Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
SALAH PAHAM


Isabel sudah besar dan tak terlalu susah menjaganya tapi Merlin, Amarendra kewalahan dan takut karena anak itu terus ingin naik turun eskalator. Setelah lelah dan dia juga ada janji di salah satu restoran Mal tersebut. Amarendra sudah memesan taksi online yang akan mengantarkan Baby siter dan kedua keponakannya.


“Kabari Om kalau sudah sampai...” Amarendra melambaikan tangan pada keduanya dan taksi melaju pergi.


Amarendra berjalan kembali sambil menjinjing tas laptopnya. Dia sibuk dengan ponsel. Amarendra kaget saat seorang anak jatuh setelah menabrak kakinya. Dia membantu anak itu bangun. Menanyakan mana yang sakit.


“Itu anak saya.” Seseorang menarik anak tersebut, mungkin mengira dia akan menculiknya. Amarendra bangkit dan terpaku melihat siapa di hadapannya. “Amarendra?” Telunjuk pria itu menunjuk dengan raut wajah tak percaya, Amarendra menatap anak tadi dan alisnya mengerut. Degup jantungnya tak bisa dia kendalikan, dia merasa ingin menghilangkan diri dan tak mau bertemu masa lalunya.


Amarendra mengangkat kepala saat seorang wanita tengah menggendong bayi mendekati Kalingga dan itu bukan Kani.


“Kau....” Amarendra langsung emosional dan mencengkeram kuat kerah baju Kalingga. Istri dan anak Kalingga ketakutan melihatnya. “Kau menyakitinya? Kau mengkhianati Kani?” Napasnya terengah-engah, dia meninggalkan Kani berharap gadis itu bahagia tapi mengapa Kalingga bersama wanita lain?


“Kau salah paham, Maren. Lepas.” Kalingga menepis tangannya dan Amarendra tetap tak bisa tenang. “Kau sangat emosional, jelas sekali, kau masih sangat menyayanginya.” Kalingga menatap dengan saksama dan Amarendra melemah.


“Ini keluargaku, aku tak pernah menikahi Kani.” Kalingga menggeleng-geleng kepala dan Amarendra meminta Kalingga menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Setiap Kalingga berucap, Amarendra menurunkan bahu kokohnya, pernikahan gagal dan Kani dipermalukan. Amarendra melirik istri dan anak Kalingga yang menjauh dahulu agar keduanya bisa bebas mengobrol. Amarendra memejamkan matanya yang terasa panas. Entah sehancur apa Kani saat itu juga dengan keluarganya.


“Dia menerima lamaranku tapi hatinya tak pernah menerima. Sumpah, menyentuhnya saja aku tak bisa saat itu dan saat aku berusaha untuk melakukan hal lebih, dia marah. Dia tak menyukaiku, dia belum menikah sampai sekarang, aku dan keluargaku pindah setelah pernikahan itu gagal. Aku minta maaf untuk semua kesalahanku dulu, sekarang kita sudah sama-sama dewasa, dan aku sudah bahagia dengan keluargaku.” Kalingga merasa bersalah dan Amarendra mendorong dadanya kasar.


“Seharusnya saat itu kau jangan diam tapi bela dia, bantah segala tuduhan yang ayahmu tuduhkan. Diammu benar-benar membuktikan bahwa kau pecundang, Kalingga.” Amarendra berdecak dan Kalingga menerima makian itu, dia memang pecundang sejati.


Amarendra pergi tergesa-gesa sambil berbicara di telepon.


“Saya tidak bisa bertemu, urus segalanya dan jangan mengganggu sebelum saya hubungi. Kembali ke kantor!” tandasnya dan mematikan panggilan, dia membuka pintu mobil kemudian masuk. Lekas meninggalkan tempat tersebut untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih penting.


***


Kani menikmati makanan yang disuguhkan dalam acara ulang tahun anak Yana. Dia pura-pura budek karena ada begundal, begundal, itu lagi-lagi merendahkannya. Seperti dulu, tak berubah.


“Apa kamu tak akan menikah, Kani?” ujar Teti dan Kani diam.


“Kami ikut sedih saat dulu mendengar pernikahanmu gagal padahal tinggal menghitung hari. Apa kamu trauma dan tak mau menikah?” Citra menambahkan.


“Apa benar karena masalah itu, kehamilanmu?” singgung Teti dan Kani merapikan kerudung yang menutupi kepalanya.


“Iya benar itu, dia juga pasti trauma sampai tak menikah dan dilangkahi dua kali oleh adiknya sendiri.”


Kani ******* bibirnya, dia kenyang kemudian minum.


“Kenapa kalian sibuk mengurusi kehidupanku? Dari dulu, biasanya orang yang selalu mengganggu kehidupan orang lain itu tandanya mereka bosan terhadap kehidupan mereka sendiri. Aku sangat bahagia walaupun belum menikah dan memang benar, bertahun-tahun sudah berlalu tapi yang memiliki perangai busuk, itu tak cukup untuk membuat mereka berubah.” Kani meletakkan gelasnya dan mengusap bibirnya dengan anggun menggunakan tisu. “Aku memang tak mau menikah sebelum adik-adikku terjamin. Yang hidupnya gampang sejak lahir tak akan pernah paham bagaimana sulitnya hidup menjadi anak pertama dari keluarga yang biasa, tapi keluargaku tak pernah menyinggung keluarga orang lain karena kami bahagia.” Kani tersenyum manis dan menatap mereka semua satu-persatu, dia berhenti pada Teti yang wajahnya langsung muram.


“Kamu memang pandai bersilat lidah sejak dulu. Mana paham rasanya bahagia hidup seperti kami, punya suami mapan dan kami terjamin.” Teti menyeringai dan Kani tergelak. Dia tahu Teti selalu rajin mengunggah momen bahagia rumah tangganya, ingin dilihat dunia bahwa dia paling bahagia dan baik-baik saja.


“Tak ada pernikahan tanpa masalah, mereka yang sibuk memposting momen bahagia hanya ingin diakui tapi sebenarnya dibalik itu, ada kehidupan yang lebih pahit dari kami yang selalu menjaga hal privasi.” Kani menyindir dan Teti langsung terlihat gelisah mendengarnya. Dia dengan Kani pernah berjumpa, dalam keadaan yang tak pantas, saat itu Teti bertengkar di tepi jalan dengan suaminya, ingin pergi sambil menggendong bayi tapi dia urungkan saat Kani memergokinya walaupun Kani sebenarnya tak peduli.


Dia meletakkan kado di atas kado yang lain, pamit undur diri dan setelah keluar dari rumah tersebut wajahnya berubah drastis.


“Kani.” Yana menghadang dan memberikan bingkisan. Kani menerima dan memukul bahunya.


“Kau tak bilang mereka semua akan diundang.” Kani melotot dan memukul Yana lagi.


“Aduh, sakit. Masalah dulu sudah berlalu, ayolah, kita semua sudah sama-sama dewasa. Saling memaafkan lebih baik.” Yana yang sedari tadi di luar tak tahu apa yang menimpa Kani di dalam sana.


“Mereka menghinaku, Yan!” tegasnya dan Yana terdiam. “Apa yang aku rasakan dulu kamu kira mudah untuk melupakannya? Aku di bully! Aku disakiti. Kamu nggak bakalan paham karena kamu nggak ngerasain!” Kani sedih dan pergi setelah memukul terakhir kali paling kencang.


Sesampainya di rumah, Kani bergumam tak jelas dan Pak Muji memperhatikannya.


“Kenapa, Teh?” Syamsir bertanya dan Kani bungkam.


Besoknya, Kani berangkat bekerja menggunakan motornya. Berkendara dengan hati-hati menuju Toko Ayas Tamales.


Dia sangat ingin kabur dan tak mau bekerja. Tapi faktanya segala hal di dunia ini tak akan dia dapat tanpa memiliki uang. Dia bekerja walaupun malas.