungguh, aku ingin mengatakan ini tapi keegoisan menampiknya. Kami sangat jahat padamu. Reva juga pernah ingin menghubungimu tapi tak ada yang tahu nomor ponsel atau yang lainnya, karena datang ke hadapanmu langsung bukan hal mudah baginya. Apa yang kau katakan tadi benar-benar membuatku merasa malu.” Bibirnya bergetar dan Kani memeluknya erat.
“Aku sudah memaafkan hanya saja sangat sulit untuk melupakan, tolong maafkan aku juga dan jangan dibahas lagi karena itu benar-benar membuat jiwaku yang belum sepenuhnya sembuh dari trauma...hancur lebur mendengar hardikan kalian.” Kani memejamkan matanya dan Citra menangis lebih keras.
Kani tersenyum dan menatap kepergian semuanya.
Malamnya, di luar kamar semua orang masih sibuk mengobrol tapi tidak di dalam kamar pengantin itu. Amarendra duduk bersila, sikunya bertopang pada tempat tidur juga dengan punggungnya yang juga lelah dia sandarkan. Dia tersenyum dan memperhatikan Kani yang duduk di atas kedua kakinya, kedua kaki wanita sengaja direntangkan dan ditekuk. Dia merangkul bahunya dan sesekali mengelus lengan istrinya yang begitu lembut.
Keduanya sedang berbincang ringan dan memperhatikan cincin serta Henna di tangan Kani.
“Maren, tadi aku melihat anaknya Kirana, sangat lucu tapi aku ragu ingin mendekatinya,” kata Kani dan Amarendra tersenyum. “Apa pekerjaan kamu di kantor Kirana?”
“Suamimu ini seorang Manajer, aku hanya menuruti kemauan Om Sutan, awalnya aku ditunjuk sebagai CEO tapi aku tak mau, itu akan lebih sulit karena aku CEO dari bisnis yang aku rancang cukup lama. Kirana tak paham dunia bisnis, aku diminta untuk mengawasinya takut-takut membuat perusahaan bangkrut.”
“Kau pasti sangat lelah, aku akan memijat kepalamu setiap kau pulang bekerja.” Dia menoleh dan lekas menghindar saat bibir keduanya menempel.
Amarendra mengecup pipinya gemas dan Kani meringis.
“Tak perlu, cukup sambut dan peluk aku.”
“Apa kau benar-benar tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun selama kita berpisah? Aku sedikit ragu.” Kani tersenyum lesu.
“Beberapa kali, dipilihkan Bunda atau Lusi, atau juga teman-temanku dan paling lama bertahan hanya yang proses ta’aruf, karena aku tak pernah ada niat menghubungi dan saling mengenal kemudian pihak perempuan menjatuhkan pilihan untuk tidak melanjutkan ke jenjang lebih serius. Entah berapa banyak hati perempuan yang aku sakiti, lebih buruk jika aku tetap memaksa menikah. Bukan menyempurnakan ibadah nantinya dan malah menimbulkan banyak masalah. Aku hanya fokus membahagiakan keluargaku, terutama Bunda. Ayas Tamales cukup sulit berkembang di awal, modalnya tak cukup dari hasil aku bekerja di Jepang, Om Sutan menawarkan pinjaman tapi aku harus mau membantu merawat perusahaannya karena dia tak bisa memberikan kepercayaan penuh pada Kirana.”
“Suaminya Kirana?” sahutnya cepat.
“Mereka jarang bertemu, suaminya juga seorang pengusaha di Jerman.” Amarendra tersenyum dan melanjutkan, “Aku sudah merintis usaha kuliner juga sekarang, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu.”
“Aku tak pandai dalam urusan bisnis.” Kani tertawa renyah. “Dukunganku sebagai seorang istri adalah mendoakan dan mendukung, jika bisa mungkin akan membantu dengan hal lain. Tapi aku berharap kau tak terlalu sibuk, aku benar-benar ingin menghabiskan banyak waktu denganmu.”
Amarendra tersenyum dan menekan kepala wanita itu kemudian menjatuhkan kecupan kecil.
Kepala keduanya menempel juga dengan pipi dan hidung sengaja dibuat beradu. Keduanya tak menyangka bisa menikmati kebersamaan seperti itu.
“Apa kau lelah?” tanya Amarendra pelan dan Kani mengangguk kecil.
“Maren, apa kita akan langsung memikirkan untuk memiliki anak?” Kani menoleh dan hidung keduanya beradu begitu juga dengan napas keduanya.
“Aku ingin lekas memiliki anak, kembar Lima sekalian agar kau hanya merasakan sakitnya sekali saja.” Dia tersenyum saat Kani menyentil hidungnya.
“Jangan berbicara sembarangan, kamu kira memiliki anak mudah? Apa kita tak akan pacaran dahulu lalu kemudian memikirkan untuk soal anak?”
“Kamu belum siap? Kenapa kita tidak memasrahkan segalanya pada takdir sembari menikmati pernikahan ini, akan langsung memiliki anak atau harus menunggu dulu. Aku tak mau dihalangi dengan Pil, obat dan semacamnya. Kau tak melihat juga suamimu ini sudah berumur?” Dia menggigit daun telinga Kani setelah menyibak rambutnya dan Kani menjerit tertahan.
“Jangan begitu, di luar banyak orang.” Kani menatap sambil menyentuh telinganya yang memerah dan Amarendra malah tertawa renyah.
“Kau selalu menggemaskan, Kani. Kemari, aku ingin memelukmu erat-erat.” Dia tersenyum dan Kani bersandar di bahunya.
“Kau belum tua, Maren. Masih jauh untuk disebut sudah berumur.”
“Tapi Bunda dan Lusi selalu menyebutku begitu. Lihat aku sekarang, Kani. Apa aku jelek? Aku merasa semakin dewasa semakin berantakan.”
Kani terkekeh-kekeh pelan dan menangkup kedua pipi suaminya. “Keluargamu mengatakan itu karena kau tak kunjung menikah, sama denganku, di usia segini baru menikah. Aku dipandang sebagai wanita tua renta.” Kani tersenyum dan Amarendra mengecup bibirnya. Terasa basah dan Kani mengulum bibirnya sejenak, dia melanjutkan setelah meraba wajah di hadapannya dan Amarendra terpaku memandangnya. “Kamu sedikit berbeda dari dulu, terlihat semakin berwibawa dan matang, di usia segini. Para laki-laki sedang berada di puncak kejayaan pada fisik dan parasnya juga pemikirannya. Aku pernah membaca itu dari sebuah buku dan setelah melihatmu aku percaya.” Matanya tak berhenti menyusuri wajah Amarendra.
Amarendra tersenyum dan mengelus pipi tirus di hadapannya dengan punggung tangannya.
“Dulu, kau lucu, dan manis. Sekarang cantik, manis ditambah anggun karena kedewasaan.” Kepalanya sedikit miring dan Kani tersipu mendengarnya.
Kani merasakan bulu kuduknya berdiri saat Amarendra menarik rambutnya ke samping. Amarendra terdiam melihat leher jenjang istrinya, perlahan ia menarik tali baju itu sedikit sampai dia bisa melihat tulang belikat yang menonjol. Matanya melirik wajah Kani yang begitu tegang.
Belum lama keduanya bercumbu, ketukan pintu yang keras sudah membuat jantung terlonjak dan keduanya berhenti. Keduanya tertawa kecil dan merapatkan kening saat melihat wajah kaget satu sama lain.
“Aku keluar dulu.” Amarendra bangkit setelah Kani turun dari pangkuannya.
Kani memandang kepergiannya dan dia merangkak naik ke atas ranjang, bermain ponsel dan karena kelelahan dia terlelap. Bu Ismi yang melihat menantunya di luar mengetuk pintu kamar Kani. Dia tersenyum melihat anaknya sudah tidur. Dia menarik selimut dan keluar, hanya ingin mengantarkan air minum.