Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
SEJOLI


“Pergi, bawa keluargamu secepatnya.” Pak Muji menatap Amarendra yang perlahan menoleh tak percaya. “Ini terlalu berisiko untuk ditunda lama, lihat, Kani bahkan berani menahan seorang lelaki di hadapan keluarganya.”


Amarendra tersenyum dan Kani melepaskan tangannya. Kani terus berterima kasih begitu juga dengan Amarendra. Amarendra tak di izinkan pergi sampai acara di rumah tersebut selesai nanti malam. Kemudian malamnya, Kani mengantar Amarendra keluar dari rumahnya. Dia cemberut di hadapan pria itu.


“Kita akan menikah, kenapa wajahmu begitu?” Tangannya berayun dengan telunjuk menarik dagu Kani.


“Kau belum menjelaskan padaku kenapa bisa kenal sama bapak,” desaknya dan Amarendra sudah membuka pintu mobil.


“Iya nanti aku jelaskan, aku pulang dulu dan aku telepon nanti.” Dia masuk dan Kani merasa berat merelakan kepergiannya. “Kani, siap-siap juga kita akan ke Jakarta. Aku sudah bilang sama ibu dan bapak.”


“Ngapain?” Ia terkejut.


“Ya bertemu Bunda, aku harus memperlihatkan calon menantunya dan anaknya ini tak akan sendiri lagi. Bawa Syamsir juga. Aku pulang, Abah pasti sudah menunggu.”


Kani tersenyum dan tangannya berayun memegang kaca mobil. “Tak mau berduaan denganku?” tanyanya sambil mesem-mesem dan Amarendra menatapnya sambil tersenyum kecil.


“Justru itu, akan bahaya jika kita berdua saja.” Ia terkekeh malu dan Kani tertawa. “Setelah kita menikah, tak akan ada hal yang membuatku ragu untuk melakukan apa pun.” Dia menyambung, sangat pelan dengan jemarinya yang mengelus lembut punggung tangan Kani dan Kani  menjauhkan tangannya.


“EKHEEEMMMM...Setan lewat!” Suara menggelegar Syamsir dari balik tembok membuat keduanya kaget. Amarendra tertawa lepas sambil melajukan mobilnya. Kani tersenyum malu-malu dan beranjak pergi.


Kani mendelik saat berhadapan dengan adiknya dan Syamsir terus mengomel.


“Tak mau berduaan denganku? Genit sekali!” tegas Syamsir dan Kani membungkam mulutnya adiknya itu kuat-kuat.


***


Bunda memotong sayuran sambil sesekali mendesah, menggeleng, dan Lusi yang duduk memperhatikan tak tega melihatnya.


Lusi menghela napas, entah bagaimana menyembuhkan kesakitan yang dialami Amarendra. Kepergiannya ke Solo untuk kuliah tetap tak membuatnya bisa melupakan gadis itu kemudian pergi lebih jauh ke Jepang, tapi sekarang dia masih belum mampu merelakan hatinya untuk disinggahi perempuan lain. Lama-lama sepertinya dia harus membawa Amarendra untuk diobati pada seorang Kyai, dia takut bukan khawatir lagi.


Bunda menoleh saat mendengar suara Amarendra menyapa Merlin. Bunda tersenyum karena anaknya itu akhirnya pulang. Lusi juga bangkit untuk melihat apa adiknya itu baik-baik saja atau kusut setelah kembali dari kota yang selalu dia hindari.


“Bunda,” ucap Amarendra lembut dengan wajah semringah dan senyuman merekah. “Aku membawa calon menantu Bunda.”


Lusi dan Bunda kebingungan, Amarendra merapatkan bibir dan menoleh. Hanya ada Syamsir dan Kani membeku di balik tembok. Amarendra mencondongkan tubuhnya dan melambai.


“Kemari,” ajaknya dan Kani malah diam sambil memainkan jemari dengan pikiran tak tentu. Amarendra menarik lengannya dan Bunda serta Lusi melihat sosok Kani yang kemudian bahunya dirangkul Amarendra.


Kani menoleh, bertatapan dengan Amarendra sejenak kemudian menunduk. Dia bingung harus mengatakan apa setelah lama tak berjumpa dengan Bunda dan dia belum pernah bertemu dengan Lusi. Mendengar cerita Yana, Lusi menjengkelkan sekaligus menyeramkan.


Perlahan Bunda mendekat, walaupun masih bingung. Tuan rumah harus menyambut baik tamunya. Kani membalas pelukan Bunda dan Amarendra senang melihat keduanya.


Ketiganya sampai malam hari di Jakarta. Amarendra langsung diminta Bunda menghadap agar menjelaskan segalanya. Lusi yang awalnya tak terlalu peduli memilih mendengarkan juga.


“Kurang ajar sekali anak yang bernama Kalingga itu. Seharusnya kau memukul wajahnya dan Bunda akan menumpahkan bubuk cabai ke wajahnya agar dia tahu rasanya sakit yang dialami Kani serta keluarganya.” Wanita berumur itu begitu gemas dan Amarendra menenangkannya.


“Batalnya pernikahan adalah aib, bukan hanya di kampung, di kota juga akan mendapatkan banyak cemoohan apalagi pihak perempuan yang sering mengalaminya.” Lusi menggeleng kepala dan tak menyangka Kani rela untuk menikah dengan pria lain agar Amarendra bisa dia jauhi. Memang ada benarnya sedikit yang dikatakan Sutan bahwa Amarendra terlalu buta saat di dekat dengan Kani. kepergiannya membuahkan hasil. Dia kuliah dan bekerja, hidupnya sudah tertata sekarang. Walaupun ia tersiksa karena jauh dengan Kani, menumpahkan segala waktu setiap harinya untuk apa pun yang bisa dia kerjakan.


“Bunda setuju, kan, aku dengan Kani menikah? Aku dengannya sudah menyelesaikan kesalahpahaman di antara kami. Mohon dukungan dan restunya, Bunda,” pinta Amarendra lembut dan Bunda menatapnya lekat kemudian mengalihkan pandangan pada Lusi. Lusi hanya mengangkat bahu, terserah Bundanya saja. Senyuman Bunda perlahan mengembang kemudian memangku dagu Amarendra dan menjatuhkan kecupan di keningnya.


“Asal secepatnya, jangan ditunda-tunda,” katanya lembut dan Amarendra tersenyum senang.


Kani dan Syamsir yang sudah mandi, makan, kini sedang berada di dekat kolam renang. Bingung harus melakukan apa.


“Aku kepingin minum, tapi takut.” Syamsir menggoyangkan lengan Kani.


“Sebentar dulu, kau kira aku berani keluyuran di dalam rumah sebesar ini? Aku takut tiba-tiba tertimpa sial dan disalahkan.” Kani melirik jengkel.


“Kau terlalu banyak menonton sinetron!” timpal Syamsir dan dia bangkit. Kani berusaha melarang tapi dia tak tahan haus. Syamsir terus berjalan sampai berpapasan dengan Amarendra, berbisik meminta dan Amarendra mengajaknya ke dapur lalu menunjuk kamarnya jika Syamsir ingin istirahat duluan.


Kani termenung, menggerakkan kaki yang dia turunkan ke dalam air kolam renang, ia ragu-ragu melakukannya. Takut tuan rumah marah tapi dia bosan. Kani menoleh saat mendengar suara langkah kaki.


Amarendra dengan senyuman merekah, membawa nampan dan mendekat. Kani menerima gelas dan Amarendra memperhatikan kedua kaki mungil mulus itu berayun-ayun di dalam air. Celananya digulung sampai lutut.


“Sudah menceritakan segalanya? Apa aku diterima? Aku tak mau menikah jika hanya dapat restu dari sepihak.” Kani mengalihkan matanya ke atas air kolam yang bergelombang lembut tertiup angin.


Amarendra perlahan menyibak rambutnya sampai telinga Kani terlihat. “Seperti orang tuamu, Bunda dan Lusi tak mau menunda-nunda, harus segera.”


Wajah Kani langsung mengarah pada Amarendra. Tak akan pernah dia melakukan kesalahan lagi menyakiti pria yang begitu luar biasa di sebelahnya ini.


Amarendra tersenyum dan mengangkat gelasnya mendekat pada bibirnya. Tak lama dia mengajak Kani bangkit untuk menemui Bunda dan Lusi di ruang tamu. Kani dipeluk erat oleh Bunda dan ia terlihat malu-malu. Dari Seberang meja, Amarendra memperhatikan sambil bermain dengan kedua keponakannya. Obrolan hangat berlangsung dan Kani terlihat canggung saat pertama kalinya dia berhadapan dengan Lusi. Dalam diam mendengarkan juga sesekali menjawab Bunda dan Lusi, mata Kani terus menatap Amarendra yang ternyata menyadarinya. Amarendra diam, sengaja memperbaiki posisi agar Kani bisa memperhatikannya lebih jelas walaupun dia harus berusaha susah payah menyembunyikan senyumnya.


Kani memperhatikan dari bawah sampai atas, lebih teliti dari dada yang terbungkus kemeja Navy dan bertahan di wajah pria itu. Matanya, hidungnya, senyumannya, mendadak Kani menggeleng kepala saat dia memperhatikan bibir Amarendra, terbayang bagaimana kecupan dan kehangatan bibir itu bertahun-tahun lalu. Gila! Dia hanya bisa memaki dirinya sendiri dalam hati karena di situasi begini malah terbayang hal konyol yang dulu dia lakukan dengan pria itu. Sampai akhirnya Bunda mengajaknya pergi ke kamar, memintanya tidur bersama dan mata Bunda sedikit membeliak ke arah putranya. Amarendra mendesis melihat kewaspadaan yang sedang dibentangkan lebar-lebar oleh Bundanya.


Pukul satu dini hari, Kani terbangun dan diam cukup lama memandangi wajah Bunda di sebelahnya. Kani ragu untuk bergerak, dia takut Bunda terbangun. Akhirnya perlahan dia turun dan mengirimkan pesan kepada Amarendra.


Kani:


Maren, sudah tidur?


Kani menggigit bibirnya dan Amarendra yang masih terjaga membalas.


Amarendra; Aku sedang mengerjakan pekerjaan, sedikit.


Kani: Malam-malam begini? Syamsir sudah tidur?


Amarendra: Dia sangat nyenyak.


Kani: Aku minta maaf jika dia mendengkur, dengkurannya seperti raungan singa.


Amarendra: Mau... bertemu?


Kani: Tak mau! Aku takut kau melakukan hal gila.


Amarendra: Aku tahu kau memperhatikanku tadi, apa aku semakin ganteng? Kau menatap bibirku, kau mau? Kissing.


Kani: Sinting!!!


Amarendra: Bagus kau menolak karena jika mengiyakan, aku akan lepas kendali seperti dulu, selalu menciummu. Tidurlah, i love you..


Kani; 😘


Amarendra: Jangan memancingku!😒


Kani hampir tertawa lepas dan dia merebahkan tubuhnya kembali. Berusaha terlelap dan akhirnya berhasil.


Paginya, semuanya sarapan. Kani duduk di sebelah Bunda dan membuat Amarendra bisa memandanginya. Sementara Kani, dia terus mendorong-dorong kaki Syamsir di bawah meja. Adiknya itu selalu tak bisa menahan diri jika melihat makanan. Syamsir membalas dengan mendorong kakinya kasar. Kening Kani mengerut dan Syamsir mendelik.


“Maren!” tegur Bunda karena melihat anaknya itu tak berkedip. Amarendra berhenti tersenyum dan melanjutkan menyuap dengan kasar. Bunda dan Lusi tertawa pelan kemudian Bunda menoleh pada Kani. “Kamu dan Syamsir siap-siap, kita akan pergi untuk berbelanja.”


“Belanja, Bund?” Kani mengernyit.


“Iya, harus memilih cincin juga untuk pertunangan kalian pekan ini.” Bunda tersenyum dan Kani melirik Amarendra. Jelas sekali pria itu sangat bahagia.


“Sekaligus perhiasan untuk pernikahan, ya, Bund.” Lusi memberi usul.


“Itu bagus, biar sekalian. Rumah Kani, kan, jauh. Akan melelahkan kalau untuk bolak-balik dan Bunda juga mau kedua anak ini tidak berjumpa setelah pertunangan.” Bunda melirik Amarendra yang langsung menunjukkan keberatan pada parasnya.


“Loh, kenapa, Bund?” Amarendra yang sedari tadi bungkam membuka suara.


“Kan dipingit.” Lusi sewot.


“Memang harus banget, ya?” Amarendra meringis. Dia baru saja bertemu dengan Kani, masa harus dia tahan lagi tapi sedetik kemudian dia tersenyum, mengajukan bahwa dia tak keberatan, toh masih bisa video call . Tak sesusah dulu.


“Video call juga tak boleh. Iya, kan, Bund?” Lusi mendelik saat Amarendra langsung menatapnya jengkel.


“Ya jelas, dong. Berkirim foto juga tak boleh, nanti pas hari H biar sama-sama  pangling. Biar lebih gereget.” Bunda menambahkan dan Kani menahan senyumnya karena melihat Amarendra ingin protes tapi sikunya disenggol Lusi.


“Kakak benar-benar membuatku merasa tersesat,” bisik Amarendra dan Lusi membalas...


“Aku tahu isi pikiranmu, akan terus mencari cara agar bisa melihatnya.” Ekor matanya melirik Kani dan Amarendra mendesah!


Setelah makan, mereka semua pergi kecuali Lusi dan keluarga kecilnya. Kani duduk di tengah dengan Syamsir. Dari depan, Amarendra mencuri pandang padanya lewat kaca spion.


Sesampainya di Mall. Kani dengan Bunda bergandengan, dari belakang Amarendra memperhatikan sementara Syamsir menyapu sekeliling, matanya terkesiap melihat cewek-cewek bening.


Bunda memilihkan pakaian untuk dipakai di hari pertunangan. Bunda mau keduanya memakai pakaian dengan model dan warna selaras. Kebaya batik couple menjadi yang mereka pilih. Kani dan Amarendra mencobanya.


Syamsir memuji karena warna batik seperti itu cocok untuk Amarendra. Amarendra menoleh saat Kani keluar. Rambutnya terurai sedikit berantakan. Amarendra menatap dari atas sampai bawah. Wanita itu tak memakai riasan tebal tapi itu membuat wajahnya semakin bersinar setelah memakai kebaya dengan karet bagian pinggang serta panjang selutut. Rok batiknya senada dengan batik yang saat ini melekat pada tubuhnya.


“Ini bagus, sayang.” Bunda menyentuh pinggang Kani, tangannya memutar dan meraba perut rata itu, betapa ramping tubuh Kani sampai membuat anaknya harus dia tepuk pipinya agar sadar.


“Apa ini tidak terlalu pas, Bunda?”


“Kamu hanya terlalu sering memakai pakaian longgar jadi merasa aneh, tapi kalau dirasa sempit, kita naikkan ukurannya,” balas Bunda dan Kani menatap bayangannya di cermin.


Bunda beranjak untuk melihat-lihat, dan Syamsir entah ke mana. Dia bilang ingin jalan-jalan setelah diberi uang jajan oleh Amarendra.


“Maren, kamu...” Kani melotot saat pinggangnya dirangkul. Amarendra mengarahkan kamera belakangnya ke cermin.


“Senyum,” pinta Amarendra dan Kani tersenyum lebar.


Keduanya tertawa melihat foto tersebut. Kani menggeleng saat Amarendra meminta ponselnya agar dia mengirimkan foto. Mereka keluar masuk beberapa toko, Kani dan Syamsir saling pandang saat mendengar harga perhiasan juga dengan harga ponsel baru karena Amarendra melihat ponsel Kani sudah rusak. Syamsir juga ditawari tapi dia tak mau merepotkan, hanya makan, itu cukup baginya dan Amarendra mengajak semuanya pergi ke sebuah restoran, setelah lelah mereka pulang dan Kani dengan adiknya harus bersiap untuk kembali ke Bandung.


“Kani, aku minta maaf untuk ucapan Lusi. Dia berbicara kencang dan kasar bukan karena tak suka tapi memang kebiasaannya dari lahir begitu. Dia tak bisa berbicara lembut. Aku takut kau kesulitan menerima, itu tugas kecil untukmu agar bisa memahami kakakku. Kau terbiasa lembut dan dia kasar, aku takut ada perselisihan dan berharap setelah kau paham bagaimana wataknya, itu akan membuatmu bisa menerima. Beda lagi jika ucapannya merendahkanmu, jelas aku tak akan diam.” Dia berbicara sambil melirik-lirik, harus tetap fokus pada kemudi.


“Setelah aku bertemu dengannya, dia tak seburuk yang seperti aku dengar dari kalian dulu.” Kani tersenyum lebar dan Amarendra mengulurkan tangan.


“Kau yang terbaik, sayang.” Hendak mencubit pipi Kani tapi suara geraman dari belakang membuat tangannya dia lipat, beralih mengusap tengkuknya sendiri. Kani cengengesan dan Amarendra sampai lupa adanya makhluk lain di antara dia dan Kani.


“Syam selalu menjagaku jika ada yang berusaha mengganggu. Tapi dia selalu bersikap berlebihan.” Kani menoleh ke belakang dan Syamsir memejamkan matanya.


“Aku ditugaskan untuk mengawasi kalian berdua,” balas Syamsir dan keduanya tertawa. “Akan aku berikan dia padamu setelah dia kau nikahi, Bang. Aku sudah bosan menjaganya, dia cerewet.” Dia menyambung dan Kani hanya tersenyum.


“Aku tak sabar untuk menunggu itu, Syam.” Amarendra tersenyum dan mengedipkan matanya genit pada Kani. Wajah Kani merona dan menunduk malu-malu.


Setelah sampai di kediaman Kani. Amarendra langsung pamit, tak bisa menurut saat Pak Muji menahan. Dia jelaskan bahwa dia harus kembali karena banyak pekerjaan yang menanti. Pak Muji tersenyum dan menepuk bahunya sebelum dia masuk ke dalam mobil kemudian berlalu.


Keceriaan di wajah Kani membuat seisi rumah heran, Amarendra benar-benar penyembuh dan begitu juga Kani yang memancarkan kembali semangat dalam jiwa Amarendra. Pertunangan akan lekas dilaksanakan, semuanya tak sabar apalagi kedua sejoli itu.


******


“Maren, bagaimana?” tanya Kirana yang melihat Amarendra. Dia mendekat dengan penuh harap. Dia baru pulang dari London dan baru melihatnya di kantor sekarang.


Amarendra tersenyum kemudian berucap riang, “Kami akan segera menikah.”


Kirana tersenyum lebar dan mengucapkan selamat. Sekretaris di sebelahnya yang sedari awal kedatangan Amarendra menaruh rasa hanya mampu menelan lautan kekecewaan.