
Amarendra sibuk dengan laptopnya, dia mencari akun media sosial Kani tapi tak ketemu. Dia sudah menggunakan nama panggilan, nama lengkapnya, tetap saja tak ada. Apa gadis itu tak memiliki akun media sosial selain Facebook dan itu juga sudah lama tak dia gunakan.
Amarendra mengangkat telepon dan langsung menuliskan nomor ponsel seseorang. Dia mematikan panggilan dan menelepon nomor tersebut. Suara pria cempreng dia dengar. Dia tersenyum dan bangkit dari duduknya.
“Halo...ini siapa? Halo?” Sewot.
“Rai...” Amarendra memanggil dan Raihan di tempatnya terdiam.
“Ren, Maren?” Suaranya berat. “Kamu masih hidup?” tanyanya tak menyangka dan Amarendra melotot.
“Aku ingin bertemu secepatnya. Banyak hal yang ingin aku tanyakan.” Amarendra mondar-mandir di ruangannya tersebut. “Agak sulit mendapatkan nomormu, aku harus menelepon beberapa orang .”
“Kita sudah lama tak bertemu, datanglah ke rumahku. Istriku pandai memasak, jangan ragu-ragu.” Raihan begitu senang kemudian memberikan alamat rumahnya. Dia menetap di Jakarta. Amarendra senang dan akan datang sepulang dari kantor. Raihan akan menunggu dan dia meminta jangan sampai tak jadi karena sudah meminta istrinya memasak.
Amarendra tersenyum dan setelah dia pulang dari kantor. Dia pergi menuju alamat tersebut. Amarendra celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Sebuah kompleks perumahan dan dia mundur saat pintu dibuka. Raihan ada di hadapannya tapi pria itu menatapnya bingung.
“Cari siapa?” Raihan memperhatikan pria di hadapannya yang menjinjing banyak belanjaan.
“Elo gila, Rai? Ini GUEEEEE!!!” bentak Amarendra dan Raihan tertawa. Dia sampai tak mengenali Amarendra dan keduanya berpelukan.
Amarendra duduk dan istrinya Raihan membuatkan minuman. Anak-anak Raihan yang sudah tidur terbangun. Raihan merasa malu-malu melihat ketiga anaknya begitu heboh membongkar apa yang Amarendra bawa.
“Maafin, ya.”
“Apaan, sih! Santai aja kali. Wajar, namanya juga anak-anak.” Amarendra tersenyum dan menepuk rokoknya yang sedang dia hisap, membuat abunya jatuh ke dalam tempat khusus. Keduanya mengobrol santai dahulu, saling bertukar cerita, tertawa, dan mengenang masa sekolah juga. Kembali ke niat awal. Amarendra ingin tahu tentang Kani.
“Kalau nomornya...aku nggak punya, aku cuman pulang setahun sekali, lebaran doang. Kadang lihat dia kadang enggak. Tapi ada nomornya Syamsir kalau mau.” Dia meletakkan ponselnya dan Amarendra menggeleng.
“Gue kepingin tahu, dia baik-baik saja atau enggak.” Amarendra menunduk dan Raihan mengakak tak terkendali.
“Bisa-bisanya elo mau bohong sama gue. Gue tahu kenapa elo belum nikah, Kani juga masih sendiri. Dia anak cewek satu-satunya yang belum menikah di keluarganya.”
“Kedua adiknya yang cewek udah nikah?” Amarendra terkejut dan Raihan mengangguk kemudian menceritakan tentang saat itu dia memarahi Kani. Amarendra terdiam mendengar Kani mencari-cari dirinya. “Gue kesel banget sama Kani waktu itu. Jadi gue agak bocor, ngomong alasan apa yang bikin elo pergi. Biarin, biar dia mikir!” Raihan muak dan Amarendra diam.
“Saran gue, kalau beneran sayang, kejar! Kani nggak nikah-nikah bukan dia nggak ada yang suka, dia tolak semua cowok yang punya niat, gue yakin dia nungguin elo balik. Jangan bohong sama perasaan sendiri, Ren. Yang rugi elo, jangan sampai karena ego kalian masing-masing jadi ke siksa sendiri. Sekarang elo ngaca, elo masih mau sama dia atau enggak, kalau mau ya sok kejar jangan jual mahal. Udah nggak jaman, kalian berdua bukan anak remaja kayak dulu lagi. Sekarang dia kerja di Toko Ayas Tamales, daerah pasar di jalan pertigaan tempat kita nongkrong dulu. Cari di sana, nggak bakalan sulit, itu Toko paling gede.”
Amarendra meneguk air minumnya dan termenung cukup lama. Raihan meraih jaket Amarendra yang diletakkan di kursi kosong. Dia memperhatikannya, merasakan bahannya. Sangat bagus jaket dengan warna Olive tersebut.
“Jaket elo bagus, Ren.”
“Ambil, deh, kalau elo mau.”
Raihan menyengir dan langsung mencobanya. Dia berdiri dan melihat bayangannya di pantulan kaca jendela.
“Elo yang pakai, kok bagus, Ren. Giliran gue yang pakai, tetap aja begini...” Raihan terus bergaya.
“Terserah, Rai, terserah!!” tandasnya menimpali dan Raihan tergelak.
Amarendra cukup lama di rumah Raihan. Pukul sepuluh malam dia baru pulang dan Bunda yang menunggunya berjalan pergi, Bunda hanya ingin memastikan Amarendra baik-baik saja.
“Bunda.” Amarendra memanggil dan Bunda berhenti. “Bunda mau melihat aku menikah, kan? Mohon doanya, Bund. In sha Allah tahun ini.” Amarendra yakin dan Bunda menoleh menatap keheranan. Anaknya pasti bohong agar dia mau berbicara lagi dengannya. Bunda mendelik dan pergi ke kamarnya.
Amarendra membuang napas kasar ke udara. Sesampainya di kamar dia mandi. Belum mau tidur dan mencari akun media sosial @ILY. Kata Raihan itu akun media sosial Kani, dia tak percaya dan lekas mengeceknya.
Kedua matanya membulat melihat sebuah foto, itu Kani tapi dari belakang. Kepalanya terbungkus jaket Hoodie.
Setahun kepergiannya, Kani memposting foto tersebut dengan Caption.
“Dia pergi ‘Tanpa Pamit' dan aku baru sadar bahwa aku selalu menyakiti perasaannya, menorehkan luka tak kasat mata sampai dia lelah dan mengambil keputusan terbaik yaitu meninggalkanku.”
Beberapa Minggu kemudian Kani memposting sebuah cincin dan Amarendra terdiam melihat cincin itu.
“Kau yang terbaik, dan aku mulai tak sanggup lagi menahan keinginan agar kau kembali.”
“ILY...aku sangat ingin mendengarnya lagi dan membalas kemudian meminta maaf.”
“Aku sumber kekecewaan bagi semua orang di sekeliling. Jika kematian bisa diminta, aku akan mengajukannya.”
“Dulu, saat aku terpuruk kau yang datang mengulurkan tangan dan membelaku dengan lantang. Sekarang, aku mencoba melakukannya sendiri agar kau tak terlalu kecewa dan tahu bahwa kau berhasil mengajariku banyak hal.”
Kani berhenti memposting foto tak jelas dengan kata-kata menyedihkan setelah tiga tahun kepergian Amarendra.
Amarendra bangkit dan menarik gorden putih di kamarnya tersebut. Dia mondar-mandir tak karuan, kemudian membuka lemari dan mengambil jam tangan itu lalu duduk di lantai dengan punggung bersandar pada tepi tempat tidurnya.
Amarendra membuka bagian dalam jam tersebut, mengeluarkan sebuah kartu memori yang sangat ingin dia lenyapkan sejak lama tapi tak kuat untuk melakukannya. Hanya sebatas ingin. Amarendra berdiri dan mengambil laptopnya.
Amarendra diam menatap layar itu yang bergilir menampilkan fotonya dengan Kani, dari awal mengenal saat di sekolah dan mengabadikan banyak momen indah setiap berjumpa. Matanya, senyumnya, Amarendra tak sanggup lagi dan melipat benda itu.
Dia terpekur memandangi jam yang diberikan Kani. Matanya memerah dan basah, wajahnya perlahan terangkat dan dia menatap keluar jendela bersamaan dengan air matanya yang menetes ke pipi. Isak tangisnya terdengar, disusul embusan napas berat, dia menggeleng keras janji untuk kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dia tak akan menggenggam amarahnya terus-menerus, dia akan menemui gadis itu dan meminta maaf sekaligus meminta penjelasan.
***
Semuanya bubar keluar dari ruang rapat. Kirana yang melangkah bersama sekretarisnya itu sedang mengobrol dan Amarendra menyusul.
“Bu Kirana,” panggilnya dan kedua wanita itu menoleh. Amarendra ragu dan Kirana yang paham meminta sekretarisnya untuk pergi duluan.
“Ada apa?” tanya Kirana sambil menyibak rambutnya ke belakang.
“Aku ingin bertemu dengan ibumu.”
Kirana menggeleng kepala, “Ibu dibawa kakakku. Ada hal penting?”
Amarendra terdiam sejenak dan tak ada pilihan lain.
“Kalau begitu tak usah tapi aku butuh bantuanmu. Ini sangat mendesak. Aku perlu pergi beberapa hari dan itu akan membuat kendala karena aku tak akan hadir. Ini tentang kehidupanku, Kiran. Aku membawa serta semua pekerjaan di dalam laptop dan beberapa file akan aku berikan padamu, aku benar-benar butuh bantuan.” Amarendra menghela napas dan Kirana terlihat sedang menimbang-nimbang.
“Ke Bandung?” Kirana asal menebak dan Amarendra mengangguk. “Ada kabar tentang gadis itu? Dan bukannya dia sudah menikah.”
“Dia belum menikah, sama sepertiku. Aku harus menyelesaikan banyak hal dengannya dan akan aku ceritakan nanti. Bisa?”
Amarendra mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan Kirana mengangguk.
“Satu Minggu cukup?”
“Aku akan mengusahakan semuanya selesai lebih cepat.”
Kirana tiba-tiba tergelak sampai menekan perutnya dan Amarendra melirik jengkel. “Kau benar-benar cinta padanya, Maren. Pergilah, selesaikan, aku harap bantuanku tak sia-sia.”
Amarendra mengembangkan senyuman, dia lega, akan pergi malam ini juga. “Terima kasih.” Dia mengangguk kecil dan berlalu pergi. Kirana memperhatikannya dan melongo karena tak pernah sebelumnya dia mendapatkan senyuman selebar itu dari Amarendra.
“Cinta benar-benar bisa mengubah segalanya.” Kirana berdendang sambil melangkah menuju ke ruangannya.
Malam harinya, Amarendra berkemas, dia menatap layar ponselnya yang kembali dia pasang fotonya dengan Kani sebagai Wallpaper. Setelah siap, dia menjinjing tas pakaian dan tas kerjanya. Bunda sudah tidur padahal dia ingin pamit. Amarendra tak bisa menunda dan terus berjalan.
“Mau ke mana, kamu?” Lusi membuatnya berhenti dan dia menoleh. Mata Lusi memicing curiga.
“Menjemput mantan,” jawab Amarendra asal dan Lusi yang sedang minum tersedak, terbatuk-batuk. Dia kocar-kacir menyusul tapi sesampainya di luar, adiknya sudah pergi.
“Mantan yang mana?” Lusi sangat penasaran dan berusaha menebak-nebak.