
Kani memberikan apa yang belum pernah dia berikan kepada siapa pun. Amarendra membuka matanya sesekali, bibirnya mulai ******* dan tersenyum sesaat sampai Kani mengendurkan cengkeramannya yang begitu tegang, gadis itu mulai menerima dan menikmatinya.
Jemari mungilnya merayap ke tengkuk pria itu. Pria itu membungkuk agar bisa membuat yang tersayangnya merasa nyaman, tak berlangsung lama setelah dia menarik pinggang Kani dengan kedua tangannya sampai gadis terduduk di atas meja.
Kani merespons setiap gerakan lembut dari bibir pria itu dan membuat Amarendra semakin menggebu untuk melakukannya lebih lama. Ada perasaan was-was yang keduanya rasa, Kani berusaha mendorong karena keduanya harus segera mengakhiri tapi pria itu belum bersedia.
Setelah puas mencecap bibir mungil halus, segar nan hangat itu, Amarendra melepaskannya dengan lembut sebagaimana dia memulainya. Keduanya menunduk dan sama-sama bingung.
Meninggalkan jejak basah di bibir mungil itu, sekali lagi dia mengecupnya dan Kani mengangkat wajahnya yang memperlihatkan keterkejutan. Amarendra lekas menarik Kani turun dan menjauhkan diri ketika mendengar suara langkah kaki, Amarendra menarik gorden seperti semula, matanya melirik Kani yang gelagapan merapikan rambutnya.
Ikat rambutnya sudah teronggok di lantai dan gadis itu menyisir rambut panjangnya serta tak mau melihat ke arah Amarendra.
Pria itu diam saat Bundanya lewat. Dia meneguk ludahnya kasar. Masih merasakan sensasinya sampai bibirnya mengukir senyuman. Kani hendak mengambil sendok di atas meja tapi dia ragu karena Amarendra di sana. Kani mendesah, pura-pura tak melihat tapi pergelangan tangannya diraih oleh pria itu. Kani melotot dan Amarendra tak mau melepaskannya.
Amarendra berhenti menggoda dan berlalu setelah berhasil membuat wajah Kani memerah.
Saat sarapan, Kani dan Amarendra saling melempar tatapan penuh arti. Amarendra sudah mandi, begitu lahapnya dia makan sementara Kani, menelan sesuap saja kesulitan. Terbayang terus kejadian tadi apalagi pria itu tepat di hadapannya.
“Maren sangat suka masakan kamu. Kalau kalian sudah menikah, jelas dia akan gendut karena makan terus,” kata Bunda dan Kani hampir tersedak.
“Aku akan terus berolahraga, pria buncit kurang sedap dipandang, Bund.” Amarendra menimpali dan melirik Kani.
“Nikahkan segera, Bund, ah bahaya.” Raihan menyela dan mereka tertawa kecuali kedua sejoli itu. Raihan terus tersenyum karena tahu sesuatu.
Sorenya, Kani dibawa Amarendra menggunakan motor. Kani memeluknya ragu dan sesaat kemudian dia memukul bahu pria itu.
“Itu belum pernah aku lakukan dengan siapa pun,” ucapnya pelan dan Amarendra menepi.
“Aku juga baru melakukannya,” balasnya sambil menoleh ke belakang. Karena gadis itu diam dengan wajah tertunduk, Amarendra turun kemudian Kani berdiri di hadapannya. Tangan Kani digenggam erat.
“Aku sayang sama kamu jangan pura-pura bodoh, aku tak suka. Jelas kamu tahu ini dan yang tadi pagi...maaf, aku salah. Jangan kita lakukan lagi.” Dia terus menggeleng-geleng keras dan lagi-lagi bibir itu membuatnya tak tahan. “Kita sudah mengenal bukan dalam kurun waktu sebentar, kamu tahu aku begitu juga sebaliknya.
Aku tak bisa menjanjikan apa pun, duniaku cuman Bunda sama kamu. Aku mau kita berjanji untuk bersama, aku hancur setiap kali mendengarmu akan dinikahkan karena aku sangat berharap aku yang bersanding sama kamu nanti.”
“Apa kamu mengajakku menjalin hubungan? Jika hubungannya kenapa-kenapa, itu akan merusak persahabatan kita, bukan?” kata Kani sesuai dengan apa yang Amarendra dengar dari Yana dulu. Kani mengkhawatirkan hal tersebut.
“Setiap kita salah paham apa aku pernah tak datang saat kamu minta?” tanyanya dan Kani menggeleng, Amarendra selalu ada untuknya. “Kita jalani seperti biasanya, kamu manja padaku, aku menyayangimu, kita menghabiskan waktu bersama, berkomunikasi seperti sebelum-sebelumnya. Kita akan menjalani ini sampai aku bisa melamarmu. Tolong, abaikan lamaran dari pria lain walaupun mereka lebih baik dariku dan jika kamu juga memiliki rasa seperti yang aku punya.” Dia memandang teduh dan menunggu respons gadis itu.
Kani tersenyum dan membelai lembut pipi Amarendra. “Aku sudah sering melakukan itu karena aku menunggumu,” ungkapnya dan Amarendra mengulum bibirnya, merasa tersentuh dan Kani tertawa saat Amarendra memeluknya erat.
Dia mencium kening Kani kemudian mengajak gadis itu meninggalkan tempat tersebut.
Setelah puas berjalan-jalan, keduanya kembali ke rumah, Kani mengempit tangan Amarendra dan keduanya diam saat melihat seorang gadis menunggu di depan pintu. Wajahnya begitu galak saat melihat Kani dan tak lama orang tua gadis itu keluar dari rumah, kesal melihat Amarendra digandeng gadis lain.
Perlahan, Kani melepaskan tangannya tapi Amarendra meraih tangannya.
“Dia Kaniraras,” imbuh Amarendra dan Kirana memilih masuk.
Kani melepas genggaman tangan Amarendra dan lebih memilih mendekati Yana dan Raihan.
“Dia ada di mana-mana,” kata Yana kesal.
“Capek gue ngelihatnya.” Raihan memperhatikan Kirana dan Kani di antara mereka sibuk memperhatikan pot-pot bunga yang berjajar rapi.
Malam harinya, Kirana dan orang tuanya baru pergi. Amarendra menemui Yana dan Raihan. Kani di lantai dua dan Amarendra menyusul.
Gadis itu berdiri di dekat jendela terbuka, dia mengusap bahunya dan Amarendra membalut bahunya dengan selimut pendek.
“Maren, mereka sudah pulang?” tanya Kani dan Amarendra mengangguk.
“Ayo ke dapur,” ajaknya sambil merangkul bahu dan Kani membeku dengan kedua mata membulat sempurna. “Akan aku buatkan Teh manis hangat, pikiranmu ke mana?” Amarendra tertawa dan Kani tersenyum.
Mereka turun dan berpapasan dengan Bunda.
“Itu yang namanya Kirana?”
Amarendra diam sejenak, melirik sebatas ekor matanya kemudian mengangguk.
“Cantik, ya.” Kani mendelik dan Amarendra berbalik. Mendekatinya.
“Cemburu? Jangan mengira aneh-aneh, mereka hanya berkunjung. Aku tak suka mendengar nada bicaramu barusan.” Dia menekan dagu gadis itu dan Kani menarik sudut bibirnya. Amarendra menjauh saat air sudah mendidih. Dia juga mengeluarkan camilan dari lemari.
Setelah teh siap, dia duduk dan mengusap bibir kotor karena es krim itu. Kani ******* bibirnya perlahan dan menyuap biskuit.
“Jangan lupa apa yang kita bicarakan tadi sore,” kata Amarendra penuh peringat dan Kani mengangguk paham.
Satu jam kemudian, Kani masih belum mengantuk, dia keluar lagi dan pergi ke lantai dua. Melihat pemandangan dari sana dan Amarendra mendekat, merapat, memeluknya erat dari belakang. Keduanya berbalut selimut yang sama.
“Kita besok berangkat pagi?”
“Iya.” Amarendra merapatkan pipinya ke pipi gadis itu dan Kani diam.
“Aku pulang sendirian dari terminal Bandung?”
“Ya enggak, aku antar nanti. Bunda juga menitipkan sesuatu untuk Abah, jadi aku harus ke Bandung denganmu.” Dia tersenyum lalu keduanya duduk. Amarendra membelai rambut panjang itu, menyelipkannya di belakang telinga dan Kani mendekap kedua lututnya.
Kani menoleh lalu keduanya saling merapatkan kening.
Besoknya, mereka semua pergi, Kani terus melambai sambil menangis, tak tega meninggalkan Bu Sri sendiri. Mobil terus melaju dan Amarendra memintanya duduk dengan benar.
“Mau cari makan dulu nggak? Masa ke Malang nggak beli apa-apa.” Wisnu berbicara dan semuanya mengiyakan.
Kani membeli beberapa macam oleh-oleh, Amarendra membayar semuanya lalu mereka mampir ke tempat makan serta melanjutkan perjalanan. Raihan dan Yana menitipkan oleh-oleh yang mereka beli pada Amarendra untuk diberikan pada keluarga mereka. Agak menyusahkan bagi Amarendra yang tak suka membawa ini itu. Dia melakukannya, demi kawan seperjuangan.
Amarendra dan Kani turun di Terminal Bandung. Mereka pulang bersama dan menuju rumah, Kani memilih memakai ojek saja. Tak mau membuat Amarendra repot lagi. Waktu bersama bagi mereka sudah sangat cukup dan sesampainya di rumah, Kani merebahkan tubuhnya sambil melihat berita, kemacetan pergantian tahun baru memuncak hari ini. Kani merasa beruntung karena mereka semua berangkat pagi-pagi.
“Kamu tak apa-apa belum kembali ke Bandung, Teh?” tanya Bu Ismi setelah melihat anaknya sudah agak santai.
“Enggak, Bu. Pekerjaan semuanya sudah beres, kok. Yang penting nanti hari Minggu harus segera ke sana lagi.” Kani meminum airnya dan Pak Muji memperhatikan anaknya yang sudah dewasa itu.
“Untung Teteh sudah sampai di rumah,” seru Dahlia.
“Kayaknya nanti hari Minggu itu puncaknya.” Kani menggeleng membayangkan kemacetan yang selalu membuatnya kesal. Dia pamit ke kamar dan matanya yang lengket terpejam begitu mudahnya.
“Kani ke Malang, Bu?” tanya Pak Muji.
“Kok Bapak baru tanya, kan dari awal Kani sudah bilang,” kata Bu Ismi.
“Sama siapa saja dia bilang?”
“Teman-temannya dari yayasan, ada teman sekolah, Pak.” Bu Ismi sangat percaya dan Pak Muji terdiam, Kani begitu berani pergi ke tempat jauh-jauh sekarang. Ia hanya takut terjadi sesuatu.
Ketika sudah waktunya, Kani pergi ke Bandung dengan Bapaknya. Pak Muji hanya mengantar sampai Terminal kemudian majikannya Kani menjemput anaknya di sana, biasanya memang begitu dan Pak Muji naik Bus untuk pergi bekerja masih di daerah Bandung. Sebuah pembangunan perumahan. Rekan-rekannya bahkan sudah pergi sejak kemarin.
Di tempat Amarendra berada, dia meletakkan tasnya di sebuah tenda yang terbuat dari terpal seadanya. Ponselnya berdering dan dia lekas mengangkat.
“Gila kamu, Maren. Mending cari pekerjaan lain,” katanya langsung protes saat tahu Amarendra bekerja sebagai kuli bangunan.
“Aku sudah di sini, Rai. Aku sudah ada niat untuk mengikat Kani dengan sebuah cincin di hari ulang tahunnya yang ke 19. Hanya antara kami berdua tapi itu sangat penting. Aku ingin memastikan tujuan hubungan kami sampai bisa benar-benar bersama setiap waktu.” Dia tersenyum dan Raihan mengumpat di tempatnya.
“Itu berat, Maren.”
“Cari kerja nggak gampang, Rai, apalagi Lusi dan Kirana terus mencari tahu aku melamar kerja ke mana dan di mana. Hanya pekerjaan ini yang aman, toh halal, daripada aku diam di rumah sementara Kani saja bekerja walaupun pekerjaannya melelahkan.” Amarendra duduk dan Raihan mencak-mencak apalagi Kani belum tahu bahwa Amarendra sudah dipecat. Raihan tak habis pikir kenapa Amarendra bisa separah itu mendamba. Dia mematikan panggilan dengan kasar dan Amarendra tak peduli.
“Pak Muji!” teriak Haryawan dan Amarendra menoleh, detik pertama masih biasa, tetapi tidak setelah dia melihat Pak Muji yang dipanggil adalah orang yang sama.