Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
PAMIT


“Syukurlah kau sadar posisimu, oh tidak karena kau memanfaatkan keponakan saya.” Suaranya berubah, tegas.


“Kau penghalang kesuksesan keponakanku, membuatnya tertular kemiskinan padahal sudah jelas-jelas akan saya tanggung tapi dia menolak karena dekat denganmu. Amarendra memang jatuh miskin tapi dia tetap beda denganmu, dia keponakan saya! Seharusnya dia kuliah tapi lebih memilih bekerja rendahan dengan gaji kecil agar bisa bertemu denganmu. Kau selalu memintanya datang seenak hati, gadis menyusahkan!”


“Kami dekat karena kami berteman, Pak. Saya tak pernah memintanya membatalkan niat untuk kuliah.”


“Secara tidak langsung dan kamu tidak akan pernah sadar, karena memang niatmu membuatnya sulit. Seharusnya kau mengerti dengan kedatangan kami ke rumahnya di Malang. Anak saya dengan dia sudah dijodohkan. Tak ada gunanya kalian dekat-dekat. Kakaknya bahkan sangat benci padamu, membuat adiknya semakin membangkang dan Sri, apa dia benar-benar mau memiliki menantu seorang pembantu? Dia bahkan dulu bisa memperkerjakan beberapa orang pembantu dan menantunya harus memiliki pekerjaan begitu? Kau bahkan tak sekolah. Pendidikan itu penting, kau tak akan pernah sepadan dengan Amarendra.. keluarga kami tak akan pernah setuju dengan hubungan kalian! Jika kau tetap dengan Amarendra dan masuk ke dalam keluarga kami, kau akan terlihat mencolok karena derajatmu berbeda. Perempuan tak bersekolah, pembantu, cih!”


Kata-katanya menusuk relung jiwa Kani. Kani menangis tanpa suara dan berhenti setelah sadar anak asuhnya memperhatikan. Dia hanya pembantu, tak perlu sampai disadarkan. Dia juga tahu.


Kani memutuskan untuk menjauh dan menjauhi Amarendra hanya bisa dengan dia menerima pria lain tapi pilihannya melahirkan malapetaka. Kalingga dan keluarganya menumpahkan kotoran pada keluarganya juga trauma pada dirinya.


***


Amarendra membisu mendengar apa yang dikatakan oleh Sutan. Mau marah pun percuma, orangnya sudah tiada dan masih menggenggam penyesalan. Amarendra menggesekkan pipi di atas rambut Kani. Kani terus memeluknya erat dan Amarendra mengelus pipinya.


“Kalingga menyakitiku, keluargaku, dan bisa-bisanya setelah dia berkeluarga...dia mengirimiku pesan lagi, terus mengganggu, dia bilang akan bertanggung jawab atas luka yang dia buat asal aku mau dia nikahi secara siri. Dia akan menjamin kehidupanku, dia gila, bahkan saat itu istrinya sedang hamil. Dia merendahkanku setelah mempermalukanku.”


Amarendra mengeram murka mendengarnya, dia menyesal karena di Mal tak sempat meninju wajah pria itu. Kani dalam pelukannya terus menangis.


“Aku di sini, tak akan ada lagi yang berani menghinamu... teruslah mengadu jika ada apa-apa, aku senang kamu begitu daripada diam dan menyembunyikan banyak hal lalu memutuskan dengan gegabah. Jika Kalingga benar-benar sempat menikahimu, dan kamu tahu dia bajingan setelah kalian menikah, itu akan lebih buruk. Masih beruntung karena pernikahan itu gagal dan juga, jika aku tak bertemu dengannya beberapa waktu lalu di Mal. Aku mungkin terus berpikir bahwa kau sudah bahagia dalam pelukan pria lain. Sementara aku akan terus membujang entah sampai kapan.”


Keduanya perlahan tersenyum dan Kani mendongak menatap.


“Akhiri kesendirianku, Kani. Jangan biarkan aku menjadi bujangan lapuk! Aku tak sanggup lagi mendengar ocehan Lusi, sindiran semua orang, dan tangisan Bunda karena aku masih terus saja sendiri. Kau mau menikah denganku, hmm?” ucapnya lirih dan tak sengaja melihat bibir itu. Kani menahan bibirnya dengan telapak tangan dan Amarendra mengecup lembut telapak tangan itu. Sekarang, wajah keduanya merona. “Menjauhlah, aku tak tahan!” Dia melepaskan pelukan, Kani terkekeh dan melihat Amarendra salah tingkah.


Kani terus memandang pria itu dan Amarendra berbicara lagi.


 “Aku hanya ingin menikah denganmu, tak ada pekerjaan yang rendah kecuali menjual harga diri. Kau bekerja dengan baik dan aku kagum padamu. Lupakan dan maafkan apa yang diucapkan Almarhum Om Sutan.” Kani tersentak dan memegang tangannya. “Iya, belum lama ini. Maafkan Om Sutan, jangan ada dendam di hatimu. Aku tahu itu sakit tapi aku lebih tahu seperti apa Kani yang aku kenal.” Dia menggenggam tangan Kani erat-erat.


“Tak ada status manusia yang berbeda, pikirkan baik-baik dan menikahlah denganku. Aku tak memiliki waktu banyak, untukmu, aku harus izin bekerja, dan Bunda marah karena aku pergi ke sini. Bunda takut mengganggu yang dia yakini sudah berkeluarga. Dengar ini, Abah bahkan sudah heboh untuk membuat puluhan hantaran di pernikahan nanti. Semua orang sudah tak sabar aku menikah apalagi calonnya adalah dirimu, aku ingin jawaban sekarang juga. Aku tak mau menunda.” Amarendra tersenyum, punggung tangannya mengelus pipi dan punggung jari telunjuknya mengelus bibir mungil itu. Mata Kani menunduk, memperhatikan tangan Amarendra.


“Apa tak bisa memberiku waktu untuk berpikir, sehari saja?” Kani menahan senyum. Amarendra mendesah dan tatapannya redup.


“Apa lagi yang membuatmu ragu?” Suaranya amat lemah.


“Aku hanya ingin membuatmu tak tidur semalaman memikirkan jawaban dariku.” Dia tersenyum lebar dan tertawa saat Amarendra menekan dagunya, sedikit kesal karena Amarendra sudah tegang barusan.


Melanjutkan perjalanan, setibanya di samping rumah Kani. Keduanya turun. Amarendra tak sabar untuk melihat Pak Muji.


“Maren, apa ditunda saja, besok kau ke sini.” Kani menarik lengan besar itu dan Amarendra mendekatkan diri padanya. Kani gugup dan takut ada yang melihat.


“Kau selalu ingin aku datang, kan? Sekarang aku bisa, jangan menahanku.” Dia begitu antusias dan kedua alis Kani terangkat.


“Kapan membeli ini semua, Maren?” Kani memperhatikan apa yang dikeluarkan Amarendra dari bagasi mobil.


“Kau pikir aku tak malu jika datang dengan tangan kosong? Aku memang sempat berbelanja sebelum kita berjumpa. Aku sudah mengikutimu beberapa hari ini, memperhatikan dari jauh sampai aku putuskan untuk menemuimu sekarang.” Amarendra tersenyum dan Kani mengayunkan tasnya bertubi-tubi ke bahu pria itu.


“Itu kau, kan! Yang aku lihat dan membuatku ke pikiran!!” Kani kesal dan Amarendra cengengesan. “Seharusnya aku bisa menduga itu tapi malah sibuk berpikir aku terlalu gila sampai berhalusinasi.”


“Kau benar-benar kasmaran denganku, Kani,” gumamnya menggoda dan Kani mendengus.


Amarendra dan Kani berjalan berdampingan, Amarendra mendadak berbalik saat melihat banyak orang.


“Kenapa banyak orang?” Dia berbisik-bisik. Ingin pergi saja.


“Sudah aku bilang besok saja. Semua keluarga berkumpul karena ini hari syukuran kehamilan Kenanga.” Kani tersenyum dan melihat Amarendra malu-malu. “Tak akan aku biarkan kau pergi.” Kani menarik lengan pria itu kemudian mengedipkan sebelah matanya. Amarendra kaget melihat Kani genit begitu dan dia tersenyum. Biarlah! Akan lebih baik ketika semua keluarga sedang berkumpul begini, batinnya.


Semua orang yang sedang sibuk memasak, mengobrol, bergurau menoleh sambil menjawab salam. Dahlia yang melihat pria di sebelah Kani langsung pergi untuk menemui Ibunya di dalam. Dia bahagia karena yakin Amarendra tak akan pernah kembali dan datang ke sini jika bukan untuk hal serius.


“Kani, dia siapa?”


“Ini...” Kani tersenyum dan mendongak, menatapnya lekat. “Dia calon suamiku,” celetuknya dan Amarendra tersenyum manis. Agak grogi dan melihat Pak Muji keluar. Pak Muji bingung untuk pertama kalinya Kani membawa seorang laki-laki tapi beberapa detik kemudian saat Amarendra tersenyum, meraih dan mengecup punggung tangannya, Pak Muji ingat dia siapa.


“Ini dia...ini yang bernama Amar itu, Bu.” Pak Muji begitu antusias dan senyuman Kani memudar. Pak Muji memeluk Amarendra. Kani dan Dahlia saling memandang bingung.


“Tapi dia Amarendra, satu sekolah sama kita semua dulu.” Kenanga berbicara dan Pak Muji beralih padanya sejenak.


“Akan saya jelaskan, Pak.” Amarendra tersenyum dan Kani terus memperhatikan Amarendra yang dibawa Bapaknya masuk.


“Dia Amar yang bapak inginkan menjadi suamimu, sementara kita mengenalnya sebagai Amarendra kekasihmu. Kok bisa?” Dahlia mendekati Kani dan Kani menggaruk kepala. Dia juga tak paham dan sekarang Amarendra benar-benar hanya sibuk mengobrol dengan Bapaknya.


Kani membuatkan air minum. Saat dia mendekat, keduanya mencuri-curi pandang.


“Kau benar-benar harus menceritakan segalanya, Amarendra,” bisik Kani yang perlahan melangkah dengan meletakkan nampan di dadanya. Amarendra tersenyum lagi, melihat Kani kebingungan, dia sangat ingin tertawa.


Bu Ismi yang melihat Kani ke dapur langsung menariknya.


“Bapak bilang itu Amar, tapi adik-adikmu bilang itu Amarendra. Yang benar yang mana? Kau mengakuinya sebagai calon suamimu, apa kau tak berpikir dulu baru ketemu langsung menjatuhkan pilihan hanya karena dia tampan?” Bu Ismi khawatir, dulu, dengan yang dekat saja mereka dipermalukan apalagi jika dengan lelaki tadi yang tak jelas asal-usulnya.


“Aku mengenalnya sejak lama, dia teman saat di sekolah, hubungan kami berjalan bertahun-tahun sebelum Kalingga datang ke rumah dengan niat melamar. Aku mengenalnya, Bu dan aku kenal seperti apa keluarganya. Masalah ia berbohong tentang identitasnya pada bapak, aku yakin ada alasan, aku ingin menikah dengannya tak akan terhalangi dengan hal semacam itu karena aku tahu dia.” Kani berbicara sangat pelan dan Ibunya terdiam.


Kani harap-harap cemas menunggu Amarendra dengan Pak Muji mengobrol sampai cukup lama keduanya dibiarkan, Pak Muji memanggil Kani. Kani menghela napas, takut, dia memasuki ruang tamu dan Amarendra menatapnya kemudian dia menundukkan kepala. Sementara Bu Ismi dan adik-adiknya mengekor di belakang. Semuanya duduk dan Kani merasa suasana begitu sangat tegang.


“Dia ingin melamar kamu, dia sudah menjelaskannya sama Bapak. Kamu suka dia, Kani?” ujar Pak Muji dan Kani menaikkan wajah khawatirnya.


“Iya,” jawabnya pelan dan Amarendra melirik. “Tolong, Pak. Beri kami restu, Kani hanya mau menerima lamarannya bukan dari pria lain,” sambungnya lirih dan Amarendra terlihat tegang.


Pak Muji diam dan memperhatikan keduanya bergantian.


“Pak.” Bu Ismi menyentuh bahu suaminya dengan lembut. “Terima saja, Kani suka dan mau, Bapak juga sudah kenal sama anak ini apalagi yang Bapak pikirkan? Mau terus-terusan melihat Kani sendirian, dia tak mau menikah karena hanya pemuda ini yang dia tunggu.”


Dorongan dari Bu Ismi membuat Kani dan Amarendra saling menatap lega. Keduanya menunduk lagi takut-takut Pak Muji berubah pikiran karena Amarendra menyembunyikan sesuatu darinya juga Kani yang tak mengatakan apa-apa tentang hubungannya dengan lelaki yang dia kenal sebagai Amar.


“Bapak nggak mau.”


“Pak.” Kani hampir menangis dan Amarendra menyenderkan punggungnya lemah. Kani terus menggoyangkan lutut Pak Muji dan Ibu serta adik-adiknya menunjukkan penolakan atas ucapan Bapak mereka. Tangis Kani pecah dan keningnya menempel di kaki Pak Muji.


“Saya pamit.” Amarendra bangkit tapi Kani menarik pergelangan tangannya. Tak mau Amarendra pergi sebelum berhasil dapat restu.