Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
AYAHKU DI PENJARA


Di sisi lain, Amarendra terus mencari-cari ke setiap sudut sekolah yang sering didatangi Kani. Sekalipun perpustakaan di jam istirahat, gadis itu tak kunjung muncul. Apa dia tak masuk sekolah? Jawabannya dia dapat saat jam pulang sekolah, melihat Kani pergi dengan terburu-buru menghindarinya.


“Pemarah sekali dia,” kata Amarendra dalam hati, tak mungkin dia kejar, tahu betul Kani keras kepala dan mendiamkan adalah cara untuk memberikan ketenangan. Mungkin sehari dua hari, Kani akan kembali mau dia dekati. Tapi nyatanya sampai satu Minggu berlalu, gadis itu benar-benar menghindarinya. Pura-pura tak melihat ketika dia ada, pura-pura tuli saat dia memanggil. Seperti pagi di hari Senin ini, Kani masih mengabaikannya. Amarendra menyentuh dadanya, kenapa rasanya begitu sakit?


“Kalian ribut?” Raihan yang menyadari kegalauan di wajah temannya mengemukakan tanya.  


Amarendra hanya diam, malas menjawab.


Jam istirahat, Kani yang sedang duduk dengan teman-temannya sesekali melirik Amarendra yang sedang bermain Voli. Amarendra sadar diperhatikan tapi dia pura-pura tak sadar. Kani cemberut dan melihat betapa genitnya Bela terus merapat dan mencari perhatian Amarendra, mereka bermain menjadi satu tim. Kani menunduk dan Amarendra menatap, beralih, menatap lagi sampai tatapan keduanya beradu dan Amarendra mendelikan matanya sampai membuat Kani begitu sedih.


Amarendra menggulung lengan bajunya sampai bahu sambil melirik ke tempat Kani duduk tapi gadis itu sudah lenyap entah ke mana.


“Maren!” seru teman-temannya dan Amarendra tak mau bermain lagi.


“Bel, ayo..” Raihan berteriak dan Bela juga malas lanjut, dia lelah dan memilih duduk.


Sementara Kani, dia sedang di Perpustakaan. Melihat-lihat buku dan mengambil satu, dia buka, terlanjur kesal kemudian meletakkannya kembali.


“Sudah puas mengabaikanku?” Suara itu membuat Kani terkejut dan terhuyung ke belakang melihat Amarendra sudah di sebelahnya. Kani mendelik dan menghindar, Amarendra mengekor ke mana pun gadis itu pergi dan Kani berhenti saat menemukan buku dengan judul yang menarik perhatiannya tapi direbut Amarendra.


“Isinya tidak terlalu menarik.” Amarendra terlihat tegang karena dia tahu isinya seperti apa. Dia letakkan paling atas dan Kani manyun. “Aku mau bicara.”


“Aku sibuk.” Kani mencari buku lain dan Amarendra tersenyum.


“Kenapa diblokir segala, benar-benar tak mau aku ganggu?” bisiknya dan Kani mendesis.


“Kalau enggak, nanti aku nggak tahan untuk menghubungimu, banyak bertanya, bukannya jelas kamu nggak suka,” jawabnya ketus, hendak berlalu tapi Amarendra menahan dengan merentangkan tangan sampai perut Kani menabrak lengannya. “Minggir.”


Kani mengedipkan matanya berkali-kali saat wajah Amarendra mendekat. Amarendra diam, hanya menatap, kemudian dia meraih dan menarik lengan gadis itu. Mengajaknya ke belakang sekolah.


Kani melipat kedua tangan di depan dada, Amarendra di sebelahnya memandang lurus ke depan dengan kedua tangan masuk ke saku celana.


“Aku ke Jakarta hari itu untuk melihat ayahku,” katanya memulai.


“Oke,” singkat Kani tidak peduli.


“Ayahku di penjara!” tandas Amarendra menahan langkah gadis itu yang hendak meninggalkannya. Kani mematung dan Amarendra menunduk saat mendengar suara langkah kak mengarah pada mereka. Apa mereka mendengar ucapannya barusan?


Amarendra menceritakan segalanya, keluarganya dahulu yang hidup terjamin karena Ayahnya memiliki pekerjaan sangat baik. Dipercaya sebagai CEO di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Namun, hubungannya dengan sang ayah tak pernah rukun apalagi setelah dia tahu Bundanya terus dikhianati, meminta Bundanya menyerah tapi Bundanya tak pernah mau, bukan karena terlalu cinta tapi Bundanya enggan membuat kehidupan anak-anaknya lebih sulit dari kesulitan dia menerima pengkhianatan suaminya. Amarendra hanya dekat dengan Bundanya, hubungannya dengan kakaknya yang sudah menikah pun hambar sejak lama karena jarang bertemu dan jarang pula berkomunikasi.


Ayahnya terlibat kasus pelik, korupsi dan pelecehan seksual, dituntut banyak pihak, diturunkan paksa dari jabatan, dilaporkan juga sampai hidup mereka berubah drastis. Dari yang berkecukupan sampai merasakan segala kesusahan hidup di ibukota Jakarta yang tak mudah.


“Aku bahkan tak sanggup membayar biaya sekolah, pindah sekolah berkali-kali, mereka yang tahu siapa ayah tak mau bergaul denganku, Bunda dan kakak pun merasakan hal yang sama. Hidup kami berubah, setahun terlunta-lunta, pindah sana pindah sini, tak ada yang mau menampung, yang mengaku keluarga hanya datang saat kami senang. Di saat kami susah, meminta pinjaman hanya untuk sekadar makan saja tak diberi. Bundaku mendapatkan kerja setelah terlilit utang pada rentenir, aku di kirim ke sini. Semuanya tak mudah sampai sekarang, Bunda sampai harus tetap bertahan walaupun di tempat kerjanya sering mendapatkan hinaan dari teman bahkan Bosnya.”


Terlihat mata pemuda itu basah. Kani menunduk malu mendengar semua penderitaan temannya yang tidak dia ketahui dan dia hanya sibuk memikirkan kehidupannya yang terasa paling susah.


Buliran bening itu jatuh membasahi pipi, Amarendra lekas mengusapnya panik. Tak mau terlihat lemah di depan Kani. Kani mendekat dan menepuk bahunya lembut.


“Kenapa bisa kamu menelan segala sakit sendirian dan ditambah dengan semua keluhan dariku. Aku tak pernah bertanya dan kamu tak pernah mau bercerita,” ucap Kani serak, dia sangat sedih sampai air matanya pun jatuh.


“Aku tak mau menjadi tempat saling beradu kesengsaraan, aku  ingin menjadi satu hanya tempat sandaranmu.”


Kani semakin menekuk wajahnya dalam-dalam, Amarendra menundukkan kepala untuk melihat wajah itu. Dia sengaja mengelus pipi gadis itu dengan punggung tangannya, menyeka air mata di sana.


“Aku selalu takut bercerita kepada mereka yang baru mengenalku, karena sebelumnya aku pernah banyak bicara, berharap mendapatkan dukungan tapi nyatanya aku malah dijauhi. Teman-temanku di sini, cukup tahu aku di sini, tak perlu aku yang ada di tempat lain sebagai anak seorang penjahat. Padamu apalagi, aku tak mau mengatakan apa pun, cukup kamu saja yang bicara dan akan aku dengarkan segalanya agar kau tetap bersamaku.”


Amarendra tersenyum lebar saat Kani memandangnya. Gadis itu menggeleng, janji, tak akan pernah meninggalkannya dan Amarendra menepatinya lebih dulu walaupun dia tak pernah mengikrarkan janji.


“Maaf, sikapku yang kekanak-kanakan,” kata Kani berbisik.


“Maaf juga karena hari itu aku membentakmu, kamu hanya ingin tahu dan khawatir, tapi aku sedang pusing dan bingung. Aku tak akan melakukan itu lagi, menunjukkan kemarahanku...”


“Aku yang memancing, itu salahku.” Kani menyambung cepat dan tak mau Amarendra menyalahkan dirinya sendiri.


Keduanya pun damai kembali dan tak mau ini terulang, Kani akan menjaga apa yang dia dengar dan Amarendra memahat janji yang lain di hatinya untuk gadis kecil di sebelahnya itu yang kini menyandarkan kepala di bahunya.


Keduanya melangkah setelah sadar waktu istirahat akan usai. Amarendra menoleh saat tangannya ditarik.


“Bu Sri wanita yang luar biasa dan dia berhasil mendidikmu dengan baik, katakan padanya aku menyayanginya dan titipkan salam juga dariku untuk Bundamu itu.” Kani tersenyum dan Amarendra terbelalak.


“Jangan meminta hal seperti itu, aku bingung mengatakannya nanti. Kani!” Amarendra berlari karena Kani berlari menghindarinya.


“Pokoknya harus kamu sampaikan, itu amanah.” Kani terus tertawa dan sudah jauh. Amarendra tersenyum manis dan tak akan dia sampaikan apa yang Kani minta, malulah dia, mana Bundanya senang sekali mengejeknya.