Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MENIKAH


Ketiganya bangkit saat Bel berbunyi. Kemudian Yana melipir karena jelas beda kelas. Kelasnya hari ini rame karena kejadian kemarin. Kani mau bunuh diri dan Reva serta yang lain di Skorsing. Ini kejadian paling memilukan pertama kalinya, kepala sekolah sampai malu dan mengecam mereka yang bertingkah sok jagoan! Seenaknya menyiksa orang lain.


Sepulang sekolah, ada niat untuk menemui Kani tapi Amarendra takut pada Bu Ismi. Dia urungkan dan hanya mengirimi Kani pesan. Setelah tiga hari dirawat, Kani pulang. Teman-temannya satu kelas menjenguk sekaligus menyerahkan amplop berisi sumbangan dari teman-temannya. SMP sampai SMA ikut serta berpartisipasi dan berharap Kani lekas pulih dan kembali ke sekolah. Kani tak banyak bicara, dia merasa semakin ingin berontak untuk tetap membandel melanjutkan sekolah tapi saat melihat wajah lelah Ibunya. Semua keinginan menggebu itu menguap lenyap.


Amarendra juga datang menjenguk, ada di antara mereka, dia tak masuk ke dalam, hanya dari luar melihat Kani yang juga terus meliriknya. Sampai Bu Ismi terus mengamati pemuda jangkung dan ganteng itu, yang menebar senyuman serta menolak secara halus saat diajak masuk. Bukan pemuda sendiri, Amarendra dengan murid laki-laki yang lain di luar. Kani menunduk saat Ibunya menoleh ke arahnya setelah memperhatikan Amarendra dengan saksama, jangan sampai Ibunya curiga, batinnya rusuh.


Setelah benar-benar sehat, Kani memutuskan untuk kembali ke sekolah, semua orang menatapnya dan Kani menunduk. Saat jam pelajaran, Kani tak diminta melepas jaketnya, wali kelas memintanya untuk terus memakai jaket karena ada beberapa luka di tangan Kani yang akan menjadi sorotan nantinya.


 Ketika jam istirahat, Kani dan Amarendra bertemu. Amarendra terus menatapi wajah Kani, Kani sibuk memakan makanannya sampai Amarendra memasukkan tangannya ke dalam Hoodie jaket gadis itu dan Kani diam.


“Di mana rambut panjangmu, Kani?” Amarendra terkejut dan Kani menurunkan Hoodie jaketnya. Dia memangkas rambutnya pendek. “Kani, kamu memotongnya sendiri?” Matanya melotot.


“Iya!”


Amarendra tak bisa protes walaupun ingin. “Setidaknya potong dengan benar.” Ia memutar bola matanya, sungguh, rambut Kani sangat berantakan.


“Aku jelek dengan rambut pendek?” Kani cemberut.


“Luar biasa seperti biasanya,” pujinya dan Kani menyentuh rambutnya. Kani meminjam gunting dari warung, meminta Amarendra merapikan rambutnya dan sungguh, Amarendra sangat ingin menolak. Dia menadahkan tangannya sebagai alas, menggunting bagian tak jelas rambut kecokelatan itu. Amarendra memfotonya dan memperlihatkannya, Kani mengangguk dan Amarendra terus menatap wajah penuh trauma gadis pujaannya.


***


Bu Ismi yang melihat rambut Kani berantakan meminta anaknya yang baru pulang sekolah itu mendekat, dia merapikannya sedikit dengan gunting tajam dan Kani hanya diam kemudian masuk ke dalam rumah. Anaknya belum baik-baik saja, Bu Ismi menyadarinya dan matanya terasa panas juga berair.


Saat Reva dan yang lain bisa kembali masuk ke sekolah, mereka semua dipandang rendah dan Kani yang melihat lebih memilih pura-pura tak melihat. Kani bahkan melewati Reva begitu saja, Reva menatapnya tajam dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Bukan hanya hukuman dari sekolah yang membuatnya kesal tapi amarah kedua orang tuanya juga harus dia terima.


Tiba waktunya ujian, Kani melihat wajah Reva pucat, lirik sana-sini tak terkendali, sampai dia malu saat melihatnya dan Kani selalu selesai dengan mudah. Kani yang terkenal pendiam semakin pendiam setelah kejadian itu dan apa yang terjadi padanya, membuat Pak Muji teramat terguncang  ditambah Bu Ismi yang sudah memberitahukan penyakitnya pada Kani tapi tidak kepada anak mereka yang lain.


Kani sudah tak peduli lagi dengan ujian, kelulusan, tapi untuk ijazah, dia menunggu itu. Dia ingin mencari kerja tapi setelah ijazah dia terima, Ibunya menyebut-nyebut mereka yang menikah muda, apa maksudnya? Apa dia akan dijodohkan? Obrolan tersebut terus dia dengar. Kani kesal dan marah kemudian menghindar. Bu Ismi sudah ditegur berkali-kali oleh Pak Muji tapi Bu Ismi tetap saja mengeyel, dia malah khawatir dengan niat anaknya yang ingin bekerja. Menikah saja lebih aman. Toh, banyak yang mau dengan anaknya itu, dia yakin.


Setelah sekian lama tidak berjumpa, Kani dan Amarendra akhirnya mengatur janji. Amarendra terpaku melihat gadis itu, dan dia melihat Kani semakin nyaman dengan rambut pendeknya yang membuat penampilannya semakin terlihat segar dan imut.


Kani membuang napas lega dan tersenyum lebar. “Berapa lama kita tak bertemu?”


“Mencukur rambut karena mau bertemu denganku? Aku rasa kau benar-benar berdandan lama melebihi seorang gadis, Maren.” Kani memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Apa kamu mau bertemu dengan laki-laki yang hanya memakai kolor? Rambut gondrong dan kumis tipis berantakan?”


Kani tertawa dan mengempit lengannya. Barulah Amarendra berhenti mendelik dan keduanya sama-sama tersenyum


“Aku bercanda,” tutur Kani dan rambutnya berantakan karena tangan jahil Amarendra. Keduanya terus berjalan, melihat hamparan sawah, merasakan angin yang menyegarkan, dengan saling merangkul dan bercanda.


Awalnya Kani ingin dibonceng pakai sepeda seperti biasa tapi Amarendra tak mau, dia ingin jalan-jalan sedikit jauh jika gadis itu tak keberatan, jelas Kani pun mau dan keduanya menuju tempat wisata menggunakan motor matic milik Abah. Kani memeluk erat, Amarendra melirik sesekali dari kaca spion, keduanya sempat berhenti membeli camilan kemudian melanjutkan perjalanan. Sebuah tempat wisata yang dingin menusuk tulang, masih terjaga dan baru dibuka. Keduanya berjalan bersebelahan dan menatapi sekitar. Kani tertawa-tawa melihat banyak sekali monyet di pohon-pohon, melompat, berayun dan melemparkan tatapan. Amarendra mengernyit karena gadis itu tak takut sama sekali tapi malah dia yang takut tiba-tiba diterkam. Tempat tersebut benar-benar elok dan bahkan suara burung berkicau begitu hangat dalam pendengaran.


“Aku menyesal tidak bawa jaket.” Kani menggerutu dan Amarendra melepas kemejanya, menyisakan kaos polos dan Kani tersenyum memakainya.


“Apa bisa turun ke sana, Kani?” Tunjuknya pada aliran sungai yang kecil tapi airnya sangat jernih.


“Nggak bisa, lah. Jangan aneh-aneh tetap di dekatku.” Kani mengomel dan menarik lengannya. Amarendra terus memotret, dia membawa kamera digitalnya, dan Kani mendahului karena melihat mereka yang sedang memanah. Amarendra memfotonya, sampai gadis itu sadar dan merajuk. Keduanya terus berjalan menanjak. Berhenti setelah merasa lelah di sebuah saung bambu sambil menikmati camilan.


“Serius, kamu mau bekerja?” Amarendra menatap dan Kani mengangguk. “Kerja apa?”


“Bos Bapak butuh pembantu, di Bandung kota, daerah buah batu. Anaknya dua, aku merasa itu bukan hal besar, aku biasa mengerjakan pekerjaan rumah.” Kani tersenyum dan Amarendra mendesah.


“Diam saja di rumah, tunggu sampai ada yang datang melamar.” Terselip senyuman di balik ucapannya.


“Justru aku menghindari itu, ibu terus membahas pernikahan, nikah muda... bagaimana jika aku dijodohkan, Maren?” kedua matanya membulat, dia tak mau itu terjadi.


“Bekerja saja kalau begitu, yang jauh, yang lama sampai benar-benar ada yang datang melamarmu,” tegas Amarendra yang mendadak ciut mendengarnya. Dia tatap Kani yang begitu mungil, harus menikah di usianya yang sangat belia dan bukan dengannya? Sungguh, ia tak akan rela!


“Kenapa kamu semangat sekali memintaku menolak permintaan ibu?” Kani tersenyum dan Amarendra membuang muka seraya mengangkat bahu. “Tak rela temanmu ini menikah duluan?” Kani tertawa dan Amarendra pura-pura tuli.


“Jika aku menikah kamu harus datang, jika kamu menikah aku pun akan datang.” Kani tersenyum.


Amarendra diam dan diamnya membuat Kani menatapnya. Dia menggoyangkan bahunya dan Amarendra tak mau menoleh. Dia bangkit dan pergi, Kani gelagapan membereskan semuanya kemudian menyusul. Amarendra tak suka dengan percakapan mereka kali ini.