
Keduanya saling menatap dan perlahan Kani mendekat dengan wajah sembab. Gadis itu memeluk tubuh Amarendra erat dan Amarendra membalasnya hanya dengan satu tangan.
“Sikapmu seperti anak kecil! Aku sudah menanti waktu agar bisa bertemu denganmu tapi sikapmu benar-benar membuatku kecewa.” Amarendra berbisik sambil menekan belakang kepala Kani ke dadanya.
“Ya! Aku seperti anak kecil.” Kani mengeratkan pelukannya dan terus menangis.
“Kau tak bahagia bertemu denganku, Kani? Aku merasa tak berguna!”
Kani menggeleng kuat-kuat, membantah dan mempererat pelukannya lagi.
“Peluk aku, aku bahagia bertemu denganmu, sangat! Aku minta maaf. Jangan berbicara begitu.” Kani mendongak menatap wajah Amarendra yang sudah memerah, kesal dan sedih bercampur di sana. “Peluk aku.” Dia menggoyangkan tubuh besar itu kesal dan perlahan Amarendra memeluknya dengan benar.
Tetap saja ada keraguan di antara keduanya karena tak sama-sama jujur untuk mengungkapkan apa yang mereka pendam. Tangan keduanya bergandengan tapi pikiran mereka berjauhan.
Kani meremas baju di bagian dadanya dan Amarendra melirik. Dia menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan. Setelah keduanya turun, membuang sampah ke tempat seharusnya. Dia menatap Kani dan menarik resleting jaket gadis itu sampai atas.
Kani menatap ke arah lain dan wajahnya yang sembab di usap pria itu. Dia menoleh dan diam saat Amarendra mencium rambutnya.
“Kita pulang,” ucap Amarendra datar dan melepaskan genggaman tangannya yang tak kunjung ada balasan. Kani mengekor di belakang, menatap punggung lebar itu dan Amarendra mengusap wajahnya begitu frustrasi. Apa Kani sudah tak suka padanya? Pertanyaan itu terus muncul, membuatnya takut dan bingung. Gadis itu benar-benar berubah setelah dia mengajaknya untuk menentukan tujuan hubungan mereka. Kani tak sudi dia persunting? Menunggu sampai dia benar-benar mampu melakukannya apa dia tak mau?
Amarendra mendesah kesal dengan semua pertanyaan gila yang menyiksanya dan sepanjang perjalanan, Kani memeluknya erat tapi Amarendra merasa gadis itu terpaksa melakukannya. Kani tak berhenti menatap wajah Amarendra dari kaca spion sampai Amarendra membelokkan posisi kaca spion motor itu dan tak mau dilihat atau melihat untuk saat ini.
Kani mengulum bibirnya kuat-kuat yang bergetar hebat ingin menangis melihat apa yang dilakukan Amarendra.
Keduanya hening sampai berpisah dan Amarendra tak bisa menjawab saat Bunda Sri menanyakan Kani. Dia lebih baik mengunci bibirnya rapat-rapat daripada harus mengeluarkan dusta kepada Bundanya.
“Dia terlihat buruk tak seperti tadi berangkat untuk bertemu gadis kesayangannya. Aku yakin dia dikecewakan karena hasil dari sikapnya yang terlalu tolol berhadapan dengan perempuan! Dia terlalu memuja hanya karena cinta. Aku sudah bilang Kirana jauh lebih baik, gadis kampung itu seperti gadis-gadis sok lugu yang sering aku dengar. Memanfaatkan dan dia berhasil melakukannya pada Amarendra.” Lusi menggeleng-geleng kepala dan Bundanya hanya menyimak karena saat akan membela Kani, ada Isabel mendekat.
****
UNTUK meluruskan kejadian kemarin, Amarendra kembali mengajak Kani bertemu tapi Kani bilang tak bisa. Dia ingin istirahat sebelum kembali bekerja. Amarendra seperti biasa tak mau memaksa, masih banyak waktu untuk bertemu atau menyelesaikan masalah mereka di telepon seperti beberapa kali kejadian. Tapi nyatanya...
“Izin membawa Kani, ya, Bu.” Kalingga tersenyum dan Bu Ismi mengangguk mengiyakan.
“Ayo,” tegur Bu Ismi karena Kani tak kunjung naik ke atas motor, anaknya itu malah melamun dan Kani naik setelah Kalingga mencolek lengannya.
Pak Muji yang baru datang dengan Syamsir memperhatikan kepergian keduanya. Pak Muji mendekati istrinya dan Bu Ismi lebih dulu berujar.
Di tempat lain, Amarendra sedang berkumpul dengan teman-temannya, di tepi jalan dia duduk di atas motornya.
“Kani tahu kamu mau ke Jepang?” tanya Raihan dan Amarendra menggeleng.
“Belum aku bicarakan dengannya, hubungan kami ribut terus akhir-akhir ini. Aku tak memiliki kesempatan untuk merundingkan ini.” Amarendra mengangkat tangannya, menolak saat salah satu temannya yang menawari rokok. Amarendra merasa tak enak tenggorokan.
“Jauh malah akan membuat banyak kesalahpahaman, Maren.” Raihan menepuk bahu keras itu.
“Tapi di sini aku sulit mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan, aku tak memiliki waktu lama dan pilihan lain, satu tahun mungkin cukup untuk mengumpulkan uang dan menikahi Kani. Setelah menikah aku akan tetap kerja di Jepang, pulang jarang juga aku tak khawatir jika Kani sudah aku nikahi, dia sedang mengikuti program sekolah paket C dan mungkin nanti dia ingin kuliah, dia cukup menungguku. Biar aku yang mencari uang,” katanya yakin dan Raihan merasa Amarendra sudah tidak waras!
“Kenapa kamu berhenti dari restoran? Yana bagaimana?” Amarendra mengalihkan pembicaraan.
Raihan melirik dan hendak menjawab tapi dia tertahan saat melihat sesuatu, Kani dengan Kalingga. Raihan panik dan Amarendra bertanya kenapa dengan menaikkan kedua alisnya. Raihan menariknya agar tak menoleh tapi Amarendra terlanjur melihat pemandangan itu.
Simpulan penuh bangga dan bahagia terukir di bibir Kalingga. Dia menarik paksa tangan Kani ke perutnya dan Amarendra meradang, Kani sama sekali tak melihat Amarendra yang sudah tak tahan ingin menumpahkan segala kesal dan kecewanya.
“Tahan dia.” Raihan panik dan yang lain menahan Amarendra. Raihan menarik tengkuk sahabatnya itu. “Kita tanyakan pada Kani nanti, tenang dulu.” Raihan takut Amarendra kehilangan kendali.
“Ada apa ini, Rai?” Mereka kebingungan melihat Amarendra. Raihan tak menjelaskan apa-apa dan menarik Amarendra menjauh.
Amarendra tersenyum, sesaat berganti dengan seringai penuh paksaan kemudian dia tertawa renyah seperti orang gila.
“Maren, sadarlah!” bentak Raihan dan Amarendra yang basah matanya itu menunduk lesu.
“Lagi...dia membohongiku, aku mengajaknya bertemu untuk menyelesaikan masalah di antara kami tapi nyatanya dia pergi dengan pria lain. Dia terus berbohong, Rai...”
Raihan membenturkan punggung Amarendra ke tembok sebuah warung karena sahabatnya itu hendak menyusul Kani.
“Serius, ini selalu terjadi? Kani berbohong padamu, Maren?” Raihan tak menyangka sekaligus tak percaya sahabatnya yang berjuang mati-matian di khianati. Raihan mencengkeram kuat kerah baju Amarendra dan Amarendra mengepalkan tangannya. “Dia berpaling darimu, Amarendra,” celetuknya dan Amarendra melemparkan tatapan tajam.
“Sebuah pengkhianatan tak akan terjadi jika keduanya tak menghendaki, buka matamu lebar-lebar bahwa Kani juga salah. Jangan hanya menyalahkan Kalingga.”
Raihan menghempaskan cengkeramannya dan dia ikut kesal dengan apa yang dilakukan Kani.