Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MELANGKAHI


Kani pergi setelah Ibunya mengizinkan, gadis itu menemui Abah tapi Abah bungkam. Kani menelepon Bunda Sri nomornya tak bisa dihubungi apalagi nomor telepon Amarendra. Kani sampai menelepon Wisnu, Wisnu tak tahu, terakhir bertemu saat mereka pergi ke Malang. Kani meminta bantuannya untuk melihat di rumah Lusi dan Amarendra dengan Bunda juga tak ada di sana.


Kani hanya bisa menatap sambil menunggu Raihan pulang untuk bertanya padanya karena Raihan sulit dihubungi alias menghindari Kani.


“Amarendra, aku mencarimu.” Kani menangis dan mengelus cincin yang melingkar itu.


“Cincin ini berharga setelah kamu memakainya. Ini pengikat antara aku dan kamu.”


Pujian itu terngiang dan membuat air mata Kani semakin luruh.


Raihan yang melihat Kani di depan rumahnya langsung berbalik pergi, entah dari mana anak itu tahu dia pulang hari ini. Kani mengejarnya dan Raihan menepis tangannya kasar.


“Kamu mau apa, Kani?” Dia berteriak keras dan Kani terisak.


“Aku mencarinya ke mana-mana, menanyakannya pada siapa pun, dia menghilang, Rai.” Kani terus menatap dan Raihan mendesis.


“Dia sengaja menghilangkan diri dari kehidupanmu yang memalukan itu!” tandas Raihan dan Kani terguncang mendengarnya. “Setelah pernikahanmu gagal, kamu membutuhkannya lagi? Aku malah bersyukur dia pergi, aku tak mau lagi sahabatku membuang-buang waktu mengurusmu yang selalu merepotkan.”


“Rai, kau menyakitiku,” lirih Kani dan Raihan tertawa puas.


“Sakit? Lantas bagaimana dengan kesakitan yang dia genggam hanya untuk bersamamu walaupun kau sering menyebalkan, bersikap tol*l, membuat bingung, berbohong lagi dan lagi, dan kebohonganmu yang terakhir itu yang paling menyakitkan baginya. Kau bahkan tak pantas untuk bertemu dengan Amarendra lagi, biarkan dia menentukan hidupnya dan tak perlu selalu mengurusmu. Kau sudah besar, bukan gadis yang gegabah seperti dulu lagi, jangan kebiasaan merepotkan orang lain. Dia bukan hanya meninggalkanmu tapi kami semua yang akan selalu membuatnya ingat padamu.


“Jika dia kembali hanya untuk dirimu, dia benar-benar bodoh! Masih banyak gadis lain di luar sana yang layak diperjuangkan dan lebih pantas baginya. Kau hancur karena sikapmu sendiri, kau ditinggalkan karena terlalu sombong, kau merasa Amarendra sangat mencintaimu dan melakukan segala cara agar membuatmu bahagia padahal kau yang tak bisa hidup tanpa dia, dia bahkan dipecat dari restoran karena terus bolak-balik mengunjungimu dan juga kena marah kakaknya. Kau tahu dia bekerja apa untuk membelikanmu cincin ini?” Dia menarik tangan Kani, melihat cincin itu masih dipakai dan membuatnya semakin jengkel.


Kani berusaha melepaskan tangannya karena cengkeraman Raihan sangat menyakitkan.


“Dia bekerja menjadi kuli bangunan hanya untuk gadis bodoh sepertimu, dia bahkan berniat untuk bekerja di luar negeri agar bisa segera menikahimu, bahkan dia memikirkan pendidikanmu rela akan bekerja jauh tapi saat dia mengatakannya padaku, kami melihatmu dengan Kalingga, aku hampir kehilangan akal hanya untuk membujuknya menahan diri...dan kau, bohong, lebih memilih Kalingga hanya karena dia sudah mapan tapi lihatlah apa yang terjadi...” Raihan sengaja menggantung kalimatnya, ia menyeringai mengejek dan meneruskan...


“Dia membuangmu! Laki-laki yang bisa sabar menghadapimu dan menerimamu hanya sahabatku tapi kau bodoh karena menyia-nyiakannya.” Dia hempas tangan gadis itu sampai Kani terhuyung mundur dan Raihan pergi menuju ke rumahnya.


Entah kejujurannya akan membuat Kani sadar atau tidak, masa bodo, dia tak peduli.


Kani menangis sejadi-jadinya, menampar dirinya sendiri dan terus memanggil nama pria itu, dia ditinggalkan, Amarendra tak mau lagi melihatnya, bahkan yang paling menyakitkan adalah pria itu benar-benar pergi TANPA PAMIT.


Meratap dan bersedih, mengurung diri dan berharap Amarendra kembali, tak akan dia membuat repot Amarendra. Dia hanya ingin meminta maaf kepada pria itu atas semua kesalahannya.


Berminggu-minggu, Amarendra benar-benar tak ada kabar berita, pria itu pergi membawa serta kenangannya dan kepergiannya membuat luka teramat dalam di hati Kani. Gadis itu tak bisa melakukan apa-apa sekarang, menunggu pun entah berguna atau tidak. Di mana pria itu sekarang? Apa dia baik-baik saja? Suaranya yang berat dan sentuhannya yang lembut, Kani merindukan segala hal tentangnya.


“Kamu mau ke mana?” Dahlia menghadang jalan Kani yang sudah rapi sambil membawa tas selempang. Rambut pendeknya diikat sekenanya. Warna wajah Kakaknya lenyap dan hanya kesengsaraan yang dia tangkap.


“Aku tak memiliki pilihan selain mencari pekerjaan, aku tak bisa kembali kepada Bu Shahnaz dan pak Satya karena mereka sudah menemukan pengganti.” Dia melewati Dahlia dan menarik sepatunya. Bu Ismi di dalam kamar dengan perut yang semakin membesar hanya bisa menangis pilu.


Kani mendapatkan pekerjaan di pabrik kerupuk, panas, berkeringat, dia selalu ingin menangis ketika sedang bekerja. Sampai akhirnya adiknya lahir dan sudah menunggunya. Kani terdiam menatap wajah bayi laki-laki itu kemudian dia memanggilnya Pamungkas artinya penutup, dia berharap nama bisa menjadi sebuah doa dan tak lama setelah itu, dia mendengar kabar duka.


“Temui dia, Kani. Sudah sakit parah, hanya ingin melihatmu dan meminta maaf.” Pak Muji menatap, membujuk Kani berulang kali untuk menemui Pak Ganda yang sekarang sakit keras setelah berhadapan dengan guncangan hebat dalam kehidupannya. Setahun lalu anaknya yang paling besar, perempuan, bekerja di kota tahu-tahu pulang dengan perut sudah besar. Bukan malu lagi yang Pak Ganda rasa, tapi membatin dan sekarang anak bungsunya Rere yang melakukan hal sama, menumpahkan kotoran di wajahnya, aib pada keluarga dan seluruh kampung.


“Kani bukan orang penting sampai mereka mau bertemu dengan Kani.” Mendelik tajam, dia berlalu tapi Ibunya menahan.


“Kalau Uwa kamu nggak ada umur, kamu bisa apa kalau sudah begitu?” ujar Bu Ismi dan Kani memalingkan matanya. Dia merasa belum sanggup bertemu mereka. Kebetulan berjumpa juga dia memilih menghindar. “Ibu antar.” Meraih tangan Kani lembut dan Pak Muji melihat jelas Kani terpaksa.


Sesampainya di rumah itu, Kani terdiam melihat tubuh kurus lemah berbaring di atas kasur lantai, mata cekung menatap ke arahnya penuh harap agar dia mendekat.


“Kani.” Istrinya Pak Ganda menarik tangan Kani pelan dan Kani bergeser mendekat.


“Uwa takut nggak ada umur, maafkan Uwa, maaf untuk semua yang Uwa dan sekeluarga lakukan sama kamu. Maafkan Rere.” Suaranya nyaris tak bisa Kani dengar sampai gadis itu mencondongkan badannya dan merasakan air matanya memupuk buliran bening. Hatinya yang di awal begitu keras kini melunak. Ungkapan maaf dan penuh penyesalan itu terus terdengar sampai berhenti setelah dia mengangguk memaafkan, memegang tangan tak bertenaga itu dan berharap kesembuhan untuk pria renta yang terus menatapnya dengan mata yang basah, napasnya tersengal-sengal.


Kani menanyakan apa penyakit yang mendera Pak Ganda, istrinya Pak Ganda yang menjelaskan, bahkan mereka tak mendapatkan pinjaman dari siapa pun karena sebelumnya memang sudah punya juga dan tak mampu membayar. Kening Kani mengerut, selama ini Uwanya bekerja pontang-panting hasilnya ke mana? Bukannya menjadi penjahit di untuk Butik bergaji? Hidup banyak gaya tapi tak sesuai dengan kemampuan yang ada, penghasilan tak mendukung akan tetap habis juga. Tak memikirkan ke depan, tabungan, dan yang lainnya sampai Kani akhirnya meminta izin pada Ibunya untuk memberikan pinjaman. Ibunya memasrahkan niatnya, itu terserah anaknya mau membantu atau tidak.


“Kani akan datang lagi nanti sore.” Kani menunduk, mereka berdua sama-sama menangis, semakin merasa bersalah kemudian Kani dengan Ibunya pulang.


“Apa kita melakukan kesalahan, Bu?” ujar Kani dan Bu Ismi mengusap keningnya yang berpeluh. Keduanya terus berjalan menuju pulang.


“Ibu merasa salah, menyumpahi mereka saat itu.” Bu Ismi dengan suara serak menimpali dan Kani menyeka pelupuk matanya. Kenapa bisa semua berbalik kepada keluarga itu? Dia memang menyumpahinya, tapi tidak begini juga, dia tak tega dan tahu rasanya dimaki banyak orang, digunjingkan karena fitnah dan sekarang...Kani mengurut dadanya, menggigit bibir, menyesal sudah mengatakan hal-hal gila. Dia manusia kotor yang tak mungkin doanya dikabulkan tapi Tuhan adalah pemilik alam semesta beserta isinya, semua akan berbalik kepada diri sendiri, itu kenapa manusia diwajibkan untuk terus menebarkan kebaikan walaupun sudah disakiti berkali-kali. Hukuman dari Tuhan sering diabaikan padahal itu jelas akan datang hanya waktu yang akan menentukan, kapan, dan akan seperti apa.


***


Setelah Dahlia lulus SMA, dia mendapatkan pekerjaan lebih baik, perekonomian keluarga sangat terbantu. Di tempat kerjanya yaitu minimarket, Dahlia bertemu dengan tambatan hatinya namun niatnya untuk menikah harus diundur terus karena tak mungkin dia melangkahi Kani. Kani tak kunjung memperlihatkan gerak-gerik dia ingin menjalin hubungan kembali, dia trauma dan malas meladeni para pria yang mendekat. Dahlia mulai cemas karena kekasihnya Bashir sudah siap menikah bahkan sering ke rumah. Pak Muji dan istrinya ikut bingung, semuanya canggung sampai Kani menyadarinya dan Dahlia memutuskan untuk perlahan menyampaikan.


Kani sedang santai dan Dahlia merasa ini waktu yang tepat. Dahlia ragu-ragu dan melirik Kenanga yang melirik Kani dengan ekor matanya. Memberi kode agar dia lekas berbicara.


“Ada apa, Dahlia? Kau terus berdiri menatapku.” Tanpa menoleh, Kani berbicara, dia sedang menyuapi Pamungkas di atas sofa.


“Aku...anu.” Dia kaget saat Kani menoleh dan membuatnya tak melanjutkan.


“Apa?” tanya Kani dan kembali menyuapi adik kecilnya.


“Aku mau menikah, Bashir dan keluarganya sudah terus bertanya.” Dahlia menunduk, bahunya lemas saat Kani bangkit dan mendekat. Kani memangku dagu adiknya itu, memandangnya tak percaya bahwa Dahlia sudah sebesar ini. “Teh...” Dahlia sudah akan menangis.


“Menikahlah.” Kani tersenyum. “Kamu sudah besar, hubunganmu dengan Bashir juga sudah berlangsung lama, dia baik. Aku senang mendengarnya dan jangan memikirkan takut melangkahiku.” Dia menyambung dan Dahlia memeluknya, menangis di dadanya hebat. Kani membalas dan melirik Pamungkas turun kemudian berlari memeluk kakinya.


Kenanga tersenyum, menyeka sudut matanya yang basah. Pernikahan Dahlia pun mulai dirundingkan tapi Pak Muji yang trauma tak banyak bicara. Dahlia menunduk sedih dan Kani menggenggam tangannya, janji dia yang akan mengurus segalanya.