
“Aku akan mengumpulkan uangnya, dalam setahun pasti terkumpul kemudian aku akan bersekolah lagi, aku mau itu, Maren. Walaupun aku tertinggal.”
“Ada program kejar paket C, sama-sama dapat ijazah, hanya sistem sekolahnya yang berbeda. Kamu bisa mengikuti itu. Aku dukung apa pun yang kamu mau selama itu benar,” katanya dan Kani terdiam, berpikir keras.
“Aku mengantuk,” kata Kani mengalihkan pembicaraan.
“Jangan, takutnya aku macam-macam nanti, kamu belum paham juga kalau aku ini sangat normal?” Ia begitu bangga.
“Kenapa kamu jujur sekali, Maren?” Kani tertawa terbahak-bahak.
“Ya biar saja, toh padamu ini.” Dia menyengir dan Kani terkekeh-kekeh pelan. “Agar kamu juga hati-hati ketika bertemu dengan laki-laki lain di luar sana, jangan mudah percaya pada mereka, aku dengan mereka yang tak kamu kenal, tak akan sama.”
“Intinya, aku tak bisa menganggap semua orang baik dan harus waspada, bukan?” balas Kani dan Amarendra tersenyum.
“Iya, syukurlah kamu agak pintar sekarang, enggak lemot kayak biasanya.” Dia meringis saat Kani mencubit lengannya dan keduanya hening. Kemudian tak lama Amarendra mengajak Kani jalan-jalan, membeli dan mencoba makanan serta minuman yang dia mau, tak lupa juga membeli untuk Purwa. Amarendra sangat berterima kasih karena jika Purwa tidak jahil, mana bisa dia tahu kalau Kani kesusahan sekarang.
Kani menggeleng saat Amarendra menawarinya makan, dia sudah kenyang, tak sanggup lagi dan takut gendut.
Amarendra mengantar Kani tapi Kani menolak, mereka masuk ke gang cukup jauh dari Yayasan.
“Mereka semua perempuan, akan heboh jika kamu mengantar sampai yayasan.” Kani mendelik saat Amarendra tersenyum simpul, memikirkan hal lain. “Mereka semua sudah tua, aku yang paling muda.” Dia menyambung padahal tidak ditanya.
Amarendra tersenyum ,menatap jam tangannya dan dia harus pergi. Kani diam memperhatikan dan Amarendra melepas helmnya.
“Aku...” Kalimatnya menggantung dan Kani tersenyum lebar kemudian berjinjit dan menarik bahunya. Amarendra membalas, memeluk Kani erat-erat. Amarendra menutup matanya yang basah, dia sangat takut untuk membiarkan Kani berada di sini. “Tolong, jaga diri baik-baik.”
“Iya, uang itu akan aku ganti emm...Maren.” Kani terkejut saat pelukan Amarendra semakin erat.
“Sampai kapan terus mengungkit apa yang aku beri, berniat mengganti apa yang aku keluarkan? Aku tak butuh itu, aku hanya mau kamu menjaga diri dengan baik, itu cukup.” Suaranya berat dan Kani tersenyum. Amarendra melepaskan pelukannya dan dia merapikan rambut Kani. Matanya merah dan Kani memegang tangannya.
Kani merasa takut melihat Amarendra kebut-kebutan mengejar waktu. Kemudian dia menyeberang dan berjalan menuju Yayasan. Kani masuk dan semua orang memperhatikannya. Setelah tiba di balkon, Kani langsung ditarik Purwa.
“Yang pakai jaket hitam bawa motor tadi?” Purwa menyelidik dan Kani mengangguk, mengajaknya duduk, mengeluarkan isi plastik yang dia bawa. “Aku tak melihat wajahnya, tapi tubuhnya sama seperti di foto, keren. Dia sangat menyayangimu sampai benar-benar datang.”
Kani tersenyum lebar diam mendengarkan ocehan Purwa. Kani menyentuh keningnya dan merasa masih bisa merasakan kehangatan dari bibir Amarendra. Kepalanya menggeleng-geleng, dia tak mau terkungkung dalam kehangatan yang belum pasti dia bisa memilikinya.
Malamnya, Kani menelepon Amarendra karena sepulang menemuinya laki-laki itu tak memberi kabar. Kani hanya bisa menahan air mata sambil menggigit kain sarung yang dia jadikan selimut saat Amarendra membalas pesannya, tak ada waktu mengangkat telepon darinya, dia baru pulang kerja pukul satu dini hari. Kani memintanya lekas beristirahat, takut dia sakit karena terlalu lelah dan Kani merasa bersalah.
“Aku menyayangimu, Maren.” Air matanya jatuh ke pipi dan mata basahnya terus memandang layar ponselnya, foto dia dengan Amarendra.
Hari Minggu, nama Kani disebut, dia sudah cukup mampu setelah dua Minggu tinggal di yayasan, belajar banyak hal. Rumah majikannya di Bogor, Kani tak pernah ke sana, dan ada petugas dari Yayasan yang akan mengantar. Naik Bus dan Kani mendongak saat sampai di Terminal Baranangsiang kemudian dari sana naik angkot sekali. Kani yang sudah memakai seragam putih dengan list biru di dada ciri khas yayasan pelita hati hanya bisa memandangi semua bangunan yang dia lewati. Petugas yayasan yang mengantarnya begitu jutek. Kani berusaha untuk tak menghiraukan wanita berambut pendek sama seperti dirinya itu.
Sampai di sebuah rumah yang terletak di sebuah Gang, Kani heran melihat rumah tersebut tampak biasa saja tapi setelah seorang wanita berwajah masam membuka pintu lalu mengajak masuk, rumah biasa tersebut menyimpan kemewahan yang tersembunyi di dalamnya. Luas, megah, ada tangga melengkung di sebelah kiri. Dia duduk dan disuguhi air minum. Anak yang akan dia asuh berumur dua tahun, anak perempuan cantik dengan rambut keriting.
Petugas dari Yayasan pergi dan dia ditanyai wanita tadi yang membukakan pintu, namanya Patmi, sudah bekerja bertahun-tahun dan dipercaya oleh keluarga tersebut. Kani dibawa ke kamar mereka, tidur satu kamar di kamar yang terletak di bawah, dia menuruni tangga dan melihat dapur yang berbeda dengan dapur bagus di atas.
“Ini kamar kita, kita tak bisa memasak di dapur yang sama dengan majikan juga dengan peralatan masaknya. Ini keluarga Chinese, setiap saat mengonsumsi daging dan bahan makanan yang haram untuk kita yang beragama Islam. Makanan untuk kita ada di kulkas kecil itu, aku peringatkan untuk mencuci bekas makanmu dan jangan menumpuk cucian di kamar mandi.” Tangannya menunjuk ke sebuah pintu plastik dan Kani mengangguk paham. Kemudian dia diajak naik lagi agar bisa berkenalan dengan anak yang akan dia asuh.
Ada dua anak kecil lainnya di rumah tersebut, si sulung dan anak kedua, yang Kani asuh anak ketiga dan kemudian dia melihat seorang wanita di lantai dua melongok, sedang menyusui anak keempatnya, Kani tersenyum ramah tapi wanita itu melengos begitu saja kemudian dia memergoki Patmi tersenyum kecil seperti mengejek.
Kani merasa akan betah di sana, keluarga Chinese tersebut sekeluarga bekerja sebagai penjual pakaian Branded. Majikan wanita yang dia lihat jutek tak sesinis itu ketika dia mulai memahaminya, dan majikan laki-laki yang memang cenderung cuek, dan ada laki-laki yang masih lajang adik majikan perempuan yang suka sekali bercanda dengan Patmi, Kani selalu melihat wajah kusam Patmi merona. Tapi saat pria itu mendekat padanya, Kani takut dan lekas menghindar.
Kani tak menyangka kecantikannya akan menjadi Bumerang dan membuat Patmi iri, dia sampai menanyakan wajah serta tubuhnya memakai apa, Kani menjawab sejujurnya tapi suatu hari dia melihat pouch kecantikannya berantakan, Patmi tak percaya sampai memeriksa dan sikapnya yang dari awal menyebalkan semakin menjadi-jadi. Kani tak diberikan waktu untuk makan dengan tenang, istirahat dengan cukup, Kani tersiksa tapi tetap berusaha bertahan, dan suatu hari ketika keduanya harus belanja sambil membawa anak yang Kani asuh, Patmi sengaja meninggalkannya, padahal Kani memberitahu tak bisa menyeberang apalagi di jalan ramai begitu sampai seorang pria paruh baya bersedia memandunya menyeberang. Sesampainya di rumah, Kani kena marah majikan laki-laki karena anak yang dia asuh tak bisa di luar terlalu lama, benar saja, anak itu langsung demam saat malam juga kulitnya merah-merah.
“PATMI SIALAN!” Kani murka dan berusaha untuk berhati-hati. Dia sudah sebulan bekerja, menerima gajinya, sejuta empat ratus, itu besar dan dia senang. Tak tahu ada yang sedih karena kembali jauh darinya, siapa lagi kalau bukan Amarendra.
Sikap buruk Patmi dia adukan pada Eka di Yayasan, karena Patmi anaknya (Di bawah naungannya) seperti dirinya. Kani yakin akan dibela, tapi Eka malah memintanya tetap sabar dan bisa bekerja sama dengan Patmi. Sampai Kani difitnah mencuri beberapa baju mahal dari gudang dan Kani dipecat, bersyukur karena gajinya dibayarkan utuh walaupun dia diancam akan dipenjarakan tapi majikan perempuannya membela dan Patmi senang rekan kerja yang dia anggap saingan berhasil dia keluarkan.