
Amarendra yang baru pulang dan selesai makan lekas mengangkat telepon gadis itu, tak biasanya Kani menelepon apalagi jam segini. Amarendra terkesiap mendengar Kani menangis sesenggukan.
“Kani, kenapa?” Amarendra keluar dari kontrakan dan Yana serta Raihan memperhatikan kepanikannya.
“Maren...” Kani tercekat. “Aku mau pulang! Tolong.”
“Kenapa? Ada yang jahil di sana? Majikan laki-laki macam-macam atau apa?” Amarendra tak sabar.
“Kamu tahu, kan, bagaimana aku bekerja di sini bahkan jam dua saja masih bekerja. Tadi aku menerima gaji pertama, cuman 400ribu, ini sepadan dan memang segini atau memang mereka memeras keringatku, Maren?” Tangisannya melemah.
“Jelas tak sepadan, bahkan seharusnya yang mengurus anak mereka dan yang mengurus rumah adalah pegawai berbeda, Kani. Jangan menangis, sabar sedikit, aku tahu kamu kuat dan tak ada salahnya kamu menangis serta mengeluh. Untuk sekarang tahan dulu, sebulan lagi hari raya, kamu bisa pulang saat itu. Aku tahu kamu anak baik, jangan sampai kamu mendadak berhenti apalagi pulang sendirian kemudian mereka menimpakan segalanya pada bapakmu.
"Jam sembilan, masuk ke kamar, jangan pedulikan mereka walaupun memanggil. Aku takut kamu sakit bekerja tanpa henti dan istirahat tak cukup, kerjakan apa yang seharusnya menjadi pekerjaanmu, jangan mengerjakan pekerjaan orang lain sekali pun dipaksa, ini pengalaman pertama bagimu juga aku di sini, suka dukanya pasti ada. Beginilah di perantauan dan sulitnya mendapatkan uang. Kirimkan alamatnya padaku jika mereka protes atas apa yang aku sarankan, aku yang hadapi! Aku akan menyusul dan memberitahu bagaimana sepatutnya mereka membayar dan memperlakukan pegawai, mereka hanya membutuhkan tenagamu tapi tak becus membayar dengan seharusnya!”
Dia kesal bukan main dan Kani di haribaannya menyeka pipi, merasa lega karena untuk mengadu pada Pak Muji, dia tak berani.
Kani mengiyakan dan dia berhenti menangis. Panggilan usai dan Amarendra menggeleng kepala.
“Sok kaya ingin memperkerjakan orang,” makinya kesal dan Raihan mendekat. Bertanya sambil menepuk bahunya. “Gila saja cuman dibayar 400ribu, cukup buat apa?”
“Kasihan Kani, dia sangat polos dan tak paham bahwa dunia sebelumnya dan di perantauan sangat jauh berbeda.” Raihan memijat bahu Amarendra yang masih sibuk mengirimi pesan pada Kani agar tak selalu diam ketika diinjak-injak.
Amarendra jelas mengerti, saat dia masih berduit, di rumahnya ada beberapa pegawai, gaji di atas sejuta sudah paling rendah mau yang pemula atau sudah lama, di rumah Lusi pun yang bekerja bersih-bersih dan menjaga anak itu beda orang. Gaji Kani sangat rendah, entah hati dan kepala mereka terisi dengan apa memperkerjakan gadis belia pula tak sepadan gajinya.
***
Kani melakukan apa yang dikatakan Amarendra. Dia mulai mengeyel ketika disuruh.apalagi di atas jam sembilan, dia dengan lantang mengatakan bahwa dia butuh tidur cepat. Sartika yang melihat pun mengadu pada Gun, masa bodo, Kani tak peduli. Jika dia diperlakukan seperti ini, lantas Gun memperlakukan Bapaknya seperti apa? Sampai Kani teringat dengan pertengkaran Ibu dan Bapaknya mengenai Pemborong bangunan yang korupsi duit kuli tapi Pak Muji tetap bertahan. Apa Pemborong itu Gun yang menjadi majikannya sekarang? Dan Kani juga baru tahu bahwa rumah tersebut hanya rumah sewa, pantas bagian kamarnya disekat sebuah lemari, lemari dari rumah sebelah, pemilik rumah ini. Wanita tua tinggal di sebelah, Kani sering mendengar suara-suara aneh sampai dia sadar itu suara wanita tua sedang memasak atau bermain dengan kucingnya. Nanti setelah pulang ke kampung, Kani akan mengadu pada Ibunya apa yang dia alami di sini.
Apa yang dikatakan Amarendra benar, sepatutnya dia bertahan untuk sebulan, itu tak akan lama. Kani tak mau mencubit sedikit pun gajinya yang tak seberapa itu.
“Teh, bisa bantuin aku beresin lemari, nggak?” kata Manik, anak remaja itu selalu menyuruh tak tahu waktu. Kani masuk ke kamarnya, melihat isi lemari sudah keluar semua.
“Kenapa nggak mintanya siang? Ini sudah jam berapa, Teteh mau tidur.” Kani ketus.
“Sekarang saja, Teh.” Manik mendesak. Kani melengos pergi dan Manik terdiam melihatnya juga terkejut saat Kani membanting pintu.
“Kenapa, Kak?” tanya Sartika yang baru keluar dari kamar.
“Teh Kani marah. Kakak cuman minta tolong merapikan lemari.”
Sartika melirik jam, sudah pukul sembilan. Sartika sadar diri sudah meminta Kani bolak-balik ke kantor pengiriman barang untuk urusan Tokonya karena Mia tak masuk kerja.
“Besok, biar Teh Kani istirahat.” Sartika menuntun anaknya masuk ke kamar dan di kamar Kani, gadis itu sedang berbicara di telepon dengan Amarendra.
“Kamu tak lelah, Maren?”
“Hari ini agak santai. Temani aku, setengah jam saja.” Amarendra mengatur posisi, masih memakai seragam kerja, dia baru sampai.
“Aku juga ingin berbicara dengan bebas malam ini.”
“Kamu lelah nanti.” Amarendra tersenyum.
“Yang penting ini waktuku istirahat, temani aku. Bagaimana kalian di sana, baik?”
Kani terkejut dan menjatuhkan ponselnya, mengecek, iya sudah masuk.
“Jangan lagi, Maren. Nanti aku ganti, ya.”
“Aku marah kalau kamu ngomong begitu lagi. Aku tahu gaji kamu kecil, setidaknya itu berguna untuk memberi kabar pada orang tuamu dan padaku.” Amarendra tersenyum manis dan Kani tertawa.
“Terima kasih, apa nanti lebaran kamu pulang? Ketemu, yuk.” Kani terdengar sedikit genit sekarang dan Amarendra tertawa lepas. “Maren...”
“Iya, apa? Kalau aku pulang, ya, jelas kita ketemu. Tapi sayangnya aku nggak bisa, kalau di restoran itu hari raya, kan, rame. Jadi nggak ada yang boleh pulang, palingan habis lebarannya. Setelah berhenti dari sana, kamu mau ngapain?”
Kani diam, embusan napasnya membuat Amarendra diam memejamkan mata. Seolah bisa merasakannya.
“Aku akan mencari pekerjaan lain, aku kira kamu akan pulang. Apa kita benar-benar masih bisa bertemu?” Suara Kani serak.
“Mari usahakan bersama,” balas Amarendra juga bingung.
“Kalau nggak bisa-bisa terus buat ketemu, pasti kamu lupa sama aku, kan? Kamu bekerja begitu jelas sering melihat cewek-cewek cantik.”
Amarendra mencebik bibirnya, ia sangat ingin tertawa mendengar suara Kani merajuk.
“Tak boleh?” Dia malah memancing dan gadis itu mendesis. “Pokoknya jangan bekerja dulu setelah lebaran, tunggu aku pulang, kita jalan-jalan.” Suaranya melembut.
“Emmm...semoga bisa. Maren.”
“Iya?”
“Terima kasih selalu ada untukku.”
“Terima kasih juga sudah membuatku menjadi tempat tujuanmu dalam keadaan apa pun.” Amarendra berguling kegirangan dan kedua teman hidupnya mendelik sebal. “Kani, aku mau bertanya sebelum kita istirahat.”
“Apa?”
“Kenapa hari itu mencium keningku?”
Kani menggigit bibir dan menepuk keningnya, dia selalu berusaha melupakan kejadian itu, susah lupa malah dibahas.
“Mungkin karena...setan lewat.”
Amarendra langsung bangun dan kerutan halus muncul di keningnya.
“Apa itu, anu, kamu menganggap itu kesalahan?” ujarnya lirih.
“Ya jelas salah, seharusnya aku nggak begitu, seharusnya itu aku lakukan pada suamiku nanti. Ah lupakan! Jangan dibahas lagi.”
Wajah Kani merona dan Amarendra mendelik sebal.
“Emmm, ya sudah, selamat tidur,” katanya tak semangat.
Kani bingung dan akhirnya mengiyakan, panggilan usai, keduanya sama-sama merebahkan diri di tempat berbeda.