Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
KESERIUSAN


Pak Muji yang sedang berbicara dengan Haryawan memperhatikan lima pemuda yang baru akan terjun di dunia kuli. Mereka butuh pengarahan dan Pak Muji mendesah, itu akan sangat merepotkan untuknya dan untuk Haryawan juga pekerja yang sudah senior yang lain.


Pak Muji tidak mengenali Amarendra. Waktu itu saat melihatnya, Amarendra sedang babak belur. Amarendra merasa tenang karena Pak Muji tak mengenalinya. Tapi tetap saja dia was-was.


Pekerjaan pertama mereka semua menggali, Amarendra sudah merasakan perih pada telapak tangannya di awal begini.


“Heh kamu, pakai sarung tangan.” Pak Muji memberikan sepasang dan Amarendra menerima, mengucap terima kasih penuh hormat. Ih sha Allah calon mertua, batinnya.


***


Kani bekerja seperti biasa, dari subuh membersihkan rumah, untuk sarapan kadang Nyonya yang membuat sendiri dan pukul 11 makanan sudah harus siap karena Tuannya selalu pulang saat jam istirahat untuk makan di rumah.


“Kamu libur kerja ke mana, Kani?” Pria bernama Satya itu bertanya.


“Ke Malang, Pak.” Kani tersenyum.


“Jauh juga,” kata Satya lagi dan dia mulai makan sambil menyuapi anaknya yang paling kecil.


“Tolong bikin teh tawar buat Bapak, ya,” pinta Shahnaz dan Kani mengangguk.


Kani meletakkan gelas teh tawar di atas meja kemudian dia melipir ke kamarnya dan si Kecil mengekor. Satya dan Shahnaz tersenyum melihat kedekatan anak-anak mereka dengan Kani.


“Kalau Kani menikah, susah lagi kita cari pengganti,” kata Shahnaz.


“Memangnya kapan dia nikah?” timpal Satya.


“Ya nggak tahu, baru  kalau dia menikah.” Shahnaz tersenyum dan Satya sudah bisa memprediksi akan sesulit apa mencari pengganti gadis itu.


Malamnya, Kani hanya mendapatkan pesan dari Amarendra. Mungkin pria itu lelah dan Kani juga istirahat lebih awal.


Amarendra sedang merasakan sekujur tubuhnya pegal, tangannya sakit mengayunkan cangkul seharian. Dia tak bisa tidur juga dengan mereka yang merasakan hal yang sama. Amarendra terlentang dan menampar pipinya sendiri karena banyak nyamuk. Ini berat, dia tak sanggup. Apa dia kabur saja besok?


Amarendra meraih ponselnya dan melihat foto Kani dengannya. Niatnya untuk kabur gugur setelah melihat wajah itu. Dia akan tetap bertahan setidaknya sebulan. Dia harus membiasakan diri sekaligus menghindari Pak Muji.


Besok paginya, dia sarapan bersama yang lain, nasi bungkus yang katanya nasi uduk, rempah-rempahnya hambar  malah membuatnya mual. Amarendra memilih memakan roti. Dia menatap wajah itu di layar ponselnya, perlahan menggeser, melihat foto saat dia sedang berciuman dengan Kani. Dia menggesernya kasar saat melirik Pak Muji sedang tersenyum dan dia menyembunyikan foto itu. Ada gejolak menakutkan yang siap menyergapnya kapan pun, ada kekhawatiran jika Pak Muji tahu siapa dia.


Waktunya bekerja dimulai. Panas, berdebu, haus, menjadi teman baru bagi Amarendra. Ini jelas berbeda dengan tempat kerjanya kemarin walaupun Manajernya menyebalkan dan Amarendra yakin dia akan gosong dalam waktu seminggu bekerja begini.


“Kamu, siapa namanya? Kemari.” Pak Muji memanggil dan Amarendra mendekat.


“Amar, Pak.” Amarendra menelan ludah dan bahunya ditepuk pria paruh baya itu. Kedua matanya tampak gelisah dan dia menurut di mana dia ditempatkan.


Setelah Pak Muji tahu namanya, dia sering dipanggil, disapa, diajak ke masjid, sama seperti ke pekerja yang lain. Amarendra semakin merasa malu dan juga ciut, merasa bersalah sampai tak terasa dia yang berniat kabur malah sudah Minggu di tempat ini.


 Kani yang merasa Amarendra jarang menelepon malah mengira diabaikan. Kani menelepon Yana untuk menanyakan Amarendra. Yana gugup takut-takut keceplosan.


“Dia tidur, Yan? Biasanya dia menelepon kalau pulang kerja,” ucap Kani dingin.


Kani memiringkan tubuhnya, melihat layar ponselnya, ia dengan pria itu yang sekarang terasa begitu berubah dan Kani mengaitkannya dengan Kirana dan orang tuanya yang datang saat mereka ke Malang waktu itu.


“Apa kamu sudah merasa bosan sama aku, Maren?” ucap Kani pelan dan dia bangun saat nada dering panggilan terdengar tapi bukan dari Amarendra tapi dari nomor tak dia kenal. Kani mengangkatnya, takut ada yang penting menyangkut keluarganya di kampung. Dia diam saat mendengar suara itu, Kalingga.


“Dari mana Mas Lingga tahu nomor Kani?” ucap Kani pelan.


“Dari Dahlia, maaf, ya, agak memaksa adik kamu tadi. Gimana kabar kamu sehat, Kani? Kerja di mana sekarang?” Suara Kalingga begitu lembut.


Kani meladeninya, merasa dia belum mengantuk juga dan besoknya, besoknya lagi, Kalingga terus menelepon ketika malam. Mengisi ruang yang ditinggalkan Amarendra karena kesibukannya bekerja.


Amarendra tak punya banyak waktu, tak enak dengan yang lain jika terus bermain ponsel, Amarendra juga kadang lembur agar upahnya sedikit naik. Pak Muji yang memperhatikannya merasa tertegun, walaupun Amarendra yang dia kenal sebagai Amar itu tak banyak bicara, mangut-mangut menurut tapi dia mudah menyerap apa yang dia arahkan. Gerakannya yang di awal begitu lemah kini begitu gesit.


“Dia punya badan yang tinggi besar, Pak. Wajar tenaganya juga jempol.” Haryawan tersenyum.


“Ah ada juga yang badannya tinggi besar tapi kendur, loyo, dia kayaknya suka olahraga. Badannya bagus kayak saya waktu muda.” Pak Muji tergelak dan Haryawan sampai basah matanya karena tertawa dengan gurauan Pak Muji, itu bohong, Pak Muji tak punya tubuh begitu saat muda, dia tinggi kurus tak beda jauh dengan sekarang.


Malam saat Amarendra ada waktu, dia berusaha menelepon tapi nomor Kani sibuk. Tak biasanya karena dia tahu Kani tak pernah menjawab telepon dari orang lain di jam ini, ini jam khusus untuk mereka bertukar cerita walaupun terpisah jarak. Malam berikutnya juga sama, Amarendra mulai tak tenang, Yana mengadu bahwa Kani sempat menanyakannya.


“Bukannya kita sudah serius sekarang? Tapi kenapa kamu malah berubah, Kani.” Amarendra menunduk dan meremas rambutnya yang sudah panjang. Sudah dua bulan dia di sini. Pak Muji perlahan mendekat, memberikan susu jahe dan Amarendra menerimanya.


“Sudah salat isya belum?” tanya Pak Muji dan Amarendra mengangguk. “Kamu ikut siapa ke sini?”


“Diajak teman sekolah, Pak. Daripada diam di rumah,” katanya kemudian menyeruput susu jahenya.


“Sudah menikah?” Pak Muji menatap dan Amarendra menggeleng. “Pekerjaan banyak, saya melihat kamu anaknya mau belajar, bukan saya tak senang kamu di sini. Tapi sangat disayangkan, bukannya ijazah SMA bisa berguna untuk melamar pekerjaan di minimarket, pabrik, atau di tempat yang lebih bagus gitu?”


“Untuk laki-laki agak susah, Pak. Tergantung rejeki juga, walaupun ada ijazah atau bahkan sarjana kalau rejekinya di bangunan ya gimana.” Amarendra tersenyum dan Pak Muji tertawa.


“Saya punya anak perempuan paling besar sepertinya kamu seusia anak saya.” Pak Muji meminum susu jahenya dan Amarendra sangat ingin menjawab bahwa dia lebih tua dari Kani.


Obrolan mereka berakhir dan Pak Muji pergi ke tendanya. Amarendra diam, perlahan merebahkan tubuh, dia tak mau Pak Muji sampai tahu atau Kani tahu dia bekerja di sini dan dia berharap bisa segera mendengar suara gadis yang ingin dia perjuangkan tersebut.


Amarendra membuka foto tersembunyi di ponselnya, melihat foto tak pantas itu, Amarendra melihatnya cukup lama sampai dia memutuskan untuk menghapusnya karena terus dibayangi perasaan takut sekaligus malu.


 Malam yang dia idam-idamkan tiba, Kani bisa ditelepon, Amarendra mondar-mandir menjauhi semua orang. Takut ada yang mendengar dia berbicara dengan gadis itu.


“Kamu ke mana saja, Maren?” Kani langsung menghardiknya.


“Aku kerja.” Suaranya berat.


“Kamu kenapa jadi mengabaikanku begini? Apa setelah apa yang kamu mau sudah kamu dapatkan?” terlontar sebuah tuduhan yang teramat menusuk relung hati Amarendra.


“Kamu bicara apa, Kani? Aku kerja untuk keseriusan yang sudah kita sepakati hari itu, jangan mengungkit kejadian itu lagi. Lupakan, aku minta maaf, dan tak akan melakukannya lagi. Aku berusaha menelepon dari kemarin tapi nomor kamu sibuk terus, tadi juga sibuk, kamu teleponan sama siapa? Lama banget!” Amarendra tegas dan Kani menangis tanpa suara, dia senang Amarendra menelepon juga kesal karena baru sekarang pria itu meneleponnya. Jika tak bisa malam hari apa saat jam istirahat ketika siang tak ada waktu?