
Seperti biasa, mereka akan berpisah di Terminal Rambutan. Tapi saat ini malah saling menatap lekat. Amarendra tersenyum, meminta gadis itu lekas pergi.
“Kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Kani lirih dan Amarendra menggeleng. “Apa masih ada niat untuk bertemu denganku?” Matanya tertunduk dalam.
“Aku selalu menanti, seterusnya juga akan begitu. Sudah sana, jangan sampai aku berubah pikiran dan membawamu kabur.” Belum ada kepastian tapi sinyal itu terus dia dapat, mudah sekali Kani mempermainkan perasaannya yang mudah retak. Amarendra melangkah maju kemudian mengelus pucuk kepala Kani, berayun turun menyibak rambut gadis itu dan dia menyentuh anting di telinga kiri. “Bunda bilang ingin bertemu denganmu, dia terus mengatakan cantik apalagi jika dia melihatmu langsung setelah sekian lama.” Amarendra tersenyum dan mencubit dagu menggemaskan itu.
“Wajahku sama seperti di foto kita yang kamu berikan pada Bunda.”
Amarendra menggeleng dan mengelus pipi gadis itu. “Aslinya jauh lebih cantik,” pujinya dan Kani tersipu-sipu malu.
Kani lekas pergi sebelum Amarendra menyadari pipinya memerah. Amarendra tersenyum dan melambai. Dia menunggu Kani masuk ke dalam angkot kemudian setelah jauh, wajahnya mendung lagi.
***
Pujian dari Amarendra terus terngiang-ngiang di telinga gadis itu, Kani tak sabar untuk nanti saat mereka berjumpa lagi dan setelah seminggu di Yayasan, Kani mendapatkan pekerjaan masih di daerah Bekasi. Namun sayang hanya bertahan sebulan karena penyakit lambungnya terus kambuh, dia dipulangkan malam-malam. Kani tak mau menceritakan apa pun pada Amarendra walaupun Amarendra tak enak hati, tak tenang, terus terbayang seolah bisa merasakan gadis yang dia cinta sedang kesusahan dan membutuhkannya. Setelah dua Minggu Kani sembuh, dia bekerja masih di daerah Bekasi lagi. Cukup lama dia bertahan di sana dan harus berhenti saat keluarga tersebut akan pindah ke luar kota, dia dituntut untuk ikut, jelas tak mau dan akhirnya Kani pulang.
Kani dan Amarendra bertemu ketika Kani ke yayasan setelah dua Minggu pulang kampung. Di saat ini Amarendra meminta Kani untuk diam di rumah dan tak bekerja lagi, keduanya berdebat, dan Kani tetap mengeyel dan tahun ini mereka sering bertemu di Bekasi karena Kani selalu bergonta-ganti majikan. Tahun berganti, Kani mulai malas terlibat lagi dengan yayasan sampai dia menerima pekerjaan namun tidak lewat yayasan. Dia ditawari menggantikan temannya yang akan menikah. Di Bandung dan Amarendra tak bisa melarang lagi dan lega setelah Kani lepas dari yayasan itu ditambah Kani tak terdengar mengaduh atau mengeluh. Kani bekerja di rumah seorang Tentara, kedua majikannya baik dan ketiga anaknya tak rewel. Kani dibayar untuk mengurus rumah dan ketiga anak itu, dia dibayar lebih besar ketimbang lewat yayasan yang banyak potongan. Walaupun kondisi buruknya adalah dia tak bisa bertemu dengan Amarendra. Keduanya hanya terhubung lewat ponsel.
Kani merasa diperlakukan seperti manusia di tempat barunya bekerja, dia dilarang bekerja setelah jam sembilan kecuali darurat. Kamarnya di dekat kolam ikan, bersebelahan dengan kamar mandi, rumah itu luas dan Kani takut jika semuanya pergi apalagi Amarendra tak bisa sembarangan dia hubungi.
Amarendra yang tahu jam istirahat Kani selalu menelepon, tak mau berkirim pesan. Ribet, lelaki itu bilang begitu. Baginya, mendengar suara gadis itu terasa dekat dengan Kani. Amarendra sangat merindukannya tapi tak bisa melakukan apa-apa. Jika di yayasan, dia akan datang jika rindu, tapi sekarang Kani tak bisa keluar sembarangan serta jauh. Sudah satu tahun lebih Kani bekerja di sana. Sempat pulang sebentar tapi Amarendra kebetulan tak bisa cuti, mereka terus gagal bertemu. Amarendra sempat berpikir buruk bahwa Alam semesta menentang keinginannya
Amarendra sangat sedih tapi melihat Kani baik-baik saja sudah membuatnya bahagia dan lega. Amarendra tak bisa memberikan hadiah yang dia siapkan, Kani dilarang memberikan alamat rumah tersebut dan tahun ini akan usai dan Amarendra ingin segera menemui Kani saat libur tahun baru karena Kani pun akan mendapatkan cuti kerja tapi sampai di bulan Desember Amarendra mendadak dipecat. Dia meradang dan datang ke rumah Lusi setelah tahu Kakaknya yang melakukannya.
“Ngapain kamu datang ke sini?” Lusi sibuk menyantap sarapannya.
“Aku cari kerja susah, Kak! Kenapa terus menggangguku!” bentaknya sambil memegang tepian meja dengan kuat.
“Kakak sudah bilang untuk memikirkan kuliah tapi kamu mengeyel, ketemu terus sama gadis kampung itu. Sekalian nggak usah kerja, nggak usah kuliah, temani Bunda di Malang dan kamu harus mau menikah dengan Kirana. Kalian sudah dijodohkan, jangan pura-pura bego, deh!”
Lusi terkesiap saat Amarendra mencekal pergelangan tangannya, keduanya saling menatap tajam. Lusi tak suka, dia tampar adiknya itu dua kali, merasa adiknya keterlaluan tapi tak sadar dengan kelakuan sendiri.
“Pergi kamu!!!” tandas Lusi dan Amarendra berlalu sambil mengepalkan tangan.
“Om Maren tak pernah ke sini.” Anak itu mengeluh.
“Om kerja, sekarang datang langsung gendong Isabel. Om nggak bisa lama.” Amarendra tersenyum tapi anak itu memeluknya erat. Lusi menatap Baby siter anaknya tajam dan wanita itu lekas mengambil Isabel. Amarendra pergi walaupun Isabel terus menangis karena Lusi tak menghendaki keberadaannya.
***
Amarendra merapikan semua pakaiannya, Yana dan Raihan menonton dengan sedih. Amarendra bahkan belum memberitahu Kani dia pengangguran sekarang.
“Maren, bukannya kamu mau bertemu dengan Kani? Temui dia, mungkin itu akan menjadi obat untuk semua lelah dan sedihmu. Kani juga pasti merindukanmu,” ujar Raihan dan Amarendra menghentikan tangannya sejenak.
“Iya, Maren. Kani bahkan terus menerorku hanya untuk tahu kamu baik atau tidak, dia menyebalkan saat kamu telat memberi kabar atau mengabaikannya,” ucap Yana menyambung.
“Aku mau pergi menemui Bunda di Malang.” Amarendra menarik resleting tasnya. Dia diam menatap layar ponselnya. Wajah itu, penyemangatnya.
“Kamu mau menetap di sana? Nggak bilang dulu sama Kani?” Raihan kaget.
“Jangan begitu, Maren. Apa kamu mau Kani sedih?” Yana mendelik.
“Aku cuman berkunjung, kalian mau ikut atau mau pulang?”
“Mau kalau ongkosnya gratis, Malang jauh.” Raihan diam, menebak-nebak berapa ongkos naik kereta ke kota itu.
“Aku ikut sepupu, pulang-pergi, mobilnya kebetulan kosong. Kalian bisa ikut, aku tak akan menetap di Malang, aku akan kembali mencari pekerjaan. Aku tak bisa jauh dengan Kani.” Amarendra menunduk, malu sendiri dengan kejujurannya.
“Ah jangan-jangan ada kaitannya sama si Kirana?” Yana sewot.
“Itu sepupuku yang lain, ya sepupu Kirana juga, dia tak akan memihak gadis gila itu. Mau ikut atau gimana?” Amarendra menatap keduanya bergantian. Raihan sepakat untuk ikut dan Yana juga mau.
***