Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
ANAKNYA BOS?


Amarendra dari tempatnya terus tersenyum, menatap punggung tangannya yang lecet dan berdarah karena kuku jari wanita itu. Amarendra diam sejenak dan merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, dia melihat sekelebat bayangan cincin yang melingkar di jemari mungil Kani.


“Dia masih memakainya?” Dia termenung sambil memperhatikan Kani yang sudah jauh. Kani dan Kenanga diam menunggu sambil mengobrol. Dua puluh menit seorang pria dengan anak kecil perempuan datang. Suami kenanga dan anaknya. Kani mencium keponakannya itu sampai menangis histeris, dia sengaja dan Amarendra cengengesan sambil menggeleng kepala. Kani melambaikan tangan dan mereka semua pergi.


“Kamu benar-benar masiu memakai cincin itu?” Netranya berkaca-kaca. Apa itu sebuah tanda bahwa Kani juga tak mampu melupakannya?


Amarendra diam, terus menatap Kani yang sudah bertambah tingginya memakai celana bahan dan kaos longgar berwarna hitam. Rambutnya diikat Cepol, tinggi, beberapa anak rambut mengisi tengkuk dan pinggiran daun telinganya. Wanita itu perlahan melepas ikat rambutnya. Rambutnya panjang terurai sepinggang. Amarendra mulai tak karuan dan menebak-nebak, apa wanita itu ingin menemui kekasihnya, mungkin? Apa dia sanggup jika tebakannya tak meleset?


Amarendra membuka laci, mengambil masker dan memakainya. Dia turun dan menutupi kepalanya dengan Hoodie.


Kani sudah masuk ke sebuah Bus. Amarendra juga masuk duduk jauh dari tempat wanita itu duduk menyendiri.


“Kamu masih sama seperti dulu saat aku pergi. Hanya sedikit tinggi dan semakin dewasa. Kamu Kakak yang luar biasa, selalu menjaga adik-adikmu apalagi orang tuamu. Aku di sini, Kani. Sedang memandangi rambutmu yang indah itu berayun anggun,” gumamnya memuja.


Amarendra merapat ke jendela dan membungkukkan badannya saat Kani tiba-tiba menoleh ke belakang dan jelas akan melihatnya.


Kani menghela napas dengan mata basah. Kembali menatap kosong ke depan.


Bus hanya diisi lima penumpang. Jaman sudah berbeda dan semakin maju. Sudah jarang yang menggunakan transportasi umum untuk bepergian. Banyak orang yang sudah mampu membeli kendaraan sendiri sekarang khususnya kendaraan roda dua.


Keduanya teringat bagaimana dulu sering menumpangi Bus bersama untuk pergi bekerja ke tempat berbeda. Bus yang begitu sepi membuat keduanya semakin masuk ke dalam pergulatan batin yang mereka alami.


“Sudah lama, Maren. Apa aku harus pasrah dan membuka hati untuk pria lain? Rasanya aku tak sanggup walaupun untuk sekadar membuat keluargaku tenang jika aku menikah. Aku tak bisa menerima segalanya dari pria lain, aku terlanjur candu dengan semua perlakuanmu.” Kani menyeka pipi, bergumam dalam hati dan melirik ke luar kaca Bus untuk melihat dia sudah dekat atau belum.


Sementara di kediamannya. Kenanga sudah sampai di sana. Selesai menidurkan anaknya yang berusia setahun.


“Kamu sedang hamil, masih saja bekerja,” kata Pak Muji yang khawatir.


“Sudah aku larang juga berkali-kali, aku sudah menjadi karyawan tetap dan dia tak perlu bekerja lagi. Tapi tetap saja.” Ramlan menggeleng kepala dan Kenanga mendekat.


“Pekerjaanku ringan, Mas. Hanya di minimarket, merapikan barang sedikit dan berdiri di kasir, itu tak melelahkan.” Kenanga membandel dan setelah dia melahirkan, dia baru akan berhenti. Hari ini dia bekerja setengah hari karena harus memeriksakan diri setelah perutnya kemarin ngilu di bagian bawah.


“Kami sudah membatin karena sikap keras kakakmu. Jangan menambahi dan sekarang di mana dia? Juga tak membawa motornya,” sergah Ibu dan Kenanga mengangkat wajahnya.


“Entah dia mau ke mana, Bu.” Kenanga khawatir.


“Ya sudah biarkan saja.” Bu Ismi pasrah.


“Apa Ibu tak khawatir?” Pak Muji agak keras.


Ibu melanjutkan mengaduk nasi yang asapnya mengepul itu. Kenanga menyiapkan piring dan yang lain kemudian semuanya duduk bersama untuk menyantap makan siang.


***


Amarendra terpaku melihat Kani duduk melamun di sebuah tempat, Alun-alun kota tempat tinggal mereka. Lumayan jauh dari daerah tadi mereka pergi.


Amarendra meremas tangannya, sedih melihat wajah wanita itu dan sebelum duduk di Alun-alun, Kani pergi ke tempat wisata yang sudah ditutup karena longsor beberapa hari lalu. Kani memutar balik dan berhenti di tempat tersebut. Sudah satu jam, hanya begitu, tak melakukan apa-apa.


“Kenapa kamu keluyuran tak jelas begini?” Amarendra menyeka pelupuk matanya yang dia rasa basah. Dia bertanya? Padahal dia sendiri juga begitu. Menyendiri, pura-pura tak memikirkan Kani, padahal hati dan pikiran sudah terpaut dengan masa lalunya itu.  Kedua kaki panjangnya nyaris melangkah dua kali dan terhenti. Tubuhnya refleks bereaksi saat wajah itu tersaput kesedihan kemudian melihat Kani menangis dalam senyap. Amarendra mundur, merasa belum siap untuk menunjukkan dirinya.


“Berhenti, kau tahu sendiri aku selalu ingin menciummu ketika kau bersedih apalagi menangis.” Amarendra hanya mampu memandang dan Kani menyeka pipi tirusnya.


Tubuh Amarendra menjauh. Menekan topi yang dia pakai dan terus menatap Kani yang kini menaiki sebuah angkot. Amarendra kebingungan dan akhirnya memanggil sebuah ojek untuk mengikuti angkot itu.


Kani singgah di semua tempat yang dia dengan Amarendra sering datangi dulu. Dengan rambutnya yang terurai, Amarendra akan memainkan jemarinya di sana dan menjatuhkan banyak pujian yang membuai. Amarendra menyadari itu setelah empat tempat dia tatap dengan saksama. Matanya semakin berat ingin menjatuhkan buliran air dan dia tahan sekuat tenaga setelah Kani turun di daerah pasar tadi. Kani belanja dan Amarendra berjalan cukup jauh mengikuti tubuh tinggi jenjang itu dengan tangan mungil menjinjing banyak belanjaan. Pasar semakin padat dan Amarendra mulai kesulitan menyusul. Dia memutar tubuh, matanya menelisik ke setiap penjuru tapi Kani tak bisa dia temukan, lenyap di kerumunan.


“Apa dia sudah pergi?” Batinnya merintih karena masih ingin melihat Kani. Tubuhnya melemah dan dia melirik mobilnya masih di sana. Dengan gerakan lamban dia memutar badan dan Kani berjalan di hadapannya, mata keduanya bertatapan beberapa detik dan Kani membeku setelah ia menyadari sesuatu. Tapi Amarendra sudah menerobos masuk ke dalam kerumunan dan dia bersembunyi di Toko Ayas Tamales.


“Amarendra?” bisik bibir mungil itu lagi dan lagi, berjalan terhuyung-huyung dengan semua belanjaannya, mencari di mana pria bertubuh tinggi tadi yang memakai jaket dengan masker menutupi setengah wajahnya. Dia yakin itu dia, yang dia tunggu, bagaimana bisa dia tak mengenali mata tajam dengan bulu mata lentik dan panjang serta alis yang menyambung. Dia jelas melihatnya.


“Maren.” Giginya mengatup rapat, menimbulkan suara gemeretak, dia terus mencari dengan napas tersengal-sengal. Kani terjatuh dengan semua belanjaannya. Dia hampir menangis dan dua wanita asing membantu merapikan belanjaannya dengan cepat, sebelum terinjak-injak.


“Kamu mencariku, Kani?” Amarendra dari balik kaca Ayas Tamales menyentuh kaca jendela itu. Dia melihat kepanikan di wajahnya, Kani mengenalinya. Bibirnya menyimpul penuh semangat. Memahat janji di hatinya, dia akan lekas menemui wanita itu. Kesayangannya yang sudah dewasa.  


“Cari siapa?” seru seorang pria bertubuh besar dengan kemeja biru muda dan celana hitam panjang. Dia mendengar pegawainya bilang ada seorang pria yang ingin bertemu dengannya, tak lain Manajer di Ayas Tamales. Kerjanya mengontrol, melapor, memarahi pekerja yang berleha-leha.


Amarendra berbalik badan, masih biasa, tidak setelah dia menurunkan Hoodie serta melepas masker hitamnya.


“Pak...” Terkesiap sambil mendekat, menyalami tangan Amarendra penuh hormat. Semua pegawai Ayas Tamales yang kebanyakan perempuan itu menatap bingung.


Pria gendut yang tukang marah-marah itu membawa pria tadi  ke ruangannya.


“Apa itu anaknya, Bos?” tanya pegawai perempuan.


“Mungkin,” timpal yang lain.