Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
PANGLING


***


Malam itu Amarendra menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Sesampainya di rumah Abah, dia harus menunggu satu jam agar pria tua itu turun kemudian memeluknya kegirangan. Abah mengira dia orang gila yang selalu mengetuk rolling door sepanjang malam. Agak menyebalkan tapi yang penting dia disambut dan dirangkul masuk.


“Pangling banget Abah melihatmu, Amarendra.” Abah tersenyum dan Amarendra meletakkan tasnya.


“Maaf, baru mengunjungi Abah.” Ia cucu yang durjana karena kerapuhan perasaannya sampai-sampai untuk menjenguk kakeknya sendiri pun ragu. Dia terlalu takut tak sengaja bertemu dengan Kani dan tidak dengan sekarang yang menjadikan hal tersebut sebagai niat utamanya.


Amarendra mempersilakan Abah melanjutkan istirahat. Amarendra duduk di dapur dan ponselnya berdering. Raihan menelepon. Bertanya apa dia benar-benar pergi atau tidak. Ia mengiyakan dan Raihan merasa lega.


“Kakekku semakin tua, Rai.”


“Melantur, namanya juga kakek-kakek ya jelas tua!” Dia emosian dan Amarendra terkekeh kemudian panggilan berakhir dan Amarendra ingin lekas tidur.


Pagi-pagi tak melihat anak lelakinya membuat Bunda Sri khawatir. Amarendra bahkan tak jelas mau pergi ke mana. Hanya bisa mengomel di hadapan Lusi dan malah Lusi merasa dia yang kena getahnya. Harusnya dia menahan, itu yang Bunda harapkan. Amarendra melesat pergi secepat kilat karena semalam jika Lusi berhasil mengejar, tentu akan mencegahnya juga.


Di tempat lain, di seberang Toko Ayas Tamales. Kani sedang berhadapan dengan kawannya, Purwa yang sambil menggendong bayinya yang terlelap. Purwa merasa kasihan melihat nasib Kani, dia tak seceria dulu. Bahkan wajah lembut dan kadang jutek yang dulu berubah menjadi raut yang sangat datar.


Purwa menunduk, menatap bayinya sekilas.


“Sudah hampir tujuh tahun, sudah kamu sadari bahwa lelaki itu sosoknya tak tergantikan? Sudah sadar bahwa keputusan yang diambil karena tergesa-gesa akan menimbulkan malapetaka? Dan sekarang, apa kamu sudah bisa melepas lelaki itu benar-benar pergi dan kamu pun harus memulai membuka hati untuk merajut kehidupan yang indah tapi bersama dengan lelaki lain?” Pertanyaannya mengintimidasi, tapi dia lelah melihat sikap Kani yang tidak menunjukkan perkembangan atau malah dia masih berharap Amarendra akan kembali?


“Aku hanya mengenangnya di setiap langkah, apa aku salah?” Kani menatap Purwa yang langsung menggeleng lalu mendelikan matanya.


“Jelas salah, dia bukan milikmu lagi.” Purwa berbicara dengan nada penuh penekanan.


“Aku tahu.” Suaranya terdengar sumbang. “Aku juga tak tahu dia di mana karena jika aku tahu, mungkin aku sudah mengganggunya.”


Purwa memperhatikan wajah kusut tersebut, ucapannya memang menyakitkan tapi dia mau yang terbaik bagi sahabatnya itu. Karena sudah terlalu lama Purwa pergi dari rumah. Dia memutuskan untuk pulang.


“Hati-hati,” kata Kani sembari mengantar ke tepi jalan. Menunggu angkot. Setelah terlihat dia melambai dan Purwa masuk setelah angkot berhenti. Kani tersenyum hangat dan angkot berlalu.


Kani sedang mengambil cuti hari ini, Kani menyeberang untuk menjemput adiknya dari Minimarket sekaligus menemaninya berobat.


Sementara pria itu, Amarendra sudah sampai, dia menepi tak jauh dari Ayas Tamales. Jedag-jedug hatinya tak karuan sampai dia harus mengurut dada bidangnya berulang. Tenang, Tenanglah hatinya seolah berbisik lirih. Meyakinkan tak akan ada masalah. Kani pun pasti akan senang melihatnya.


“Jika dia sudah lupa padaku, bagaimana? Jika sudah membuka hati pada pria lain, aku bagaimana? Sungguh telat di saat begini baru ada niat untuk menemuimu setelah ketidaksengajaan karena bertemu Kalingga. Andai aku tak keras kepala, mencari tahu kehidupanmu, mungkin aku tak canggung seperti ini. Aku bahkan tak tahu apa yang harus aku ucap pertama kali saat di hadapanmu.”


Amarendra mendesah, merapikan rambutnya, memastikan pula tidak ada noda aib di wajahnya yang akan membuat malu di depan Kani.


Amarendra yang tak sabar disela kegugupan akhirnya menurunkan kaca mobilnya, mata tajamnya tak tenang. Sampai tak terasa dia sudah menunggu satu jam.


“Apa dia tak masuk kerja?” tebaknya dan pula terlintas di pikiran, apa dia harus ke rumahnya langsung? Gelengan kepalanya membantah rasa tidak sabar hatinya. Dia memperhatikan lebih dalam, mungkin karena sudah bertahun-tahun lamanya, fisik Kani berubah dan dia tak mengenalinya.


Tangannya berayun pada jendela mobilnya yang terbuka lebar, berpegangan erat sambil memperhatikan. Di sekeliling ramai karena pasar tumpah hari Rabu memang selalu buka.


“Kenanga!” Suara tandas itu membuat Amarendra menoleh bersamaan dengan tangannya yang masih di sana tak sengaja tertindih tangan seseorang dari luar bahkan orang itu berpegangan erat karena hampir jatuh. Tak lama terlepas dan kedua mata Amarendra membulat melihat siapa di sana. Dia lekas menaikkan kaca mobil sebelum Kani yang terhuyung melihatnya.


Amarendra dari dalam melihat juga mendengarkan, kaca mobilnya terbuka sedikit.


“Kau buta?” tandas suara Kani sambil menarik Kenanga yang sedang hamil. “Ada orang hamil main seruduk saja, tak punya sopan santun!”


“Aku tak melihat.” Seorang pria di hadapan Kani terlihat tak peduli.


Kani mencengkeram kuat bajunya. “Kau memang buta juga tak punya tata krama, kau hampir membuat wanita hamil ini jatuh.”


“Lantas kau mau apa?” Pria itu mengotot dan Kani tak mau melepaskannya walaupun Kenanga terus mengajaknya pergi.


“Minta maaf pada kami terutama pada adikku baru aku lepas atau mau aku teriaki sebagai pria cabul! Kau menyentuh dadaku tadi. Kau kira aku akan diam.” Tangannya semakin erat juga dengan wajahnya yang semakin emosi.


“Aku menyenggol tak sengaja bukan menyentuh.” Pria itu frustrasi menghadapi wanita di hadapannya. “Oke, maaf. Aku tak sengaja, maaf.” Pria itu memilih mengalah dan meminta maaf kepada keduanya, baru tangan Kani terhempas dan mendorong lengan pria itu kesal.


“Kamu tak apa, Kenanga? Perutmu sakit?” Kani khawatir dan Kenanga tersenyum.


“Kau menjagaku, aku tak apa.” Ia menyentuh perutnya dan Kani diam, kepalanya tertoleh pada mobil yang terparkir di mana Amarendra sedari tadi memperhatikan, memandangnya dan sekarang dia panik saat wajah Kani terhalang kaca mobil di hadapannya. Dia perhatikan wanita itu berusaha melihat ke dalam mobilnya tapi tidak bisa. Hanya gelap yang Kani lihat. Terpaku memandang wajah itu sampai Amarendra terperanjat saat sadar.


“Aku berpegangan kuat pada tangannya, aku merasa menyakitinya. Sebentar.” Kani meminta Kenanga diam dulu dan dia terus mengetuk kaca mobil. Amarendra hanya menurunkan sedikit dan Kani hanya melihat rambutnya. “Maaf, Pak. Tak sengaja.”


Amarendra mengangguk. Menghalangi setengah wajahnya dengan telapak tangan lalu menutup kaca mobilnya rapat-rapat.


Kani mengernyit, dia mundur dan menarik Kenanga pergi sembari sesekali badannya berbalik sedikit dan hanya melihat pria di dalam mobil itu membungkuk.


“Kenapa, Teh?” Kenanga ikut penasaran.


“Aku hanya ingin meminta maaf, tapi dia tak mau membuka kaca mobil lebih lebar. Dia kira aku mau mencuri atau bagaimana?”


Kani mendesis dan lekas mengajak Kenanga menyeberang.