
Amarendra langsung mandi, dia dan kedua temannya pergi malam ini untuk jalan-jalan. Yana dan Raihan heboh belanja, sementara Amarendra sudah mentransfer setengah gajinya kepada Bunda di Malang. Bayar kontrakan, makan, kepalanya mumet mengatur semua itu tapi dua begundal di sebelahnya setiap hari belanja seolah tak memiliki beban.
Dari dalam sebuah mobil berwarna putih, seorang wanita memperhatikan ketiga laki-laki itu.
“Mas, itu Maren atau bukan?” imbuhnya pada sang suami. Suaminya ikut melihat untuk memastikan.
“Kayaknya...tapi nggak mungkin, kan? Bukannya dia di Bandung?” Geri menggeleng dan Lusi menunduk, benar apa yang dikatakan suaminya dan mereka meninggalkan tempat tersebut. Tapi, Lusi tak bisa melenyapkan apa yang tadi dia lihat dan merasa harus memastikannya. Dia tahu, adik satu-satunya itu selalu berulah dan jika benar itu tadi adiknya, dia tak akan segan-segan menyeretnya ke hadapan Bunda.
***
Bekerja di saat puasa begitu berat bagi Kani, pagi-pagi dia harus ke pasar naik angkot, dia bingung saat si kecil meminta menu makanan yang tak ada di atas meja sementara Sartika pura-pura budek, tak ada niat memberikan uang belanja yang cukup. Jelas Safira merengek dan menangis, Kani lagi yang kesusahan menenangkannya.
Sikap sinis Mia juga harus dihadapi Kani karena itu buah dari dia yang menolak untuk membantu. Dia lebih baik dimusuhi ketimbang dimanfaatkan dan jatuh sakit karena kelelahan. Dia tak yakin mereka akan mau bertanggung jawab jika dia kenapa-kenapa. Mengeluarkan uang belanja setiap hari ribet.
“Apa yang Maren bilang benar, mereka memanfaatkanku dan kebaikan bapak. Pak, andai bapak tahu bagaimana Kani di sini. Apa bapak masih mau menjadi anak buah pak Gun?” Kani lekas menyeka air matanya saat dia bergumam dalam hati air matanya jatuh begitu saja.
“Kani, tolong buka pintu gerbang. Saya mau keluar!” teriak Gun dari ruang tamu, Kani diam, dia sedang memasak untuk berbuka puasa. Toh ada Sartika, Manik, dan Mia yang lebih dekat. Dia harus lekas menyiapkan makanan sementara jarum jam sudah menunjuk pukul lima sore.
“Kani sedang memasak, nggak usah marah.” Sartika yang membuka pintu gerbang dan Gun mendelik.
“Pecat dia, habis lebaran tak perlu datang lagi.”
“Tapi, pak Muji?” Sartika bingung.
“Anaknya nggak becus bekerja, dia pasti paham,” bentaknya sambil masuk ke dalam mobil dan Sartika hanya bisa termangu.
Waktunya berbuka puasa. Kani makan sambil menahan air matanya. Dia makan sendirian di meja dapur, tak peduli Mani berteriak ingin minum. Sudah jelas-jelas segalanya dia sediakan di atas meja.
Setiap hari terasa lama bagi Kani. Sampai akhirnya sebentar lagi hari raya, dia akan dijemput Pak Muji besok. Kani ingin segera keluar dari rumah tersebut dan sekarang, Kani sedang menyapu tapi Manik sengaja memakan kuaci dengan cangkangnya dia lempar sembarangan.
“Teh Kani pemalas, ya, sekarang.” Anak itu menyeletuk. “Pasti sebentar lagi Mami sama Papi memecat Teh Kani.” Manik merasa senang berhasil membuat Kani diam, pasti pembantunya itu takut.
“Alhamdulillah, aku memang ingin pindah ke rumah lain yang lebih bisa menghargai dan menggaji dengan layak.” Kani cengengesan dan Manik mengeram kesal. Mia yang mendengar pun terbelalak.
“Mereka kerja berapa lama? Hanya sebentar, kan? Dipecat juga dari sini tak masalah. Mereka bisa mencari keluarga lain yang benar-benar bisa menghargai keringat orang. Anak sekecil kamu mana paham, Manik. Seharusnya kamu nggak bersikap sok tahu.” Kani tak segan-segan berbicara tegas dan Manik hampir menangis.
Sartika yang mendengar dari dalam kamarnya lekas mengadu pada Gun, mereka benar-benar harus segera memecat Kani. Tak harus memedulikan Pak Muji.
Besoknya, Kani menerima gajinya, ditambahi 200, juga diberikan sepotong baju atasan berwarna merah menyala. Kani berterima kasih.
“In sha Allah nanti Kani habis lebaran akan saya antar lagi, Bu.” Pak Muji yang tak tahu apa-apa begitu riang. Sartika hanya mengangguk dan tersenyum paksa. Kani pergi dengan perasaan lega dan Safira yang sudah dekat dengannya menangis sambil memanggil-manggil dari depan pintu gerbang. Pak Muji terus tersenyum dan melambai, janji Kani akan kembali mengurus Safira.
“Cukup, Pak.” Kani menahan tangan Bapaknya dan Bapaknya terdiam. “Kani baru sadar kenapa bisa yang lemah selalu tertindas karena tak semua dari mereka berani melawan, pasrah dan tersiksa.”
“Kamu bicara apa, Kani?”
Kani menoleh dengan mata basah. “Bapak masih menjadi anak buah pak Gun?”
“Sudah enggak,” kata Pak Muji serak.
“Bapak tahu Kani digaji berapa?”
Pak Muji menggeleng.
“Kani cuman digaji 400, tanpa uang jajan, uang pulsa, makanan sisa mereka setiap hari yang Kani makan. Mengerjakan seisi rumah, mengurus Safira yang rewel, masih harus juga mengurusi toko baju kurang modal itu. Bapak tahu, jam dua dini hari, Kani masih disuruh-suruh, Pak.” Kani mengusap air mata dan ingusnya, Pak Muji terdiam dan menatap Kani yang terus menangis sesenggukan. “Apa Bapak bisa berubah sedikit saja? Jangan terlalu baik sama orang, karena nggak semuanya mau membalas hal serupa sama Bapak. Pak Gun yang ini, kan, yang selalu menunda gajian Bapak sampai ibu marah? Kita memang miskin, Pak. Tapi jangan mau diinjak-injak, kenapa selalu begini, sih? Sama keluarga Uwa saja yang sudah memfitnah Kani, Bapak selalu saja baik. Tapi Bapak gak pernah ada niat sedikit pun untuk baik sama Kani, ketika Bapak lebih percaya sama fitnah mereka bukan sama Kani, darah daging Bapak!”
Kani memulas air matanya dan merasa muak serta tak tahan lagi, bahunya terus bergetar hebat, dia menangis sambil berjalan pergi dan Pak Muji dari belakang mengikutinya.
Pak Muji menyangka Gun akan menjaga anaknya dengan baik, memperlakukannya dengan layak. Sesal itu menggunung dan membuat Pak Muji merasa sesak apalagi setelah mendengar aduan Kani. Sepanjang perjalanan menuju pulang, Kani tak mau bicara sampai mereka di rumah pun, mereka diam. Kani sempat membeli makanan, chicken, susu kotak, sate dari hasil keringatnya sendiri. Dia memberikan uang kepada adiknya dengan rata, sisanya dia berikan kepada Ibunya dan dia hanya memegang satu lembar. Semua adiknya senang, dan Kani meringkuk di kamar hanya membatalkan puasanya dengan teh manis hangat. Beralasan lelah agar bisa menghindari keluarganya sejenak.
Kani sama sekali tak mau membahas bagaimana dia bekerja di sana. Saat hari raya pun dia tak memakai baju baru, dia bilang punya saat Ibunya hendak membelikan uang yang dia terima tapi nyatanya Kani memakai baju lamanya di lemari, terlihat sangat pas. Entah apa yang terjadi tapi Bu Ismi yakin bahwa ada sesuatu yang buruk sampai anaknya tak memperlihatkan kegembiraan yang nyata sepulang bekerja. Saudara yang bertanya pun Kani diam tak menjawabnya. Dia melengos pergi saat para keponakan dan sepupu mengemis uang THR.
“Bisa-bisanya orang tua mereka meminta anaknya mengemis padaku yang jelas miskin ini,” gumam Kani sambil menyantap ketupat dan opor ayam. Lezat, memanjakan lidahnya, sejenak melenyapkan penatnya gara-gara kejadian tak menyenangkan itu.