
“Bukannya Bunda di Jakarta? Aku kira pulang ke rumah Abah.”
“Bunda sudah lama berhenti kerja, jadi pulang ke rumah yang ditinggalkan kakek, nenek. Aku sudah berencana ke Malang tapi Bunda tak mengizinkan, libur kerjaku cuman sebentar.” Dia terlihat sedih dan Kani bergeser mendekat.
“Kasihan Bunda sendirian di sana, kalau kamu mau ke Malang, aku ikut, mau ketemu Bunda.”
“Dih, jauh tahu.”
“Ya biarin, aku mau menabung buat ongkosnya.”
“Itu Bundaku.”
“Bundaku juga!” Kani mengotot dan Amarendra menoleh sinis. Senyuman Kani memudar karena Amarendra diam saja menatapnya. “Apa? Jangan menatapku begitu, aku takut.”
“Apa aku terlihat seperti akan memakanmu?” Amarendra tersenyum lalu meraih tangan Kani. “Dengar ini, serius.”
Kani mangut-mangut, siap mendengarkan. Amarendra terus memandang dan berusaha menguatkan tekad untuk berbicara sekarang juga.
“Aku... menyayangimu,” cetusnya lembut dan Kani tersenyum.
“Aku juga,” balas Kani biasa saja.
“Bukan rasa sayang yang seperti kamu maksud, ini berbeda, spesial!” Amarendra berusaha memberi paham dan Kani mengernyit. “Begini...” Amarendra menghadap pada Kani dan memegang kedua tangan gadis itu.
“Ada sesuatu yang sakit dalam tubuhku saat melihatmu dengan laki-laki lain, apa saat kamu melihatku dengan gadis lain ada bagian tubuhmu yang berdenyut tak terima?” ujarnya pelan, berharap Kani paham.
“Memangnya kamu dekat dengan siapa?” Kani melepaskan tangannya dan Amarendra terbelalak. “Di tempat kerjamu? Bagaimana rupanya?” Kani mengaduk minumannya dan Amarendra membuang napas kesal.
“Sudah, lupakan.” Amarendra tak mau melanjutkan, terlanjur emosi dan Kani menatapnya dengan senyuman tipis terselip di bibirnya.
Selang beberapa saat, Amarendra mengeluh lapar dan keduanya melangkah pergi. Keduanya mampir untuk makan Mie Ayam, Kani maunya itu. Amarendra menurut asal dia senang walaupun sempat membuatnya kesal.
Wajah Kani tertekuk saat di perjalanan menuju pulang Amarendra mengatakan bahwa besok, dia akan kembali ke Jakarta. Sadar perubahan wajah gadis kesayangannya, membuat Amarendra cemas. Kani membuang muka dan Amarendra menepikan motornya. Kani diam dan Amarendra menoleh ke belakang.
“Kenapa?” Amarendra bertanya pelan.
“Apa bisa sehari lagi?” Kani menatap sayu dan Amarendra dengan setengah hati menggeleng.
“Aku juga ingin setiap hari bersamamu, aku harus kerja, kita bertemu lagi nanti. Aku janji.” Amarendra akhirnya turun karena Kani hanya diam saja. Amarendra menatapnya dan seperti sedang menerawang, mengapa Kani begitu sedih dia akan pergi tapi gadis itu tak kunjung sadar dengan perasaan spesial yang dia miliki. Entah Kani pura-pura tak sadar karena memang tak mau atau dia kenapa, Amarendra bingung memikirkan ini. “Kani.” Dia menjawil tangan gadis itu dan Kani mengangkat wajahnya.
“Jangan memasang wajah begitu, aku bisa ke pikiran. Kemari.” Amarendra merentangkan kedua tangannya dan Kani turun, masuk ke dalam pelukannya. “Kamu bahkan sudi untuk aku peluk, lalu kenapa tak bisa membalas perasaanku?” gumamnya dalam hati.
Kani tersentak saat pelukannya dilepas cukup kasar tapi Amarendra tetap tersenyum padanya.
“Sudah, cukup.” Amarendra menghindari tatapan Kani dan lekas duduk. Memakai helmnya kembali. “Ayo,” ajak dan Kani naik tapi tak mau memakai helmnya. Amarendra menunduk, melihat tangan Kani bertaut di perutnya.
“Apa kamu semakin rajin berolahraga?” tanya Kani yang merasakan perut itu semakin keras.
“Jangan melecehkanku,” tandasnya membalas dan Kani menggigit bahunya tapi dia usap, usap lagi penuh kelembutan.
Sampai di tepi jalan biasanya, Kani turun dan Amarendra merogoh sakunya, ponsel Kani dititipkan padanya, tak sengaja dia menekan dan membuat layar ponsel itu menyala. Mereka sempat mengambil foto bersama di tempat tadi, foto itu langsung dijadikan Wallpaper oleh Kani di ponselnya.
Amarendra mengangguk dan menjawil dagu Kani sampai gadis itu meringis. Suasana hati Amarendra berubah setelah melihat ponsel Kani, yang penting dia satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Kani sampai foto mereka dijadikan wallpaper segala. Untuk persoalan perasaan, dia akan menunggu sampai gadis itu benar-benar sukarela mengiyakan jika memiliki perasaan yang sama bukan karena terpaksa.
“Pergi sana,” titah Amarendra sambil tertawa.
“Aku ingin menatap kepergianmu.” Kani menawar dan Amarendra menggeleng, tak mau. Kani mendesah pasrah kemudian berjalan mundur. Keduanya saling memandang dan Amarendra melupakan sesuatu sampai dia mengejar dan Kani bingung, apa ada yang tertinggal? Kani tersenyum dan menerima kantong plastik yang dia lupakan. Tapi Amarendra kemudian memegang tangannya dan mengeluarkan sesuatu.
“Jangan sampai hilang karena kita tak tahu kapan bisa bertemu lagi. Aku memegang gelang bertuliskan namamu dan di sini terukir namaku,” ujarnya sambil memasangkan gelang karet berwarna hitam, dia memasangkannya terbalik karena tak mungkin namanya bisa dilihat siapa pun di tangan Kani. “Ini tak mahal tapi tidak terlihat murahan juga.” Amarendra masih memegang tangan Kani, lekas dia lepaskan karena kulitnya begitu terlihat sangat gelap di atas kulit Kani yang begitu bersih.
“Ini bagus, bukannya gelang nama seperti ini untuk pasangan kekasih?” Kani mendongak dan Amarendra menggeleng.
“Enggak juga, teman juga bisa,” bantahnya kemudian menjauh dan Kani tersenyum. Keduanya berpisah dan sama-sama melangkah pergi.
******
Kani terus memandangi gelang yang dia terima, bertuliskan nama Amarendra, bibirnya tersenyum lebar kemudian dia berusaha memejamkan mata. Hari ini adalah hari yang begitu menyenangkan walaupun menyedihkan saat kembali harus berpisah dengan Amarendra.
Besok paginya, dia dapat kabar dari Amarendra bahwa laki-laki itu sudah berangkat. Semoga selamat sampai tujuan, batin Kani.
“Kemarin Mas lingga ke sini mencari kamu,” ucap Bu Ismi dan Kani yang sedang sarapan menoleh sekilas.
“Ada urusan apa?” sahut Kani dan Pak Muji menatapnya.
“Waktu kamu berangkat ke Bandung kota juga dia datang, kaget karena tahu kamu nggak lanjut sekolah.” Bu Ismi berbicara sambil menyuap makanannya.
“Apa ada masalah, Kani?” Pak Muji cemas dan Kani menggeleng.
“Aku nggak tahu, Pak.”
“Jangan-jangan Mas Lingga suka sama Teh Kani, mau melamar.” Dahlia menyerobot dan Kani menatapnya kesal.
“Enggak, ya. Nggak mungkin, kalaupun iya, aku nggak mau menikah di usia yang masih kecil.” Kani bergidik ngeri, membayangkannya saja dia tak mau.
“Jangan sok menolak, entar jodoh.” Dahlia mencebik bibir dan Kani tidak peduli, melanjutkan sarapannya sampai selesai dan kemudian membantu Ibunya.
Di Jakarta, Amarendra bekerja seperti biasa, berangkat dan pulang terisi dengan Kani. Tidak menelepon karena Kani sedang di rumah, itu tak mungkin jadi hanya mengirimkan pesan.
Hari ini adalah hari yang teramat sial untuk Amarendra, dia ketahuan oleh Lusi, Raihan yang tahu hanya bungkam dan Yana terus bertanya juga pegawai yang lain saat melihat Amarendra diseret seorang wanita keluar dari restoran. Manajer restoran sampai bingung dan Raihan takut Amarendra dipecat. Mereka pegawai lama mengenal siapa wanita itu, salah satu pegawai yang memiliki jabatan penting di kantor megah di seberang sana.
“Kamu bekerja di sini, bukannya sudah Kakak bilang untuk memikirkan tentang kuliah?” Lusi membentak. “Apa Bunda tahu kamu begini, hah?”
“Bunda tahu karena aku melakukannya untuk Bunda, kalau aku tak bekerja, siapa yang membiayai kehidupan kami? Apa aku harus bergantung pada Abah setiap saat? Padamu dan suamimu yang selalu perhitungan, Kak?” tandasnya membalas dan Lusi menyeka rambutnya.
“Kakak mau kamu berhenti, Om Sutan bahkan sudah mau menjamin kuliahmu asal kamu menurut,” ucapnya melembut dan Amarendra menggeleng.
“Untuk pendamping hidup, aku bisa memutuskan sendiri, bukannya Kakak juga tak mau diatur untuk hal yang satu itu? Om Sutan mau membiayai kuliahku asal aku mau menikah dengan anaknya, apa-apaan! Aku tak mau! Aku punya pilihan sendiri.”
Satu tamparan melayang di pipinya dan Raihan menunduk. Lusi yang kesal akhirnya pergi dan Amarendra memungut topi kerjanya yang jatuh. Rahangnya mengeras dan dia masuk kembali, langsung dipanggil Manajer, beruntung ini bukan masalah menyangkut restoran, tapi masalah pribadi. Amarendra bungkam saat Manajer tersebut menanyakan apakah dia adalah anak laki-lakinya Jaka. Menegang hebat saat nama ayahnya disebut dan Amarendra enggan menjelaskan lebih banyak. Manajer tak peduli dan sudah bisa menebak itu dari ketegangan di wajah Amarendra.