Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
BUNDA


“Aku bahkan selalu ingat saat pak Muji sakit-sakitan karena lembur terus untuk sebuah ponsel yang dimau anaknya. Anak tak tahu diuntung!!! Diberi ponsel harga lima ratusan tak mau, pak Muji bolak-balik ingin menukarkan ponsel sampai akhirnya dapat ponsel merk N. Mahal, dia sampai berutang pada Mandor!” Haryawan menggeleng kepala, tak cukup dengan rasa kesalnya pada sosok Kani.


Amarendra melanjutkan pekerjaan dengan perasaan gusar. Dari jauh Pak Muji memperhatikan pemuda itu. Bibirnya menyimpul penuh bangga.


“Andai aku bisa mengatakan segalanya padamu, Kani. Aku di sini, di dekat Bapakmu. Kami sering mengobrol, dia mengajariku banyak hal, khususnya tentang keluarga. Aku tak pernah dekat dengan Ayahku, tapi jika boleh aku yang berlumuran dosa ini meminta...Tuhan, aku ingin memiliki Bapaknya Kani sebagai Bapakku juga.”


Amarendra hanya mampu bergumam dalam hati, menyeka peluh yang membasahi kedua alis tebalnya. Kemudian jika ada kesempatan, dia pandangi sosok Pak Muji yang di awal dia kira perangainya galak dan menyebalkan. Tapi ternyata, Pak Muji sosok yang luar biasa.


***


“Ini sangat indah, Maren. Aku suka,” ucap Kani begitu ceria. Amarendra di sebelah dengan tangan merangkul bahunya memandang sambil tersenyum kecil. Keduanya bertemu sesuai yang direncanakan. Amarendra membeli sebuah cincin tunangan walaupun itu hanya dia dan Kani yang mengakuinya. “Ini pasti mahal,” kata Kani melanjutkan.


Amarendra menggeleng kepala dan menjatuhkan kecupan manis di pucuk kepala Kani.


“Cincin ini berharga setelah kamu memakainya. Ini pengikat antara aku dan kamu.”


Kani tersipu-sipu dan terus menatap jari manisnya. Amarendra menggenggam erat dan keduanya bergeser, saling memandang. Amarendra meletakkan jemari tangan Kani di pipinya, matanya terus menyusuri wajah Kani yang begitu memikatnya setiap saat.


“Aku malu kalau dilihat seperti itu.” Dia memalingkan wajah dan Amarendra tertawa renyah. “Maren, aku akan mendaftarkan diri untuk ikut sekolah kejar paket C.”


Amarendra merapat dan menatapnya. “Serius? Itu bagus.” Dia sangat senang.


“Tapi, apa ijazahnya benar-benar berguna seperti ijazah SMA yang kamu punya?” Kani tampak ragu.


“Sama saja, Kani. Bisa kamu gunakan untuk melamar kerja  atau ada niat kuliah, itu akan sangat berguna.” Amarendra tersenyum dan Kani mendengarkan dengan baik.


“Aku memang ingin pekerjaan lain, aku lelah bekerja begini terus bertahun-tahun walaupun majikanku yang sekarang sangat baik. Aku ingin bekerja dan bebas ke mana pun pergi saat akhir pekan, bersamamu.” Kani tersenyum simpul dan Amarendra bahagia mendengarnya.


Lengang sejenak.


Kani tersenyum lembut lantas berujar sebuah desakkan, “Nanti kamu harus ke rumah, aku sudah tak sabar memperkenalkanmu kepada keluargaku. Setidaknya ibu dan bapak tak akan sibuk lagi ingin mencari calon suami untukku karena aku sudah memilihmu.”


Lesu wajah Amarendra mendengarnya. Kani yang melihat langsung murung.


“Kamu nggak mau?” bisiknya sedih.


“Bukan itu...aku belum memiliki apa-apa, belum ada persiapan, aku cuman bisa menjanjikan perasaan yang aku punya tapi tidak dengan kehidupan yang baik setelah kita memutuskan menikah muda. Aku belum memiliki pekerjaan yang tetap dan tabunganku belum ada apa-apanya.” Ia mengeratkan genggaman tangannya dan Kani terdiam. “Aku akan datang tapi tidak di waktu dekat. Jangan mengira aku tak serius, aku sangat ingin kita bersama tapi semuanya perlu terencana dengan baik. Tapi emmm, jujur, aku pernah berpikir untuk membawamu kawin lari...” Dia menundukkan kepalanya malu-malu dan Kani tertawa lebar.


“Aku sudah gila waktu itu, karenamu.” Dia menekan dagu gadis itu dan Kani tertawa serta mendengar gemeretak gigi Amarendra yang beradu saking gemas padanya. “ Itu dulu, bahkan kamu masih di bawah umur, aku yang hanya memikirkan tentang satu hal yaitu cinta padahal rumah tangga itu butuh banyak hal, Sayang.”


Kani tersenyum manis dipanggil begitu untuk pertama kalinya. Dia mengangguk paham dan akan menunggu lebih sabar lagi.


“Kamu sekarang bisa terus mengambil cuti, apa Yana dan Raihan juga sama?” cetusnya dan Amarendra gugup. Ia memutuskan mengangguk setengah hati.


Pertemuan tersebut harus mereka akhiri. Amarendra mengantar Kani sampai kompleks rumah Tentara itu, Amarendra menatap sampai Kani memasuki pintu gerbang setelah membuka gembok yang memakai sandi itu. Kani diam, melambai dan tersenyum kemudian Amarendra berlalu. Wajah keduanya sama-sama memancarkan kebahagiaan.


Amarendra kembali ke proyek pekerjaannya. Dia berjalan sambil menunduk. Pak Muji yang melihat Amar begitu rapi rasanya benar-benar tak pantas untuk menjadi seorang kuli. Perlahan, senyuman Pak Muji memudar saat Amarendra duduk di atas motor milik temannya, bergabung ikut mengobrol. Pak Muji jadi ingat Tukang Ojek yang selalu ditumpangi Kani jika pulang dari kota, ojek yang selalu memakai helm dengan kaca gelap.


Pak Muji menggeleng, tak mungkin batinnya. Yang memiliki gerakan tubuh begitu juga tinggi dan besar bukan hanya Amar. Pak Muji mencoba berpikir realistis tak mau menebak-nebak.


***


Kani merentangkan otot-ototnya, dia baru selesai menyetrika pakaian yang menggunung. Dia meminum air sirop dingin kemudian memasukkan potongan kue cokelat ke mulutnya. Rumah sepi, majikan dan anak-anaknya pergi untuk jalan-jalan. Kani menghela napas panjang saat melihat banyak pesan dari Kalingga, semuanya berbau pertanyaan karena sikapnya yang kembali abai.


“Aku hanya mau Amarendra,” kata Kani serak dan melihat foto Amarendra sedang berdiri membelakanginya di saat mereka bertemu di Alun-alun. Kani melihat foto yang lain dan senyumannya semakin mengembang sempurna. Dia berhenti ketika panggilan dari rumah masuk, lekas dia angkat, biasanya Dahlia yang membuat panggilan tapi sekarang Ibunya.


“Kani...” Suaranya serak seperti sehabis menangis. “Ibu hamil lagi.” Dia melanjutkan dan bagai tersambar petir di siang hari, Kani menyandarkan punggungnya pada tempat tidur dengan gerakan patah-patah.


“Kok bisa?” Suaranya meninggi. “Ibu sengaja walaupun anak sudah banyak juga?” sambungnya kesal.


“Ibu sudah telat dua bulan, mual, pusing. Ibu nggak kuat, Kani. Tadi pas ke pasar Ibu iseng ke Bidan untuk mengganti pil KB sama KB suntik, tapi ternyata begini...Ibu nggak berani bilang sama bapak, hanya kamu yang baru tahu.”


Kani berdecak kecil dan Bu Ismi terkesiap. “Kehamilan muda saja berisiko apalagi kehamilan di usia tua.” Dia protes! Kata-katanya membuat Bu Ismi menangis, berharap dapat meringankan beban dengan bercerita tapi nyatanya...


Di tempat lain, Amarendra sedang berbicara di telepon dengan Bunda. Bunda mendadak dijemput Lusi dan Geri setelah mendengar Bunda jatuh di kamar mandi. Geri awalnya enggan menerima keberadaan mertuanya, tapi rumahnya hasil bekerja dia dengan Lusi.


Lusi mati-matian menentang suaminya, dia memang bukan anak yang baik, tapi rasa bersalah menelantarkan Bunda dan Amarendra sampai membuatnya ke pikiran dan lebih baik pergi dari rumah jika Geri tak mau menerima keberadaan Bunda. Geri walaupun kasar dan bebal tapi dengan Lusi, kembali mengingat bagaimana mereka susah bersama karena ditentang Ayah Lusi.


Mereka tak mau karena Bunda yang memang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka membuat rumah tangga mereka kandas. Ketika berkomunikasi yang baik, sama-sama sadar dengan kesalahan masing-masing, tak akan ada kerumitan rumah tangga yang tak terpecahkan.


“Kamu sudah berhenti dari restoran, lantas kamu di mana, Nak?” Bunda sangat khawatir, hampir menangis.


“Di Bandung, Bund. Kalau sikap Lusi dan Geri membuat Bunda malah tambah sakit, mending Bunda tinggal sama Abah,” lugasnya cemas.


“Bunda ini cuman menantu, tak enak tinggal dengan mertua yang sudah sendirian bertahun-tahun, takut timbul fitnah. Di sini, kan, memang anak dan menantu Bunda, Bunda juga senang bisa dekat dengan cucu.” Itu terdengar jelas dari suaranya yang ceria, bahkan Isabel sedang dalam pangkuannya.


“Jangan menyembunyikan apa pun dariku, Bund.” Amarendra tetap tak percaya Lusi dan Geri akan menjaga Bunda.


“Enggak akan. Dia bagaimana kabarnya?”


“Dia baik.” Amarendra tersenyum manis. “Bunda mau juga cucu dariku dan Kani?” Ia menyengir lebar dan Bunda mengomel.


“Menikah saja belum. Memang sudah seserius itu?”


“Bunda kira kami main-main? Serius, dong, Bund.”