
Kemudian besok paginya, dia berangkat menuju Jakarta.
Kani sudah di rumahnya, dia membantu memasak untuk hari raya besok. Dia tidak peduli saat Pak Muji terus menyinggung pria yang bernama Amar, Kani sudah penat memikirkan Kalingga yang terus mendekati keluarganya. Ibunya bahkan tak cukup sekali dua kali memuji Kalingga, membanggakannya sebagai calon menantu idaman yang sempurna.
“Memang Amar itu ganteng dan baik banget, ya, Pak? Kalau Teteh nggak mau, buat Dahlia saja.” Dahlia bergurau dan Pak Muji memicingkan matanya.
“Nah iya, Dahlia juga sudah besar. Kaniraras hanya untuk Kalingga.” Bu Ismi tersenyum dan Kani muak mendengar percakapan tersebut. Dia pergi ke warung untuk membeli sesuatu tapi sangat menyebalkan karena dia bertemu dengan Bela.
“Aku mau bicara sama kamu, Kani.” Bela menarik lengannya dan Kani menepis. “Kamu sadar nggak, sih? Kamu nggak pantas buat Mas Lingga dan aku nggak mau memiliki ipar seperti kamu!”
Kani menyeringai lebar dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku tak pernah meminta kakakmu mendekat, dia yang memaksakan diri. Kamu kalau mau protes, protes kakakmu sana.”
“Kamu semakin menyebalkan, Kaniraras!” Bela merasa gemas sangat ingin mencakar wajah Kani yang mengotot itu.
“Aku dari dulu juga begini, tak pernah menyenangkan bagi orang-orang yang tak menyukaiku,” balas Kani dan Bela mengangkat tangannya. Dia urungkan niatnya saat Ibunya keluar dari rumah dan melihat.
“Eh, Kani. Mampir dulu.” Bu Wati melambaikan tangan dan Kani tersenyum.
“Sedang buru-buru, Bu. Mau ke warung, permisi.” Kani beranjak pergi dan Bu Wati memperhatikannya. Dia kaget saat Kalingga keluar setelah mendengar nama gadis itu. Bela mendesis jengkel melihat tingkah polah kasmaran Kalingga pada Kani.
“Masuk! Bantu Ibu.” Bu Wati menarik Kalingga dan pria itu pasrah.
***
Bunda Sri dan Lusi memperhatikan Amarendra. Keduanya sesekali saling tatap dan Lusi mengusap-usap tengkuknya. Amarendra yang sedang makan tak peduli dengan tatapan mereka. Dia sudah rapi dan sudah berkemas juga. Sudah malas tinggal di rumah Kakaknya, dia hanya mau datang karena ada Bunda.
“Kamu kayak gembel tahu, gak? Gosong, dekil, kurus. Kamu ngapain sebenarnya di Bandung? Kerja apa kamu?” bentak Lusi dan Amarendra membisu. Hubungan keduanya belum baik dan Bunda merasa sedih.
“Mau tambah opor ayamnya?” Bunda menawari dan Amarendra mengangguk.
Lusi menggeleng kepala karena Bunda tak membantunya untuk mendesak Amarendra berbicara.
“Aku mau ke Bandung setelah makan,” kata Amarendra sambil menyuap lagi.
“Menemui gadis gembel itu?” sahut Lusi bertanya dan pertanyaannya membuat Amarendra tersinggung. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat dan Bunda lekas melerai.
“Astagfirullah hal adzim, ini masih suasana lebaran, baru bermaafan dua hari lalu dan sekarang sudah bertengkar lagi? Maren, jaga sikapmu, bahkan ada keluarga suami kakakmu, Nak. Bagaimana jika mereka melihat kalian berdua ribut terus?” Bunda berbicara sangat rendah, dia memegang tangan Amarendra dan Lusi pergi sambil mengomel saat Geri memanggilnya.
“Maaf, Bund.” Amarendra menundukkan wajahnya. “Aku pergi, ya duluan ke Bandung.” Dia tak sabar ingin bertemu dengan Kani.
“Bunda nggak bisa melarang,” jawabnya sambil menunduk. Amarendra merasa bersalah karena bersitegang dengan Lusi di hadapan Bunda. Dia berdiri dan memeluk Bundanya itu.
Bunda Sri mengizinkan Amarendra pergi karena ditahan pun percuma saja. Entah apa yang Amarendra kerjakan. Bunda merasa was-was dan harus mencari tahu.
“Apa kita perlu memberitahu Maren?” ujar Yana yang sedang merokok di pinggiran sawah dengan Raihan.
“Jangan, toh Kani juga tak akan pernah mau menerima pinangan Kalingga, itu hanya gosip, belum tentu benar Kalingga akan meminang Kani.” Raihan mengembuskan asap dari mulut dan hidungnya. Yana mengangguk sepakat karena dia juga tahu Amarendra dan Kani tak akan mudah dipisahkan hanya dengan pria modelan Kalingga.
Setelah beberapa hari menunggu, Kani pergi meninggalkan rumah untuk bertemu dengan Amarendra. Di alun-alun kota tempat tinggal mereka. Lumayan jauh tak apa, tak sejauh alun-alun kota Bandung di sana. Tempat mereka bertemu juga.
Kani menatap cincin itu yang beberapa hari lalu menarik perhatian Ibunya. Ditanyai dan dikomentari. Kani harus bohong lagi bahwa itu dia beli agar uangnya tak sepenuhnya habis. Ibunya percaya karena itu masuk akal.
Rambut kecokelatan panjang seperti itu terus berayun-ayun tertiup angin. Kani membiarkan rambutnya terurai karena Amarendra suka itu. Setelah menunggu dua puluh menit yang terasa menyebalkan, Amarendra muncul setelah membuat ponselnya berdering.
Pria itu tersenyum dan memperhatikan Kani yang begitu lucu menggemaskan, memakai jaket abu-abu, rambut terurai dan celana kulot jeans. Gadis itu mendekat dan dia juga.
“Maaf telat, ban motornya kempes tadi,” katanya lembut dan Kani tersenyum.
“Aku...” Kani menggantung kalimatnya saat melihat Yana dan Raihan dengan kekasihnya masing-masing. Dia tak bisa berbicara serius dan Amarendra tersenyum.
“Aku harap dia tak keberatan,” kata Raihan dan Kani menggeleng, dia berkenalan dengan kedua gadis itu.
Tiga pasangan kekasih itu pergi untuk mencari makan. Kani gugup saat pinggangnya dirangkul dan Amarendra merasa Kani kurusan, pinggangnya semakin ramping dan sejak tadi dia tak bisa mengabaikan semerbak harum dari rambut gadis itu.
Mereka semua memasuki warung makan lesehan, ramai, sesak. Amarendra sesekali melirik Kani yang ia rasa begitu dingin tak seperti biasanya. Dia buang jauh-jauh prasangka yang selalu membuatnya dengan Kani bertengkar. Kemudian satu hal yang tak pernah dilakukan Kani hari ini terjadi, dia tak menikmati makanannya, bahkan pergi begitu saja setelah mencuci tangannya. Amarendra murung, membuat Yana dan Raihan saling menatap.
Setelah Amarendra kenyang, dia mendekati Kani dan pamit kepada teman-temannya untuk mengajak gadis itu pergi. Mungkin karena ramai jadi Kani tak nyaman, pikirnya.
Amarendra dan Kani pergi ke tempat itu, tempat yang dingin favorit mereka. Keduanya duduk dan Amarendra terus menunggu Kani menggandeng tangannya, merengek, dan bersandar saat dia bonceng. Tapi Kani begitu menjaga jarak dan Amarendra merasa perlu bertanya.
“Ada masalah?” Tangannya merayap ke tangan gadis itu. Kani menerima dan Amarendra merasa lega. “Kenapa pendiam sekali? Mau sesuatu? Bilang, biasanya juga begitu.” Dia pandangi wajah itu yang kedua matanya tak melihat ke arahnya.
“Kani, aku mengajakmu bicara!” Amarendra menarik pipi Kani dan barulah tatapan keduanya beradu. Amarendra benar-benar tak suka situasi ini. Tekanan dari tangannya di kedua pipi itu membuat bibir Kani sedikit terbuka, Amarendra menatap kedua mata Kani yang menyimpan banyak jawaban dari semua pertanyaan yang dipendam Amarendra.
“Aku ingin pulang, Maren.” Kani merengek dan kerutan halus muncul di kening Amarendra.
“Ada Bunda di rumah Abah, juga Kakakku. Bunda sangat ingin melihatmu,” lirih Amarendra menghiraukan permintaan Kani. Mereka baru bertemu, yang benar saja sudah minta pulang.
“Titip salam untuk semuanya, mungkin lain kali aku baru bisa bertemu mereka.” Kani tersenyum kecil, dan Amarendra beringsut mendekat. Kani menutup matanya, refleks telapak tangannya menyentuh pipi pria itu serta membuka bibirnya sedikit. Amarendra sudah menatap bibir itu tapi dia ragu untuk ********** dan malah Kani yang melakukannya. Amarendra menggeleng, tak mau melanjutkan lebih dalam, dia mempertahankan diri dan menempelkan bibirnya hanya pada pipi Kani.
“Bilang kalau kau sakit pura-pura membuat drama begini? Ini bukan sikap aslimu jangan berusaha membodohiku. Katakan, ada apa?” Amarendra berujar setelah menjauhkan bibirnya. Kani berusaha menahan air matanya dan Amarendra mengusap bibir gadis itu, “Kamu kenapa, sih? Tak suka bertemu denganku?” Suaranya berat dan tubuhnya yang sempat menegang perlahan mengendur kemudian mundur.
“Aku hanya sedang banyak pikiran, Maren.”
“Bertemu denganku sama sekali tak mengobati penatmu sedikit saja? Kamu malah semakin pusing setelah bertemu jadi tak mau sedikit pun melihat ke arahku? Ayo pulang, untuk apa kita di sini.” Amarendra menyambar botol minumnya, Kani mengejar dan melemparkan tasnya ke punggung pria itu sampai Amarendra berhenti melangkah sekaligus membalik badan.