Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MENGINAP


Kani hanya bekerja tiga bulan, lumayanlah, tapi sampai di yayasan, ditagih untuk membayar uang seragam dua pasang, biaya makannya selama dua Minggu juga transformasi antar jemput. Kani hanya bisa mengumpat dan mengutuk, dia membayar setengahnya dulu, seragam dengan bahan panas itu begitu dihargakan sangat mahal. Semoga yayasan bangkrut! Kani berdoa yang buruk karena bukan hanya dia yang mengalaminya.


Purwa sudah bekerja, Kani bertemu kembali dengan Neng, teman barunya dari Solo bernama Evi, yang bersedia menceritakan pengalaman kerja selama sepuluh tahun lewat yayasan tersebut dan apa yang harus dilakukan agar majikan senang juga rekan kerja tak iseng.


Malamnya, Kani menunggu Amarendra di sebuah jembatan, malam ini malam tahun baru. Kembang api meledak di udara, menghiasi malam dengan langit tanpa bintang. Kani merogoh ponselnya karena Bapaknya menelepon.


“Aku baik, Pak. Cuman, aku berhenti kerja karena difitnah.” Kani menceritakan segalanya dan Pak Muji meringis.


“Nggak apa-apa, bukan rejeki kamu berarti. Pulang, Teh, ibu menangis terus ingat sama Teteh. Bapak jemput, ya?” kata Pak Muji yang baru pulang hari ini ke rumah.


“Kani pulang bareng teman, Pak, dari yayasan. Nggak bisa secepatnya dan nggak usah dijemput, tapi pasti Kani pulang sebelum tanggal sepuluh. Ini kan suasana Tahun baru pasti macet, bilang sama Ibu aku pasti pulang.” Kani tersenyum dan Pak Muji mengiyakan.


Kani melamun setelah panggilan berakhir. Dia diam menunggu lagi dan menoleh saat melihat dari ekor matanya seseorang datang. Kani tersenyum dan Amarendra juga.


“Aku sudah di sini, ingin melihatku, bukan?” Amarendra terus tersenyum dan Kani terkekeh. Keduanya saling memburu dan sama-sama menghambur saling memeluk erat. Amarendra tak mau melepaskannya walaupun Kani sudah meminta dua kali. “Aku lelah.”


“Aku juga, tidak setelah melihatmu.” Kani tersenyum dan Amarendra melepaskan pelukannya. Memandang gadis itu dengan intens.


“Kamu kehilangan berapa kilogram, kurus banget.” Amarendra menekan dagu gadis itu dengan ibu jari dan telunjuknya. “Pasti capek. Cukup Kani, pulang.” Amarendra semakin khawatir dan Kani menggeleng.


“Tanggunganku masih banyak, mereka di rumah menunggu dengan harapan besar. Jangan membuatku sedih, kita baru saja bertemu.” Kani menepis tangan Amarendra pelan kemudian mengempit lengan laki-laki itu tapi Amarendra tak mau, lebih memilih menggenggam tangan Kani erat.


“Aku pulang tanggal enam, kamu?” Amarendra memandang dan Kani menoleh.


“Justru aku menunggumu, aku takut pulang sendirian.”


“Kita atur lagi nanti, sekarang ayo cari makan, menghabiskan waktu bersama, kamu butuh makan banyak.” Dia menarik tangan Kani. Mengajaknya pergi ke sebuah tempat makan seafood, ia ingin makan itu. Kani memperhatikannya sambil tersenyum. Mereka sesekali berbicara, Kani menanyakan Bunda dan Abah, Yana dan Raihan, dan Amarendra menjawabnya dengan rinci. Sebenarnya dia sedang pusing karena Lusi terus memintanya berhenti kerja. Kani tak perlu tahu apalagi tentang Kirana yang berani datang ke tempat kerjanya. Jelas Lusi yang memberitahu, mana mungkin gadis itu tahu begitu saja.


Setelah kenyang keduanya mencari yang segar dan manis. Semakin malam semakin ramai dan Kani lupa bahwa dia harus pulang sebelum jam sembilan. Eka bahkan sudah menelepon tapi dia mengaktifkan mode senyap tak mau diganggu.


“Maren, ini gimana?” Kani bingung apalagi Amarendra.


“Ini salahku membawamu jauh dari yayasan, kita cari tempat menginap,” ajaknya dan Kani tak mau, memandang Amarendra penuh curiga. “Apa? Kamu mengira aku mau berbuat aneh-aneh, kalau iya aku brengsek! Aku sudah melakukannya sejak lama.”


“Ya jangan marah,” kata Kani serak.


“Ya kamu menuduh begitu, aku tak suka dipandang begitu.” Amarendra berlalu dan Kani mengejarnya, meminta maaf, dan Amarendra menelepon seseorang yang dia yakini akan membantu. Setengah jam kemudian sebuah mobil datang, Kani terpaksa ikut dan Amarendra diam dengan muka masam. Mobil membawa mereka ke sebuah rumah, disambut pasangan suami istri, Kani terus berlindung di balik punggung pria itu.


“Hanya malam ini, aku nggak bisa pulang ke kontrakan di daerah Jakarta Selatan juga dia tak bisa pulang ke tempat yayasannya. Seharusnya dia pulang sebelum jam sembilan, tapi kami lupa waktu. Tolong, Om.” Amarendra memohon dan Kani menatap punggungnya.


“Jangan sungkan-sungkan, ayo masuk. Kami senang kamu datang juga temanmu itu,” kata pria bernama Doni yang dulunya sekretaris Ayah Amarendra. Kani masuk dengan ragu dan kamar untuk mereka akan disiapkan.


Tak lama, Doni dan istrinya pergi karena memiliki acara keluarga, mereka berdua diajak tapi menolak, di rumah ada sopir juga asisten rumah tangga yang akan mengawasi keduanya. Kini, Amarendra dan Kani di balkon melihat kembang api bersama.


“Mereka baik dan aku minta maaf, aku cuman takut tak bermaksud menuduhmu, Maren. Aku minta maaf, tolong jangan diamkan aku,” kata Kani dan Amarendra menoleh.


“Kita sudah lama saling mengenal tapi kenapa kamu takut dan juga membutuhkanku, mengajak bertemu, mengatakan rindu, bilang sayang, apa semua itu bohong? Apa itu terpaksa karena tak ada orang lain yang kamu kenal saat ini?” Amarendra menyusuri wajah murung itu dengan kedua matanya. “Aku lebih tua darimu, pikiran kita jelas di porsi yang berbeda, kamu perempuan dan aku laki-laki. Ya, aku paham kalau kamu takut, itu tak salah, sepatutnya memang begitu, terus berhati-hati kepada siapa pun karena manusia tak bisa disangka-sangka,” sambungnya dan Kani diam, asisten rumah tangga menguping, merasa keduanya tak akan macam-macam, dia pergi ke kamar untuk menghubungi pacarnya.


“Besok pagi aku antar pulang ke yayasan, tanggal enam kita bertemu di Terminal Rambutan. Bisa ke terminal sendirian?” Suaranya melembut dan Kani malah menangis. Apa ini? Apa dia terlalu kasar barusan? Dia memang selalu kasar ketika emosi apalagi jika beban pikirannya menumpuk. “Aku minta maaf.” Tangannya berayun lembut dan menggenggam tangan Kani.


“Aku hanya ingin menangis entah kenapa, ini bukan salahmu.” Kani menyeka air matanya dan malah semakin histeris. Amarendra menarik Kani ke dalam pelukannya, dan Kani menumpahkan segalanya di sana.


“Aku akan mencari sesuatu, Om Doni pasti punya makanan.” Sudah bangkit tapi Kani menariknya, tak mau ditinggal.   


Kani berhenti saat suara kembang api semakin riuh, dia melihat dan Amarendra terpaku melihat gelap dihiasi percikan kembang api. Kani mulai melupakan kesedihannya, dia merasa selalu sial ke mana pun dia pergi, dia juga rindu pada keluarganya, dan sekarang dia lebih tertarik melihat keindahan di hadapannya. Amarendra tersenyum lebar melihat Kani mulai tenang, keduanya diam, merasakan malam, sesekali saling memandang. Kani merasa ini Tahun baru terbaik dalam hidupnya, dia belum pernah melihat kembang api ke mana pun matanya tertuju seperti sekarang.