Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
PERTEMANAN YANG SEHAT


Reva heboh berteriak-teriak, menunjuk-nunjuk Kani, kemudian dia terhuyung ke lantai dan pura-pura pingsan. Kani mendesis, soalnya guru datang ditambah wali kelas juga. Entah kenapa si Arif juga muncul, melihat pacarnya pingsan dia langsung bertanya apa yang terjadi. Kani habis kena maki-maki, ditatap tajam juga tapi Kani tak memasang sedikit pun ketakutan di wajahnya karena dia merasa benar, dia membela harga dirinya, orang tuanya, temannya. Teti dan Reva keterlaluan sampai dia tak tahan.


“Sudah, sudah!” Wali kelas berteriak karena Teti menangis, menyalahkan Kani dan darah menetes dari hidungnya. Sementara Reva digendong Arif menuju ke UKS. Entah sampai kapan gadis kurang ajar itu berpura-pura pingsan, tidak berpura-pura mati sekalian?


Kani akhirnya dibawa wali kelas ke ruangannya.


“Kani wajar marah, Reva keterlaluan!” tandas Rere.


“Mereka berteman baik, kan? Kenapa bisa jadi musuhan begini?” tanya yang belum paham juga atau entah pura-pura bego!


“Aduh, kira-kira si Kani diapain sama wali kelas. Apa orang tuanya bakalan dipanggil?” Rosi yang ketakutan dan Rara dengan Rere saling pandang.


Di kantor guru, Kani diam, melirik Pak Dodo yang langsung bertanya kenapa bisa ada keributan dan Kani yang ditanyai sampai begitu. Wali kelas menjelaskan apa yang dia dengar, semua guru yang mengagulkan Kani selama ini cukup kecewa dan satu-persatu menceramahinya.


“Bukannya kalian berteman? Satu geng? Terus kenapa jadi begini?” Wali kelas mencondongkan bahunya dan Kani menunduk. “Sepertinya saya harus membuat surat cinta untuk orang tua kamu.” Sebuah kode yang membuat Kani lekas meraih tangan Wali kelasnya. Wajahnya panik.


“Bapak saya nggak ada, ibu saya sibuk. Jangan, Bu, saya nggak bakalan mengulangi ini lagi. Hukum saja, Bu, apa pun itu saya terima. Saya salah.”


Kani meneteskan air matanya, takut, dan tangannya digenggam.


“Bisa jujur sama Ibu, apa yang terjadi?” Wali kelas menatap dan Kani diam. Apa dengan mengadu akan membuat segalanya menjadi gampang? Apa Reva dan teman-temannya akan dihukum? “Kalian bertengkar begini karena laki-laki?”


“Mereka menghina pekerjaan orang tua saya, Bu. Mereka menghina saya. Apa saya pantas untuk diam? Mereka mendekat untuk meminta jawaban, menyontek tiada akhir, menyuruh dan meminta ini itu, apa ini pertemanan yang sehat, Bu? Bapak saya cuman kuli bangunan, saya bahkan tidak akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Tolong, jangan sampai ada kesan buruk di hari-hari terakhir saya di sekolah. Saya tidak mau membuat orang tua saya kecewa. Saya disebut-sebut memasang tarif untuk melayani laki-laki, orang tua saya dihina, teman saya difitnah, apa saya perlu diam, Bu?”


Kani menangis dan Wali kelasnya dan guru yang lain saling melemparkan tatapan.


“Kamu...mau berhenti sampai di sini, Kani? Itu sayang sekali, pikirkan lagi.” Guru matematika berseru, guru yang lain pun begitu.


Kani tak menjawab dan Pak Dodo memperhatikannya.


“Apa yang dia lakukan memang salah, Bu tapi itu juga karena dipancing. Jika boleh saya beri saran, kalau mau menghukum jangan salah satunya, kalau mau dipanggil orang tuanya, harus orang tua ketiganya.” Pak Dodo membuat Wali kelas itu terdiam, tampak berpikir dan akhirnya Kani, Reva, dan Teti mendapatkan hukuman dan Kani merasa lega orang tuanya tak akan dipanggil. Dia agak kecewa karena Citra tidak masuk hari ini tapi Wali kelasnya mengatakan bahwa Citra akan tetap kena hukum.


Reva dan Teti mendelik, melihat Kani sedang menyapu, memunguti sampah di sudut lain lapangan, itu hukuman bagi mereka. Membersihkan setiap sudut sekolah. Menjadi tontonan murid yang lain termasuk Dahlia dan Kenanga. Keduanya memperhatikan Kakak mereka dengan teliti, apa masalahnya sampai dihukum begitu? Dan tatapan tak bersahabat Reva dan Teti yang mereka tahu keduanya teman baik Kani.


“Setidaknya dia sudah berani melawan.” Amarendra yang memperhatikan berbicara pada Raihan di sebelahnya.


“Mereka menghina orang tuanya, dirinya, dan kamu, Maren.” Raihan menoleh saat Amarendra menghadap padanya kemudian dia jelaskan apa yang dia dengar dan Amarendra mengeram jengkel.


“Bukan Kani yang murahan, tapi mereka,” lugas Amarendra dan mendengus saat Arif dan kawan-kawannya lewat di antara dia dan Raihan, seperti tak ada jalan lain sampai harus mengganggu percakapan mereka.


Kani dan kedua gadis itu selesai, Reva dan Teti pergi begitu saja dan Kani membawa sampah-sampah itu ke tempatnya dengan menyeretnya. Tiga ember, berat, dan kotor.


Kani duduk setelah mencuci tangannya, dia tersenyum melihat Amarendra datang membawa dua botol minuman.


***


Hari berikutnya, Reva dan Teti tak bisa menerima apa yang terjadi pada mereka kemarin, Kani diseret ke belakang sekolah. Lebih jauh karena takut ada warga melihat. Yana yang melihat mengikuti mereka tapi satu teman Aldi menahannya. Kani berontak tapi tak bisa. Kani menangis, menjerit sekuat tenaga, keempat laki-laki itu menderanya. Reva dan Teti dengan puas menertawakan. Kani tak bisa melawan, kedua tangannya diikat. Dia hanya bisa menangis. Tak ada orang di tepi sungai ini. Mulutnya disumpal. Bajunya sudah terkoyak dan Reva merasa puas. Meminta mereka berhenti dan dia yang sekarang menyiksanya.


“Boleh, nggak nih?” teman si Aldi yang hanya ditugaskan menyiksa malah haus ingin mencoba.


“Gila!” Teti membentak dan tidak mau terlibat masalah lebih pelik.


“Jangan, jangan, ini cukup.” Aldi menahan dan jika ada apa-apa jelas Teti dan Reva pasti dicurigai.


Kani hanya bisa merintih, dia ditampar berkali-kali oleh Reva dan Teti melanjutkan, hidung Kani sudah berdarah sama sepertinya kemarin.


“Heh, kalian!” teriak seorang pria paruh baya yang sedang memotong rumput. Semuanya panik, berlarian meninggalkan Kani yang perlahan bangun.


Sementara Yana, dia sudah berhasil meyakinkan Pak Dodo dan wali kelas untuk melihat apa yang terjadi pada Kani. Amarendra yang dia telepon pun kembali ke sekolah, sudah setengah jalan untuk pulang ke rumahnya. Reva dan teman-temannya ketakutan saat berpapasan dengan mereka di belakang sekolah.


“Mana Kani? Kalian bawa ke mana? Asstaghfirullah hal adzim, awas ya, kalian.” Wali kelas meradang dan Pak Dodo dengan Yana turun tapi Kani tak ada. Amarendra yang hampir memukul Arif ditahan Wali kelas dan Wali kelas yang mendesak mereka untuk jujur ke mana Kani mereka bawa. Mereka mengaku dan Pak Dodo akan mencarinya. Wali kelas dengan Yana membawa mereka semua kembali ke sekolah, tak diizinkan pulang sebelum orang tua mereka masing-masing datang menjemput.


Amarendra dan Pak Dodo kebingungan, yang masih di jalan belum sampai ke rumah diminta untuk ikut mencari, Amarendra menelepon mereka satu-persatu. Pria tadi yang melihat mengatakan bahwa gadis itu pergi walaupun sempat akan dibantu tapi tidak mau. Arahnya ke hulu sungai. Amarendra dan Pak Dodo panik lalu berpencar.


“Kani, aku mohon, Kani.” Amarendra sangat takut dan menerima telepon dari teman satu kelasnya. “Halo?”


“Ren, Maren. Kani...aduh, dia mau bunuh diri. Jembatan, Ren!” teriaknya panik dan Amarendra berlari dan sudah melihat jembatan itu.


Sesekali terjatuh dia tak peduli, menabrak dan terjungkal pun tak dia hiraukan. Amarendra menerobos sebuah kebun dan semua teman-temannya sedang melihat Kani berdiri di sana, di pagar jembatan. Terpeleset sedikit habis sudah, dia jatuh sementara di bawah air terjun bergejolak siap menelan apa saja yang jatuh.


“Maren.” Mereka menarik Amarendra yang tersengal-sengal. Amarendra melangkah pelan dan Kani terus mendongak menatap langit yang biru cerah tapi di matanya kehidupan hanya gelap gulita tak berwarna.


Burung merpati terbang di atas kepalanya. Kani terus menatap dengan mata yang sembab dan basah. Dia membelakangi air terjun di bawah sana. Mereka yang sedang melihatnya berdiri di atas sini harus melihat kesengsaraan di wajahnya.


“Aku tak berharap lahir jika hanya membuat derita untuk kedua orang tua dan mereka di sekelilingku.” Kani bergumam dalam hati sambil menatap Amarendra yang ragu mendekat. “Bu, Pak, belum berbakti sepenuhnya tapi anak kalian sudah tak sanggup lagi menanggung beban. Adik-adik yang tak pernah mendapatkan perangai kakak yang baik dan bisa membimbing. Aku sangat buruk, maaf.


“Sekuat apa pun aku berusaha mengubah kehidupan kita, Tuhan tak pernah mengizinkan itu. Lantas, kenapa aku masih hidup sampai sekarang? Aku ingin berakhir di sini, meninggalkan nestapa yang tak kunjung mereda. Kesan buruk yang aku lukiskan jelas akan membekas nyata dan kehancuran yang sekarang aku perlihatkan, biar mereka semua mengenangnya. Kani yang lebih memilih tiada karena memang hidupnya tidak berguna.”


“Kani...” Amarendra menatap takut dan Kani menggeleng, tak mau dia dekati. “Diam, aku datang padamu, jangan bergerak. Aku mohon.” Amarendra hampir menangis dan yang lain histeris saat angin berembus dan Kani terlihat tak bisa menahan kakinya untuk tetap berdiri lebih lama.


“Dia datang padaku, menawarkan pertemanan dan aku membalasnya dengan terus merepotkan. Aku minta maaf, Maren.” Kani terus menatap wajah itu dan Amarendra terus membujuknya.


“Tuhan, aku tak pernah membenci mereka yang meninggalkan luka dan memusuhiku, tapi karena itu yang membuatku semakin tertindas di dunia-Mu ini. Aku memohon untuk mati pun tak akan Kau izinkan, juga dengan hidup yang tak kunjung Kau berikan kebahagiaan. Lantas manusia lemah dan tak berdaya sepertiku harus bagaimana?” Kani menangis meratap dan terus menatap ke langit.


“Aku hanya ingin sedikit kebahagiaan dan banyak memberikan bahagia untuk keluargaku, hanya itu. Semuanya sirna dan hanya mimpi belaka, aku tak mau lagi dan hanya ingin berakhir di sini.” Kani sangat ingin menjerit tapi mulutnya masih diikat kain ke belakang kepalanya.