Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
TRAKTIRAN


“Maren, aku lelah.”


“Cepat, kamu yang ingin naik sampai sejauh ini. Apa harus aku gendong juga?”


Kani terkekeh dan berlari, melompat ke punggung Amarendra. Laki-laki itu hampir terhuyung ke belakang karena tak siap menerima Kani.


“Gendong aku, sampai bawah sana.” Kani dengan enteng menyuruh, Amarendra menggigit jarinya dan Kani meringis. “Aku digendong dan kamu aku suapi.” Kani cengengesan, menempelkan dagu di bahu dan membuat pipi mereka menempel. Amarendra sudah tak merasa geli lagi dan dia menerima jemari itu memasukkan makanan ke mulutnya, Kani terus tersenyum dan tertawa. Mendadak langkah Amarendra melambat saat melihat Kalingga, Kani yang sibuk menatap wajah Amarendra pun mengangkat kepala dan melihat siapa yang ada di sana. Kalingga bersama seorang gadis, sedang dia genggam tangannya tapi dia lepas saat melihat Kani sampai wajah kekasihnya itu terlipat.


Kani ingin turun tapi Amarendra menahan serta menoleh. “Aku banting kamu ke bawah sana kalau mau turun,” ancamnya dan Kani manyun.


“Kani, kamu di sini, kenapa digendong begitu?” Kalingga hanya menatap wajah Kani dan Amarendra mendelik.


“Dia selalu begini, sangat manja padaku,” jawab Amarendra dan Kani diam. “Permisi.” Amarendra melewati mereka berdua dan Kani memperhatikan wajah kesal Amarendra.


Sesampainya di tempat parkir, Amarendra memakaikan helm dan melirik Kalingga dengan pacarnya. Kani juga menoleh dan gadis itu tersenyum padanya, dia balas walaupun gugup.


“Mau ke mana lagi? Bagaimana kalau kita makan bersama, aku yang bayar.” Kalingga menatap Kani dan Amarendra menarik gadis itu. Sudah membuka mulut untuk menolak tapi Kani mengangguk, setuju!


Mereka berempat pergi ke sebuah tempat makan, Amarendra tak nyaman dan melirik Kani di sebelahnya. Kalingga yang memesankan makanan, Amarendra malas sekali jika harus dia tawari dan Kani bingung mau memilih yang mana.


“Kalian pasangan yang serasi.” Gadis bernama Hilmi itu tersenyum dan Kani terkekeh-kekeh melirik Amarendra, dia bergidik geli, bisa-bisanya dikira pacaran dengan temannya sendiri.


Hilmi terus mengajak Kani bicara, Kani menimpali dengan baik dan Amarendra memangku dagu memperhatikan bagaimana Kani tersenyum, tertawa, tapi tetap saja sembarangan memukulnya. Sementara Kalingga, dia tak suka melihat Kani dengan Amarendra sampai jalan bersama seperti ini. Sangat ingin dia adukan tapi takut Kani yang kena sasaran.


Mereka makan bersama sesekali bicara, Hilmi memperhatikan Kani yang menghabiskan makanannya sampai licin, dia menggeleng sambil tersenyum sedikit mengejek, hal tersebut disadari Amarendra dan ia tak suka


“Habiskan itu, Hilmi.” Kalingga menatap kekasihnya yang selalu saja menyisakan makanan. Kani dan Amarendra  saling melirik mendengar suara tegas Kalingga.


“Aku kenyang, Mas.” Hilmi tersenyum lebar. Kalingga tampak kecewa. Meraih minumannya agak kasar.


“Aku beruntung karena ketika aku mengajaknya makan, dia selalu bisa menghargai makanan. Menikmati makanan sampai habis bukan tandanya rakus, bukan hanya menghargai makanan tapi menghargai mereka yang mengeluarkan uang untuk membayarnya. Dia bukan hanya cantik tapi pikirannya juga luas,” ujar Amarendra kemudian tersenyum ke arah Kani. Kani yang sedang minum bingung, apa itu hal aneh?


Kalingga menunduk dan Hilmi merasa malu dengan sindiran Amarendra.


“Aku masih haus, Maren.” Kani berbisik. Maren memberikan minumannya yang sisa setengah, sedari tadi dia diamkan karena tahu gadisnya selalu butuh minum lebih. Kani tersenyum, menghabiskannya kemudian mengusap bibirnya yang basah. Kani terus menatap wajah masam Amarendra dan mata tajamnya mengarah pada Hilmi berkali-kali sampai dia harus mencubitnya agar berhenti tapi kemudian, Amarendra mengajaknya pulang.


“Kani, apa nomormu diganti?” Kalingga yang mengekor bersama kekasihnya bertanya.


“Iya, Mas,” jawab Kani dan Amarendra yang sedang memakaikan helm menarik dagunya. Tak suka gadis itu memandang lelaki lain.


“Mana nomormu.” Kalingga sudah mengeluarkan ponsel dan Amarendra mendesis. Kani menatap Amarendra, ragu untuk dia berikan.


“Cuman dia yang bisa kasih izin, Mas,” balas Kani dan melanjutkan, “Boleh aku kasih atau nggak?” Kani menatap Amarendra dan Amarendra tersenyum.


“Tak aku izinkan, sekali lagi terima kasih untuk makanannya.” Amarendra menarik tangan Kani dan membawanya pergi. Kalingga terbelalak dan Hilmi menatapnya.


Sementara Kani dan Amarendra, keduanya sudah jauh, Kani terus menatap wajah Amarendra dari kaca spion.


“Itu nomor ponselmu, bukan? Kenapa harus ada izin dariku untuk kamu berikan pada si Om?”


Kani terkekeh-kekeh pelan.


“Aku merasa lebih nyaman memiliki kontak sedikit. Hanya membalas pesan darimu seriap waktu.”


“Lalu, apa kamu nggak sakit melihat dia dengan kekasihnya itu?”


Amarendra melihat Kani tersenyum lebar, mengeratkan pelukan, menggesekkan pipi di bahunya.


“Aku sadar diri tak pantas untuknya, Maren. Aku tahu betul keluarganya yang memiliki standar tinggi untuk kekasih anak mereka apalagi untuk menjadi menantu, aku tak mau mengharapkan keduanya.” Kani begitu terdengar benar-benar rela karena keadaannya.


Amarendra tersenyum manis.


“Menjadi menantu bundaku saja, ya?” Dia terkekeh dan pinggangnya dicubit.


“Sejak kapan kamu punya saudara laki-laki? Berusaha menjodohkannya denganku? Dia lebih ganteng dari kamu atau sebaliknya?”


Amarendra mendesah kasar, bisa-bisanya, ya jelas untuknya...apa dia sama sekali tak layak dijadikan pendamping hidup? Ia kesal. Sabar, Kani memang begitu, pikiran baiknya terus mendukung agar ia tak pantang menyerah. Lagi pula keduanya masih sama-sama belia untuk menyinggung tentang pernikahan dan juga hal yang paling realistis adalah Amarendra sedang berkaca apa dia benar-benar layak untuk mendapatkan rembulan yang sedang dia bonceng ini?


Sampai di tepi jalan biasa, Kani turun dan Amarendra mendambakan suatu saat nanti akan bisa mengantar gadisnya pulang sampai masuk ke dalam rumah, bukan di tepi jalan begini, masih jauh pula, dia merasa kurang nyaman.


“Terima kasih untuk semuanya, ini pertemuan kita yang terakhir...” Kani menghentikan kalimatnya saat bibirnya dibekap laki-laki itu.


“Aku tak mau mendengar, kita akan selalu bertemu,” lirih Amarendra dan menjauhkan tangannya. Kani tersenyum dan mengangguk. Amarendra perlahan meraih tangan Kani, mengelus punggungnya dengan ibu jari. “Tolong, jangan berhenti memberiku kabar atau berhenti membalas pesanku.”


Kani menggeleng kemudian membalas, “Aku yang akan lebih dulu menyapa kalau kamu tak sempat melakukannya lebih dulu.”


Amarendra tersenyum dan menyusuri lekuk wajah jelita itu dengan kedua matanya. “Kani, satu mimpimu gugur tapi mimpi dan keinginanmu yang lain masih bisa kamu kejar. Jangan merasa semuanya sudah berakhir hanya karena kamu putus sampai di sini, kamu tahu? Kamu bisa saja membangkang dan tetap bersekolah, tapi kamu menerima kenyataan ini dengan berlapang dada. Aku tak mau melihat wajah Kani yang sembab lagi, atau matanya yang basah, atau isak tangisnya yang selalu membangunkanku di tengah malam. Kehidupanmu masih panjang, yang di jembatan waktu itu, tolong jangan sampai terulang.” Amarendra menatap sendu, suaranya sumbang dan matanya berkaca-kaca, dia akan jauh dengan Kani, dia sangat ingin memeluknya jika boleh. Dua puluh detik saja jika gadis itu berkenan.


“Aku janji, tak akan mengulangi kebodohanku seperti kemarin. Aku punya keluarga, punya teman terbaik sepertimu, aku menyesal karena sempat berniat mengakhiri hidup.” Kani membalas genggaman tangan Amarendra dan Amarendra terasa berat untuk melepaskannya.


“Kalau ada laki-laki yang mendekat, jangan diladeni. Jaga dirimu, di kota sangat berbeda dengan di kampung.” Ia sangat takut dan Kani mengangguk lalu mendekat. Amarendra refleks melepas genggaman tangannya. Bibir Kani menempel di keningnya kemudian disusul suara kecupan kecil dan Kani melepaskannya.


Kani melambaikan tangan dan berjalan mundur. Berteriak berulang kali “Jangan lupakan aku meskipun kamu bertemu dengan gadis yang lebih cantik nanti.” Kani tersenyum dan Amarendra berdiri, tubuhnya membeku, mendesir, sangat ingin mengejar dan membalas kecupan dari bibir mungil itu.


Kani terus melambai, menatap kepergian Kani lalu menyentuh keningnya.


“Tak akan aku cuci!” katanya lagi dan lagi kemudian melirik Kani yang sudah berbelok memasuki gang rumahnya.