Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
YAYASAN


Sementara itu, Kani belajar banyak hal di yayasan, terutama sabar saat jemurannya yang masih basah dijatuhkan oleh mereka yang tak bertanggung jawab atau mereka yang sembarang mengambil sabun wajahnya, dan bahkan ada yang lancang mengambil pembalut miliknya.


Neng dan Purwa juga merasakan hal yang sama, dan satu-persatu, setiap harinya, dari mereka ada yang keluar untuk segera diantarkan ke rumah calon majikan.


“Kalau kita pisah, jangan putus komunikasi apalagi kamu sudah janji nanti akan bertandang ke rumahku,” kata Purwa sambil memegang tangan Kani dan Kani mengangguk.


“Aku besok,” ucap Neng serak. “Aku merawat nenek-nenek, tapi harus lepas kerudung.”


“Jangan kamu lakukan, Neng.” Purwa menegaskan dan Neng menunduk.


“Aku ingin segera punya uang, buat dikirim ke Abah dan Ambu di Tasik,” katanya lembut.


“Masa kamu rela buka kerudung cuman karena pekerjaan, Neng? Abah sama Ambumu jelas akan kecewa jika tahu,” sahut Kani dan Neng diam, entah akan menimbang-nimbang atau malah melakukannya.


Kemiskinan yang mencekik sampai apa pun rela dilakukan. Kani dan Purwa hanya bisa menggeleng saat besoknya Neng pergi dengan keadaan rambut terbuka.


“Apa semua orang kaya meminta hal begitu, Teh?” ucap Kani.


“Enggak juga, aku beberapa kali bekerja banyak yang tetap bisa menggunakan kerudung. Kasihan si Neng,” balas Purwa.


“Terus, kenapa bisa dia berangkat duluan dan kita tak kunjung berangkat, Teh?”


“Nggak ngerti juga aku, sabar saja, ya, Kani.” Purwa menenangkan dan Kani diam.


Malam harinya, Kani sedang menghitung uangnya, dia sangat ingin menangis, bingung tak punya uang yang cukup. Kani menyeka sudut matanya saat ponselnya bergetar, panggilan  dari yang dia tunggu. Kani memakai Headset agar bisa mendengar suara Amarendra dengan jelas.


“Maren, kamu baru pulang? Yana, Raihan, di mana?”


Amarendra menunduk saat ditanya. Tersenyum.


“Aku pulang beli makan, sudah makan? Kedua temanku pergi, nggak tahu ke mana. Bagaimana di sana, ada masalah atau apa yang akan kamu ceritakan?” Amarendra sudah masuk ke kontrakannya dan duduk. “Temani aku makan, jika dekat, kamu pasti sudah aku suapi.” Dia mulai menyuap.


Kani tersenyum dan mendengarkan. Purwa dari bibir pintu balkon yayasan tersebut mengamati.


“Aku sudah makan tadi.”


“Bohong! Kani tak punya uang, uangnya ada yang mencuri,” tandas Purwa dan Kani mematikan panggilan tersebut, dia marah dan Purwa cengar-cengir. Kani terus memarahinya dan Amarendra kembali memanggil.


“Kebangetan kamu, uang kamu hilang? Kok bisa, kenapa nggak bilang sama aku?” Amarendra berbicara lemah dan Kani menunduk.


“Aku tak hati-hati, mana aku tahu di antara para wanita di sini ada yang suka jahil, bukan aku saja yang mengalami. Aku masih punya uang, Maren, dan sepertinya sebentar lagi aku akan dapat kerjaan. Tak usah khawatir.”


“Kamu kira bekerja kemudian dibayar di muka? Ya nggak begitu, harus menunggu sebulan dan itu lama. Sekarang hari Kamis, nanti hari Minggu aku usahakan mendapatkan cuti agar bisa menemuimu. Aku juga kangen, berapa lama kita nggak ketemu?” ujarnya dan dengan cepat selesai menghabiskan makanannya.


“Enggak usah.”


“Oh nggak mau ketemu, oh gitu...sekarang.” Dia pura-pura kesal dan Kani tertawa.


“Dasar, keras kepala.” Kani tersenyum lebar lalu menyisir rambutnya ke belakang


“Aku akan datang, tunggu saja, aku akan memelukmu.” Dia terdengar serius dan Kani mencebik bibirnya.


“Aku tak mau.” Menggeleng malu-malu.


“Aku akan menciummu.” Dia menaikkan kedua alisnya. Bego! Makinya pada diri sendiri.


“Teh Purwa seharusnya nggak begitu.” Masih menegur.


“Ya mau gimana lagi, aku nggak bisa kasih kamu pinjaman. Pacarmu akan datang?” Purwa menatap.


“Dia temanku. Aku sangat menyayanginya,” katanya sambil tersenyum dan Purwa memperhatikan wajah Kani yang merona.


***


Karena tak pernah cuti sebelumnya, Amarendra mendapatkan izin, tapi bukan di hari Minggu melainkan hari Sabtu. Dia diizinkan pergi setengah waktu bekerja. Di waktu yang sudah ditentukan, dia harus kembali jika tak ingin dipecat dan Amarendra mengiyakan walaupun itu terbayang sangat melelahkan. Dia harus pergi dari subuh, dia tak mau hanya bertemu beberapa menit dengan Kani. Satu atau dua jam cukup untuk mengobati rasa rindunya.


“Mulus sekali kisah cintanya, gadis yang dia sukai malah mendekat dan membuat mereka bisa bertemu.” Yana yang jomlo hanya bisa menyimak dan Raihan tertawa.


Apa yang dikatakan Yana benar, Amarendra bahkan tak menyangka bahwa takdir membawa Kani mendekat padanya. Tak perlu membutuhkan waktu berjam-jam seperti dari Jakarta menuju ke kampung, ini hanya dari Jakarta Selatan ke Bekasi.


Amarendra sudah tak sabar sejak semalam untuk bertemu dengan Kani. Dia berangkat pukul lima, membawa tas selempang kecil dan memakai pakaian paling bagus yang dia punya. Mengendarai motor yang dia pinjam dari temannya.


Kani juga sama, tak sabar untuk bertemu dengan Amarendra, dia berdandan dengan rapi tapi Purwa memberi pinjam beberapa alat make-up yang tak Kani punya. Kani menghiasi matanya dengan celak, mempertegas ditambah bulu matanya semakin terlihat cantik. Kani menolak saat Purwa menawarkan lipstik merah Maron, dia lebih memilih memakai yang dia punya, yang waktu itu Amarendra pilihkan. Kani sudah izin tapi dia harus kembali sebelum gelap, alasan yang dia gunakan untuk menemui saudara.


Kani keluar dari yayasan setelah Amarendra bilang dia hampir sampai, sempat kesasar dan Kani menunggunya di tepi jalan.


Dari jauh, Amarendra tersenyum melihat gadis dengan baju lengan panjang over Size dan celana panjang hitam. Amarendra terus mendekat, sesekali melihat dan nama jalan tersebut. Dia turun dari motor dan melangkah pada Kani.


“Aku di sini.” Suara berat itu membuat Kani kaget dan memegang dadanya, jantungnya nyaris melompat dan Amarendra tersenyum kemudian membuang napas lega melihat gadis kesayangannya baik-baik saja. Amarendra meraih tangan Kani dan mengajaknya pergi.


Amarendra mengajak Kani sarapan, Bubur Ayam dan Kani ingin Bubur kacang juga. Dia masih sama, selalu makan banyak dan Amarendra tersenyum.


“Lain kali, tolong jujur, aku akan datang.” Suaranya lembut dan Kani mengangkat wajahnya.


“Ini sangat merepotkan, aku selalu begini, ke mana pun tak bisa jika tak mengganggumu,” balas Kani kesal pada diri sendiri dan Amarendra menggeleng.


“Aku senang bertemu denganmu, ini tak terlalu jauh, aku juga pakai motor. Agak was-was sedikit.” Dia tersenyum dan Kani merasa bersalah. Kembali menghabiskan buburnya dan Amarendra menatapnya. “Jujur, aku khawatir, pulang saja tak usah melanjutkan ini. Aku akan mengantarmu,” bujuknya dan Kani menggeleng.


“Kamu tahu sendiri kenapa aku mendesak ingin kerja, aku sudah di sini, aku tak mau sia-sia apalagi sekarang membuatmu repot.”


Amarendra meraih tangan Kani dan mengelus punggung tangan itu.


“Aku takut,” imbuhnya berat. “Kamu harus sadar diri kamu itu cantik, aku takut ada yang macam-macam.”


Kani tersenyum dan menjatuhkan telapak tangannya di atas tangan laki-laki itu.


“Yang mau dekat denganku cuman kamu, Maren.”


“Kata siapa? Kamu nggak sadar diri.” Dia kesal dan Kani diam saat rambutnya dibelai. “Lalu ini, jangan kamu potong lagi, biarkan saja panjang.”


Kani mengangguk patuh dan keduanya pergi lalu berhenti di sebuah Taman. Kani mengempit tangan Amarendra, menyenderkan kepalanya, rasa penat dan khawatir mendadak lenyap seketika saat Amarendra muncul di hadapannya. Sampai Kani takut, terlalu bergantung pada lelaki ini.


“Bersandar padaku sampai kamu puas, karena kita jarang bertemu.” Amarendra menutup matanya dan menggenggam tangan Kani. “Apa saat kita jauh, kamu merasakan rindu?”


“Iya, apalagi ketika aku sedih, aku sangat ingin kamu muncul saat aku sebut,” jawab Kani dan Amarendra menundukkan pandangan, melihat wajah gadis itu.


“Setelah dapat kerja, apa niatmu?”