
Kani tak bisa menghilangkan apa yang dia lihat walaupun beberapa detik. Sampai malam begini dia memikirkannya. Alisnya dia urut sampai Syamsir yang sukarela memijat bahu dan kepalanya yang terasa berat.
“Kamu sakit?” Bu Ismi bertanya sambil duduk.
“Cuman pusing, Bu.” Kani tak menatap dan Ibunya melirik Pak Muji. Dia sudah berniat untuk menyampaikan kabar baik yang menjadi kabar buruk jika sampai pada Kani.
“Kani...” Gelagat Bu Ismi sudah disadari Kani apalagi jika bukan laki-laki dan pernikahan yang akan disinggung. “Yang ini beda. Sepupunya Yana yang bekerja dengan Ramlan, dia sering bertanya tentangmu dan Ibunya beberapa hari lalu menanyakan pada Ibu. Apakah kamu sudah memiliki calon, katanya. Ibu bilang belum dan laki-laki itu terus mendesak agar Ramlan memberikan nomor ponsel kamu tapi Ramlan tak akan berani kalau kamu tak memberi izin. Bagaimana?”
Kani hanya mengangkat bahu, tak pasti. “Bukannya sepupunya Yana yang itu bahkan jauh lebih muda dariku, Bu? Siapa namanya, Syam?” Kani menoleh ke belakang punggungnya.
“Namanya Bara.” Syamsir tercekat, dia sangat takut kena marah jika ikut-ikutan pembahasan ini dan berimbas pada uang jajannya dikurangi, lebih menyeramkan lagi jika sampai dilenyapkan.
“Yang benar saja, kami berbeda lima tahun.” Mata Kani membulat. Bisa-bisanya dia ditaksir berondong.
“Ah bukannya memang Teteh suka didekati banyak laki-laki dengan umurnya bervariasi. Ada yang muda, yang di atas sedikit, ada yang seumuran, ya biarin asal jangan laki orang!” Syamsir menyengir dan Kani melotot padanya. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sinyal menyeramkan itu menyala-nyala. Uang jajan, batinnya berbisik.
“Dia harus tahu bahwa aku pernah terlibat masalah yang takutnya menjadi bumerang atau dia nanti mempermasalahkan pendidikanku, juga aku yang sempat gagal menikah.” Kani takut kejadian yang dilakukan Kalingga terulang.
Pak Muji mendesah resah. Bu Ismi terdiam dan Syamsir jelas bungkam.
“Berikan saja nomorku jika dia mau.” Kani menggigit bibir. Sesak dengan ucapannya sendiri tapi mereka di sekelilingnya tersenyum lebar, itu sebuah tanda yang baik.
Paginya, Kani sudah mandi, susah memakai seragam kerjanya yang berwarna biru dengan list hitam. Nama tokonya terpampang jelas di seragamnya. Kani sedang menyiram tanaman di depan rumah. Rambutnya yang panjang terurai setengah basah bahkan belum dia sisir.
Dari jauh mata berbinar-binar memandangnya. Amarendra pagi-pagi buta sudah di kampung tersebut. Bibirnya terus tersenyum tapi lenyap seketika saat melihat seorang laki-laki yang mengendarai motor berhenti. Memandang Kani lekat dan Kani tak menolak.
Terdengar suara geraman kecil dari dadanya. Hawa panas di sana karena terbakar cemburu apalagi jika dia tahu berapa banyak lelaki yang mendekat selama bertahun-tahun dia meninggalkan Kani.
“Itu semalam aku.” Tersenyum lebar, laki-laki bernama Bara yang kini sudah turun dari motornya. Dia semalam mengirim Chat tapi tak dibalas. Menatap Kani yang terhalang pagar juga pot bunga yang berjajar. Sungguh indah pemandangan paginya ini.
“Nanti aku simpan.” Kani tersenyum lembut.
Amarendra terperanjat di tempatnya berdiri. “Apa-apaan kamu, Kani, senyum-senyum begitu padanya. Kurang ajar itu cowok, siapa juga dia pagi-pagi menyapa Kani begitu!” Mengoceh kesal dan rahangnya mengetat saat sadar laki-laki itu lumayan ganteng.
Bara mengulurkan tangannya, memberikan satu bungkus Nasi Kuning yang sudah dia niatkan memang untuk Kani. Bara pergi karena dia juga harus bersiap kerja.
Syamsir yang melihat datang menggoda dan Kani menjambak rambutnya sampai dia menjerit-jerit.
Sementara Amarendra, ia mendelik sinis.
Siang di Toko Ayas Tamales, tepatnya jam istirahat, Kani diam saat empat pegawai lain merapat.
“Ada pria yang mencarimu ke sini. Kamu terlibat masalah apa? Dia terlihat bukan orang sembarangan, Kani.”
Kani menelan saliva. Dia salah apa? Kenapa itu terdengar menyeramkan dan dia berusaha mengingat perkara apa yang dia buat, hanya ingat dengan pria yang kemarin berjalan seenak jidat hampir membuat adiknya yang sedang hamil besar jatuh. Apa itu? Aduh! Kani takut dia berbicara yang tidak-tidak pada Bos kemudian dia dipecat.
“Kani.” Pria yang mereka panggil Bos berseru. Kani meninggalkan mereka semua dan berjalan perlahan menghampiri. “Kau tak pernah bilang mengenalnya.” Dia menyentak kaki. Kani kaget dan sedikit mundur.
“Maafkan semua salahku karena selalu berlebihan memarahimu, jangan mengadu hal aneh-aneh. jika ada kebaikan sedikit dariku, ceritakan itu saja, aku takut dipecat. Aku memiliki empat anak dari dua istri, aku akan mereka usir jika tak punya kerjaan. Tolong, ya.” Dia berbicara dengan mengemis. Kani mengernyit bingung dan pundaknya ditepuk pelan dengan wajah Bosnya yang begitu pucat.
Kani memilih pamit untuk bekerja lagi. Apa pria yang dia cengkeram kuat bajunya memiliki andil besar sampai Bosnya ciut?
*****
Amarendra diam, menghela napas, pening karena mendengar rekaman suara Bunda yang memarahi habis-habisan setelah Bunda tahu dari Kirana bahwa dia pergi ke Bandung. Semakin lama rekaman suara itu dia dengar, ujung-ujungnya Bunda menangis memintanya kembali, segera!
Amarendra tak menyalahkan Kirana, Kirana juga heran saat menjawab Bunda tapi ternyata Bunda tak tahu tentang hal itu.
Sangkaan buruk Bunda diperparah dengan jawaban asal Amarendra malam itu pada Lusi, MENJEMPUT MANTAN jelas saja Bunda senewen mendengarnya.
“Kapan kamu mau menemuinya, Maren?” Abah yang baru datang bertanya sambil duduk menatap cucunya yang berdiri menatap gelap di sekitar. “Cepat temui dan nikahi. Kalian sudah sama-sama dewasa, jangan kayak anak kecil, mumpung Abah masih ada juga, kan? Ayolah menikah, mau seratus hantaran pernikahan atau mau hadiah apa dari Abah?”
Amarendra menoleh singkat.
“Aku butuh beberapa saat untuk menguatkan diri, untuk pertemuan setelah sekian lama. Aku gemetaran saat melihatnya dari jauh apalagi jika dekat. Lebih buruk jika dia masih seperti dulu, menghambur memeluk dan yang lain. Aku bisa semaput dan pingsan di hadapannya.” Dia menunduk dan membuang napas panjang.
“Bikin mumet, kebanyakan mikir.” Abah berdecak, mengejek dan pergi.
Besok paginya, Amarendra membeli sarapan, dia makan sendirian karena Abah sibuk di toko. Hari ini terminal seperti dulu, pasar tumpah akan mengisi Terminal pada hari Senin dan Jumat.
Amarendra tersedak saat melihat Kani dan satu pemuda di belakang yang menggandeng tangan anak laki-laki. Pria itu ingat Pak Muji pernah bilang istrinya sedang hamil lagi, apa itu adik Kani yang paling kecil? Dia tersenyum dan menatap Syamsir yang sudah dewasa, pangling, tingginya melebihi Kani. Ketiganya berhenti untuk sarapan Bubur Ayam. Amarendra melihat mata Kani terus melirik ke Toko Abahnya. Kani hendak mendongak melihat Balkon dan Amarendra lekas masuk.
“Aku selalu berharap bisa melihatmu di sana. Kapan pun itu walaupun kau tak melihatku,” gumam Kani.
Kani berusaha fokus dan mengusap rambutnya.
“Syam, nanti pulangnya naik ojek saja jangan berjalan kaki. Bawa belanjaan dengan hati-hati, khususnya telur, itu untuk acara tujuh bulanan Kenanga.” Kani berbicara dengan pelan dan Syamsir mengangguk.
“Di grosir lebih murah.” Kani memberikan uang satu lembar berwarna biru.
“Enggak, di sana juga murah. Sekalian beli es krim, Amung pasti mau.” Syamsir melirik Pamungkas dan anak itu mengangguk-angguk.
Kani tak peduli, dia juga harus pergi bekerja. Semua kebutuhan acara tujuh bulanan Kenanga sudah siap tapi yang mereka beli adalah lauk pokoknya juga beberapa keperluan lain yang lupa dibeli Kenanga.
Syamsir dan Pamungkas lanjut makan. Amarendra yang sudah keluar, keningnya mengerut melihat Kani sudah tak ada di antara mereka. Dia mendesah, terlalu banyak gaya memang, seharusnya tak perlu bersiap-siap dulu. Akan sangat gampang jika menemui Kani di antara adiknya. Dia tak akan terlalu gugup, tapi dia ceroboh sekarang.
“Heh, mau ke mana?” seru Abah, berhenti menekan kalkulator dan mereka yang sedang mengantre memandang Amarendra.
“Yang semalam Abah bilang?” sahut Amarendra dan Abah tersenyum.
“Ya sudah sana.” Abah mengibaskan tangannya dan Amarendra pergi.
Syamsir dan Pamungkas pergi ke minimarket. Pamungkas mendelikan matanya, membeli rokok hanya alasan setelah dia melihat mata Syamsir terus menatap seorang pegawai minimarket yang cantik itu. Sudah lama Syamsir memperhatikannya. Pamungkas yang bosan menarik bajunya tapi dia tak peduli.
Sesaat kemudian dia sadar Pamungkas tak ada. Mati dia, kena semprot Kaniraras yang selalu lebih galak ketimbang Ibu atau Bapaknya. Pamungkas sedang memilih mainan bersama seorang pria yang tak dikenal Syamsir. Keduanya akrab dan Syamsir takut adiknya diculik. Dia menarik kasar dan pria itu tak lain Amarendra langsung berdiri yang awalnya berjongkok.
“Jangan berbicara dengan orang asing, kamu ini...” Matanya memicing dan Pamungkas menunduk takut. Syamsir berusaha merebut apa yang sedang dipegang Pamungkas tapi ditahan. Pamungkas mau itu tapi dia tak membawa uang sementara pria tadi masih memperhatikan.
“Saya yang bayar, biar dia menyimpannya,” ucap Amarendra.
“Tak perlu!” Syamsir menyentak. Dia sama sekali tak mengenali Amarendra walaupun dulu di sekolah sering melihatnya sesekali. Siswa SMA yang digosipkan dekat dengan kakaknya.
“Dia kenal Bapak, A’.” Pamungkas mengadu dan itu yang membuatnya mau didekati.
“Dan kau percaya? Bodoh!” Syamsir murka dan mengusir Amarendra agar menjauh atau dia akan meneriakinya penculik anak. Amarendra menahan tangannya dan menyebut nama Pak Muji. Syamsir terkesiap dan berhenti.
Syamsir percaya tapi masih setengah hati.
Amarendra menarik Pamungkas, membiarkannya membeli apa pun yang dia inginkan. Sempat menawari Syamsir. Syamsir ogah-ogahan walaupun sebenarnya ingin.
Setelah keluar dari minimarket. Pamungkas menyeletuk untuk segera mengambil belanjaan.
“Masuklah, saya antar.” Amarendra sudah membuka pintu mobil. Syamsir membuka mulut untuk melontarkan penolakan. Dia semakin yakin pria itu penculik anak dan penculik pemuda sepertinya. Mungkin mereka akan dijual, pikirnya. Belum dia lakukan dengan mudahnya Pamungkas masuk. Anak mana yang tak mau naik mobil. Dia bahkan meloncat sedikit agar pantatnya merasakan betapa empuknya di dalam mobil tersebut.
Syamsir mendelik sebal dan masuk juga. Sepanjang perjalanan setelah mengambil belanjaan. Di dalam mobil hening sampai Amarendra berdeham untuk berbicara pada Syamsir di sebelahnya.
“Bagaimana kabar semuanya, terkhusus pak Muji?”
“Baik,” ketus Syamsir dan Amarendra menggeleng kepala. Jutek sekali calon adik iparnya itu, awas saja, geramnya.
Setelah mobil sampai, keduanya turun dan Amarendra masih di dalam.
“Ikutlah kalau kamu benar-benar teman bapak kami.” Syamsir mulai luluh, masih sedikit ketus.
“Lain kali, saya ada urusan, titip salam untuk bapak kalian.” Dia menutup kaca mobil dan berlalu pergi.
Syamsir bingung dan Pamungkas sudah berlari menuju ke rumah mereka.
Pak Muji sedang tidak ada saat keduanya pulang. Sampai malam harinya saat sedang makan bersama, Syamsir menceritakannya.
“Teman Bapak yang mana, ya? Teman Bapak soalnya banyak, dari mana-mana kalau ada proyek.” Pak Muji berpikir keras.
“Namanya Amar, Pak.” Syamsir menyuap suapan terakhir.
Pak Muji terbelalak dan memukul bahunya. Syamsir meringis sambil bangun.
“Beneran namanya Amar? Ya Allah, anak itu seperti apa sekarang, masih ingat saja sama Bapak. Lagi ngapain, ya, dia di daerah sini? Bapak jadi kepingin ketemu, seharusnya kalian ajak mampir.” Pak Muji begitu semangat dan senang mendengar anak itu ada kabarnya. Tapi, kenapa bisa dia tahu Syamsir dan Pamungkas anak-anaknya? Pak Muji menggaruk kepala.
“Dia sukses kayaknya, Pak. Mobilnya bagus, tampilannya ya begitu kayak orang berduit. Aku ajak mampir tapi dia bilang lain kali, mungkin lagi ada urusan saja dia ke daerah sini.” Syamsir mengelap tangannya yang basah dan Pak Muji mangut-mangut.
“Mobilnya bagus, Pak. Amung naik mobil sama dibelikan semuanya.” Pamungkas antusias.
“Dia sudah menikah belum ya sekarang?” Pak Muji tersenyum dan melihat Pamungkas sedang bermain-main dengan mainan barunya.
“Emang kenapa, Pak?” Syamsir menyahut.
“Dulu... Bapakmu ngebet mau mengenalkan si Amar itu sama Teteh kamu.” Bu Ismi melirik kecil suaminya yang tertawa lebar.
Kani yang sedari tadi diam hanya mendesis saat namanya dikait-kaitkan.
“Itu, kan dulu...dulu juga aku nggak mau, sekarang juga gak mau dan gak kenal. Mungkin dia sudah punya istri dan anak banyak.” Kani mendelik karena Pak Muji terus memandangnya penuh harap.
“Iya pasti dia sudah menikah.” Syamsir menambahkan dan senyuman Pak Muji lenyap.