
AMARENDRA meletakkan segelas Cup susu jahe untuk Pak Muji. Pak Muji tersenyum dan menarik bahunya untuk duduk bersama.
Sudah lama setelah pertemuannya dengan Kani di Alun-alun, dia memutuskan untuk benar-benar berhenti menghubungi Kani dan Kani pun tak berani mengganggunya walaupun ingin serta rindu.
“Saya mau berhenti, Pak.” Amarendra menunduk saat Pak Muji menatapnya.
“Kenapa? Punya pekerjaan lain?”
“Masih menunggu kabar.”
“Memangnya mau bekerja di mana?”
“Ke Jepang, Pak.”
“Waduh, jauhnya...”
“Banyak hal yang harus saya lupakan sampai perlu pergi jauh.”
Pak Muji malah tertawa renyah dan Amarendra mengernyit, bisa-bisanya dia diejek begitu, dia sedang patah hati karena pria itu dan putrinya.
“Amar, sejauh apa pun kamu pergi, kenangan pahit maupun manis tak akan pernah bisa kamu lupakan, itu sudah menjadi satu dengan dirimu karena itu terjadi dalam kehidupanmu. Semoga kamu jadi orang sukses, Bapak pasti doakan.” Dia tepuk-tepuk bahu pemuda itu dan Amarendra menunduk sedih. “Pesan Bapak...” Dia berhenti dan Amarendra mengangkat wajahnya.
“Jangan pernah tinggalkan salat, sesibuk apa pun kamu, tak ada alasan untuk menduakan melaksanakan kewajiban.” Pak Muji tersenyum dan Amarendra tertunduk karena rasa bersalah.
“Saya ini pendosa, Pak, sangat kotor. Melebarkan sajadah saja rasanya tak pantas.” Suaranya serak dan Pak Muji mengangkat satu alisnya.
“Lantas kamu mau menambah kotor dirimu dengan meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang muslim, Amar?”
Amarendra tersengal, bingung harus menjawab apa.
“Mau seburuk apa pun kita, kewajiban harus tetap dilaksanakan dengan baik karena kita hamba yang butuh Tuhan bukan sebaliknya. Sekali saja kamu tinggalkan maka akan banyak kesesatan yang kamu lakukan tapi jika kamu jaga, sesulit apa pun masalah dan kehidupanmu kamu akan selalu bisa mengatasinya karena kamu syukuri hanya Tuhan yang dekat dan tak akan pernah memberimu kekecewaan seperti manusia. Laki-laki itu ketika sudah berkeluarga bukan hanya wajib menafkahi tapi juga membimbing istri dan anak-anaknya. Jika istri dan anakmu melakukan kesalahan itu ujian. Mendidik itu lebih sulit ketimbang menyuapi.
“Jika kamu bisa mempelajari perihal dunia dari semua buku-buku itu. Kenapa tidak berniat juga mempelajari perihal akhirat selama kamu masih diberikan kesempatan untuk hidup? Beriman tidak menjamin diri dan keluarga terhindar dari yang namanya kesalahan karena itulah manusia, lumrahnya berbuat salah, memperbaikinya adalah pilihan yang terlahir dari sebuah pemikiran.”
Apa ini tips hidup santai ala Pak Muji? Beban mengimpit, ekonomi melilit, dia selalu saja santai dan malah banyak tertawa bahkan sibuk membantu orang lain. Pak Muji percaya segalanya sudah diatur untuk begitu, giliran dia menghadapinya bisa ikhlas atau mengeluh. Jika disebutkan rentetan bebannya jelas sangat menumpuk apalagi di usianya yang tak lagi muda akan kembali memiliki anak.
“Kamu masih memiliki Bundamu, bukan? Perbaiki hidupmu demi wanita yang melahirkanmu dan untuk berbakti itu susah, bukan sampai akhir hayat orang tua tapi sampai titik terakhir kita di dunia. Bapak senang melihat anak muda seperti kamu, pergilah ke mana pun asal jangan pernah meninggalkan Tuhan nanti kamu lupa jalan.” Pak Muji kembali menepuk bahu Amarendra dan Amarendra tak sanggup mengangkat wajahnya di hadapan pria yang luar biasa ini.
“Oh iya, Amar. Kamu waktu itu tak bisa datang untuk bersilaturahmi setelah hari raya, jika bisa tolong datang ke acara pernikahan anak Bapak, ya. Satu Minggu lagi.” Pak Muji tersenyum dan Amarendra mengangguk dengan perasaan tak karuan.
Perlahan dia menatap Pak Muji dan melontarkan pertanyaan, “Apa adat istiadat di kampung yang begitu melekat bisa hilang, Pak?”
Pak Muji tak paham dan memperbaiki posisinya.
“Maksudnya?”
“Iya di kampung, para perempuan yang dipandang tak perlu bersekolah tinggi, di bawah umur sudah dinikahkan karena perjodohan.” Amarendra takut-takut salah mengatakannya.
“Oh, itu tergantung pilihan masing-masing kalau saya pribadi tak mau melakukannya.” Pak Muji tersenyum dan bangkit saat mendengar Adzan subuh berkumandang.
Amarendra berdiri dan menepuk bahunya.
“Bukannya anak Bapak yang akan menikah itu karena Bapak jodohkan?” tanyanya dan Pak Muji menggeleng kepala. Amarendra bingung dan keningnya terlipat.
“Saya juga heran kenapa Kaniraras mendadak ingin menikah, sebelumnya dia selalu marah ketika disinggung mengenai pernikahan muda. Dia memilih calon suaminya sendiri, tetangga kami, saya tak akan menjodohkan anak saya yang mana pun itu, mereka berhak memilih apalagi Kaniraras, saya tak pernah bisa memaafkan diri sendiri sampai sekarang karena tak bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang guru, mana saya tega menjodohkannya setelah itu. Kaniraras bukan anak yang mau diatur apalagi perihal lelaki.” Pak Muji tersenyum kemudian mengajak Amarendra ke masjid. Dengan langkah kaki yang lemas, juga matanya yang berkaca-kaca, Amarendra tak menyangka Kani lagi-lagi membohonginya. Jika bukan karena dijodohkan apalagi kalau bukan karena Kani memang tertarik pada Kalingga, berpaling darinya yang gelap tanpa masa depan ini dan itu benar-benar membanting jatuh harga dirinya sebagai laki-laki. Sudah sakit berkali-kali karena dikelabui dan harus sakit lagi karena disadarkan bahwa kualitasnya sangat rendah untuk menjadi pria yang Kani pilih.
Amarendra terus memandangi pria di sebelahnya, dia berusaha menahan diri dan menyesali perbuatannya yang kemarin sempat mengabaikan Pak Muji.
“Kita berjumpa tanpa disengaja dan aku menyukaimu dengan segalanya yang ada pada dirimu kemudian aku jatuh cinta dan aku kira kau pun sama.
Tapi nyatanya, aku diminta hadir dalam setiap kejadian dalam hidupmu hanya untuk menjadi pelipur.
Sulit untukku mengucapkan ‘Pamit’ karena aku tahu kau tak akan peduli dan mungkin aku malah ingin tetap memelukmu untuk yang terakhir kali, cukup membuatku rendah di hadapanmu. Aku pergi, kesayanganku dan selamat berbahagia dengan pria yang kau pilih untuk menjadi pelengkap hidupmu...”