
Kani menghentakan kaki dan mencubit dada Amarendra. Pria itu mengerutkan bahu merasa geli. Dia menangkup kedua pipi Kani yang akan basah sebentar lagi, Kani tak mau, bersikukuh dan kedua pria tadi ditambah sepupu Amarendra sibuk menonton.
“Pacarnya?” tanya sepupu Amarendra, Wisnu.
“Calon istri,” kata Yana dan Wisnu mangut-mangut.
Amarendra menggeleng kepala, tak berhasil meyakinkan gadis itu. Kani senang dan menelepon Ibunya. Bilang bahwa dia akan pergi sebelum pulang ke Bandung. Ibunya sedikit ragu tapi akhirnya mengizinkan karena Pak Muji juga memberi izin.
Masalah selesai dan mereka semua masuk ke dalam mobil Wisnu. Raihan paling belakang, Yana dan Kani di tengah. Amarendra di depan dan Wisnu memintanya menyetir bergantian dengannya. Perjalanan tak sebentar, mereka membeli makanan terlebih dahulu sebelum memasuki jalan Tol. Amarendra meminta Wisnu berhenti, dia pindah ke tengah, tak rela jika Kani dirangkul Yana. Yana pindah ke depan dan Amarendra tak akan memberitahu Bunda, ini kejutan membawa Kani ke hadapannya.
Kani tertidur, kedinginan dan Amarendra menyelimutinya dengan jaketnya. Amarendra terus menatap gadis dalam dekapannya itu. Ia tersenyum dan menyenderkan pipinya ke pucuk kepala Kani.
Setelah menempuh perjalanan sepuluh jam lebih, cukup lancar, Kani merasa pegal-pegal. Rambut yang dia buat sedemikian rupa sudah dia Cepol tinggi-tinggi. Amarendra cengar-cengir melihat wajah bantal gadis itu.
Dari dalam rumah, Bu Sri mengamati mereka semua dan gadis cantik yang memakai dres lengan pendek setengah betis. Apa itu kekasih anaknya? Tapi setelah dilihat dengan cermat dia langsung berseru lantang menyebut nama Kani.
Kani menoleh dan tersenyum, dia berpelukan erat dengan Bunda Sri.
“Lupa sama anak sendiri, Bund?” kata Amarendra dan Bunda tertawa kemudian memeluknya erat-erat.
Semuanya diajak masuk, Wisnu hanya mampir sebentar. Kani yang baru duduk memperhatikan seisi ruang tamu rumah berlantai dua itu. Amarendra membantu Bundanya menyiapkan air dan kudapan. Kani ingin membantu dan pergi ke dapur. Dia berpapasan dengan Amarendra yang membawa nampan. Keduanya melempar senyuman dan Amarendra hampir jatuh merasa degup jantungnya yang tak ramah.
“Kani, duduk saja di sana, kamu pasti capek.” Bunda menolak tapi Kani memaksa dan Amarendra memperhatikan, membuka kulkas untuk mencari air dingin. “Kamu ke sini sudah izin? Bunda bukannya tak senang, cuman takut saja.” Matanya melirik Amarendra dan Kani tersenyum.
“Kani sudah minta izin dan diizinkan, Bunda. Tak usah khawatir,” katanya dan membuat Bunda lega apalagi Amarendra mengangguk mengiyakan.
Kani membawa piring berisi potongan kue, Amarendra dari belakang mengekor dan Bunda terus melirik siaga pada anak lelakinya yang kebelet kawin itu.
Kani duduk di dekat Bunda. Mereka semua mengobrol dan bercanda. Karena hari sudah gelap, semuanya sangat lelah, Bunda meminta mereka semua bersih-bersih lalu nanti makan malam bersama.
Setelah mandi, Kani membantu memasak, dia pandai dan Bunda memujinya.
“Di rumah tempat Kani bekerja sekarang, Kani setiap hari masak, Bund. Jadi belajar banyak sama semua masakan yang nggak Kani ketahui.” Ia menjelaskan.
“Pasti capek kamu, Nak. Mengurus rumah, masak, tiga anak majikanku itu kamu juga yang harus memperhatikan.” Bunda mengusap bahu Kani, dia kagum dengan gadis belia nan cantik ini.
“Tapi Kani merasa senang saja, Bund. Kani tak pernah direndahkan walaupun cuman pembantu. Anak-anak juga baik-baik, yang kecil agak manja. Majikan perempuan memang tak bekerja, Kani hanya menjaga anak-anak ketika beliau ada urusan saja.” Kani tersenyum lebar dan memasukkan potongan seledri serta bawang daun ke dalam panci berisi sup.
Setelah semuanya siap, tiga pria itu datang dan duduk. Kani meletakkan piring di hadapan Amarendra juga sendoknya. Amarendra tersenyum dan telinganya dijewer karena tak berkedip melihat Kani. Kani terkekeh dan Bunda mendelik pada anaknya itu. Amarendra hanya mampu bungkam sambil terus menatap Kani jika ada kesempatan.
“Enak?” Bunda bertanya dan Kani mengangguk. “Tambah lagi ayo.” Begitu semangatnya Bunda dan Amarendra memperhatikan.
“Ayo tambah lagi jangan malu-malu,” ucap Bunda dan jelas saja Raihan dengan Yana begitu semangat mengisi piring mereka lagi.
Kani melirik Amarendra yang hanya makan sedikit dan setelah makan, Kani yang merasa kegerahan kembali mandi kemudian berdiri di dekat jendela. Menatap ke bawah dan sekeliling. Kani berbalik saat mendengar suara langkah kaki, dia tersenyum karena itu Amarendra.
“Aku diminta menutup gorden, kenapa belum tidur?” Amarendra melihat keluar.
“Kani,” panggilnya pelan dan Kani berbalik. Cukup lama Kani menunggu tapi Amarendra bingung harus berucap apa, apa tadi? Dia mendadak amnesia. “Selamat malam,” ucapnya gugup dan Kani tersenyum lebar.
Amarendra berjalan dan terus menoleh, dia kaget menabrak Bunda yang entah mau ke mana.
“Kani, bereskan barang yang perlu dibawa ke kamar Bunda. Kamu tidur sama Bunda takut tengah malam ada yang kesasar masuk ke kamar kamu.” Bunda tersenyum dan Kani mengangguk. Amarendra mendesis, sangat merasa tersindir walaupun dia tidak akan mungkin berani melakukan itu.
Kani membawa barang yang penting saja, dia diam menatap Amarendra yang seperti ingin mendekat tapi canggung. Akhirnya dia yang mendekatinya.
“Apa? Pergi sana ke kamar Bunda,” kata Amarendra dan Kani mencebik bibirnya.
“Bunda sangat tahu anaknya nakal,” gumamnya bercanda dan Amarendra mencondongkan bahunya. Dia kecup mesra pipi gadis itu yang langsung memerah merona.
“Begini maksudmu?” ujarnya serak dan Kani mendelik kesal, dia pergi sambil memegang pipinya.
Keesokan harinya, Kani ikut ke pasar dengan Bunda. Bunda ingin memasak kerang dara saus tiram kesukaan Amarendra. Kani melirik keluar melihat ketiga pria itu baru selesai joging. Kani membantu memasak, tapi Bunda pergi ke warung saat ada bumbu yang tak ada di rak, Bunda diantar Yana menggunakan motor.
Kani menoleh saat Amarendra masuk hanya memakai kaos oblong, pria itu membuka kulkas dan melirik Kani sekilas yang terus bergidik entah kenapa. Kani bisa melihat otot lengannya, itu mengerikan baginya. Kani mengerutkan kening dan mencuci tangannya sambil terus melirik-lirik.
“Maren, mandi sana.” Kani tak mau melihat tubuh berkeringat itu. “Bau tahu.” Dia menjepit hidungnya, hanya alasan.
Kani tertawa saat pinggangnya ditarik, tubuhnya menempel di tubuh berkeringat itu.
“Rasain!” Amarendra tersenyum lebar dan Kani mendorong dada pria itu lembut. “Aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti sore, mau?”
Kani mengangguk mengiyakan.
“Untung aku ikut, aku senang bisa bertemu dengan Bunda.” Kani tersenyum lebar dan Amarendra menatapnya. “Bunda tinggal sendirian, aku jadi khawatir, Maren.”
“Lusi meminta Bunda di Jakarta, Bunda tak mau.”
Kani diam dan pinggangnya tak kunjung dilepaskan.
“Aku gemuk, iya, kan?” Meminta penilaian dan Amarendra menggeleng-geleng.
“Ini sangat pas.” Dia menarik rangkulannya dan Kani terkejut.
Kani diam saat kening dan hidung mereka beradu, Amarendra menatap bibir merah muda itu dan tatapan mata Kani seolah memberikannya izin untuk melakukannya.
Dia menjatuhkan kecupan mesra di pipi kiri gadis itu kemudian mengecup yang sebelah kanan.
Alih-alih menolak, Kani malah diam saja merasakan bulu halus itu menyentuh kulit wajahnya.
Tangan Amarendra berayun menarik gorden pembatas dapur dan ruangan tengah, mencegah siapa pun yang bisa saja melihat keduanya.